
Vita berjalan melewati lorong rumah sakit dengan perasaan kesal. Sementara Lisa yang berhasil lolos tengah menikmati pesta malam di dalam garasi yang ia dapatkan dari Rajasa sebagai tempat persembunyiannya.
Ia berjoget bersama para anak buahnya sambil menikmati wisky, anggur, dan minum-minuman mahal berakohol lainnya.
Lisa menikmati terus berjoget dan bergoyang sampai ada suatu benda yang mengganggunya yang terus berbunyi. Lisa menyingkir dari suara bising ke ruangan satunya. Lisa menjatuhkan bokongnya di sofa sambil memencet tombol hijau.
“Hallo”, sapa Lisa dengan menikmati anggurnya.
“Aku sudah mengirimkan wajah silikon ke alamat yang kau berikan. Sekarang rencanamu apa? Kasih tahu kepadaku”, ucap pria di seberang sana yang tengah merangkul seorang wanita di atas ranjang.
“Rencanaku tak bisa kuberi tahu kepada daddy”, Lisa mengambil kotak rokok lalu ia selipkan diantara jari telunjuk dan jari tengah.
“Jika kamu tidak beritahu kepadaku..” Rajasa menyesap serutu sejenak lalu melanjutkan perkataannya, “jangan harap aku akan melindungimu”.
Lisa menghela nafas panjang lalu mengatakan, “nanti kamu juga tahu”. Lisa langsung memutuskan sambungan teleponnya. Rajasa yang ada di seberang sana tersenyum miring.
“Dia memang genetik yang kuciptakan sendiri sebagai boneka yang gila”.
...
Vita masih menunggu Reno terbangun dari alam bawah sadar. Vita menatap begitu lama hingga Lucas datang sambil mengatakan, “Aku sangat cemburu ketika melihatmu menatap pria lain. Kamu harus kuberikan hukuman”.
Lucas pergi mendekati Vita. “Anda apa-apaan sih sir”, ucap Vita dengan suara pelan. Lucas hanya menyeringai dengan mengangkat tubuh gadis kecilnya sampai Vita memekik karena takut akan mengganggu Reno yang tengah terbaring.
“Tolong turunkan aku”, ucap Vita.
Lucas tidak merespon ucapannya. Lucas hanya terus menatap dirinya sampai memukul-mukul dada bidangnya agar Lucas menurunkan tubuhnya. Namun Lucas malah menarik tengkuknya untuk mendekatkan wajah dengan jarak setengah centi. Vita tak mampu menatap mata elangnya yang menyoroti tajam. Vita tak mampu bergeming sampai ada suara serak pria melenguh dari tidurnya. Vita menoleh dan meminta Lucas menurunkan tubuhnya. Lucas pun menurunkan tubuhnya. Vita langsung mendekati Reno setelah mengambil nafas dalam-dalam.
“Ren!” panggilnya.
“Are you ok?” tanya Lucas di samping Vita.
“Ya”, jawab Reno dengan mencoba mengambil posisi menyandar. Vita membantu Reno dengan menaikan sedikit ranjangnya agar bisa berbicara.
“Kamu benar-benar pria bodoh”,umpat Vita dengan menjatuhkan bokongnya.
“Aku kira kamu sudah mati habis diambil organ ginjalmu”.
“Lihatlah mister, apa kamu masih menginginkan gadis bermulut tajam ini”, ucap Reno.
“Tentu, aku masih ingin memilikinya”, ucap Lucas dengan kedua tangannya memegang besi di ranjang.
“Kamu akan sakit hati terus jika bersamanya”.
“Tak akan, karena setiap detik bibir itu mengoceh bahkan menguap aku akan menyumpal dengan rasa manis”.
Reno tertawa sambil memegang perutnya yang sedikit sakit. “Seriously?” Lucas menjawab dengan mengedikan bahu.
“Wow.”
“Sudahlah, hentikan omong kosong kalian”, kesal Vita.
“Ya, ya.”
“Apa kamu sudah bertemu dengan Duran?”
“Ya, aku bertemu dengannya. Namun aku masih lemah saat ia berada di sampingku”.
“Dia membisikkan padaku untuk tidak lagi berurusan dengan nyokap ku.”
“Terus?”
Reno menghela nafas panjang dengan memejamkan kedua matanya. “Aku menyetujui perkataan Duran. Aku juga mau minta maaf kepadamu Vit..yah, atas perbuatan nyokap ku yang terus menyalahkanmu...”
“Kamu gak perlu minta maaf. Kan yang salah nyokap mu. Ngapain minta maaf”, ucap Vita sambil menyuapkan jeruk ke dalam mulutnya.
“Sudahlah lupakan masalah itu. Kita buka saja lembaran baru. Kamu jangan mau di manfaatin oleh orang-orang dzolim seperti mereka”.
“Semoga kau cepat sembuh dan mulai bekerja membantuku untuk menemukan jejak Lisa”.
“Lisa?” Reno tersenyum kecut.
“Yap, gak perlu bertanya, karena kamu sudah jatuh ke perangkap dia”.
__ADS_1
“Kapan kamu akan keluar dari rumah sakit?” tanya Lucas.
“Entahlah, aku ngikut saran dokter. Kalian itu cocok, suka to the point kalau berbicara”, ucap Reno.
“Diamlah”, kesal Vita.
“Kami sudah ditakdirkan begitu. Dia juga jodohku”, ungkap Lucas dengan merangkul pundak Vita. Vita membola dengan apa yang diungkapkan oleh Lucas.
“Wow, anda begitu keren”, ucap Reno dengan mengangkat dua jari jempolnya.
“Apanya yang keren”, gumam Vita.
“Cepatlah sembuh. Jangan lupa makan-makanan sehat. Lalu jangan mati sebelum menangkap musuh kita sampai tuntas”, ucap Vita dengan beranjak dari kursi.
“Yah, kamu cuman sebentar di sini?” tanya Reno dengan pura-pura sedih.
“Kami sudah lama di sini boy. Sebelum kau bangun”, sela Lucas.
“Yaudah, sampai bertemu lagi.”
“Jangan lupa berika aku ponakan yang tampan dan cantik. Blasteran pasti anak-anakmu akan lebih imut!” teriak Reno dengan ejekan.
Vita membuka dengan ekspresi kesal. Sementara Lucas tidak terganggu dengan perkataan bocah tersebut. Ia malah senang mendengarnya.
Vita berjalan mendahului Lucas sampai ia tidak melihat brankar yang tengah di dorong oleh beberapa perawat di rumah sakit. Vita mengadu sakit dan melihat sosok orang yang mengalami kecelakaan dengan penuh darah berceceran dari kepala dan dibagian tubuh lainnya. Vita tak mampu bergerak. Seolah tubuhnya terasa berat saat mengingat kejadian yang begitu lama dalam bayangan yang pernah dialaminya.
Flashback
“Ampun tu..tuan, beri kami kesempatan untuk membayar hutang-hutang kami. Jangan mengambil organ kami tuan”, ucap sang nenek terus memohon kepada preman-preman tersebut.
“Cuih~”
“Kami tidak bisa memberikan kalian waktu terus menerus.”
“Kami akan bawa gadis manis ini untuk dijadikan alat pembayaran kamu.”
Kedua preman itu menyeret gadis kecil dengan kasar sampai terseyok-seyok. Gadis kecil itu hanya mampu menangis tanpa bisa melawan hingga sampai markas milik preman tersebut.
Tubuh gadis kecil itu diseret dan dimasukkan ke dalam garasi bersama anak-anak lainnya. Ia menangis tersedu-sedu. Tangisan gadis kecil itu membuat salah satu preman berambut panjang membentak. “Diamlah!~” dengan tatapan tajam dan bengis. Gadis kecil itu terdiam dengan matanya yang sayu.
“Kau membuatku kesal..”, preman itu mendekat dengan mata dingin dan mencengkeram rahang miliknya. “Untung aku tidak sampai membunuhmu. Jika aku membunuhmu bisa-bisa kami gak dapat uang. Cuih~”
Preman tersebut mengangkat tubuh gadis kecil itu sampai ke bankar yang telah disiapkan tanpa memperdulikan darah yang ada di kepalanya.
Kedua preman yang telah mengantar gadis itu sampai ke ruangan yang sedikit gelap dan menakutkan kedua preman tersebut meninggalkannya sendiri.
Tubuh gadis itu menggigil karena ketakutan saat matanya bertemu dengan sosok anak kecil yang terbaring tidak berdaya dengan penuh darah di tubuhnya.
Gadis itu menangis ketakutan dan terus melepaskan diri dari obatan bius dengan mencoba mengambil pisau yang ada di samping nakas meski tubuhnya lemas. Ia terus berusaha dan berusaha sampai ia mendapatkan pisau yang diinginkan.
Gadis kecil tersebut mencoba mengenggam pisau kecil itu dengan erat dan menancapkan pisau itu di kakinya agar obat bius tersebut hilang.
...
Di rumah kecil nan suntuk, seorang nenek keluar memohon-mohon kepada orang-orang sekitar untuk menolong dirinya dan cucunya yang kini sedang dibekap oleh para lentenir. Namun tak ada satu pun orang-orang menolongnya.
Nenek tersebut tetap teguh mencari pertolongan meski berjalannya terpontang panting sampai matanya sayu dan menggelap penglihatan nenek itu lalu ia pingsan di pinggir jalan. Orang-orang berdatangan mengerumuni nenek tersebut.
Di area kerumunan sseorangmpria mencoba menepikan mobilnya. Pria tersebut bernama Galang membuka pintu dan bertanya kepada orang-orang yang tengah berkerumun.
“Maaf ini ada apa ya?”
Salah satu ibu-ibu menjawab, “itu mas, ada seorang nenek yang pingsan.”
“What!”Galang terkejut.
Galang mendesak para warga sekitar yang menonton untuk pergi menolong nenek tersebut. Galang langsung mengangkat tubuh nenek tersebut dalam gendongannya meski seragam yang ia pakai kotor. Ia langsung membawa nenek itu ke rumah sakit.
Sementara cucu dari nenek tersebut tengah berjuang melarikan diri dari para penjahat lentenir walaupun berlarinya harus terseyok. Ia terus berusaha pergi, bersembunyi sampai bisa menemukan orang yang mau menolongnya.
Ia terus berlari dengan nafas menderu hingga terjatuh. Gadis itu mengadu kesakitan sampai ada seseorang yang datang. Ia berusaha bangkit agar tidak ketahuan oleh para penjahat. Ia masuk ke ruang dimana banyak mayat anak-anak.
Gadis itu sangat ketakutan. Gadis itu hanya mampu bersimpuh dengan merafalkan doa agar ia bisa keluar dari gedung mengerikan tersebut.
__ADS_1
...
Di rumah sakit ada seorang nenek tengah berbaring dengan lemah dan ditemani oleh seorang pria yang duduk di samping ranjang sambil memainkan ponsel.
Pria itu bernama Galang yang duduk di bangku SMU kelas 1. Ia merupakan cucu dari tuan Ahsan pemilik perusahaan perhotelan. Meski ia memilik kakek yang luar biasa ia tetap menjadi lelaki yang baik dan tidak angkuh. Ia juga memiliki usaha diskotik. Ia menyukai suara dentuman musik dan pesta.
Pada saat Ahsan datang dan akan memarahi cucunya, nenek tersebut terbangun dengan suara lenguhan.
“Nek, nenek gapapa?” tanya Galang.
Nenek itu tidak menjawab. Ia hanya memanggil cucunya sambil memegang kepalanya yang terasa amat sakit.
“Tenanglah bu”, ucap Ahsan.
“Kita nanti akan bantu ibu mencari cucu anda”, sambung Ahsan kembali.
Nenek itu mengabaikan perkataan Ahsan. Ia malah menangis dan memohon kepada kedua pria tersebut untuk mencarikan cucunya.
“Baik nek, kami akan mencari cucu anda. Sekarang nenek tenanglah. Saya akan berusaha semaksimal mungkin.”
“Ya, anda harus tenang. Kami perlu perunjuk mengenai cucu anda yang hilang”, ucap Ahsan.
“Foto?”
“Ya”
“Oh ada, fotonya, namun foto cucu saya ada di dalam kontrakan”, ucap sang nenek tersebut.
“Baiklah, saya akan ambilkan foto cucu nenek. Sekarang nenek istirahatlah”, ucap Galang.
“Emang kamu tahu alamat kontrakan nenek ini?” tanya kakek Ahsan dengan menaikan sebelah alisnya.
“Oh ya”, Galang menepuk jidatnya sambil cengengesan.
“Dimana alamat kontrakan ibu?” tanya Ahsan.
“Alamatnya, sebentar saya membawa kertas. Saya sering lupa arah jalan”, nenek itu mencari alamat di saku bajunya.
Setelah menemuka, ia memberikan alamat tersebut kepada Ahsan. Lalu diberikan kepada Galang. Galang langsung bergegas pergi.
...
Di perjalanan mencari gadis tersebut, Galang melihat seorang anak kecil terseyok dengan darah yang memenuhi anggota tubuhnya. Galang langsung menepikan mobilnya saat anak tersebut terjatuh diatas krakalan. Galang langsung menghampiri dengan memegang kakinya yang penuh lumuran darah.
“Are you okay?” tanya Galang.
Gadis itu hanya menatap dengan rasa takut dan tubuh bergetar. Galang melihat gadis kecil yang berumur 8 tahun ketakutan Galang melepaskan tangan dari kaki mungil miliknya.
“Maaf”, ucap Galang dengan tulus.
Gadis kecil itu langsung berdiri dengan dibantu Galang. Namun gadis kecil itu berteriak menangis. Galang gelagapan akan menolong gadis kecil tersebut. Para warga sekitar yang lewat pun menghampiri dengan bertanya kepadanya.
“Ada apa dik?” tanya bapak berkumis.
Gadis itu tidak menjawab. Ia malah tambah ketakutan dan matanya mulai memburam lalu ia pingsan. Untungnya tububnya langsung ditangkap oleh galang dengan sigap. Galang langsung membawa gadis kecil itu ke rumah sakit. Para warga bingung dan bubar.
...
Gadis itu terbangun dan menemukan neneknya di sampingnya. Lalu mereka menghaburkan sebuah pelukan. Gadis kecil itu menangis tersedu sampai ada suara deheman dengan suara berat.
Mereka melepaskan pelukkannya. Ahsan menghampiri gadis tersebut.
“Apa kamu mulai lebih baik?” tanya Ahsan.
Gadis itu tidak menjawab.
Sang nenek menjelaskan kepada cucunya bahwa Ahsan dan cucunya yang telah menolongnya dari jeratan para rentenir kejam tersebut. Vita membungkukkan badannya dengan senyum tipis sebagai ucapan terima kasih.
Ahsan mencoba mengusap kepalanya dengan berkata, “kalian gak perlu khawatir lagi soal masalah para preman tersebut. Kami sudah meminta bantuan polisi menangkap mereka. Mereka akan dikenai hukuman mati sebab mereka telah melakukan kejahatan yang ilegal dan keji. Kalian bisa tinggal di rumah singgah kecil kami. Dan kamu nak, kakek akan mendaftarkan kamu sekolah sampai lulus SMA.”
“Terima kasih tuan”, ucap Vita dengan hormat.
“Jangan panggil aku tuan. Panggilah aku kakek”, senyum Ahsan.
__ADS_1
“Dan kamu panggil aku kakak Galang”, sambungnya.