
Johan dan Ana telah sampai di halaman rumah. Mereka masuk bersama. Lalu Lisa yang sudah siap dan baru keluar dari kamar langsung berteriak memanggil kekasihnya dan Ana dari tangga.
“Johan!”
“ Ana! ”
“Johan!”, dengan langsung memeluk tubuh kekar kekasihnya.
“Syukurlah, kalian cepat pulang. Kalau begitu kita berangkat”, seru Lisa.
“Tunggu dulu, aku ganti baju baru kita berangkat. Kalau tidak kalian bisa berangkat dahulu, aku akan menyiapkan barang-barang di rumah dalam pesta, bagaimana?”
“Itu ide bagus. Kamu juga bisa menghubungi teman-teman kita sekalian terutama Vita. Dia itu benar-benar teman gak pernah peduli dengan temannya”, ucap Lisa.
“Dia kali ini pasti datang. Gak perlu khawatir. Aku memiliki firasat baik”, ucap Ana.
“Kalau begitu aku dan Johan pergi dahulu. Bye”, pamit Lisa dengan merangkul lengan kekasihnya.
Ana mengirimkan pesan kepada teman-temannya lalu menghubungi Vita.
“Ayo Vit, angkat dong”, monolog Ana sambil menggigit ibu jari.
Beberapa menit kemudian Vita mengangkat sambungan telepon dari Ana.
“Hallo An”.
“Vit, bisakah kamu datang ke rumah. Hari ini adalah ulang tahun Lisa. Ia berharap kamu datang”, ucap Ana.
Vita menimang ucapan Ana.
“Aku tidak datang percuma, Lucas pasti akan menjemputku dan menyuruhku untuk ikut bergabung. Padahal hari ini aku sedang ada janji dengan seseorang membahas masalah Rajasa dan Lisa. Lebih baik aku terima dan aku bisa menemuinya lewat koneksi lain”, batin Vita.
“Hallo Vit! Kamu masih ada di sana kan?”, tanya Ana membuyarkan lamunan Vita.
“Iya, aku akan datang”, ucap Vita.
“Baiklah aku tutup. Aku harus bersiap untuk menyiapkan barang-barang untuk pestanya Lisa”, ucap Ana.
“Ya”, ucap Vita.
Adit yang tengah menyeruput es teh langsung kepo dengan apa yang Vita bicarakan lewat telepon ponselnya.
“Apa ada yang ingin kamu katakan?”, tanya Adit.
“Uhmm.. apa aku harus mengatakan kepadamu?”
“Jika ingin kamu katakan sangat perlu. Apabila kamu tidak katakan aku pasti sangat penasaran apa yang kau bicarakan dengan temanmu”.
“Aku ingin mengatakan tapi..”
“Tapi apa Vit?”, tanya Adit dengan ke tidak sabaran menunggu ucapan Vita.
“..Gak usah diungkapkan saja deh. Itu juga gak ada kaitannya denganmu Dit”.
“Ayolah Vit, katakan saja. Apa susahnya?”, Adit terus memohon.
“Akan aku katakan..”
“Cepatlah katakan, sebentar lagi bel masuk berbunyi”.
Saat Vita akan mengatakan Alia datang dengan ekspresi cemburu.
“Ehem ehem”, dehem Alia.
Adit dan Vita menoleh ke sumber suara. Vita terkejut dan langsung menghempaskan tangan Adit dari tangannya. Lalu Vita beranjak dan melangkah pergi namun Adit menghentikan langkahnya.
“Vit! Kasih tahu dahulu yang tadi! Aku nanti gak bisa konsentrasi gara-gara masih kepo”, seru Adit.
“Baiklah, aku kasih tahu..”, ucap Vita dengan mendekati Adit dan menyuruh Adit mendekatkan telinganya.
Adit melakukan apa yang di suruh oleh Vita. Vita membisikkan dengan berkata, “ka..kamu gak perlu tahu. Yang perlu kau tahu adalah kekasihmu sedang cemburu dan kobaran api di matanya terus menyalang. Jadi, urusin kekasihmu agar gak kebakaran jenggot”.
Lalu Vita pergi meninggalkan Adit dengan Alia. Adit mendekati kekasihnya.
“Sweety, kamu gak perlu cemburu. Kamu tahu kan, kalau aku sudah sahabatan lama dengan Vita. Dari pada kamu cemberut begitu, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan sepulang sekolah nanti”, ucap Adit.
“Baiklah”, senyum terpatri di bibir Alia.
“Yuk, masuk kelas”, ajak Adit dengan merangkul pundak Alia.
Di dalam kelas, Vita tidak bisa fokus dengan pelajaran yang di jelaskan oleh pak Hendra mengenai sejarah.
Flashback
“Hallo Vit, aku sudah menemukan sesuatu kau perlukan”, ucap orang di seberang sana.
“Apa?”, tanya Vita.
“Lisa pernah membawa adik tirinya ke rumah sakit ilegal. Dia menjual adik tirinya atas perintah dari Rajasa. Dia juga pernah operasi kelamin untuk mengembalikan selaputnya agar dapat menipu orang terutama para pria untuk di jadikan tameng buat nutupin kesalahannya. Kini dia menargetkan kamu juga temanmu. Berhati-hatilah”, ucap pria tersebut.
“Baiklah, kamu juga hati-hati. Mereka lebih picik dan licik lebih dari seorang iblis”, ucap Vita.
“Kita harus bertemu untuk mengurangi risiko”.
“Baiklah”.
Pak Hendra tiba-tiba di sampingnya dengan menggebrak meja membuat Vita menggelinjang.
“Apa yang kamu pikirkan sampai pelajaran saya kamu gak fokus?!”, seru pak Hendra.
“Uhmm..”, dengan menggaruk tengkuk gak gatal.
“Katakanlah! Jangan uhmm.. uhmm saja”, seru pak Hendra.
“Saya sedang memikirkan bagaimana cara saya bisa mendapatkan kekasih macam pak Hendra yang awet banget..”.
“Wajah saya awet muda ya”.
“Bukan,awet omelannya”, ucap Vita dan bunyi bel pulang sekolah telah tiba dan Vita langsung berlari pergi keluar sebelum pak Hendra menutup pelajarannya. Siswa lain pun juga sudah pergi meninggalkan pak Hendra tanpa rasa simpati.
Pak Hendra berteriak tanpa menyadari para siswa sudah pergi secara diam-diam membuat omelan pak Hendra tanpa henti sambil mengumpat siswa-siswanya yang kurang ajar kepadanya hingga melewati lorong-lorong kelas sampai para murid menggoda pak Hendra. Pak Hendra tambah jengkel dan meneriaki siswa-siswa di sekolah yang berani menggodanya sampai bu Maya menegur. Pak Hendra pergi terbirit-birit mendengar suara deheman dari bu Maya.
....
Vita berjalan keluar gerbang dengan berpapasan seorang wanita berjaket hitam dan menyamar memakai seragam sambil menyerahkan sebuah flashdisk. Vita menerimanya dengan anggukan kepala. Kemudian melangkah keluar gerbang dan memasuki mobil milik Lucas.
__ADS_1
Lucas langsung mencerca sebuah pertanyaan kepada Vita.
“Apakah pelajaran hari ini sangat berat?”, tanya Lucas.
“Ya, sedikit berat”, jawab Vita.
“Apa kamu dapat pesan dari Ana?”, tanya Lucas.
“Tidak, tapi, dia meneleponku”, ucap Vita.
“Apakah kamu sudah memikirkan kado untuk Lisa?”
Vita malah berdecak dan menyandarkan punggungnya lalu menutup mata sambil melipat tangan di depan dada.
Lucas yang tengah menyetir heran dengan sikap gadis kecilnya sampai Lucas bertanya-tanya dalam pikirannya.
“Kenapa tanggapan Vita seperti itu terhadap Lisa? Bukankah mereka berteman? Nanti akan aku tanyakan padanya setelah sampai di supermarket”.
Beberapa lama kemudian Lucas sudah berhenti tepat parkiran yang disediakan oleh pusat perbelanjaan. Lucas membangunkan Vita dengan lembut. Lalu Vita mengeluh dan merasakan ada sesuatu yang basah di bibirnya. Vita langsung mendorong namun sulit karena tubuh Lucas begitu berat. Lucas menahan tangan Vita dan membawa tubuhnya dalam pangkuannya hingga oksigen menipis dan Lucas melepaskan pangutan itu.
“Apakah tidurmu nyenyak sweety?”, tanya Lucas dengan menyingkirkan rambutnya ke belakang telinga.
“Tidak nyenyak”, judes Vita.
“No problem. Nanti setelah pesta kamu akan tidur nyenyak”, Lucas dengan senyum menyeringai.
“Mari kita turun”, ajak Lucas.
Mereka berjalan beriringan memasuki supermarket besar. Lucas berjalan dengan menggandeng Vita sampai ke pusat pakaian. Salah satu pelayan mendekat.
“Apakah ada yang bisa saya bantu tuan?”
“Tolong carikan gaun yang cocok untuknya”, jawab Lucas dengan mata elang menyoroti seisi pakaian wanita.
“Aku gak perlu gaun. Aku hanya perlu menggantikan seragam dengan pakaian bebas. Aku takut ada orang yang melihatku berjalan berdua denganmu. Nanti saat bertemu teman-temanku aku dikira simpanan om-om”, bisik Vita.
“Apakah kau malu berjalan denganku? “, tanya Lucas dengan rahang mengeras.
“Tentu”, ucap Vita.
Saat Lucas akan berkata tiba-tiba pelayan yang tadi datang membawa beberapa gaun.
“Maaf tuan, saya sudah bawakan yang kau inginkan”, ucap pelayan itu dengan sopan dan melirik ke arah Vita.
“Thank you”, ucap Lucas mengambil gaunnya dan menyeret Vita ke tempat ganti.
“Cobalah gaun yang sudah di pilih”, perintah Lucas.
Vita menuruti perintah Lucas dengan terpaksa daripada berdebat. Vita mencoba gaun mulai dari gaun sedikit terbuka bagian bahu hingga gaun ketat yang membuatnya tidak nyaman. Lalu akhirnya jatuh pada gaun berbentuk dress pendek di bawah lutut yang berwarna cokelat dengan berhias renda di bagian bawah.
“Kamu terlihat cantik sweety”, ucap Lucas. Lalu Lucas ke kasir membayar gaun yang dipakai dan satu gaun putih dibungkus. Kemudian mereka keluar dari pusat pakaian dan melanjutkan pergi ke toko tas. Lucas menyuruh Vita untuk membelikan tas untuk Lisa. Vita mengambil tas dengan label harga murah. Lucas heran dengan sikap Vita yang di tunjukkan untuk Lisa.
“Apakah kamu yakin membelikan tas untuk Lisa dengan label ini?”
“Tentu”.
“Huffftt.. baiklah”.
Setelah memilih-milih barang untuk kado Lisa, Vita dan Lucas akhirnya makan di restoran.
Di tengah perjalanan Lucas membawa mobilnya ke area jalanan sepi dan melepaskan sabuk pengaman dengan menghembuskan nafas kasar.
“Ada apa denganmu? Apa kau sakit? Jika sakit biarlah aku yang menyetir”, ucap Vita dengan melepaskan sabuk pengaman.
“Ayo kita tukaran posisi. Begini-begini aku juga dapat menyetir”, ucap Vita kembali.
Ketika Vita akan membuka pintu, Lucas terlebih dahulu menarik tangan Vita dan membawa tubuhnya dalam pangkuannya lalu memeluk dan mencium tengkuk leher milik gadis kecilnya. Sedangkan Vita berusaha melepaskan diri dari pelukan Lucas.
“Uncle, apaan sih?!”, seru Vita.
“Biarkan aku memelukmu lima menit saja”, ucap Lucas dibalik tengkuk leher Vita.
Vita mencoba menerima permintaan Lucas meski posisinya tidak nyaman dan ada sesuatu yang menggelitik yang tak enak di bawah sana.
Lima menit kemudian Lucas merenggangkan pelukkannya dan menatap wajah Vita yang cantik sambil menyingkirkan anak rambutnya ke belakang telinganya.
“Turunkanlah aku karena posisi ini tidak nyaman”, ucap Vita.
“Apakah ada yang bisa kau ceritakan sesuatu?”, tanya Lucas dengan mengacuhkan ucapan Vita.
“Tidak ada”jawab Vita.
“Kamu bohong”, ucap Lucas.
“Iya”, ucap Vita.
“Kamu tahukan sweety, jika kamu berbohong denganku”, ucap Lucas.
“Aku sudah bilang gak ada ya gak ada. Apa yang membuatmu mengira aku tengah berbohong atau menyembunyikan sesuatu?”
“Entahlah”, Lucas mengedikkan bahunya sambil menatap mata Vita dengan sorotan tajam dan menelisik yang membuat Vita gugup. Vita gak bisa menetralkan kegugupannya sehingga Vita menundukkan kepala akan tetapi Lucas mencegahnya dan menyuruh Vita menatap mata elang itu.
Lucas menelisik di mata hitam pekat itu dan melihat suatu kebohongan di matanya yang bergetar.
“Apa yang kau sembunyikan di balik matamu? Aku akan cari tahu sendiri jika kamu tidak ingin memberitahuku”.
Lucas mendekatkan wajahnya lalu memberikan kecupan di kening dan kedua matanya yang tertutup.
Lucas memindahkan tubuh Vita ke kursi samping. Lalu Lucas menancapkan gasnya sampai ke rumah.
Vita membuka pintu dan berjalan duluan memasuki rumahnya dengan di sambut teriakan dari mulut Lisa.
“Vita!”, Lisa langsung memeluk tubuh Vita.
“Aku sangat senang kamu ikut betgabung”, ucap Lisa.
“Oh tentu”, ucap Vita dengan mengulum senyum.
“Vit! Aku kira kau gak datang”, seru Ana.
“Harus dong, kan teman kita ulang tahun”, ucap Vita dengan tawa yang dipaksakan sambil menepuk punggung milik Lisa.
“Harus dong”, tawa Lisa penuh kepalsuan.
“Yuk kita makan-makan”, ajak Vita.
__ADS_1
“Acara makan-makannya dilaksanakan nanti malam. Sekarang kita mendekorasi untuk pestaku”, ucap Lisa.
“Oh gitu, kalau begitu aku mau ke kamar dahulu”, ucap Vita.
“Kamu harus membantu temanmu mendekorasi pesta agar cepat selesai”, ucap Lisa.
“Aku ke kamar mau membersihkan diri baru bergabung mendekorasi pestamu”, ucap Vita.
“Baiklah Vit, kamu harus cepat”, ucap Ana.
“Iya, iya”, seru Vita.
Lucas melihat punggung Vita yang sedang menaiki tangga dengan tatapan rasa khawatir terhadapnya. Saat Lucas memandang Vita sebegitu serius, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang. Lucas menoleh lalu memanggilnya kata mom.
“Jika kamu menyukainya lakukan dengan benar. Momy akan mendukungmu. Momy masih belum selesai berbicara dengannya”, ucap Alena.
“Aku akan mengatur pertemuanmu mom”, ucap Lucas.
“Momy memercayaimu”, ucap Alena dengan berlalu pergi ke dapur untuk meletakkan belanjaan yang di bawanya sebagai pelengkap pesta milik Lisa.
“Brother, kamu harus pelan-pelan. Dia tidak mudah untuk dipaksakan. Kamu harus bersabar untuk mendapatkan gadis itu”, ucap Devan.
“Diamlah”, Lucas memberikan peringatan untuk adiknya.
“Ok”, kata Devan dengan mengangkat kedua tangannya dan pergi ke belakang untuk menemui teman-teman lainnya.
Sedangkan Vita usai membersihkan diri, ia mencoba mengecek seisi kamarnya dengan seksama setelah tahu kalau Lisa masuk kamar beberapa kali tanpa sepengetahuannya. Vita bernafas lega lalu melihat suatu benda yang terlihat aneh. Vita sudah mencurigai kalau Lisa sudah mulai melakukan apa yang diperintahkan oleh pria tua itu.
“Mereka benar-benar sama-sama picik, licik, dan serakah”.
Vita pergi dengan menutup benda itu dengan buku besar miliknya. Lalu pergi bergabung di halaman rumah belakang.
“Vit, kemarilah. Bantu aku untuk memberikan kain putih ke setiap meja”, seru Ana.
“Baiklah”, ucap Vita.
Semua orang sibuk bekerja dengan masing-masing tugas sementara Leon terus merecoki Ana.
“Leon!”, bentak Ana yang sedang memasang hiasan dinding. Leon tidak menggubris amarah Ana yang sejak tadi ia recoki seolah telinganya ia tulikan dan matanya hitam pekat itu hanya memandang wajah cantik rupawan saja.
“Kamu itu harusnya membantu yang lainnya. Bukan malah merecoki pekerjaan orang lain”,omel Ana.
Usai selesai menghias dinding, Ana membantu Clarisha membawa gelas-gelas ke meja dan masih diikuti oleh Leon. Sikap Leon menjadi pusat perhatian para sahabatnya yang melihat.
“Dasar bucin”, ejek Devan.
“Ternyata dia sangar ketika masalah musuh tetapi masalah cinta dia selalu lemah sikapnya”, ucap Jorsh.
“Kamu juga akan mengalaminya”, cibir Dante dengan memukul perutnya.
“No man, aku tidak suka komitmen karena wanita sulit dikendalikan sekali diberi kepercayaan dia akan minta lebih kepada kita”, seru Jorsh dengan mengusap perutnya.
“Bekerjalah”,ucap Devan meninggalkan Jorsh ke tempat lain.
Leon tiada berhenti mengikuti Ana meski mendapatkan injakan di kakinya. Leon gak peduli ekspresi Ana yang ditampakkan.
“Leon please, aku gak suka dengan sikapmu. Aku sudah terlalu membencimu dengan sikap kekanakan-kanakanmu”, geram Ana. Leon hanya mengedikan bahu dengan mengangkat kedua tangannya.
“Leon”,geram Ana dengan mata melotot.
Leon tetap terus kekeuh dengan pendiriannya sampai Ana melarika diri.
Leon mengulum senyum senang melihat Ana kesal. Baginya kekesalan yang tampak di Ana sangat menggemaskan.
...
Malam pesta puncak ulang tahun Lisa dimulai. Lisa mengatakan beberapa kata atas pesta ulang tahunnya.
“Guys, thank you yang sudah hadir di malam pesta ulang tahunku. Aku hanya dapat mengucapkan rasa syukur memiliki teman dan sahabat yang baik. Apalagi Tuhan juga mengirimkan cinta sejatiku juga ikut membantu dan hadir di malam pesta ini. Semoga umurku tambah panjang dan kita bisa berteman baik cukup lama. Upss.. tak hanya cukup saja tapi bisa selamanya! “seru Lisa dan mendapatkan tanggapan sinis dari Vita dibawah sana dengan lirih “cih! Omong kosong”. Tanggapan dari bibir Vita terdengar oleh Lucas berada di sampingnya dengan mengangkat alis sebelah.
“Apakah dia ada masalah dengan Lisa? Aku harus menyelidiki permasalahan dia”.
“Guys, mari kita berpesta!”, seru Lisa.
Mereka menikmati pesta dengan berbincang, berjoget, bahkan makanan. Sedangkan Leon terus memperhatikan Ana tanpa henti sampai menunggu waktunya untuk membawanya pergi. Ana yang sejak tadi merasakan tatapan mata biru yang tajam merasakan bulu kuduknya berdiri seakan takut dilahap olehnya semacam singa jantan yang setiap waktu akan melahap ketika bertemu dengan mangsanya.
Ana diam-diam menghilang dari pandangan Leon ketika ia lengah. Leon gelagapan karena Ana tiba-tiba menghilang dari pandangannya. Leon pergi mencarinya di suasana penuh riuh.
Tak butuh waktu lama Leon menemukan dengan menyungging senyum ke atas. Leon mencoba menghampiri Ana yang tengah berdiri dekat pohon besar. Saat akan memanggil Ana, Leon melihat sosok pria yang pernah ia lihat. Rahang Leon mengeras sampai kepalan ke dua tangannya teelihat otot-otot yang menegang. Leon melangkah dengan tatapan mata dingin. Leon mendekat dan langsung menarik pinggang Ana dengan erat. Ana terkejut dengan melotot.
“Leon”, geram Ana.
Leon tidak perduli peringatan dari Ana. Leon malah memperkenalkan diri sebagai tunangan Ana. Dion mendengarkan pun membalas dengan mengulum senyum ramah.
“Mohon maaf, saya ada perlu dengan calon istriku”, ucap Leon dengan dingin.
Leon langsung membawa Ana ke tempat sepi baru ia mengangkat tubuh Ana seperti karung masuk ke dalam mobil sebelum pria tersebut menyadarinya. Ana terus melawan dan mencoba membuka pintu mobil hingga meneriaki Leon dengan umpatan kasar. Leon menulikan dan malah menyeringai penuh arti.
Ana hanya dapat terisak menangis sampai tidak menyadari mobil sedan itu terhenti sebuah hotel. Leon membuka pintu sebelah lalu mengangkqt tubuh Ana seperti karung kembali. Ana terus memukul-mukuli punggung Leon. Leon tetap tidak peduli bahkan orang-orang memperhatikannya.
Sampai di dalam kamar Leon menaruh tubuhnya dengan pelan dan mengangkat kedua tangan milik Ana ke atas. Leon memandang wajah Ana dengan intens.
“Aku merindukanmu, sweety”,dengan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantiknya.
“Ana yang berada di bawah tubuh Leon menatap tajam dengan mengatakan, “baj*ngan menyingkirlah dariku”.
Leon mendengarkan itu tersenyum sinis.
“Akan aku perlihatkan sebagaimana aku seorang baj*ngan”, ucap Leon.
Leon mendekati wajah Ana lalu membawanya kenikmatan sampai beradu ranjang seperti sepasang pasutri sampai mereka merasakan kenikmatan mencapai puncak. Leon terus melakukan hingga mereka lelah dan terlelap di alam bawah sadar.
....
Esok paginya, pukul 09.00,Ana merasakan sesuatu yang tak nyaman dan berat di pinggangnya. Ana berteriak sampai Leon terbangun.
“Ada apa sweety?”, tanya Leon tanpa berdosa.
“Ini benar-benar kejadian gila”,gumam Ana.
Ana turun dari ranjang dengan membawa selimut ke kamar mandi dengan berjalan sedikit terkoyak karena akibat perbuatan Leon semalam. Leon mengulum senyum bahagia.
Leon menghubungi asistennya untuk menjemputnya.
“Hallo Hans, nanti jemput aku di hotel. Lokasinya sudah aku kirim lewat chat”, perintah Leon dan langsung mematikan ponselnya.
__ADS_1