Loyal And Possesive Mafia Billioner

Loyal And Possesive Mafia Billioner
Episode 22 (Bunga Cha Jinwoo)


__ADS_3

Mereka kembali berkumpul setelah melewati tangisan dan kesedihan mendalam karena Jinwoo. Yoora pergi menyiapkan makan siang dengan Naeun. Sementara Vita duduk di samping halmonie, Minwoo dan Park Shin. Park Shin mulai membuka suara dengan sedikit canggung sebab pertama kali ia mengungkapkan isi hatinya kepada halmonie, Minwoo dan Vita.


“Eomma”, panggil Park Shin.


Halmonie menjawab dengan deheman.


“Eomma”, panggil Park Shin kembali.


“Why?! Jangan buat eomma menunggu. Aigoo”, ucap halmonie.


“Uhmmm..maaf”, lirih Park Shin.


“Katakanlah dengan jelas, eomma tidak dengar”, seru halmonie.


“Maaf”, ucap Park Shin kembali dengan lirih.


“Lakukanlah dengan jelas!”, seru halmonie.


“Aku bilang maaf!”, seru Park Shin dengan menutup mata. Vita dan Minwoo melihat Park Shin terlihat canggung membuat mereka tersenyum dan ingin tertawa lalu mengejeknya. Tetapi mereka harus menahan karena takut jika nanti Park Shin marah atau kesal.


“Itu baru benar!”, seru halmonie.


“Iya eomma”, ucap Park Shin.


“Kamu harus minta maaf kepada orang-orang yang pernah kamu sakiti termasuk putra pertamamu”, ucap halmonie.


“Yea, yea, yea”, ucap Park Shin. Halmonie memanggil Yoora dan Naeun untuk ikut bergabung di ruang tv. Yoora dan Naeun datang dan duduk di tengah-tengah antara halmonie dan Minwoo.


“Katakanlah Park Shin, sebelum kamu terlambat untuk melakukan sesuai hati nuranimu”, ucap halmonie.


“Yea, halmonie”, ucap Park Shin.


Park Shin menyiapkan kata-kata dan tenggorokan yang terasa berat dengan sekali-kali berdehem untuk menetralkan suaranya.


“Uhmm..eomma mau meminta maaf kepada kalian. Eomma sangat menyesali sikap yang sudah melampaui batas keegoisan sehingga membuat kalian tersakiti terutama kamu, Vita..”, ucap Park Shin dengan menepuk paha Vita. Vita hanya diam lalu memeluk Park Shin sambil berkata, “maafkan aku. Aku yang telah membuat Jinwoo membangkang kepadamu. Maafkan aku eommoni”.


“Itu bukan kesalahan kamu. Semua salahku yang terus menekannya sampai dia...meninggalkan kita”, ucap Park Shin dengan tangisan menyesal.


“Tolong maafkan aku Vit, Jinwoo, Yoora, dan Naeun”, ucap Park Shin dengan tulus.

__ADS_1


“Ya, kami maafkan eomma”, ucap Yoora pergi menghampiri Park Shin lalu memeluknya dan diikuti Naeun sambil memanggil kata nenek membuat kebahagiaan itu bertambah sampai mereka tak bisa menahan tangisan lalu tiba-tiba tertawa konyol. Halmonie melihat pemandangan bahagia keluarganya tersenyum dan mengatakan terimakasih kepada Jinwoo dalam hati sambil mengusap air mata.


Kemudian sesi dilanjutkan berfoto, makan bersama dan beristirahat dengan penuh canda tawa. Setelah menyelesaikan perasaan yang selama ini Park Shin abaikan dia kembali ke kediaman Cha. Park Shin memanggil taxi lalu pamit dengan keluarganya dan menuju ke rumah keluarga Cha. Park Shin membuka pintu dengan sedikit gugup dan perasaan yang aneh dalam hatinya. Lalu Park Shin mencoba mengabaikan perasaan yanv tidak nyaman dengan langsung melangkah dengan begitu berat. Park Shin melewati ruang tamu namun langkah itu terhenti di ruang keluarga. Park Shin melihat suaminya yang sedang duduk seolah ia menungguinya.


Cha Gildeon membuka suara dengan pandangan lurus.


“Park Shin..aku mengatakan dengan berat.. masalah hubungan kita yang kini sudah tak sejalan lagi. Sehingga aku memutuskan untuk berpisah demi karierku dan demi hidupmu setelah Jinwoo pergi”, ucap Cha Gildeon.


“Gak usah membawa-bawa putraku.. Dari dulu kamu tidak pernah memedulikan kami... Hanya kamu pedulikan selingkuhanmu saja!”, Park Shin menangis karena kesal dan marah dengan sikap suaminya yang tak acuh.


“Aku sudah menyiapkan kompensasi untuk hidupmu”, ucap Cha Gildeon.


“Persetan apa yang sudah ku lalui bersamamu”, tangisan Park Shin pecah.


“Aku amat menyesal menikah denganmu. Mataku ternyata sudah dibutakan oleh laki-laki brengs*k semacamu”, geram Park Shin.


“Ambilah cek yang sudah aku tulis nominalnya. Besok tolong tinggalkan rumahku”, ucap Cha Gildeon dengan berlalu pergi tanpa melirik Park Shin yang terjatuh terpelosot dengan tangisan histerisnya. Cha Gildeon pergi meninggalkan kediamannya. Sedangkan Park Shin tak berhenti menyalahkan dirinya sambil memukul dadanya karena penyesalan.


(Kembali di kediaman halmonie)


Malam telah tiba Vita menginap di rumah halmonie di kamar yang biasanya ia tempati bersama Jinwoo. Vita duduk dengan pikiran melayang.


“Vita! Kembalilah”, seru Jinwoo dengan melambaikan tangan.


“Gak mau”, seru Vita pergi menjauh. Lalu Jinwoo mengejar Vita dengan menggelitiknya sampai Vita tertawa pecah di supermarket besar. Dua sejoli menjadi pusat perhatian di mall itu sehingga Jinwoo dan Vita pergi dengan wajah malu. Mereka berpindah tempat arena bermain dengan tawa tiada henti.


Setelah puas bermain Vita mengajak Jinwoo mencari makan. Sebelum memasuki restoran Jinwoo dan Vita melakukan sebuah permainan batu, gunting, kertas dan yang kalah harus mentraktir makan. Mereka melakukan sampai sepuluh kali dan dimenangkan oleh Vita. Vita langsung masuk ke restoran dan memanggil pelayan kemudian langsung menunjukkan makanan yang ia pesan bersama minuman. Lalu pelayan itu pergi. Sembari menunggu Jinwoo menceritakan Naeun yang terus saja merengek karena kejahilan Jinwoo sampai Vita dan Jinwoo tertawa lepas hingga makanan yang dipesan pun tiba.


Bayangan masa lalu pecah karena suara Minwoo yang masuk tanpa disadari oleh Vita.


“Oppa, ada apa?”, tanya Vita.


“Ada sesuatu yang ku berikan kepadamu”, ucap Minwoo mengeluarkan amplop putih dan sebuah kotak perhiasan.


“Apa ini oppa?”, tanya Vita penasaran.


“Bukalah isi kotak itu dan untuk surat kamu harus membukanya setelah aku menyelesaikan sesuatu untukmu”, ucap Minwoo.


Setelah mendapatkan ijin dari Minwoo, Vita membuka kotak itu yang berisi sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati dalam sebuah lingkaran berbentuk matahari. Vita tak bisa membendung air mata yang ditinggalkan oleh Jinwoo.

__ADS_1


Minwoo melihat ekspresi Vita merasa ngilu dengan kepergian Jinwoo. Tetapi Minwoo tetap harus menyampaikan semua isi hati yang membebani dirinya semenjak Jinwoo hidup.


“Vit, kamu harus dengarkan cerita semasa kami masih bersama sebelum kamu membaca isi surat itu”, ucap Minwoo.


“Ceritakanlah, aku akan dengarkan dengan baik-baik”, ucap Vita dengan mata masih memandang kalung di dalam kotak.


“Dahulu semasa kecil Jinwoo sangat menggemaskan dan lincah dalam segala hal. Aku selalu iri dengan kelebihan yang ia tunjukkan kepadaku. Lalu saat remaja Jinwoo mulai tersiksa akibat keegoisan aku..”


Flashback.


“Eomma, aku sudah tidak peduli lagi sebagai pewaris! Persetan apa yang telah membuatmu menjadi serakah eomma!”, teriak Minwoo dengan air mata menetes.


“Minwoo! Eomma gak akan pernah merestui hubunganmu dengan gadis berbeda status! Ingat itu baik-baik!”, amarah Park Shin.


Minwoo tidak perduli dan langsung bergegas pergi keluar dengan menutup pintu dengan keras. Minwoo mengendarai mobil sampai ke persimpangan jalan sepi lalu mengambil rokok kemudian mengepulkan asap sambil menghembuskan nafas kasar.


Park Shin yang masih jengkel pergi ke ruangan anggur untuk menenangkan pikirannya sambil mencoba rasa aromatik penghilang stress.


Setelah perasaan mereda Park Shin pergi ke ruang kamar Jinwoo yang tengah memainkan ponsel di ranjang. Park Shin melihat Jinwoo sedang bermalas-malasan langsung mengomeli.


“Jinwoo, kamu harusnya jangan bermalas-malasan. Eomma harap kamu tidak seperti kakakmu yang selalu saja membangkang. Jadilah anak yang nurut”, ucap Park Shin dengan nada menekan. Jinwoo mendengarkan ucapan Park Shin membola lalu beranjak dari ranjang dan pergi ke kamar mandi. Park Shin pergi meninggalkan kamar Jinwoo.


Setelah mendengar pintu kamarnya di tutup sedikit keras Jinwoo keluar dengan menghembuskan nafas kasar.


Esok hari Park Shin bertengkar dengan Cha Gildeon. Cha Gildeon selalu mencari kesalahan dengan istrinya dengan mengatakan kalau ia sebagai istri tidak becus mengurus putra-putranya sampai salah satu putranya membangkang keinginan orang tua. Park Shin juga tidak kalah mencari kesalah suaminya sampai Cha Gildeon tidak segan menampar pipi istrinya yang telah menyinggung mengenai perselingkuhannya. Jinwoo yang sejak tadi mengintip hanya berpasrah lalu keluar dari kamar setelah Cha Gildeon pergi. Jinwoo duduk di meja makan tanpa memperhatikan Park Shin yang menyedihkan. Jinwoo memakan lauk dan nasi dalam kesunyian. Lalu beranjak pergi setelah Park Shin ke kamarnya.


Malam yang tenang Jinwoo yang tengah menikmati musik tiba-tiba Park Shin melempari kertas di wajah Jinwoo dengan ekspresi marah.


“Jinwoo! Ini apa-apaan sih. Nilai kamu terlalu buruk bahkan eomma gak bisa menaruh wajah di depan sosialita eomma! Jadilah anak yang penurut dan berprestasi agar eomma tidak diremehkan oleh appa kamu. Jangan seperti Minwoo yang meninggalkan eomma sendirian. Jinwoo kamu anak yang baik, balaslah kebaikan eomma yang sudah merawatmu dari perut hingga saat ini. Mengerti!”, Park Shin keluar dari kamar Jinwoo.


Setelah kepergian Park Shin Jinwoo mengeratkan tangannya dengan nada geram menyalahkan perbuatan segalanya kepada Minwoo dengan mata melotot.


Hari-hari terus berjalan dengan seiringnya waktu Jinwoo berubah menjadi sosok yang dingin. Dia tidak lagi bisa bergaul dengan teman sebaya. Hidupnya telah hancur setelah Minwoo meninggalkan rumah dengan menikahi gadis biasa. Jinwoo menjalankan bisnis yang dibebankan oleh Cha Gildeon sampai suatu hari dia bertemu seorang gadis yang bar-bar dan bisa berbahasa korea. Jinwoo mulai berubah ketika hanya bertemu dengan gadis itu. Jinwoo mulai mendapatkan kehidupan baru setelah hidup dengan menyesakkan. Dia bisa bernafas dan tertawa. Jinwoo juga sudah memaafkan kakaknya dan hidup di desa bersama halmonie ketika ia mengambil cuti.


“Maka dari itu kamu harus banyak tersenyum agar Jinwoo tidak sedih lagi. Kamu jangan risau masalah memiliki keluarga. Kami sudah menganggap gadis arogan ini menjadi keluarga”, ucap Minwoo dengan mengusap kepala Vita penuh kasih dan sayang. Vita menganggukkan kepala dan menunjukkan senyum.


“Aku tidur dulu. Takut Yoora mencariku”, pamit Minwoo dengan tawa.


“Ok”, ucap Vita dengan menunjukkan kode jari berbentuk “o”.

__ADS_1


__ADS_2