Loyal And Possesive Mafia Billioner

Loyal And Possesive Mafia Billioner
Episode 18 (Menemukan putri alm. Monica)


__ADS_3

Kring.. Kring.. Kring..


Suara alarm berbunyi membuat tidur Ana terganggu. Ana mematikan alarm lalu beranjak dari ranjang menuju ke kamar mandi. Usai menyelesaikan ritual mandi Ana bergegas turun menuju dapur. Ana melihat Vita tengah makan. Ana menghampiri Vita yang sedang menikmati masakannya.


“Wahh, Vit kamu makan sendiri dengan porsi begitu banyak. Harusnya kamu mengajakku juga”, ucap Ana dengan menggeserkan kursi.


“Aku kira kamu hari ini berangkat kerja”, ucap Vita.


“Ini akhir pekan”, ucap Ana.


Vita ber-oh ria dan Vita memberikan mangkuk kecil kepada Ana. Ana menuangkan air putih lalu menyicipi masakan milik Vita.


“Wahh, ini sangat lezat”, puji Ana.


“Harusnya kamu sering-sering di rumah”, ucap Ana.


“Ini kamu coba kerang yang aku panggang. Ini sangat lezat seperti drama korea”, ucap Vita.


Ana memakan kerang yang diambilkan Vita dan rasa kerang sangat lezat sehingga membuat Ana tak bisa berkata. Mereka menikmati sampai hidangan telah habis. Di saat hidangan telah habis Lisa baru turun bersama dengan Johan. Lisa bergabung di meja makan dan melihat panci yang sudah tidak ada isi. Lisa kecewa terhadap kedua temannya yang tidak menyisakan untuk dirinya.


“Kalian makan-makan tidak menyisakan aku juga sih. Kalian benar-benar membuatku kecewa”, ucap Lisa dengan nada kecewa.


“Maaf Lis, habis kami pikir kamu tidak ada di rumah”, ucap Ana.


“Meskipun aku gak ada di rumah kalian harus menyisakan makanan untukku”, ucap Lisa dengan bibir manyun.


“Sudahlah, kamu bisa masak sendiri. Di kulkas gak kekurangan bahan makanan. Kamu tinggal buat yang sama seperti kami hanya mie instan di kasih daun bawang ditambah saus tiram dan saus tomat. Selebihnya kamu tinggal panggang kerang di atas wajan ini. Makanan kami gak ada yang istimewa. Kalau mau istimewa tambahin cincang daging. Jangan manja gitu”, ucap Vita dengan ekspresi datar.


“Aku pergi dulu”, pamit Vita menggeser kursi ke belakang dan melangkahkan kakinya keluar. Sebelum melangkah pergi Vita mengingatkan Ana untuk membersihkan alat-alat makan dibersihkan sama dengan lainnya sebagai bergantian bekerja. Lalu Vita melesat pergi.


Sampai di depan pintu keluar Vita disuguhkan dengan beberapa wajah pria, satu wanita paruh baya, dan dua wanita. Dante menyapa dahulu kepada Vita.


“Hai”, ucap Dante.


“Apa Ana dan Lisa ada di dalam?”, tanya Adele.


“Ya, mereka ada”, ucap Vita.


“Kamu mau kemana nak?”, tanya Alena.


“Saya mau keluar aunty”, ucap Vita dengan senyum lembut yang singkat.


“Masuklah”, ucap Vita.


Vita pergi melewati mereka dengan ekspresi datar. Ketika ekspresi itu tidak enak dipandang namun saat bertemu dengan dua pria ekspresi Vita berubah.


“Hai Vit”, sapa Reino.


“Kalian ambilah di pos satpam untuk bisa kalian santap di rumah bersama orang tua kalian. Terus buku dari Duran mana?”, tanya Vita.


“Ups, hampir lupa bos”, ucap Dadang. Lalu Dadang merogoh saku jaket mengambilkan buku milik Duran yang dititipkan untuk Vita.


“Nih Vit”, serah Dadang.


“Ambilah box di pos satpam”, ucap Vita dengan membuka buku catatan utang yang harus ditagih.


Lucas yang belum juga masuk melihat Vita yang tengah serius membaca buku entah buku apa yang dipegang oleh gadis tersebut. Lalu Lucas masuk rumah setelah ditepuk pundak oleh Dante.

__ADS_1


Lucas masih memikirkan mengenai gadis itu yang terus mengganggu pikirannya yang seolah sudah mengenalnya. Begitupun dengan Alena yang terus gelisah dengan wajah yang mirip dengan sahabatnya. Alena ingin segera menemukan gadis kecil itu secepatnya. Alena bertanya kepada Ana tanpa berpikir panjang mengenai Vita.


“Nak, aunty boleh tanya tentang teman kamu gak?”


“Tanyakan saja aunty. Jika aku bisa menjawab akan aku jawab”, ucap Ana dengan mengupas apel.


“Siapa nama pemilik rumah ini?”


“Vita”.


“Apakah kamu gak pernah bertanya keberadaan kedua orang tuanya?”


“Aku pernah bertanya dan dia menjawab bahwa dirinya anak yatim piatu”, jawab Ana.


“Kenapa di rumah ini gak ada foto keluarga atau masa kecilnya?”, tanya Alena.


“Mungkin dia menyimpannya di dalam kamar”, sela Lisa.


“Apakah kalian pernah melihat foto keluarga di kamarnya?”


“Kami gak pernah melihat karena kita dilarang memasuki kamarnya”, jawab Ana.


“Apakah aunty merasa curiga terhadap teman kami?”, tanya Lisa. Pertanyaan yang diajukan Lisa membuat Ana harus memperingati Lisa untuk tidak mengatakan yang terlalu jauh. Lisa mengacuhkan peringatan itu. Lisa malah semakin antusias.


“Enggak. Aunty hanya tanya-tanya saja”, ucap Alena dengan ekspresi gelisah karena bertanya terlalu jauh menurutnya.


“Bagaimana kalau kita diam-diam memasuki kamar Vita dan melihat isi kamarnya? Dari pada kita penasaran”, ucap Lisa dengan ide gilanya.


“Lisa”, geram Ana dengan gigi mengetat.


“Ayolah aunty, kita bisa masuk. Di rumah ini hanya ada CCTV di luar ruangan saja. Aku juga penasaran sejak dahulu mengenai keluarga nya”, ucap Lisa.


“Benar kata aunty Alena, Lis”, ucap Ana.


“Namun dari pada kita penasaran. Ayolah Ana, kali ini saja. Kamu juga penasaran kan?”, bujuk Lisa dengan menggoyangkan lengan Ana.


“Menurutku kalian harus tahu sisi pemilik rumah ini agar kedepannya tidak ikut kena masalah yang dihadapi gadis itu. Dia itu mencurigakan. Tadi saja bertemu di depan ekspresinya tidak mengenakan. Bahkan dia pulang selalu terluka di sekujur tubuhnya entah tubuh bagian mana. Kalian harus perlu selidiki”, jelas Clarisha dengan ikut menimbrung obrolan ke tiga wanita tersebut.


“Bagaimana Ana?”, tanya Lisa yang terus membujuk Ana.


Ana berfikir sejenak sebelum memutuskan untuk berbuat.


“Sebenarnya yang dikatakan Lisa dan Clarisha ada benarnya. Jika dia memiliki masalah kemungkinan aku bisa membantunya memecahkan permasalahannya. Ya, Tuhan bantu aku. Aku harus berbuat apa”, kata hati Ana.


“Ayo An, jangan banyak berfikir”, bujuk Lisa.


“Baiklah, demi kebaikan bersama”, ucap Ana sambil berkata dalam hati meminta maaf perbuatannya kepada Vita yang telah lancang memasuki kamar miliknya.


Ana beranjak dari kursi meja makan dengan penuh keteguhan yang membuat Lisa ikut senang. Lalu Alena meminta Ana untuk diikutsertakan masuk kamar gadis itu yang sudah memenuhi pikirannya dalam seminggu ini. Ana menjawab dengan anggukan kepala. Lalu mereka beraksi dengan melibatkan Clarisha untuk menjaga keamanan rumah untuk berjaga-jaga saat Vita tiba-tiba kembali. Clarisha mengiyakan ajakan dari Lisa.


Ana berjalan menaiki tangga bersama Lisa dan Alena. Lucas yang memperhatikan ketiga wanita naik ke atas merasa curiga namun ia membiarkan begitu saja. Thomas yang sedang mengobrol tidak memperhatikan istrinya yang pergi. Semua orang-orang yang ada di rumah itu sedanh sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


Ana menarik nafas panjang untuk membuka pintu dengan penjepit lidi. Lisa yang berada di samping Ana merasa kalau Ana telah membuang waktu sehingga Lisa merebut penjepit itu. Ana hanya pasrah ketika ingin akan marah terhadap Lisa yang tidak sabaran begitu.


Lisa mencoba untuk mengotak atik lubang pintu dan akhirnya terbuka setelah berselang beberapa menit. Lisa melangkah memasuki kamar Vita dengan diikuti Ana dan Alena.


Alena dan Ana takjub melihat kamarnya bersih namun seperti kamar pemilik pria remaja.

__ADS_1


“Wah, kamar Vita sangat enak dilihat”, takjub Ana.


“Iya”, Alena menyetujui ucapan Ana.


“Aunty menyadari dengan kamar milik Vita gak? Kalau kamar ini bukan milik anak perempuan namun pria dalam fase remaja”, ucap Ana.


“Iya An, aunty menyadarinya. Gadis itu sangat tomboy”, ucap Alena.


“Bukan sangat tomboy tetapi tomboy aja sebab dia tetap menjaga rambutnya panjang layaknya perempuan kalangan umum”, ucap Ana.


“Lisa kamu sedang ngapain?”, tanya Ana yang melihat Lisa membuka laci meja milik Vita.


“Eh..”, toleh Lisa dengan sedikit kaget dan ekspresi kagetnya dalam sekejap berubah.


“A..aku hanya mencari foto dia saja karena gak ada foto yang dipanjang olehnya”, ucap Lisa dengan senyum terpaksa.


Alena yang sudah mendekat berdiri di belakang Lisa terkejut melihat kalung dan foto dibingkai tersebut. Alena menggeser tubuh Lisa dan mengambil dua benda itu dengan meneteskan air mata. Lisa dan Ana bingung melihat Alena yang tiba-tiba menitihkan air mata sehingga Ana berinisiatif bertanya.


“Ada apa aunty? Kenapa menangis?” Alena tidak mendengarkan pertanyaa Ana. Ia malah berlari keluar dari kamar Vita dengan membawa dua benda yang di tangannya sambil memanggil suaminya dan putranya.


“Thomas!”


“Lucas!”


“Thomas!”


“Lucas!”


“Coba kalian lihat!”, seru Alena.


Teriakan Alena membuat orang-orang sekitar memperhatikan dan bingung melihat wanita paruh baya itu berlari sambil berteriak dan menangis dengan tiba-tiba memeluk suaminya. Thomas bertanya, “ada apa sweety?”, dengan mengusap kepala Alena.


Alena melepaskan pelukan suaminya lalu berkata, “Thomas, kita sudah menemukan gadis kecil itu. Kita tidak perlu bersusah payah lagi. Dia ada di dekat kita”.


“Gadis kecil?”, tanya Lucas dengan mengerutkan dahinya.


“Iya, momy pernah menunjukkan photo dia kepadamu. Dia ternyata ada di rumah ini selama ini”, ucap Alena dengan menunjukkan dua benda tersebut.


Thomas mengambil dua benda itu. Thomas melihat foto bingkai tersebut dengan terkejut melihat sosok yang selama ini di cari. Alena terus menyakinkan Thomas dengan menunjukkan gambar sahabatnya yang tengah menggendong bayi.


“Momy mendapatkan foto dan liontin ini dari mana?”, tanya Lucas.


“Dari kamar milik Vita”,nimbrung Ana yang berada di samping Leon.


“Berarti gadis itu adalah putri Monica?”, tanya Thomas yang masih kaget.


“Iya”, jawab Alena.


Lucas berkacak pinggang dengan menghembuskan nafas dan berkata dalam hati, “jadi gadis bar-bar itu anak aunty Monica. Makanya wajah yang dimilikinya tidak familiar”.


Alena menengok ke sebelah Ana dan bertanya, “An, apakah Vita nanti akan pulang?”


“Entahlah aunty. Kita berdoa saja semoga dia pulang ke rumah”, jawab Ana.


Lisa yang berada di tengah-tengah kebahagiaan Alena merasa tidak suka dengan ekspresi bahagianya terhadap Vita.


“Apa hubungan mereka dengan gadis itu? Kenapa ekspresi Alena begitu senang setelah melihat foto dan kalung milik Vita? ****! Kenapa dia selalu beruntung mendapatkan orang-orang seperti mereka? Padahal ibunya kan seorang wanita murahan”, ucap hati Lisa.

__ADS_1


Alena memohon kepada Thomas untuk menunggu gadis itu sampai kembali ke rumah dan Thomas mengiyakan permintaan istri tercintanya membuat hati Alena merasa lega. Lucas sebagai putranya juga ikut senang karena telah menemukan gadis itu yang selalu memenuhi pikiran ibunya. Lucas berharap ibunya tidak lagi khawatir dan bersedih lagi memikirkan gadis itu.


__ADS_2