
Pukul 09.00, Ana telah sampai di kediaman milik Vita. Ana langsung melangkah menuju kamar untuk merebahkan diri.
“Ahhh.. akhirnya aku sampai di kamarku. Aku sangat merindukan ruanganku..”, monolog Ana dengan tersenyum sambil menatap atap atas lalu mengubah posisi tidur dengan miring ke kanan sambil memeluk bantal gulingnya dan terlelap sampai ke alam bawah mimpinya.
Drrtt..drrtt..drrrtt..
Suara getaran ponsel milik Ana terus berdering namun Ana yang terlelap dengan pulas tidak mendengarkan ataupun merasakan bahwa ponselnya terus bergetar diatas samping ranjang.
Leon yang masih berada di Bali terus berusaha menghubungi Ana sampai dirinya frustrasi dengan menghelakan nafas kasar.
Lalu Leon pergi membawa koper tuk kembali ke Jakarta untuk memastikan bahwa Ana telah sampai dengan selamat dengan mata kepalanya sendiri.
Sementara para tamu undangan mulai dari kerabat hingga sahabatnya yang berasal dari negara jauh masih menikmati keindahan pantai di Bali tanpa adanya Leon.
Leon mengambil penerbangan siang lewat jalur VIP.
Di dalam ruang tamu dengan nuansa penuh berserakan makanan yang jatuh, dua orang wanita itu terus tertawa dengan keras sampai air matanya sedikit berair.
“Vit, ini lucu banget. Sumpah!”, ucap Ana.
“Iyalah, ini lucu namanya juga acara komedian”, jawab Vita.
“Tapi biasanya lucunya gak sampai perut kita sakit. Ini lebih lucu dan ke arah bar-bar Vit”, ucap Ana.
“Iya An”, ucap Vita.
“Ngomong-ngomong minuman kita habis Vit”, kata Ana.
“Kita tinggal ambil di dalam kulkas An”, ucap Vita.
“Kalau begitu, aku ambil dulu”, ucap Ana beranjak dari sofa mengambil air minum.
Ana membuka kulkas dan di sana hanya tinggal telur dan beberapa sayuran hijau yang tersisa. Ana mencoba mengecek galon minuman dan ternyata juga sudah habis. Lalu Ana memanggil Vita.
“Vita!”
“Vita!”
“Vita!”
“Kamu ke sini deh!”, panggilnya.
“Ada apa An?!”, tanya Vita dengan menoleh ke arah sumber suara.
“Minuman di galon dan kulkas sudah habis!”, ucap Ana.
“Masa sih! Padahal kemarin penuh lo”, ucap Vita berjalan menghampiri Ana.
__ADS_1
Vita membuka kulkas dan mengecek galon minumannya.
“Kok bisa habis dalam waktu satu hari”, monolog Vita.
Ana yang berada di samping Vita menggaruk tengkuk tidak gatal sambil membuang muka karena merasa bersalah telah menghabiskan minuman miliknya apalagi yang disukainya. Vita menerka-nerka dengan bertanya kepada Ana.
“An, minumannya kok bisa cepat habis? Apakah kamu yang menghabiskan camilan dan minuman dalam kulkas? “, tanya Vita dengan menyipitkan matanya.
Ana yang sudah ketahuan mencoba untuk jujur dan meminta maaf kepada Vita.
“Vit.., so..sorry, kemarin aku galau makanya aku tidak sadar kalau aku telah menghabiskan seperempat makanan dan minuman dalam kulkas”, ucap Ana dengan menyengir.
Vita pergi berjalan meninggalkan Ana yang menunggu maaf dari Vita. Namun Vita malah berjalan ke arah ruang tengah. Ana pun mengikuti Vita.
“Vit!”, panggil Ana.
“Apakah kamu marah?”, tanya Ana.
“Nanti aku ganti deh”, ucap Ana yang terus mengikuti Vita sampai di samping tangga.
Vita tidak menjawab dan dia malah membuka pintu bawah tangga untuk mengambil camilan yang dikirim oleh Jinwoo, halmonie, dan teman-temannya.
Ana terkejut dengan isi dalam kardus ketika membantu Vita membuka kardus-kardus yang dikeluarkan dari bawah tanggannya.
“Oh, my god Vit”, ucap Ana.
“Aku mendapatkan dari oppa dan halmonie”, jawab Vita.
“Kenapa kamu gak pernah bilang kalau kamu memiliki banyak makanan di sini”, ucap Ana.
“Sorry, aku menyimpan untuk persediaan ketika kulkas kosong. Apalagi isi kulkas sudah ludes dimakan oleh gadis rakus sepertimu”, ucap Vita.
Ana yang merasa tersindir pun menyengir dan memegang lengan Vita sambil mengucapkan kata maaf sambil merayu dengan mencium pipi Vita yang terlihat menggemaskan.
Ketika mereka sedang menata bahan makanan dan minuman ke dalam kulkas tiba-tiba terdengar suara bel rumah. Lalu Ana menawarkan diri untuk membuka pintu dan Vita mengangguk. Saat membuka dengan pelan, Ana terkejut melihat sosok pria yang membuatnya sakit hati. Kemudian Ana bertanya dengan suara sinis, “ngapain kamu ke sini?”, dengan ekspresi dingin.
Leon tidak menggubris pertanyaan dari Ana. Dia malah mengalihkan perkataan Ana.
“Syukurlah, kamu kembali dengan selamat”, ucap Leon dengan mengusap pipi Ana.
Lalu Ana menghempaskan tangan kokoh itu dari pipinya.
“Pulanglah, aku tidak mau melihat wajah kamu lagi”, ucap Ana dengan sarkas.
“Please Ana, dengarkan penjelasan aku dahulu”, ucap Leon dengan ekspresi memohon.
“Kamu pulanglah, aku sudah tidak mengharapkan pria yang berbohong”, usir Ana dengan mencoba menutup pintu sekuat tenaga walaupun Leon melawan.
__ADS_1
Vita yang baru saja selesai menata camilan dan minuman dalam kulkas. Vita pergi keluar melihat tamu yang datang. Saat Vita akan mengeluarkan kata, dia melihat Ana tengah berseteru dengan tamu yang datang dan tak lain dia itu kekasihnya.
Vita mengurungkan niatnya untuk menghampiri Ana. Vita kembali duduk di sofa dan melanjutkan camilan dan tontonan yang dia putar. Sampai adegan itu telah habis. Saat Vita mau bertanya kepada Ana, ia urungkan kembali karena Vita melihat Ana tengah galau. Vita mendiamkan Ana yang masih kalut dengan masalah percintaan. Vita memutar kembali film komedi lainnya. Setengah putaran film komedi Ana tak bereaksi apapun sehingga Vita mematikan dengan menghela nafas saat melihat Ana tengah melamun.
“An”,panggil Vita.
“Ana!”, panggil Vita kedua kalinya.
“Ana!!”, panggil Vita ke tiga kalinya yang akhirnya Ana menoleh ke sumber suara dengan ekspresi kaget.
“Ada apa Vit?”, tanya Ana.
“Apakah kamu akan begitu terus?”, tanya Vita.
“Maksudnya”, ucap Ana.
“Tanyalah hatimu yang saat tengah gundah. Pikirkan baik-baik masalah yang sedang kau hadapi. Jangan menggunakan emosional untuk memikirkan sesuatu. Renungkan dengan akal dan hati. Jadikan mereka menjadi satu. Rasa sakit yang ada di benakmu akan terasa ringan apabila cara menyelesaikan dengan hati dan pikiran bersatu. Jangan sampai kamu menyesal”, ucap Vita dengan sekali-kali menekan dada Ana.
Setelah selesai menasehati Ana, Vita pergi meninggalkan Ana yang termangu.
“Aku harusnya tidak melakukan hal seperti ini kepada Leon. Dia pasti memiliki alasan yang jelas. Aku saja yang tidak mau mendengarkan penjelasan dari pria itu. Aku harusnya tidak boleh egois. Arghhh!!”, kata hati Ana.
Ana menghela nafas kasar ketika tidak menemukan jalan keluarnya. Ana pergi ke kamar untuk mendinginkan pikiran dengan mengguyur dirinya dengan air sambil menikmati bath tub yang telah diisi.
(Malam hari pukul 08.00)
Vita berbaring di ranjang sambil vidcall bersama Cha Jinwoo.
“Kamu sedang apa?”, tanya Jinwoo.
“Aku tengah berbaring dan sambil memandang oppa”, jawab Vita dengan senyum.
“Besok berangkatlah ke sekolah sendiri tanpa oppa, mengerti”, ucap Cha Jinwoo.
“Iya, aku mengerti”, ucap Vita.
“Jangan sekali-kali untuk berbohong denganku, arraseo?!”, ucap Cha Jinwoo.
“Arraseo oppa”, ucap Vita.
“Oppa, kapan ada waktu luang untuk pergi main? Aku sangat merindukan oppa”, ucap Vita dengan bibir dimanyunkan.
“Nanti, kalau sudah selesai proyek di sini. Aku akan kembali ke Jakarta”, ucap Cha Jinwoo.
“Baiklah, aku tunggu oppa kembali”, ucap Vita.
“Bye oppa”, ucap Vita.
__ADS_1
Cha Jinwoo menghela nafas dan beranjak dari ranjang lalu melangkah ke teras untuk mencari udara. Cha Jinwoo menikmati angin yang semilir dengan kedua tangan masuk dalam saku celana dengan membayangkan hal indah saat bersama gadis kecil yang ia rindukan.