
Setelah seharian bermain berbagai macam permainan yang disuguhkan di pantai Bali, kini Leon dan Ana makan bersama menikmati derunya suara ombak dengan nuansa romantis.
“Sweety, apa kamu menyukai permainan yang sudah kamu coba?”, tanya Leon. Ana menganggukan kepala.
“Syukurlah kalau kamu menyukai semua yang sudah dicoba”, ucap Leon dengan mengusap bibir dengan lap kain. Lalu menyodorkan tangan kepada Ana untuk mengajaknya berdansa.
“Sweety, apakah kamu mau berdansa denganku?”, tanya Leon. Ana mempertimbangkan ajakan dari Leon lalu mengiyakan.
Leon memberikan sinyal kepada pemilik restoran. Lalu mereka menghidupkan musik romantis. Leon mengarahkan tangan Ana untuk memegang pundak miliknya. Sementara Leon memegang pinggang Ana.
Mereka mulai berdansa penuh dengan keromantisan. Leon mencium pundak Ana sambil membisikan, “kamu malam ini sangat sexy dan canti”.
Ana merasa berdesir dengan sentuhan bibir Leon ke telinganya membuat wajah Ana merah merona. Ana menyembunyikan wajahnya ke dalam dada bidang Leon.
Leon tersenyum melihat tingkah Ana yang malu-malu membuat Leon merasa gemas. Lalu Leon mencoba mengangkat kepala Ana untuk menatap dirinya. Ana menatap wajah Leon yang terlihat tampan pada malam ini. Ana memandang mata Leon dengan penuh kasih dan Leon merasakan tatapan mata Ana yang penuh kasih juga cinta untuknya. Leon mencoba mendekatkan wajahnya dengan satu inci lalu setengah inci dan mendekat lebih dekat merasakan sesuatu yang lembut kemudian Leon memulai dengan memenjamkan matanya begitupun Ana. Mereka sama-sama menikmati apalagi perpaduan dengan nuansa musik yang romantis.
Beberapa lama kemudian mereka melepaskan ciuman dan Leon mengajak Ana untuk kembali ke kamar.
“Sweety, kita kembali ke kamar. Aku sangat mengantuk”, ajak Leon.
“Aku juga”, ucap Ana dengan memberikan senyum.
Pada saat sedang berjalan menuju kamar, Leon mengangkat tubuh Ana dengan briday style sampai ke kamar dan mereka tidur saling berpelukan tanpa berganti pakaian.
Mentari pagi menelisik masuk ke dalam jendela kamar menyinari dua sejoli yang masih asyik berpelukan di bawah selimut. Ana terbangun karena mimpi buruk kembali terulang. Ana memimpikan ketika ayahnya memukul dirinya akibat bujukan dari istri barunya setelah ibunya meninggal akibat leukimia. Ayah Ana mulai berubah setelah menikahi kekasihnya yang memiliki status di tinggal dengan pasangan hidupnya.
Ana beranjak dari ranjang dan langsung melesat ke kamar mandi membersihkan diri. Sementara Leon masih asyik terlelap di bawah alam mimpi.
Beberapa lama kemudian Ana keluar dari kamar mandi dengan memakai setelan baju yang kasual dengan celana hotpants. Sementara Leon tengah membaca beberapa email lalu mengalihkan pendangannya ke Ana yang terlihat sexy dan begitu indah. Leon turun dari ranjang mendekati Ana di depan cermin lemari. Leon memeluk dengan mengatakan, “pagi ini aku melihat keindahan tubuhmu yang begitu bersinar dengan semerbak wangian yang keluar dari tubuhmu”, sambil memberikan kecupan di pundaknya.
“Tidak perlu gombal pagi-pagi lebih baik kamu mandi”, ucap Ana dari balik kaca.
__ADS_1
“It’s okay, tapi kamu harus berikan aku morning kiss dulu”, ucap Leon.
Ana membalikkan tubuhnya dan menyuruh Leon untuk menutup mata.
“Tutuplah matamu dulu, aku akan berikan kamu morning kiss”, ucap Ana.
“Baiklah, tapi kamu jangan membohongiku”, ucap Leon yang tengah bersiap menutup mata.
“Iya, aku tidak akan berbohong”, ucap Ana.
Leon menuruti kemauan Ana dengan menutup mata. Lalu Ana memulai dengan berjinjit sambil memegang tangan Leon yang bertengger di pinggangnya dengan mendekat satu inci lalu meniup ke wajah Leon dan pergi berlari sambil mengejek sampai Leon mencoba mengejar Ana hingga tertangkap dan menarik pinggang Ana dan menciumnya dengan begitu dalam sampai nafasnya memendek. Leon melepaskan dan pergi berlalu ke kamar mandi disaat Ana tengah mengambil udara akibat ciuman panjang yang membuat sesak di dada.
Pipi Ana bersemu merah akibat rasa yang diberikan oleh Leon membuat detak jantungnya berdebar tak karuan seperti akan meledak. Hari-hari Leon selalu memberikan sesuatu yang membuat jantung Ana hampir meledak. Dibalik perlakuan Leon itu membuat perasaan Ana semakin dalam menyukai Leon yang terus saja memberikan kelembutan dan kehangatan yang tak pernah dirasakan olehnya. Ana berharap kedepannya dia ingin selalu berada di sisi Leon begitupun harapan yang dirasakan oleh Leon di kamar mandi di bawah shower.
Persiapan pesta akan segera dimulai untuk esok yang akan datang. Para pelayan tengah sibuk menata ruang dan dekorasi villa untuk persiapan pesta yang diadakan oleh kliennya di Bali. Mereka wara wiri agar persiapan pesta benar-benar matang sebelum jamuan pesta telah tiba. Para undangan sudah tiba ke Bali dan mereka berada di kamar hotel masing-masing sesuai pesanan yang Leon pesan. Para pelayan yang ditugaskan menyambut tamu berada di luar dan membantu para tamu undangan beristirahat sesuai dengan nomor hotel yang tertera pada undangan khusus yang mereka bawa.
Sementara Leon tengah sarapan pagi bersama Ana walaupun sudah telat dibilang untuk sarapan pagi. Mereka menikmati hidangan yang dipesan sambil Leon menggoda Ana yang asyik makan penuh dengan nikmat. Ana terus memukul Leon dengan wajah memerah dengan mengumpat, “dasar mes*m”. Leon hanya tersenyum dan menarik lengan Ana saat akan mau menghindar sehingga Ana terjatuh diatas sofa. Leon tidak ingin mengulur waktu sehingga ia melahap habis makanan yanga ada di dalam mulutnya dan membuat Ana sedikit susah bernafas. Ana bangkit dari sofa lalu menendang betis Leon dan ia mengadu sakit. Ana tidak menghiraukan ringisan Leon dan Ana terus berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajah. Ketika Ana kelamaan berada di kamar mandi, Leon mengetuk pintu dengan menyebut namanya.
“Ana!”
“Ana!”
“Ana!”
“Ada apa?!”, ketusnya.
“Yuk kita keluar”, ajak Leon dengan menautkan jari tangan kekasihnya menuju ke pantai.
Sampai di pinggiran pantai dengan suasana deru ombak Leon mengajak Ana untuk duduk di bawah rindang pohon kelapa yang melambai-lambai karena hembusan angin. Lalu Leon membuka suara dengan bertanya, “An, menurutmu pantai di Bali suasananya sejuk dan indah tidak?”
Ana menjawab dengan berfikir sejenak lalu mengungkapkan isi hatinya.
__ADS_1
“Menurutku pantai berada di sini sangatlah indah, sejuk, dekat dengan suara ombak yang menenangkan pikiran dan jauh dari polusi. Apalagi di pantai selalu bersama dengan orang terkasih yang selalu saja membuat jantungku terus berdetak dengan hal yang mengejutkan dan aku terus dibuat kagum olehnya”, senyum Ana dengan memandang kearah depan sanubari pantai.
Leon sangatlah senang apa yang diungkapkan oleh Ana. Senyuman itu tak lama luntur karena ada hal yang mengganjal dalam isi pikiran dan hatinya. Hal itu sangatlah berat untuk diungkapkan kepada kekasihnya. Leon berfikir keras untuk membuat Ana mengerti akan hal kebohongan besar yang disembunyikan dirinya.
“Bagaimana cara aku untuk mengungkapkan identitasku sebagai sosok Leon sang pemilik konstribusi perusahaan besar di beberapa penjuru negara. Aku tidak ingin Ana terlalu kecewa atas kebohongan identitasku yang selama ini aku sembunyikan. Ana hanya tahunya kalau aku pria sederhana dan bekerja hanya sebagai karyawan biasa”, batin Leon yang tengah beradu dengan pikiran sambil memandang wajah Ana yang begitu damai menikmati nuansa pantai di Bali.
Ana yang tengah memandang deru ombak merasakan bahwa Leon tengah melamun karena tidak ada tanggapan yang sering di lontarkan oleh Leon sehingga Ana menoleh sisi samping kanan dimana Leon berada.
“Leon, apakah kamu hanya bertanya itu saja dan tidak ada pembahasan lain yang mungkin ingin kamu ungkapkan? “, tanya Ana.
Leon yang sedang di tanya hanya diam dan terus memandang wajah Ana sehingga Ana menyadarkan Leon dengan mengibaskan tangannya di depan wajahnya sambil memanggil nama dirinya.
“Leon!”
“Leon!”.
“Hallo, Leon!”
Lalu Leon kembali ke alam nyata setelah mendengar panggilan dari Ana dengan mengusap wajahnya akibat kekalutan masalah dalam pikirannya.
Ana yang memandang Leon khawatir dengan keadaannya.
“Leon, are you ok?”, tanya Ana dengan mengkhawatirkan keadaan Leon sambil mencoba mengusap kedua pipinya.
“Ya, aku baik-baik saja”, jawab Leon dengan senyum sedikit paksa.
“Apabila kamu ada masalah bisa ceritakan kepadaku. Mungkin aku bisa membantu”, ucap Ana dengan sedikit menyengir.
Leon hanya tersenyum dan memandang wajah Ana. Ana yang dipandang oleh Leon dengan intens merasa salah tingkah sehingga Ana memutuskan untuk membuang muka namun Leon malah menarik tangan Ana sampai Ana menabrak dada bidangnya dan terkejut.
“Leon kamu apaan sih?”, tanya Ana.
__ADS_1
“Ussttt..,diamlah”, ucap Leon dengan mengeratkan pelukannya untuk menenangkan hatinya yang sedang berkecamuk karena bingung untuk mengungkapkan identitas jati diri.
Ana yang berada di dalam pelukan merasa nyaman dan membalas pelukan Leon dengan mengusap punggung lebarnya.