
Vita pergi kembali ke rumah utamanya sebelum berangkat ke Korea untuk mengambil paspor dan barang-barang milik Jinwoo yang pernah ditinggalkannya. Vita memanggil taxi online untuk sebagai pengantar dalam perjalanannya menuju rumah dan bandara. Dia duduk jok belakang dengan mata sayu setelah menangis.
Beberapa lama kemudian Vita telah tiba di rumahnya. Vita memasuki perkarangan rumahnya dengan gontai dan menyeret kaki karena akibat luka tusuk yang sedikit nyeri. Vita masuk ke rumah tanpa menoleh. Pandangannya lurus dengan mengurai air mata. Orang-orang di sekitarnya yang tengah asyik mengobrol dan saling mengejek menjadi suasananya senyap. Alena yang melihat Vita dalam keadaan buruk langsung pergi melesat menghampirinya.
“Nak, kamu kenapa?”, tanya Alena dengan ekspresi khawatir dan sedih melihat cara jalan Vita yang gontai dengan kaki kiri diseret. Vita hanya diam dan terus berjalan melewati mereka. Alena terus bertanya tetapi Vita tidak mengindahkan lalu Ana dan Lisa mencoba bertanya dan lagi-lagi diabaikan. Kemudian Lucas menghampiri dengan mencekal lengannya.
“Jika ada orang yang khawatir kepadamu harusnya kamu menghargai. Bukannya malah menyedihkan seperti ini. Seolah-olah duniamu hancur”, ucap Lucas dengan suara rendah. Vita tersenyum sinis dan mencoba menyingkirkan tangan Lucas tetapi tenaganya tidak kuat sehingga api yang mendidih di ubun-ubunnya meledak-ledak.
“Bisa lepaskan gak!!!” teriak Vita.
“Aaaaaaaaaaaaa!!!!!”, dengan mengeluarkan suara oktaf tinggi sebagai tanda frustrasi. Orang-orang di ruang yang sama kaget.
“Lepaskan!”, seru Vita dengan nada tinggi. Lalu Lucas melepaskan dengan hembusan nafas kasar. Vita melanjutkan jalannya menuju kamar dengan membanting pintu. Kemudian mencari barang paspor yang ia simpan dalam laci dan memasukkan barang milik Jinwoo ke dalam tasnya. Setelah itu ia pergi dengan terburu-buru keluar tanpa ada yang berani mencegah dan bertanya kepadanya. Begitupun dengan Alena yang berinisiatif mencegah Vita malah ditahan oleh Thomas untuk memintanya membiarkan Vita untuk menyendiri.
Tangisan itu juga pecah di lorong rumah sakit dimana semua orang terdekat merasa terpukul setelah beberapa hari Jinwoo kritis dan secara tiba-tiba layar monitornya berubah menjadi garis lurus. Dokter yanh baru saja berusaha menyelamatkan jiwa Jinwoo tak bisa menahan rasa sedih apalagi di depan keluarganya. Park Shin langsung menerobos masuk ke ruangan rawat inap dan langsung memeluk tubuh Jinwoo dengan menggoyangkan tubuh putranya sambil menangis histeris. Sedangkan halmonie pingsan setelah syok melihat jantung Jinwoo terhenti.
Minwoo dan Yoora membantu halmonie pergi ke ruangan rawat. Lalu Minwoo keluar setelah meminta Yoora untuk berada di samping halmonie yang tengah tak sadarkan diri. Minwoo pergi menuju ke bagian administrasi untuk mengurus segala kepulangan Jinwoo. Setelah menyelesaikan administrasi, Minwoo pergi menghampiri Park Shin untuk menenangkannya.
“Eomma berhentilah seperti ini”, ucap Minwoo.
Vita yang baru saja tiba di rumah sakit melihat ambulan yang membawa Jinwoo pergi. Vita mengikuti mobil ambulan itu sampai di gedung dharma. Jasa Jinwoo di bawa masuk tempat itu. Vita hanya dapat menunggu di luar dengan menitikkan air mata.
Sementara di ruangan Minwoo tengah berdoa bersama keluarganya termasuk Park Shin lalu diikuti oleh satu persatu tamu yang berdatangan. Cha Gildeon juga ikut berkabum demi hanya sekadar mencari muka. Sebelumnya Cha Gildeon tidak begitu memedulikan putranya namun demi untuk mendapatkan pujian dari rekan kerjanya saja. Park Shin memandang Cha Gildeon dengan pandangan sinis melihat suaminya yang begitu pura-pura sedih begitu juga pandangan Minwoo terhadap Cha Gildeon yang ingin sekali menonjok ayahnya yang begitu ia benci. Sedangkan halmonie hanya terus terisak di depan foto Jinwoo.
__ADS_1
Hari terus berganti dan waktu untuk pemakaman Jinwoo telah tiba. Vita yang setia menunggu terlihat kusut. Acara memakamkan Jinwoo banyak kesedihan di ekspresi orang-orang terdekat kecuali Cha Gildeon hanya sekadar menunjukkan wajah palsunya secara impulsif untuk menekan keburukan orang-orang yang memandangnya sebagai seorang ayah yang tidak peduli.
Acara pemakaman yang telah berlangsung cukup lama satu persatu para tamu pergi meninggalkan pemakaman Jinwoo. Setela semua tamu menghilang Cha Gildeon ikut menyusul dengan menghembuskan nafas kasar di depan pusaran putranya.
Di satu sisi Vita hanya dapat mengantarkan kepergian Jinwoo dari jarak jauh dengan bersembunyi di balik batu nisan. Halmonie yang sejak tadi menyadari menyuruh Vita untuk keluar.
“Keluarlah”, perintah halmonie.
“Mendekatlah, dan berdoa untuknya agar dia bahagia disana”, seru halmonie.
Minwoo, Yoora, dan Park Shin bingung yang dilakukan halmonie seolah-olah dia menyuruh hantu untuk mendekat karena tidak ada orang disekitar selain keluarga Park.
“Halmonie memanggil siapa?”, tanya Naeun.
Vita mendengar seruan halmonie kembali lalu keluar dengan berdiri mematung sambil melepaskan penutup kepala.
Yoora bereaksi terkejut begitu juga Minwoo, dan Park Shin. Vita memberikan hormat untuk mereka dan hanya berdiri tanpa melangkah sedikit pun. Halmonie menyuruh Vita kembali untuk mendekat namun kaki Vita terasa kaku seolah kakinya menjadi batu. Lalu Park Shin berjalan melangkah mendekati Vita dan membawa Vita mendekati makam Jinwoo. Yoora, Minwoo, dan Naeun terkejut apa yang dilihatnya.
“Oh my god, aku gak salah lihat. Park Shin menuntun Vita untuk mendekat di pemakaman Jinwoo dengan tatapan lembut”, ucap hati Yoora.
“Eomma”, panggil Minwoo dalam hati.
Park Shin kemudian menyuruh Vita untuk berdoa buat putranya.
__ADS_1
“Doakanlah Jinwoo agar ia bahagia di sana”, perintah Park Shin. Vita menatap ke arah halmonie seolah meminta persetujuan dan halmonie menganggukan kepala. Begitu juga Park Shin.
Vita berjongkok, mengusap batu nisan milik Jinwoo dengan air mata terurai. Park Shin mengalihkan ke pandangan lain dan ikut menangis begitu juga Minwoo. Halmonie, Yoora, dan Naeun ikut berjongkok di samping Vita dengan mengusap punggungnya.
“Jinwoo lihatlah siapa yang datang”, ucap halmonie dengan getaran di bibirnya.
“Oppa, aku datang untuk mengantarmu ke tempat terakhir”, ucap Vita dengan mengusap batu nisan Jinwoo.
“ Aku sangat merindukan kamu. Kenapa kamu begitu cepat pergi? Padahal kamu sudah janji akan terus bermain bersamaku. Kamu terus mengingkari janji itu. Aku kecewa denganmu”, lanjut Vita.
Park Shin mendengar perkataan Vita langsung memberikan pukulan di punggungnya dan mengomeli Vita.
“Yahhh, seharusnya kamu tidak berkata begitu pada putraku. Kamu harus mendoakannya”, Park Shin dengan menangis histeri.
“Kamu harusnya jangan memukul gadis yang di cintai Jinwoo”, ucap halmonie dengan nada marah. Lalu mereka menangis bersama dan Minwoo juga ikutan terbawa suasana yang memalukan dan menyedihkan di pemakaman Jinwoo. Beberapa lama kemudian mereka berhenti menangis dan duduk di samping pemakaman Jinwoo dengan tarikan nafas yang berat.
Mereka berdiam beberapa menit lalu Park Shin berinisiatif menanyakan luka Vita yang dia lihat.
“Kenapa dengan kaki dan wajahmu?”, sambil memandang lurus kearah depan.
“Karena jatuh dari motor”, bohong Vita.
“Kamu jangan membohongi eomma”, ucap Park Shin. Vita mendengarkan kata eomma dari bibir Park Shin memandangnya begitu juga halmonie dengan saling menatap ke arah Vita begitupun Vita. Lalu halmonie dan Vita tersenyum. Kemudian Vita memeluk Park Shin yang kikuk. Minwoo dan Yoora saling memandang dengan rasa senang dan saling memberikan senyum. Naeun juga ikutan dengan beranjak dari duduk dan memanggil Par Shin dengan sebutan halmonie. Park Shin membalas pelukan dengan diikuti tawa bahagia. Jiwa Jinwoo ikut merasakan bahagia walaupun tidak terlihat dengan mata.
__ADS_1