
Gadis yang ditunggu oleh Alena saat ini tengah berada di pelabuhan setelah menagih hutang. Dia berada di pelabuhan bersama Reino, Dadang, dan Gendut. Ia kesana untuk mengecek pengiriman barang yang diperintahkan oleh Duran.
Setelah pengecekan selesai Reino melakukan konfirmasi untuk memberikan bukti kepada Duran bahwa barangnya telah di kirim ke Amerika. Sementara Vita menikmati suasana pelabuhan sambil menikmati udara malam yang sepoi-sepoi diatas bok truk. Ia duduk dengan pikiran melayang.
“Oppa, kamu sedang apa saat ini? Aku merindukan kamu”.
“Aku tidak bisa menghilangkan memori indah ini ketika bersama denganmu. Semua memori terus muncul seperti iklan yang lewat”, dengan ekspresi sedih.
“Aku berharap kamu bahagia apa yang telah kamu putuskan. Aku akan selalu mendoakan kamu selalu bahagia dan sehat selalu begitu juga halmonie, oppa Minwoo, unnie Yoora, dan Naeun”.
Ketika pikiran Vita sedang melayang tiba-tiba Reino memanggil-manggilnya namun Vita tidak mendengarkan sehingga Reino menyuruh Dadang untuk meminjam alat toa untuk memanggil Vita yang pada akhirnya Vita kembali pada kesadarannya dan turun dari bok truk. Vita berjalan menghampiri Reino.
“Apakah sudah selesai masalah pengiriman barangnya?”, tanya Vita.
“Ya, sudah aku selesaikan dan buktinya sudah aku kirim ke Duran lewat chat”, ucap Reino.
“Kalau begitu kita pulang”, ucap Vita dengan melangkah duluan lalu diikuti Reino, Dadang, dan gendut dari belakang. Kemudian Reino mensejajarkan langkah Vita.
“Vit, besok akan ada balapan motor. Kamu mau ikut gak?”, tanya Reino.
“Gak tahu”, jawab Vita.
“Itu bayarannya cukup besar Vit. Jika kamu menyia-nyiakan akan rugi”, ucap Gendut.
“Kalau gak salah dengar 70 juta”, ucap Dadang.
“Balapan itu diikuti oleh sekelompok geng besar termasuk kedatangan ketua kita”, ucap Reino.
“Maksud kalian bos Duran”, ucap Vita dengan membuka mobil jok depan.
“Iya, ini bakalan jadi momen besar yang tidak bisa kita lupakan. Masalah keamanan sudah ada keamanan. Jadi kita tidak perlu takut dikejar-kejar oleh polisi. Ini balapan resmi”, ucap Dadang.
“Nanti akan aku pikirkan”, ucap Vita dengan memundurkan kursi jok untuk dia tidur.
(Di korea)
Cha Jinwoo tengah berkunjung ke keluarga Han bersama ibu dan ayahnya dalam rangka perjodohan. Sebenarnya Cha Jinwoo tidak begitu menyukai pertemuan yang dipaksakan oleh Park Shin. Jinwoo hanya pasrah meskipun ia tidak menyukai rencana kedua orang tuanya. Sampai di halaman rumah keluarga Han mereka disambut hangat oleh para pelayan di sana lalu bertemu keluarga Han dengan saling menyapa satu sama lain.
“Hallo Park Shin”, sapa nyonya Noh.
“Hallo nyonya Noh, sudah lama kita tidak berjumpa”, sapa Park Shin dengan cepika cepiki.
Lalu diikuti oleh Cha Gildeon dan Cha Jinwoo untuk menyapa satu sama lain. Kemudian mereka di suruh masuk oleh nyonya Noh.
“Ayo masuk”, ajak nyonya Noh.
“Maaf lho, kami datanh membawa kerepotan”, ucap Park Shin d ef dengan basa basi.
“Tidak. Ayo duduk”, ucap tuan Han.
“Terimakasih”, ucap Park Shin yang terus saja memberi hormat untuk keluarga Han.
“Ngomong-ngomong mana putrimu yang cantik dan manis itu?”, tanya Park Shin.
“Dia sebentar lagi akan keluar”, ucap Nyonya Noh. Lalu nyonya Noh memanggil pelayannya untuk menyuguhkan minuman dan camilan yang sudah siap untuk dihidangkan. Para pelayan keluar membawakan beberapa camilan dan teh yang sudah disiapkan oleh nyonya Noh.
Setelah semua tersajikan nyonya Noh mempersilakan dan Park Shin mengucapkan terima kasih. Kemudian tuan Han membahas pekerjaan sembari menunggu putrinya turun dari kamar.
“Bagaimana proyek yang kamu kerjakan? Apakah kerjanya lancar?”, tanya pak Han.
“Ya”, jawab singkat Jinwoo.
“Jika ada kendala kamu bisa meminta bantuan dariku”, ucap pak Han menawarkan diri.
“Terima kasih”, ucap Cha Jinwoo.
Jawaban yang dilontarkan Cha Jinwoo membuat Park Shin merasa khawatir karena dengan ucapan yang Jinwoo lontarkan akan membuat keluarga Han tersinggung. Sehingga Park Shin memohon maaf.
“Maafkan putraku. Dia itu kalau ngomong suka ngirit”, ucap Park Shin dengan tawa yang dipaksakan.
“Itu bagus. Dia akan terlihat pria yang cool dan menawan. Dia akan terlihat keren dimata para wanita yang memujanya”, ucap nyonya Noh.
Saat di tengah obrolan bisnis Han Naomi turun dari kamar dengan tampilan yang menawan bagaikan seorang putri terhormat di kalangan keluarga kaya. Park Shin menyambut dengan antusias sampai tidak berhenti memuji begitu juga yang dilakukan Cha Gildeon.
“Nyonya Noh, putrimu sangat cantik sekali”, puji Park Shin.
“Benar yang dikatakan Park Shin. Dia sangat menawan sekali. Dia benar-benar putri yang turun dari langit”, pujian dari Han Gildeon.
“Jinwoo, matamu pasti silau melihat Naomi begitu cantik”, ucap Park Shin yang terus menutupi sikap Jinwoo yang mengkhawatirkan dirinya dan suaminya.
__ADS_1
Lalu ibu Naomi menyuruh putrinya untuk memberikan salam kepada calon besan yang sudah akan ditentukan pernikahan untuk anaknya.
“Ayo Naomi, berikan salam kepada mereka”, ucap nyonya Noh.
“Annyeonghaseyo”, ucap Naomi.
“Anyeong”, ucap Park Shin dengan senyum.
“Jinwoo berikan sepatah kata untuk tampilan Naomi malam ini”, bujuk Park Shin dengan mengusap lengan putranya sebagai tanda kode untuk segera mengatakan sesuatu untuk Naomi.
“Tampilan kamu malam ini begitu beda”, ucap Jinwoo dengan nada mengejek.
“Jinwoo”, peringatan Park Shin.
Ibu Noh dan pak Han sedikit tidak nyaman dengan perkataan Jinwoo dengan saling melirik satu sama lain kepada istrinya. Di situasi itu Park Shin bergegas mencairkan suasana dengan menjelaskan yang dimaksud Jinwoo.
“Mohon maaf, putra saya itu tidak begitu pintar memuji. Mohon dimaklumi. Suatu hari jika Naomi mau mengajari Jinwoo pasti dia akan berubah dan bicaranya tidak akan seperti ini lagi”, ucap Park Shin sambil melirik Jinwoo dan mengatakan dalam benaknya.
“Ada apa sih dengan sikap Jinwoo? Dia terus-terusan mengacau. Ahhh..”
Lalu pak Cha membantu istrinya dengan mengalihkan topik.
“Bagaimana kalau kalian mengobrol berdua untuk saling mendekatkan diri sebelum pernikahan ditentukan?”, ucap pak Cha.
“Iya benar. Kalian perlu mengenal lebih lagi untuk saling menanyakan keseharian masing-masing”, ucap Park Shin.
“Bagaimana kamu ajak Jinwoo ke atas? Malam ini langit sangat indah. Kalau sudah waktunya makan malam kalian turunlah kembali”, ucap pak Han.
“Baiklah appa”, ucap Han Naomi menerima saran dari kedua orang tuanya.
“Jinwoo ikutlah sama Han Naomi untuk mengobrol keseharian kalian yang tak banyak kalian ketahui”, bujuk Park Shin.
Jinwoo beranjak dari sofa dan berjalan mengikuti Naomi sampai diatas loteng. Jinwoo memasukkan kedua tangannya dalam kantong celana sambil berkata, “malam ini s menyesakkan”.
Han Naomi mendengar perkataan Jinwoo tersenyum sinis dengan berjalan ke ujung pagar.
“Apakah kamu tidak begitu tertarik denganku? Padahal aku tidak kekurangan suatu apapun. Banyak pria yang mendekatiku sampai memohon. Aku sangat kecewa ada pria yang tidak melihatku semenarik dimatanya”,sindir Naomi.
Jinwoo menyalakan rokok dan berdiri di samping Naomi dengan jarak 5 cm. Jinwoo mengepulkan asap dan berkata, “mereka hanya mengincar harta milik keluargamu untuk meningkatkan angka saham mereka”.
“Benar yang kamu katakan. Aku tidak bisa memungkiri ucapanmu dan kenyataan hidupku”, ucap Naomi.
Jinwoo memilih tidak menjawab dan hanya menyesap rokok lalu mengepulkan asap.
“Aku heran dengan pikiran dan hatimu. Kenapa kamu begitu dibutakan dengan gadis binal dan statusnya saja tidak jelas? Lebih baik kamu melupakan dia sebelum kamu menyesal”, ucap Naomi dengan melirik Jinwoo yang sudah mengeratkan tangannya.
“Aku lebih baik untuk jadi pasanganmu daripada gadis itu karena aku lebih terhormat, berpendidikan, dan bisa menjadi istri yang bisa diandalkan “, lanjut Naomi.
Jinwoo mendengar ucapan Naomi membuat otaknya mendidih dan berdecak.
“Menurutku orang yang mengatakan dirinya lebih baik dan mengandalkan harta keluarganya biasanya dia seperti sampah yang hanya bisa memungut milik orang lain tanpa kerja keras”, sindir Jinwoo.
“Kamu benar-benar brengs*k!”, geram Naomi dengan mengetatkan giginya.
“Yah begitulah aku. Kemampuanmu tidak ada apa-apanya dengan seorang pemulung mengais rezeki”, ucap Jinwoo dengan sinis.
“Diamlah, kamu tidak akan pernah bisa bersamanya. Kamu tetap akan jadi pasangan sampah sepertiku. Lihat saja, lusa merupakan hari bersejarah dimana Cha Jinwoo menjadi pasangan seorang sampah hanya memungut milik orang lain. Gambaran itu juga ada di kedua orang tuamu”, marah Naomi dengan meninggalkan Jinwoo sendirian diatas atap. Setelah kepergian Naomi Jinwoo membuang putung rokok dengan diinjak lalu memukul pagar yang tidak bersalah. Kemudian menyusul Naomi turun ke bawah untuk bergabung di meja makan.
Park Shin dan Cha Gildeon terus berbicara soal pernikahan kepada keluarga Han. Mereka sangat antusias dengan ide Han Naomi yang meminta untuk mempercepat pernikahan dengan Cha Jinwoo. Cha Jinwoo hanya diam saja dan mendengarkan celoteh kedua orangtuanya yang tiada henti meminta kerja sama dalam bisnis mereka masing-masing sampai pada waktunya mereka berpamitan.
Di dalam mobil Park Shin melirik Jinwoo dari kaca spion dengan berkata, “seharusnya kamu lebih banyak antusias agar kerja sama kedua keluarga lebih erat. Bukannya malah cuek”, sambil menghembuskan nafas kasar.
Pak Cha yang berada di samping Park Shin membenarkan perkataan istrinya.
“Benar kata ibumu. Kamu harus berbakti pada orang tuamu bukan seperti Minwoo yang membangkang”, ucap Pak Cha.
Jinwoo hanya dapat berdiam dan mendengarkan omelan dua orang paruh baya tanpa memberikan respon. Beberapa lama kemudian mereka sudah sampai di kediaman tanpa saling berkata dan hanya masuk ke dalan rumah dengan ekspresi kusam.
Jinwoo menghembuskan nafas kasar lalu pergi ke kamar dan menghempaskan tububnya di ranjang dengan menutup kedua matanya dengan lengan.
(Lusa telah tiba, pernikahan Jinwoo akan terlaksanakan)
Pagi pukul 07.00 mempelai wanita sedang di dandani oleh perias pengantin. Sementara Jinwoo hanya melamun melihat kaca jendela besar sambil merokok. Saat pikiran Jinwoo tengah melayang tiba-tiba Minwoo datang tanpa mengetuk pintu.
“Hyung!”, panggil Jinwoo.
“Jinwoo congratulation”, ucap Minwoo.
“Apa kamu yakin dengan hatimu untuk menikah dengan wanita yang dijodohkan eomma?”, tanya Minwoo dengan ekspresi kasihan.
__ADS_1
“Hyung, harusnya jangan menampakkan ekspresi yang ku benci”, ucap Jinwoo.
“Halmonie apakah datang?”, tanya Jinwoo.
“Iya, dia datang. Sekarang dia akan menuju ke sini setelah dari toilet”,jawab Minwoo.
Ketika berdiam beberapa detik dengan Minwoo, halmonie datang dengan Yoora dan Naeun.
“Ahjussi!”, teriak Naeun dengan memeluk Jinwoo.
“Congratulation ahjussi”, ucap Naeun dengan mencium pipi kiri Jinwoo.
“Makasih”, ucap Jinwoo dengan mengusap kepala keponakannya.
“Aigoo, cucu halmonie sangat kasihan”, peluk Halmonie.
“Halmonie jangan bicara seperti itu. Aku bukan anak malang. Berikan aku pelukan hangat saja”, ucap Jinwoo dengan memeluk erat neneknya dan berkata, “aku sangat menyayangimu”.
Lalu halmonie melepaskan pelukan kemudian memberikan kecupan untuk cucunya. Ditengah kebahagiaan mereka, Park Shin datang dengan nada menyindir.
“Kalian harusnya di luar sampai Jinwoo menyelesaikan janji suci nikahnya. Malah asyik berbahagia di sini. Kalian jangan mempengaruhi buruk putraku”.
“Aigoo, kamu tidak pernah berubah. Semoga kamu tidak menyesali perbuatan kamu”, ucap Halmonie dengan berjalan pergi keluar dan diikuti oleh Yoora dan Naeun.
Minwoo pun ikut menyusul Yoora dan lainnya. Saat melangkah Park Shin melirik Minwoo dengan ekspresi sinis.
Setelah Minwoo keluar Park Shin memberi pujian kepada Jinwoo.
“Aigoo, kamu sangat tampan. Pasti banyak pria yang iri kepadamu”, dengan mengusap pipi Jinwoo dan tidak lupa menyampaikan waktu pernikahannya.
“Jinwoo bersiaplah sebentar lagi kamu akan memasuki altar dan jangan buat malu eomma”, ucap Park Shin.
“Eomma tunggu di sana. Eomma harus menemui beberapa tamu dulu. Jangan lupa dasi dan jasnya di pakai”, imbuh Park Shin dengan meninggalkan Jinwoo di ruangan sendirian.
Jinwoo menghela nafas setelah Park Shin keluar lalu mengambil ponsel di saku celana sebelah kanan dan membuat menghubungi Minwoo.
“Hallo hyung, datanglah ke ruangan aku. Ada yang harus ku mintai tolong”, ucap Jinwoo lalu memutuskan hubungan secara sepihak. Jinwoo berjalan ke sofa dan meletakkan bokongnya lalu menyalakan rokok. Tak butuh waktu lama menunggu Minwoo datang ke ruangannya. Ia datang tanpa mengetuk pintu dan langsung menanyakan perihal adiknya tiba-tiba meminta dirinya datang ke ruang tunggu pengantin.
“Ada apa Jinwoo?”, tanya Minwoo.
“Hyung. Apakah kamu mendukung semua rencana yang dilakukan eomma?”, tanya Jinwoo tanpa mengalihkan pandangannya di lantai.
“Ke..kenapa kamu bertanya. Me.. menurutkan p..perbuatan eomma dan appa tidak bisa dibenarkan..”, ucap Minwoo.
“Apakah k..kamu mau kabur dari pernikahan ini?”, tanya Minwoo.
“Wahh..hyung, kamu benar-benar kakakku yang mengerti keadaan adikmu”, ucap Jinwoo dengan ekspresi tidak dapat dibaca oleh mata Minwoo.
Minwoo menghela nafas setelah mendengarkan ucapan Jinwoo dengan memijit keningnya.
“Kamu benar-benar gila. Kenapa kamu tidak menolak sejak awal?”, frustrasi Minwoo.
“Apakah aku menolak di awal mereka tidak akan memaksa aku setelah kamu meninggalkan keluarga Cha?”, tanya Jinwoo dengan ekspresi marah.
“Ya, aku benar-benar salah dan menjadikan kami korban atas perbuatan aku. Apa yang harus aku lakukan untuk membantumu kabur dari gedung ini untuk menebus dosaku yang sudah membuat adikku menderita?”, tanya Minwoo dengan ekspresi mengasihani adiknya.
“Wahh..kamu benar-benar kakak terbaik”, puji Jinwoo.
“Cepatlah katakan!”, seru Minwoo.
“Hyung ambilkan aku pakaian dengan hoodie, topi dan masker. Lalu tolong keluarkan mobil yang aku sewa berwarna putih. Di sana sudah ada orang bayaran. Dia sudah aku berikan uang. Kamu tinggal ambilkan”, ucap Jinwoo.
“Tolong alihkan perhatian para penjaga”, lanjut Jinwoo.
“Baiklah”, ucap Minwoo.
Minwoo langsung bergegas mengambil pakaian di bagasi area parkir. Lalu memberikan kepada Jinwoo. Kemudian langsung pergi menemui orang bayaran untuk mengeluarkan mobil putih dari arena parkir dan mengalihkan para penjaga gedung dengan menyuruh Jinwoo ikut rombongan orang-orang yang baru saja meletakkan paket yang dipesan. Setelah itu Minwoo menancapkan gas setelah Jinwoo keluar dan berhenti cukup jauh dari arena gedung pernikahan. Usai menyelesaikan misi membantu adiknya, Minwoo kembali ke gedung dengan menetralkan ekspresi agar tidak ketahuan oleh keluarganya setelah membantu adiknya kabur dari gedung pernikahan.
Acara telah tiba sang MC menyambut para tamu undangan dan dilanjutkan memanggil mempelai pria namun tak kunjung datang. Sang MC sudah mencoba beberapa kali dan membuat para tamu undangan heboh. Mempelai pria tak kunjung datang Park Shin dan Cha Gildeon pergi ke ruangan Jinwoo. Di ruangan tersebut kosong. Kekhawatiran yang Park Shin rasakan terjadi.
Atas hilangnya Jinwoo terdengar sampai ke telinga Han Naomi. Han Naomi marah dengan mengamuk dan memecahkan barang-barang di ruangan itu. Nyonya Noh menenangkan putrinya. Nyonya Noh ikut menangis dan marah atas perbuatan keluarga Cha. Keluarga Han merasa kalau keluarga Cha telah mempermainkan keluarganya dan putrinya. Membuat pak Han mengambil tindakan untuk memutuskan kontrak kerja sama dengan Cha Gildeon.
Semua telah hancur membuat Park Shin dan Cha Gildeon frustrasi dan saling menyalahkan.
“Semua anak kita tidak ada yang bisa menurut! Ini gara-gara kamu yang gak becus mendidik mereka dengan baik sehingga mereka membangkang!”, ucap Cha Gildeon dengan nada tinggi.
“Kamu juga yang telah membuat mereka jadi seperti ini! Kamu jangan hanya menyalahkan aku! Aku tahu kalau kamu gak pernah memperhatikan kami! Yang kamu urusin hanya wanita simpanan kamu! Emang aku gak tahu jika kamu selingkuh! Yahh! Cha Gildeon! “, teriak Park Shin dengan nada tinggi.
Cha Gildeon malah menampar wajah istrinya dengan keras sampai Park Shin jatuh ke lantai. Park Shin menangis histeris. Sedangkan Cha Gildeon tidak memedulikannya.
__ADS_1