Loyal And Possesive Mafia Billioner

Loyal And Possesive Mafia Billioner
Episode 12 (Berkunjung ke rumah halmonie)


__ADS_3

Pukul 11.00 siang Vita terbangun dengan keringat bercucuran karena mimpi buruk. Hani yang baru saja pulang dari supermarket terdekat melihat Vita terduduk dengan wajah pucat dan keringat yang keluar dari pelipisnya. Hani mendekat menanyakan keadaan Vita.


“Are you ok”, ucap Hani dengan nada khawatir.


“Aku ambilkan minum dulu”, ucap Hani kembali.


“Minumlah”.


“Makasih Unni”, ucap Vita dengan minum sampai tandas.


“Kamu habis ngapain sih sampai keringatnya segitu?”, tanya Hani.


“Aku mimpi buruk kembali”, ucap Vita.


Saat Hani akan mengajukan pertanyaan tiba-tiba ada suara bel rumah dengan keras. Hani beranjak pergi membukakan pintu. Hani melihat sosok pria yang tampan.


“Anda mau mencari siapa ya?”, tanya Hani.


“Apakah Vita tidur di sini?”, tanya Cha Jinwoo.


“Ya”.


“Apakah kamu kekasihnya atau teman?”, tanya Hani.


“Ya, aku kekasihnya”, ucap Cha Jinwoo dengan senyum.


“Kalau begitu masuklah”, ajak Hani.


Hani mengantarkan tamu tersebut sampai ke ruang tengah dimana Vita berada.


Sampai di ruang tengah Cha Jinwoo memanggil Vita. Vita menoleh ke sumber suara.


“Oppa”, panggilnya.


Cha Jinwoo menghampiri Vita yang terlihat pucat dan mengkhawatirkan.


“Kamu tidak apa-apa?”, tanya Cha Jinwoo sambil mengecek suhu dengan telapak tangannya di tempelkan ke dahi.


“Tidak apa-apa”, jawab Vita.


“Kalau begitu kita kembali”, ajak Cha Jinwoo.


Vita mengangguk kepala dengan beranjak dari sofa. Tiba-tiba tubuhnya melayang. Ternyata Cha Jinwoo mengangkat tubuh Vita yang lemah kembali ke rumahnya. Vita berpamitan dengan Hani.


“Unni, makasih tumpangan dan minumannya. Aku pulang dulu”, ucap Vita.


“Ya, cepatlah sembuh”, ucap Hani dengan ekspresi khawatir.


“Bye”, pamit Vita.


“Vit, jangan lupa istirahat”, seru Hani.


“Anak itu sangat mengkhawatirkan..hah.. Aku akan buatkan makanan untuknya nanti. Lebih baik aku masak apa untuknya? Aku masakan bubur kacang hitam saja deh”.


Hani pergi ke dapur untuk mulai mengolah bubur kacang hitam.


Dalam kamar mandi Cha Jinwoo membantu Vita menyiapkan air hangat untuk dia mandi.


Usai semua udah siap, Cha Jinwoo keluar dan menyuruh Vita untuk pergi membersihkan diri. Vita beranjak dari tempat ke kamar mandi dengan tubuh sedikit lemah.


Sementara Vita membersihkan diri, Cha Jinwoo menyiapkan sarapan untuk Vita. Cha Jinwoo membuatkan soup ayam, kimchi, dan sosis yang dibaluri dengan telur.


Setengah jam kemudian masakan yang dibuatnya telah usai tinggal menunggu nasi matang. Sambil menunggu nasi matang, Cha Jinwoo membersihkan dapur. Ketika Cha Jinwoo sedang membersihkan Vita telah selesai ritual mandinya dengan menghampiri Cha Jinwoo sambil memuji bau harum masakan yang dibuat oleh Cha Jinwoo.

__ADS_1


“Humm soupnya harum oppa”, puji Vita dengan menarik kursi untuk ia duduki.


“Apakah aku bisa menyicipi dulu?”, tanya Vita.


“Tentu”, jawab Jinwoo dengan senyum sambil mengambilkan nasi yang sudah matang.


“Hah..rasanya enak”, seru Vita.


“Tentu”, seru Jinwoo dengan menaruh nasi di meja dan ikut bergabung.


“Makanlah yang banyak agar kamu tidak sakit, mengerti!”, seru Jinwoo.


“Mengerti!”, seru Vita.


“Soup buatan oppa benar-benar gak ada duanya. Ini sangat menyegarkan”, puji Vita.


Dalam ruang kerja Leon terus melamun karena saat ini hatinya tengah galau di buat oleh pujaan hatinya.


Saat tengah melamun tiba-tiba Leon dikagetkan dengan kedatangan Devan dengan menggebrak meja kerja miliknya membuat bibir Leon harus mengumpat kasar. Lucas, Dominic, Johan, dan Chalvien menggeleng kepala.


“Kamu tadi sedang melamunkan apa man?”, tanya Devan.


“Ada apa kalian mengunjungi tempat kerjaku?”, tanya Leon beranjak dari kursi kerjanya ke sofa single dengan menuangkan anggur dalam gelasnya.


“Kami mau membahas mengenai masalah kerja”, jawab Johan.


“Apakah kamu mengenal Rajasa Reswara”, tanya Dominic.


“Rajasa Reswara?”, Leon mencoba mengingat-ingat nama tersebut sambil menyesap anggur.


“Nama itu sepertinya gak begitu asing. Aku pernah dikenalkan oleh para kolega di pesta pelelangan”, ucap Leon.


“Bisakah kamu mencari informasi mengenai dia?”, tanya Dominic.


Lucas berada di tengah pembahasan mengenai Rajasa Reswara sempat terbesit untuk membeberkan namun Lucas mengurungkan terlebih dahulu sebab Lucas belum memastikan secara pasti mengenai pria paruh baya tersebut. Lucas juga sudah berjanji kepada daddy-nya untuk menutupi terlebih dulu mengenai Rajasa Reswara.


Di ruang rawat Vita tengah diobati oleh dokter. Cha Jinwoo ikut menemani Vita. Usai semua luka diobati, Vita pergi ke ruang rawat dimana Reino berada dengan ditemani oleh Cha Jinwoo. Saat Vita akan membuka pintu, ada seorang wanita paruh baya keluar dari ruang inap Reino dengan tatapan penuh sinis.


“Ngapain kamu ke sini?”, tanya wanita paruh baya dengan ekspresi datar dan sinis.


“Sa..saya mau me..menjenguk Reino”, ucap Vita dengan menggaruk tengkuk.


“Gak perlu!”, sinis wanita itu.


“Yahh!! Pratiwi!”, teriak Duran dari jauh.


“Kamu harusnya gak mengusirnya. Dia yang telah menyelamatkan Reino”, seru Duran. Pratiwi hanya diam dan menunduk ketika Duran memberitahukannya.


“Ta..tapi tetap saja dia yang memberikan pengaruh negatif kepada putraku”, ucap Pratiwi dengan menatap Vita dengan sinis.


“Kamu harusnya terima kasih kepadanya. Bukan menyalahkan dia. Seharusnya kamu salahkan itu dirimu yang egois. Pikirkan itu baik-baik”, ucap Duran dengan gigi mengetat dan memperingatkan perlakuan Pratiwi terhadap putranya.


“Vit masuklah, temui dia”, ucap Duran. Pratiwi hanya dapat menundukkan kepala saja karena entah merasa takut, malu, atau tidak berani melawan sosok Duran.


Setelah dipersilakan oleh Duran, Vita masuk bersama Cha Jinwoo menemui Reino yang terbaring di atas ranjang. Vita menyambut Reino dengan memukul dadanya.


“Bagaimana keadaanmu bro?”


“Apakah sakit?”


“Kamu sudah tahu aku sakit. Masih saja memukulku. Harusnya kamu membawa buah tangan. Bukan tangan kosong dan pukulan yang kau layangkan”.


“Syukurlah kamu baik-baik saja”.

__ADS_1


“Di sampingmu siapa?”


“Kenalkan dia oppa Cha Jinwoo”.


“Orang luar ya”, bisik Reino.


“Iya. Tampan gak?”


“Lebih tampan aku”, ucap Reino dengan percaya diri. Vita menatap sinis lalu melayangkan pukulan namun dicegah oleh kedua telapak tangan Reino sendiri.


Vita mengurungkan untuk memukul wajah songongnya. Lalu mendoakan Reino.


“Cepatlah sembuh”.


“Thank’s”, senyum Reino.


“Kalau begitu aku pergi. Aku gak bisa lama-lama. Soalnya aku akan pergi jauh untuk liburan”.


“Yahh! Harusnya liburannya kamu tunda untuk menemaniku sampai sembuh total”, seru Reino.


“Ogah menemani orang sakit. Lebih baik aku menemani pria yang kusukai”.


Reino membalas dengan berdecak dan menyuruh Vita agar cepat kembali. Vita tersenyum dan memberikan sinyal tanda ok di jarinya.


Vita keluar dari ruang inap Reino dan diikuti oleh Cha Jinwoo. Namun sebelum Cha Jinwoo mengikuti keluar Vita, ia memberikan peringatan untuk Reino agar dirinya menjauhi Vita karena Cha Jinwoo tidak ingin Vita disalahkan oleh orang tua Reino masalah insiden yang dialaminya. Reino hanya terdiam dan menatap punggung lebar itu menghilang.


Vita berpamit kepada Duran. Lalu pergi meninggalkan mereka. Vita dan Cha Jinwoo pergi beriringan dan memasuki taxi online yang dipesannya menuju bandara.


Setelah kepergian Vita, Duran masuk dengan memukul Reino sambil mengatakan umpatan kasar.


“Dasar bodoh!”. Kemudian Duran pergi meninggalkan ruang rawat dan kembali ke markasnya. Sedangkan Pratiwi mengusap wajah putranya namun ditepis oleh Reino dengan tatapan sinis sambil menghembuskan nafas kasar.


Vita dan Cha Jinwoo tiba ke rumah halmonie sangatlah pagi pukul 06.00. Vita berjalan dengan langkah cepat saat melihat halmonie keluar. Vita berteriak memanggilnya dengan tangan melambai.


“Halmonie!”, dengan berlari memberikan pelukan untuknya. Halmonie menyambut dengan hangat. “Aigoo”, dengan mengusap punggung Vita.


“Rindu tak?”, tanya Vita dengan senyum.


“Aku merindukanmu, gadis bodoh”, senyum halmonie dengan menepuk bokongnya.


“Aigoo cucuku”, seru halmonie saat melihat Jinwoo dengan memberikan pelukan.


“Bagaimana kabarmu halmonie?”, tanya Cha Jinwoo.


“Baik”, ucap Halmonie.


“Ayo masuk”, ajak halmonie.


“Kalian kenapa datang sepagi ini?’, tanya halmonie.


“Hehehe, kami merindukanmu”, ucap Vita.


“Vit oleh-olehnya”, bisik Cha Jinwoo.


“Oh ya! Halmonie aku membawakan sesuatu dari Indonesia. Semoga kamu menyukai yang aku bawakan”, ucap Vita pergi mengambil koper lalu membukakan isi koper tersebut.


“Aigoo, kamu gak perlu repot-repot. Tapi terima kasih”, ucap halmonie.


“Kalau begitu, aku akan hubungi kakakmu. Dia sedang di ladang bersama Yoora, Naeun, dan Song Ilkoo”, ucap Halmonie kembali.


“Tidak perlu halmonie, nanti mereka akan kembali”, cegah Vita.


“Kalau begitu kalian bereskan dahulu kamar kalian”, ucap Halmonie.

__ADS_1


“Siap”, ucap Vita dengan hormat sambil tertawa.


__ADS_2