Loyal And Possesive Mafia Billioner

Loyal And Possesive Mafia Billioner
Episode 33 (Kisah cinta masa lalu Monica 1)


__ADS_3

Monica dan Rajasa telah tiba di kampung halaman milik Monica setelah perjalanan panjang. Rajasa mengajak Monica turun dari mobil namun Monica tak mendengar karena masih memikirkan perkataan Alena. Rajasa mencoba menyadarkan lamunan Monica.


“Sweety”, panggil Rajasa dengan mengusap pipinya.


“Sweety”, panggil Rajasa kembali. Lalu Monica tersadar dari lamunan.


“Oh..”, Monica menoleh ke arah Rajasa.


“Kita sudah sampai di pelataran rumah kamu”, ucap Rajasa.


“Oh, ok,yuk, kita turun”, ajak Monica dengan membuka pintu mobil.


Rajasa mengedikan bahu lalu mengikuti Monica sampai ke teras rumahnya. Monica mengetuk pintu dengan keras beberapa kali.


Ibu Monica membukakan pintu dengan suara berderit. Lalu Monica langsung memeluk ibunya dengan erat.


“Kau kenapa nak?”, tanya ibu Monica.


“Gak ada apa-apa”, ucap Monica dan melepaskan pelukkannya.


“Dia siapa nak?”


“Oh kenalkan dia namanya Rajasa”, ucap Monica.


“Honey, ini ibuku”, ucap Monica.


“Hallo aunty, kenalkan nama saya Rajasa”ucap Rajasa.


“Kalau begitu kita masuk dulu. Gak baik bicara di tengah pintu”, ajak ibu Monica.


Mereka masuk ke dalam rumah. Sebelum duduk Rajasa memberikan buah tangannya kepada ibu Monica. Ibu Monica menerima dengan baik.


“Ibu ke dapur dulu”, pamit ibu Monica.


“Aku bantu ibuku dulu”, ucap Monica meninggalkan Rajasa sendirian di ruang tamu.


Monica membantu ibunya menyiapkan camilan dan minuman untuk Rajasa dengan mengobrol.


“Nak, apa kau sudah siap untuk menjalin kasih dengan pria itu ke tahap serius?”, tanya ibu Monica.


“Entahlah bu”, jawab Monica.


“Menurut ibu kamu jang tergesa-gesa menjalin hubungan lebih serius. Entah kenapa ibu kurang yakin dengan pria itu”, ucap ibu Monica.


“Ta..tapi aku sudah menyukainya”, ucap Monica.


“Duhh, jangan sampai ibu tahu kalau aku sudah menjalin sampai ke hubungan terlarang dengan pria itu. Aku gak mau ibu syok mengetahui itu semua. Apalagi aku takut kalau aku akan hamil karena hubunganku tidak di sadari dengan baik”, batin Monica.


“Yahh, semua tergantung keputusan kamu. Ibu gak bisa melarangmu. Ibu hanya bisa mendoakan kamu kelak nanti”, ucap Ibu Monica.


“Thank you ibu”, peluk Monica kepada ibunya.


“Lepaskan pelukkan kamu. Kita harus segera menyuguhkan ini kepada kekasihmu. Ibu takut dia akan terlalu bosan di luar”, senyum ibu Monica.


“Ya”, senyum Monica dengan menunjukkan rentetan gigi putihnya.


Monica dan ibunya keluar ke ruang tamu. Lalu ibu Monica mempersilakan Rajasa untuk menikmati suguhan yang sudah di siapkan. Rajasa mengucapkan terima kasih. Lalu Rajasa memulai pembicaraan ke masalah inti soal hubungan serius dengan Monica.


“Bu, ada yang harus saya bicarakan kepadamu. Kami datang mengunjungi kampung halaman ini untuk meminta restu menimang putrimu”, ucap Rajasa dengan sopan.


“Kalau ibu sih akan merestui kalian. Ibu hanya dapat mendoakan hubungan kalian. Ibu hanya berpesan kepada nak Rajasa untuk selalu menjaga putri semata wayangku untuk hidup selalu ceria dan penuh kebahagiaan”, ucap Ibu Monica.


Rajasa meyakinkan ibunya Monica, “tentu bu”, lugas Rajasa.

__ADS_1


“Makasih ibu”, ucap Monica dengan beranjak dari sofa menghampiri ibunya yang duduk di sofa single untuk dipeluk.


“Kapan nak Rajasa untuk melamarnya”, tanya ibu Monica.


“Kalau bisa secepatnya”, ucap Rajasa. Ibu Monica mengangguk dengan mengulum senyum hangat kepada putrinya yang terus saja mencium pipinya tanpa henti.


Beberapa lama mereka banyak mengobrol lalu Rajasa dan Monica pamit kembali ke Jakarta.


“Aku dan mas Rajasa pamit kembali ke Jakarta ya bu. Ibu harus jaga kesehatan”, ucap Monica.


Usai berpamitan kepada ibunya, Monica masuk ke dalam mobil dengan Rajasa. Mereka meninggalkan rumah sederhana itu. Monica merangkul lengan Rajasa sambil mengucapkan terima kasih dan memberikan ciuman di pipinya. Rajasa menerima dengan hangat.


Dalam perjalanan cukup jauh dan memakan waktu mereka telah sampai di depan rumah kontrakan Monica. Rajasa membangunkan tidur nyenyak Monica. Monica membuka mata dengan mengulum senyum ketika wajahnya dengan Rajasa begitu dekat. Lalu memberikan kecupan manis untuk kekasihnya.


“Apa kau gak ingin turun?”, tanya Rajasa.


“Aku masih ingin denganmu honey”, jawab Monica.


“Kau akhir-akhir ini cukup manja ya sweety”, ucap Rajasa dengan menggelitik tubuh Monica sampai Monica berteriak minta berhenti. Lalu Monica merapikan penampilannya dan turun dari mobil.


Sebelum berpisah Rajasa mengecup kening Monica lalu masuk kembali ke dalam mobil dengan melambaikan tangan. Setelah mobil sedan hitam itu menghilang Monica masuk dengan di suguhkan pandangan Alena kepadanya.


Monica mengacuhkan pandangan Alena terhadap dirinya. Monica terus berjalan sampai masuk ke dalam kamar. Lalu Alena menyusulnya. Alena menghempaskan bokongnya di pinggir ranjang. Monica yang tengah menghapus riasan melihat Alena yang begitu gusar dari cermin mengangkat bicara.


“Alena, kamu gak perlu khawatirkan aku. Aku tahu kekhawatiran kamu terhadap hidupku. Aku sudah memantapkan hati kepada mas Rajasa. Dia yang sudah membuka hatiku yang rapat. Biarkanlah aku bahagia”, ucap Monica.


“Huffftt~, aku tahu Monic. Tapi.. ini demi kebaikan kamu”, ucap Alena.


“Ku mohon Alen. Aku gak mau di pusingkan oleh prasangka-prasangka dalam otakmu itu. Aku yakin kok, mas Rajasa akan selalu memberiku kebahagiaan. Apalagi aku saat ini tengah mengandung benihnya dia”, ucap Monica dengan mengulum senyum.


“Apa?!”, syok Alena.


“Tu..tunggu, jadi, k..kamu sudah sampai ke tahap itu. Oh my god Monica. Kamu benar-benar seorang wanita naif yang akan dibutakan oleh cinta”,seru Alena dengan ekspresi marah.


“Apakah ibumu tahu perihal ini?”, tanya Alena.


“Kalau begitu tolong rahasiakan semua ini baik ibuku ataupun mas Rajasa”, ucap Monica dengan ekspresi memohon. Alena memandang wajah Monica penuh kebahagiaan dan menelisik matanya yang berbinar.


“Monic, aku gak tahu harus mengatakan apalagi. Saat ini kebahagiaan kamu lebih penting. Namun aku gak bisa mengubur fakta mengenai dia. Kau benar-benar wanita baik dan naif yang aku kenal. Aku tetap mengungkapkan fakta itu agar mata hatimu di buka. Akhirnya bagaimana aku siap di jauhi olehmu yang penting kamu tidak menderita setelah menikah dengannya”,suara batin Alena.


“Monica meski kau memohon kepadaku..”, jeda Alena dengan menatap mata itu meredup.


“Aku tetap memberitahumu mengenai kekasihmu. Setelah aku memberikan fakta-fakta tentang pria itu... Terserah kamu mau tetap melanjutkan hubungan kamu dengan dia atau tidak. Aku sudah berusaha mencegah apa yang akan terjadi di masa depanmu”, lanjut Alena dengan memberikan amplop besar berwarna coklat kepada Monica.


“Bacalah seksama, jika kau membutuhkan aku. Aku ada di samping kamarmu”, ucap Alena sambil pergi meninggalkan Monica sendirian.


Usai kepergian Alena, pikiran Monica kosong sambil menatap amplop coklat di sampingnya.


“Aku gak mau mengetahui sebuah fakta tentang dia. Aku gak mau terlalu kecewa. Bagaimana dengan janin dalam perutku?pokoknya aku harus mempertahankan hubungan ini. Apapun yang terjadi ke depannya aku siap menjalani resiko. Ya, itu yang ku pikirkan. Aku ingin anakku memiliki seorang ayah. Jika takdir mengizinkan aku bahagia maka mas Rajasa pasti bisa berubah. Aku gak perlu buka amplop coklat ini. Aku buang saja. Eh jangan, aku simpan saja di tempat lemari rahasia. Suatu saat aku pasti akan membutuhkan amplop itu”, seru batin Monica dengan miris.


Sedangkan Alena di kamar sebelah tengah gelisah memikirkan kebahagiaan sahabat baiknya. Sampai ia menghubungi Thomas untuk menenangkan hatinya. Thomas kini sedang lembur mengoreksi dokumen di atas meja tiba-tiba ponsel miliknya berbunyi. Thomas melihat siapa yang mengganggu konsentrasi kerjanya. Thomas menungging senyum setelah melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Thomas menekan tombol hijau di layar ponsel.


“Hallo sweety”, dengan memutar kursi kerjanya ke arah jendela keluar.


“Hallo Thomas, apa kau kini sibuk?”


“Ya, hanya beberapa dokumen yang harus aku koreksi”, ucap Thomas dengan mengusap bibir ranumnya.


“Maaf aku mengganggumu”, sesal Alena.


“No sweety, kamu tidak menggangguku. Aku malah senang kau menghubungiku. Aku juga bisa istirahat. Sejak tadi aku belum beristirahat karena banyak kerjaan yang harus aku selesaikan agar aku bisa berjumpa denganmu di sana”, ucap Thomas.


“Apa kau masih gelisah tentang sahabatmu itu?”, tanya Thomas.

__ADS_1


“Yap, aku masih khawatirkan dia”, jawab Alena.


“Apakah amplop itu sudah kau serahkan kepadanya?”


“Iya, aku sudah berbicara dengannya dan memberikan amplop itu kepadanya”, jawab Alena sambil menghempaskan bokongnya di pinggir ranjang.


“Kalau begitu kamu sudah berperan baik sebagai sahabat. Masalah yang dia hadapi kita tinggal serahkan kepadanya. Dia bisa menilai sendiri dan mengambil keputusan yang bijak. Kamu hanya perlu mensupprot keputusannya”, ucap Thomas.


“Tapi masalahnya tidak segampang yang kau pikirkan. Dia telah hamil di luar nikah”, ucap Alena.


“Apa?!”, terkejut Thomas.


“Iya dia hamil. Ha.mil”, seru Alena.


“Maka dari itu aku takut dia mengambil keputusan bukannya yang bijak namun malah keputusan lain yang menjerumuskan kebahagiaannya”, ucap Alena.


Ketika Thomas akan angkat bicara tiba-tiba Monica datang dan Alena langsung memutuskan sambungan secara sepihak. Thomas menghembuskan nafas kasar saat gadisnya tiba-tiba memutuskan sambungan tanpa pamit atau mengucapkan sayang untuknya.


...


Alena langsung meletakkan ponselnya diatas ranjang sebelum Monica melihat dirinya sedang membicarakan mengenai kehidupannya.


“Alen, aku sudah mengambil keputusan..”, jeda Monica. Alena mengangkat alis sebelahnya.


“Lebih baik kita duduk dulu”, ucap Alena.


Monica pun duduk di pinggir ranjang dengan saling berhadapan dengan Alena dengan perasaan sama-sama cemas.


“Aku sudah mengambil keputusan untuk tidak membuka amplop coklat itu. Aku gak mau melihat tentang identitas Rajasa. Aku gak mau melihat fakta-fakta itu. Aku gak mau terlalu kecewa. Aku tetap akan melanjutkan pernikahan itu. Aku sudah memikirkan berkali-kali lipat. Aku ingin anakku kelak memiliki ayah”, jelas Monica dengan air mata menetes.


“Tapi Monic, kita bisa membesarkan anakmu sampai ia tumbuh menjadi dewasa dan bahagia”, ucap Alena.


“Dia perlu seorang ayah, bukan hanya merawatnya sampai besar saja”, tukas Monica.


“Jika dia seorang pembunuh pun kau akan mempertahankan meski nyawamu dalam bahaya. Apalagi anakmu juga dalam bahaya. Dia itu dahulu pernah membunuh istrinya. Apakah kau belum pernah diceritakan dimana kedua istrinya?”, seru Alena dengan ekspresi frustrasi.


Monica menggelengkan kepala dengan suara tangisan pecah setelah mendengarkan fakta-fakta tentang Rajasa. Alena merengkuh tubuh sahabatnya. Lalu mereka kelelahan menangis dan mereka tidur terlelap.


Keesokan harinya Alena terbangun karena terganggu suara deritan ponsel di atas nakas. Alena mengambil ponsel di atas naska tetapi dengan mata masih tertutup. Alena menekan tombol hijau.


“Hallo sweety, morning”, sapa Thomas. Alena menjawab dengan lenguhan.


“Sweety, kamu belum bangun dari tidurmu”, ucap Thomas.


“Belum”, ucap Alena dengan suara serak khasnya.


“Cepatlah mandi, aku akan menemui kamu setelah pulang dari kuliahmu”, ucap Thomas.


“Ya, ya”,ucap Alena dengan mematikan ponsel.


Alena beranjak dari ranjang setelah mematikan ponsel. Alena pergi ke kamar mandi dengan mata masih sayu-sayu. Beberapa lama kemudian Alena keluar dari kamar setelah selesai ritual bangun tidur. Lalu Alena mencari batang hidungnya Monica. Monica berjalan ke ruang makan. Di sana Alena terkejut melihat Rajasa kekasih Monica duduk santai. Rajasa melihat Alena dengan ekspresi kaget di sapa.


“Morning”, sapa Rajasa dengan mengulum senyum.


Alena hanya mengangguk dengan senyum kecut lalu pergi ke dapur mencari Monica. Alena melihat Monica langsung menarik tangannya.


“Ada apa Alena?”, tanya Monica.


“Lihat coba, lihat, kemana perginya Monica yang tadi malam menangis sesenggukan”, ucap Alena dengan menatap mata Monica.


“Maaf Alen, aku gak bisa jauh dari Rajasa. Aku sudah menerima semua kenyataan mengenainya. Aku bahkan akan menerima dia apa adanya. Mungkin dia bisa berubah sikap jahatnya menjadi sosok pria baik. Hanya butuh waktu saja untuk mengubahnya”, ucap Monica.


“Ta...”

__ADS_1


“Sudahlah, aku gak mau mendengarkan lagi. Aku sudah menerima kenyataannya”, ucap Monica memotong perkataan Alena. Monica lalu pergi meninggalkan Alena dengan membawa hidangan yang dibuatnya ke ruang makan. Sedangkan Alena sangat kesal dengan sahabatnya yang keras kepala dan dibodohi oleh cintanya.


Waktu terus berjalan dan akhirnya Monica menikah secara resmi dengan Rajasa. Mereka menjalani hidup baru dengan penuh lika liku tanpa sahabatnya. Ia pergi meninggalkan Monica ke Jerman bersama kekasihnya.


__ADS_2