
Teng teng teng
Bel menandakan pulang sekolah berbunyi. Para siswa berbondong-bondong keluar dari kelas begitu juga Vita. Vita berjalan dengan terus berdendang di sepanjang koridor kelas. Di sepanjang jalan koridor kelas Vita tidak melihat Adit sejak jam istirahat hingga bel pulang sekolah. Lalu Vita memcoba mencari di kelas dengan bertanya salah satu siswi teman sekelas Adit.
“Apakah Adit tidak masuk hari ini?”, tanya Vita.
“Dia sejak pagi sedang mengurus persiapan pentas dan pesta bersama anggota OSIS. Jadi, dia hari ini tidak mengikuti pelajaran”, jawab siswi tersebut.
“Thank’s”, ucap Vita.
Vita melanjutkan langkahnya sampai di halte dan tiba-tiba ada sebuah mobil mewah mencegat dirinya. Lucas membuka jendela kaca dan menyuruh Vita masuk. Tetapi Vita menolak sehingga Lucas turun dari mobilnya. Lucas menarik tangan Vita lalu mendorongnya masuk. Lalu Vita marah, “Apa-apaa...”.
“Sttt..”, Lucas memotong ucapan Vita.
Vita bertambah kesal dengan sikap Lucas sampai dirinya mendengus. Lucas melajukan mobil dan membawa Vita ke sebuah restoran dengan bingung.
“Kenapa kamu memaksaku masuk ke mobil lalu membawaku ke sini?”, tanya Vita. Lucas tidak menjawab dan menyuruhnya masuk dengan nada mengancam dan membuat amarah Vita memuncak dengan berjalan mendahului Lucas. Lucas menyamakan langkah Vita lalu menggandeng tangannya.
“Jadilah gadis yang patuh”, bisik Lucas.
Lucas membawa Vita ke ruang VIP dimana keluarganya sedang menunggu kehadiran Vita. Alena yang tengah menunggu kehadiran putri alm. Monica perasaannya campur aduk sampai tangannya meremas gaun dress nya. Thomas yang berada di samping Alena menggenggam tangan dengan berkata, “tenanglah”, Alena mengangguk.
Lucas membuka pintu itu dengan menggandeng Vita. Alena melihat penampakan wajah putranya bersama gadis itu dengan perasaan lega di raut wajahnya. Alena menyuruh mereka untuk duduk. Vita dan Lucas duduk.
“Kamu pasti bingung dengan pertemuan ini?”, tanya Alena.
“Ya begitu”, jawab Vita dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Kamu mirip dengan ibumu”, ucap Alena.
“He..”, Vita bingung dengan perkataan Alena.
“Bagaimana kalau kita pesan makanan terlebih dulu. Baru kita bicarakan hal-hal penting kita”, ucap Thomas mengalihkan topik.
“Ya, kita pesan makanan dahulu”, ucap Lucas.
Vita masih bingung dengan pertemuan keluarga bule yang dia belum kenal apalagi dengan pria di sebelahnya yang selalu mempermainkan perasaan dirinya.
Saat pikiran Vita melayang tiba-tiba Lucas memegang tangannya di bawah meja membuat Vita tersadar dari lamunannya.
Vita menoleh ke arah Lucas dan Lucas membisikkan, “kamu fokuslah. Sekarang bukan waktunya melamun. Apakah kamu gak merasa lapar? Sejak tadi momy bertanya kepadamu”.
“Nak, apa yang sedang kamu pikirkan?”, tanya Alena.
“Tidak ada. Oh ya saya mau menu steik, sosis semua dua porsi dan minumnya aku mau jus semangka”, ucap Vita.
“Girl, ternyata makanan kamu cukup besar juga”, ucap Devan.
“Itu malah bagus. Dia tidak canggung makan besar dan pilih-pilih seperti perempuan lain. Dari pada dia menahan rasa lapar”, sela Thomas.
“Makanlah yang banyak dan pesan jika ada yang masih kurang. Uncle yang traktir ini semua”, ucap Thomas.
“Baiklah, anda tidak boleh menyesal nantinya”, senyum Vita.
Alena terus memandang wajah dan senyun Vita ngerasa kembali bertemu dengan Monica. Kecantikan Monica diturunkan kepada putrinya. Aku ingin membawa dia ke rumah untuk menjadi putriku.
__ADS_1
Ketika mereka tengah bersenda gurau sang pelayan datang membawa semua hidangan lezat. Lalu mereka menikmati sembari mengobrol entah masalah keseharian maupun lainnya.
“Kamu kelas berapa nak?”, tanya Alena.
“Saya kelas 2”, jawab Vita.
“Apakah kamu di sekolah sudah memiliki kekasih “, tanya Devan.
“Aku tidak memiliki kekasih di sekolah namun aku memiliki dia berada di negara lain akan tetapi dia sudah berada di dunia berbeda”, ucap Vita dengan ekspresi sedih.
“Sayang tolong maafkan Devan, dia kalau bertanya sering tidak tahu tempat”, Ucap Alena merasa bersalah.
“Apakah yang di maksud Vita, cowok Asia itu yang pernah datang ke rumahnya”, batin Lucas.
“Tenang saja aunty, aku tidak apa-apa”, ucap Vita.
Beberapa lama kemudian mereka telah usai menghabiskan makanan lalu Alena mulai mengobrol dengan serius.
“Vita”, panggil Alena.
“Ya aunty”, jawab Vita.
“Sayang, aunty sudah lama mencarimu. Aunty sangat senang ketika menemukan kamu. Kamu begitu mirip dengan mamamu. Paras kamu begitu cantik seperti Monica”, ucap Alena.
Vita mengerutkan dahi dengan bertanya-tanya dalam otaknya. Ada hubungan apa dengan mamanya? Seberapa dekat mereka berteman? Kenapa ia bisa mengenal Mama? Pertanyaan itu muncul dalam otaknya semenjak Alena mengucapkan dirinya mirip dengan ibunya.
“Aunty mengenal ibu saya?”, tanya Vita.
“Ya, kami dekat dengan Monica sejak terjadi insiden dimana aunty pernah terpuruk akibat keluarga aunty mengusirku”, ucap Alena.
“Uhmmm..”, Alena gelagapan. Thomas di sampingnya menenangkan Alena dengan memegang tangannya. Ketika dirasa tenang Alena mulai membuka suara dengan menarik nafas.
“Se..sebenarnya aunty mengetahui sejak pertama kali melihatmu. Parasmu begitu mirip dengan momymu. Rasa penasaran aunty dalam hati dan pikiran terus terbayang dan tersirat keingintahuan tentang mu”, ucap Alena.
“Terus aunty mencari informasi dari mana? Aku selalu menyembunyikan identitas aku. Tak ada satu pun orang lain yang tahu kecuali kepala sekolah”, ucap Vita.
“Maksudmu bu Maya”, sela Lucas.
Vita menganggukkan kepala.
“A..aunty terbesit lewat t..teman-temanmu. Saat aunty bertanya terus tiba-tiba salah satu dari mereka terbesit untuk mengajak aunty...ta..tapi kamu jangan menyalahkan teman-temanmu. Aunty juga salah. Waktu itu masuk ke kamarmu. Padahal kamu sudah melarang untuk memasuki kamarmu. Maafkan aunty, nak. Aunty merasa yakin saat menemukan liontin dan bingkai fotomu bersama Monica. Maafkan aunty...”, jelas Alena.
Vita menghembuskan nafas kasar lalu berkata, “seharunya aunty tidak melakukan itu. Aku sungguh kecewa dengan kalian”.
Vita beranjak dari tempat duduk lalu dihentikan oleh Lucas. Vita meminta Lucas untuk melepaskan. Ketika mereka bertatapan sengit, Alena menyela dengan memberikan liontin dan bingkai foto miliknya. Vita mengambil dan memasukkan ke dalam tas kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut. Lucas menyusul Vita. Lucas mencekal tangan Vita dan menariknya pergi. Lucas tidak peduli dengan rontaan Vita maupun menjadi pusat perhatian pengunjung restoran.
Sedangkan Alena merasa resah dan gelisah atas tindakan yang harus memaksa tanpa mengingat perasaan Vita.
“Thomas, aku tidak bermaksud untuk menggeledah kamar miliknya...”, dengan ekspresi sedih.
“Ussst..”, Thomas memeluk tubuh Alena.
“Mom, kamu tidak perlu khawatir sebab Lucas bisa menyelesaikan gadis itu. Momy akan bertemu dengannya kembali”, ujar Devan.
“Tapi...Van, momy...”
__ADS_1
“No sweety. Kamu akan di maafkan olehnya. Mungkin dia butuh waktu untuk menenangkan dirinya”, sela Thomas memotong perkataan Alena dengan menarik lengannya untuk membawa tubuh istrinya dalam pelukkannya.
“Benar, katamu Thomas”, ucap Alena.
Di dalam mobil Vita bersungut, Lucas melihat ekspresi Vita yang terlihat dengan bersungut hanya mendiamkannya untuk melerai emosi. Lucas membawa Vita ke apartemen milik Vita sendiri. Lucas membukakan pintu untuknya.
“C’mon, kita sudah sampai”,ajak Lucas.
Vita keluar dan sedikit terkejut, “bagaimana pria bule ini tahu apartemenku? Ini tidak mungkin kebetulan. Atau..dia menyewa apartemen yang aku sewa hanya kebetulan saja. Aku gak boleh negatif thinking sebelum pria bule itu menunjukkan apartemen miliknya”.
Lucas menepuk pundak Vita yang sedang melamun. Vita sedikit tersentak dengan menoleh ke arah Lucas. Lucas menarik tangan Vita berjalan melewati lift dan sampai di depan pintu apartemen miliknya. Vita terkejut atas apa yang terjadi.
“Bagaimana ia bisa tahu kalau ini nomor apartemenku”, batin Vita.
“Vit, apa kamu mau melamun terus”, ucap Lucas dengan menaikkan alis kanannya.
“Tu...tunggu..u...uncle bisa tahu apartemenku dan kode pin apartemenku dari mana?”, tanya Vita yang tak habis pikir dengan apa yang terjadi.
Lucas menunggingkan senyum ke atas, lalu mendorong Vita ke tembok kemudian mendekatkan wajahnya dengan jarak satu inci sampai hembusan nafasnya terasa menyeruak di hidung Vita hingga ia merasa jantungnya bertalu.
“A..apa ya..yang sedang kau lakukan?”, tanya Vita dengan gugup.
Lucas tidak menjawab dan malah terus menatap, menikmati hembusan nafas milik Vita, wajah cantiknya, lalu mendekati sampai Vita menutup mata padahal Lucas hanya membisikkan sesuatu di telinganya dengan mengatakan, “aku mengetahuimu semua”.
Setelah membisikkan sesuatu Lucas pergi meninggalkan Vita menuju ke sofa sedangkan Vita merasa kesal dan merutuki kebodohannya karena mudah dikelabui oleh Lucas.
“Eits, kau sungguh bodoh Vita. Kamu harus menjauhinya”.
“Apa kamu tidak menawarkan minum untuk tamu-mu?!”, tanya Lucas.
“Yeah! Uncle mau minum apa?”, tanya Vita dengan melemparkan tas ranselnya di sisi sofa sebelah Lucas.
“Aku ingin kopi capuccino”, ucap Lucas.
“Tunggulah, akan aku buatkan”,seru Vita. Vita berjalan ke dapur mencari kopi instan di lemari. Saat Vita sedang mengaduk Lucas memeluk Vita dari belakang dan mencium tengkuk lehernya membuat sang pemilik tubuhnya menegang.
“Apa yang kau lakukan mister?”, tanya Vita dengan mencoba melepaskan melepaskan tangan Lucas di pinggangnya.
“U..uncle l.. ahh auw.. lepaskan”, mohon Vita dengan wajah bersemu merah. Lucas melepaskan tangannya dari pinggang milik Vita dan memundurkan tubuhnya satu langkah.
Vita berbalik badan dengan ekspresi marah, “uncle keterlaluan!”
Vita melangkah pergi namun dihentikan oleh Lucas dengan menarik lengannya sampai tubub Vita terhuyung ke depan, menabrak dada bidang Lucas.
“Uncle apaan!”, marah Vita.
Lucas tidak menggubris amarah dari bibir manis Vita. Ia hanya memeluk tubuhnya dengan erat dan menghirup bau wangi dari tubuhnya. Di saat Lucas tengah menikmati mencium harum wewangian dari tubuh Vita tiba-tiba ada suara nada ponsel yang mengganggung aktivitasnya. Lucas menghela nafas kesal. Lucas harus mengangkat telepon genggamnya dan melepaskan pelukannya. Vita dapat bernafas lega dan pergi meninggalkan Lucas sebelum pria dewasa itu meringkuh tubuhnya. Vita melangkah masuk ke kamar dan mengunci untuk membersihkan diri sebelum Lucas mengikutinya dan berbuat hal aneh kembali.
“Ahhh~”, hembusan nafas lega dari bibir Vita.
“Untung ada suara ponsel, jika tidak aku gak akan bisa pergi darinya. Sekarang aku mau mandi lalu mengerjakan tugas yang menumpuk sebelum deadline tiba. Nanti aku bisa kacau”, monolog Vita dengan mengambil sepasang pakaian dan handuk untuk membersihkan diri setelah seharian beraktivitas.
Lucas berada di luar menikmati kopi buatan Vita dengan menungging senyum ke atas sambil menatap kamar milik gadis tersebut.
“Permainan belum selesai sweety”, monolog Lucas.
__ADS_1