
Lucas membuka suara sembari menyetir mobil. “sweety, apa ada yang mengganggu dalam otakmu itu?”
“Tidak”, jawab Vita dengan singkat.
Lucas menghembuskan nafas kasar dengan menancapkan gas sampai ke jalanan sepi dan Lucas menepikan mobilnya.
“Ada apa? Apakah kita sudah tiba ke tempat yang di tuju? Tapi.. tapi jalanannya tidak ada gedung dan rumah untuk kita singgahi”, ucap Vita dengan menengok ke kanan dan kiri. Lucas mengeluarkan nafas kasar lalu melepaskan sabuk pengaman lalu dengan sigap Lucas melepaskan sabuk pengaman milik gadisnya dengan lihai kemudian mengangkat memindahkan tubuhnya dalam pangkuan membuat Vita kesal.
“Apa yang kau lakukan? ”seru Vita dengan menunjukkan wajah kesalnya.
“Aku hanya ingin kamu mengatakan apa yang ada di otak kecilmu itu. Jika tidak aku memiliki cara lain untuk membuat bibirmu membuka”, ancam Lucas dengan nada rendah. Lucas menunggu Vita membuka suara dengan matanya sedikit bergetar karena sedikit tak nyaman dengan tatapan bengis dari sorotan bola mata milik pria yang ada di depannya.
“Please semua yang kau pikirkan tumpahkanlah kepadaku agar aku bisa melindungimu. Jangan sembunyikan rasa getir dalan jiwamu. Aku gak mau kau terluka karena orang-orang seperti mereka. Biarkanlah aku terus melindungimu dan berada di sisimu”, ucap Lucas dalam hati dengan sorotan mata serius.
“Sebenarnya getir bagiku untuk aku katakan”, ucap Vita dalam hatinya yang sedikit ngilu.
“Apa kamu akan terus diam?”, tanya Lucas dengan menaikkan sebelah alisnya sambil mengeratkan pegangan di pinggang milik Vita.
“A..aku sebenarnya..getir untuk kukatakan”. Vita menundukkan kepalanya sambil memainkan jemarinya.
“Jika itu sangat getir, harusnya jangan kau simpan. Katakanlah, biar aku bisa membantumu”, ucap Lucas sambil menyingkirkan anak rambut milik Vita ke belakang telinga.
“Baiklah, akan aku katakan”, ucap Vita dengan menghembuskan nafas kasar.
“Dia memiliki seribu rencana licik untuk menumpahkan darah. Dia tak bisa dikurung terus di dalam rumah sakit jiwa. Dia akan segera keluar dari sana. Kemungkinan besar dia akan membuat kehebohan dengan menyuruh orang meniruku apabila dia gak keluar dari sana. Jika ia keluar dari sana, pasti ia akan membuat drama yang sudah ia rencanakan bersama Rajasa. Aku sangat benci mengatakan tanpa strategi yang aku buat.. Kepala aku hampir akan pecah memikirkan itu semua terlebih orang-orang seperti dia ada disekitarku”, jelas Vita sambil mengeluh. Lucas mendengar penjelasan gadis kecilnya sangat sedih dan ia memeluknya.
Ketika suasana tengah sedih tiba-tiba ada suara nada dering ponsel milik Lucas. Lucas mengangkat sambungan telepon dari anak buahnya.
“Hallo”.
__ADS_1
“Maaf tuan, kami telah lengah dengan musuh sehingga pasien tersebut telah kabur”.
“Apa?!” terkejut Lucas membuat Vita ikut terkejut karena suara keras dari Lucas yang ada di depannya.
“Bagaimana kalian bisa lengah?!”, bentak Lucas.
“Kami tak..”
“Katakan nanti saja. Aku akan ke sana”, ucap Lucas memotong perkataan anak buahnya.
Lucas langsung memutuskan sambungan sepihak lalu mengatakan kepada Vita jika Lisa telah lari dari rumah sakit jiwa. Vita langsung menyuruh Lucas menancapkan gas. Sebelum pergi Lucas menuruti dan langsung menancapkan gas menuju rumah sakit jiwa.
Beberapa lama kemudian Lucas dan Vita telah sampai lalu mereka turun dari mobil kemudian melangkah lebar menuju ruangan rawat milik Lisa. Di sana Vita dan Lucas dikejutkan dengan orang-orang berjaga tergeletak di lantai.
“Apa yang terjadi?”, tanya Vita.
“Seperti dugaan sebelumnya. Dia pasti akan kembali ke rumah lalu menghasut teman-temannya”, batin Vita.
“Siapa yang kalian lihat?” tanya Lucas.
“Kami tidak melihat wajahnya. Mereka menggunakan topeng. Dari perawakan yang saya lihat ada tiga pria dan satu wanita lalu ada yang aku curigai dari pihak rumah sakit ini. Salah satu pegawai pasti ada yang telah menerima suap”, jelas sang pengawal.
“Oh ya, aku pergi dulu untuk mencarinya”, seru Vita.
“No, kamu akan bahaya”, cegat Lucas.
“Kalau begitu siapa yang membereskan orang-orang ada di rumah sakit ini? “, tanya Vita.
“Masih ada Dante, Jorsh dan lainnya”, jawab Lucas.
__ADS_1
“ Baiklah, kita segera pergi sebelum terjadi sesuatu kepada mereka”, ucap Vita dan langsung bergegas pergi dengan diikuti Lucas juga Johan.
Vita berlari memasuki mobil dengan duduk di bangku kemudi dan diikuti Lucas dan Johan. Saat Lucas akan membuka suara Vita sudah menancapkan gas terlebih dahulu dengan kecepatan tinggi.
“Apa kamu tahu lokasi dimana ia pergi?”, tanya Johan dengan nada seru.
“Aku tahu, aku tahu semua sikap yang dia miliki. Dia saat ini sedang di rumah untuk mencari simpati kepada Ana dan Clarisha bahkan teman-teman kalian yang lain”, seru Vita sambil mengemudikan mobil dan fokus dalam jalanan.
...
Di kediaman milik Vita, Lisa tengah mencari simpati usai mencoba melukai diri sendiri dengan belati sebelum menemui Ana dan sahabat-sahabat lainnya.
Usai menyayat kulit di tubuhnya, Lisa masuk dengan membuka pintu yang keras. Lisa berteriak mencari Ana dengan ratapan penuh dengan kesedihan di wajahnya. Berkali-kali memanggil tak ada Ana di dalam rumah itu. Lisa mulai khawatir jika Ana dan lainnya berpihak kepada Vita.
“Bagaimana nih, Ana gak ada di rumah. Harusnya ia berada di rumah ini. Apa dia ke kantor. Ini gak boleh terjadi. Jika iya aku akan terpojokan dan tidak dapat apa-apa dari yang ku rencanakan” Lisa berfikir sambil menggigit ibu jarinya.
“Mungkin dia ada di atas, dalam kamarnya. Ya, semoga saja ia ada di sana”, monolog Lisa.
Lisa berjalan ke arah menaiki tangga menuju kamar Ana. Sampai di depan pintu Lisa mengetuk sambil membuat suara yang dramatis. Namun kenyataannya gak ada suara. Lisa mendengus kasar sambil berkacak pinggang dengan bermonolog, “tu gini aku gak usah ke sini. Tapi, aku butuh korban untuk mendapatkan harga dari hasil yang aku rencanakan. Jika aku gagal pasti Rajasa akan memukulku dan tidak memberiku jatah bulanan. Aku sangat sebal!”, dengan menarik rambutnya.
Ketika gundah gulana tiba-tiba di kagetkan suara derap kaki. Lisa mencoba mengintip dan melihat wajah Vita bersama dua pria. Lisa berlari mencari tempat persembunyian. Ia bingung untuk menyembunyikan diri sambil menengok ke arah kanan kiri. Lalu ia berlari ke kamarnya yang pernah ia tempati. Ia mencoba membuka pintu namun pintu itu terkunci, membuat Lisa gelagapan untuk mencari tempat persembunyian. Lisa mencoba membuka pintu kamar milik Ana. Dan pintu itu ternyata gak di kunci. Lisa masuk ke kamar Ana lalu bersembunyi ke lemari. Dari dalam lemari Lisa mendengar teriakan Vita dengan umpatan kasar.
“Lisa! Lisa! Aku tahu kamu ada di mana?! Lebih baik keluar! Dasar wanita plastik, murahan, banyak sandiwara!”
Lisa mendengarkan seruan Vita membuat hatinya mendidih sambil berkata kasar dengan lirih.
“Dasar bit**”
Suara yang keluar dari mulut Lisa, seolah terdengar sampai ke telinga Vita yang berdiri di depan lemari Ana. Vita mendekati lemari itu dengan adegan slowmotion (Ke hati-hatian). Lalu Vita membuka pintu lemari itu langsung dapat tendangan dari Lisa di perutnya membuat Vita terjungkal duduk di lantai. Lisa berlari sambil menodongkan pisau membuat Johan tidak mampu mendekat. Sementara Lucas menolong Vita yang tersungkur di lantai. Lucas membantu Vita berdiri. Lalu Vita berlari sambil memegang perutnya yang terasa nyeri akibat tendangan keras dari Lisa. Vita mencoba mengejar, namun Lisa sudah terlebih dahulu meloncat ke lantai dasar dengan dibantu oleh krucul-kruculnya. Lisa bersama keempat krucul melarikan diri dengan pick up sampai tak terkejar. Vita mengumpat kasar sambil berkacak pinggang dan di dengar oleh Lucas yang berada di sampingnya.
__ADS_1