Loyal And Possesive Mafia Billioner

Loyal And Possesive Mafia Billioner
Episode 49(Jealous)


__ADS_3

Terik matahari mulai meninggi, sinar masuk lewat celah korden, disana ada seorang pria tengah meregangkan tangannya sambil matanya terbuka secara perlahan untuk menyesuaikan sinar masuk ke mata. Pria itu adalah Dominic. Ia bangun lalu menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang dengan sedikit meringis akibat rasa sakit di kepala. Ia mencari air di atas nakas samping tempat tidurnya. Usai meneguk ia mengingat kembali atas pertunangan Rosiana. Tangannya mulai mengepal, “aku akan menggagalkan pernikahan mereka bagaimanapun caranya meski nanti ia mendapat pukulan dari Kendric”, batinnya.


Di tempat yang sama ruang berbeda Sea tengah memilih calon istri putranya yang paling tua. Ia memilih foto sambil bersenandung sampai putra ketiga mengganggunya.


“Mom”, panggil Dante sambil mengambil salah satu foto di atas meja.


“Kenapa momy sampai repot-repot mencarikan calon? Bukankah dia bisa mencari sendiri?” tanya Dante sambil meminum jus jeruk yang ia bawa.


“Justru, justru itu, momy tidak bisa menunggu lama. Jika ia belum memiliki kekasih maka momy mu ini akan mencarikan. Apa kamu menginginkan wanita dari salah satu yang sudah momy pilih?” ucap Sea.


“Eh,” Dante menoleh, “Tidak ada mom”, jawabnya.


Sea berpura-pura sedih, “kenapa di keluarga ini gak ada satu putraku yang normal. Apa mereka merasa dirinya masih di bawah umur? Bukankah mereka telah dewasa? Aku sangat sedih melihat ketiga putraku begitu tidak menginginkan pernikahan. Harusnya aku melahirkan anak gadis. Ia pasti akan menurut”, sedih Sea dengan pura-pura menyeka air mata yang tidak ada di pelupuk matanya.


“No mom, bukannya kami tidak menginginkan wanita, kami belum menemukan yang cocok. Buktinya aku memiliki kekasih malah dikhianati dengan membawa kabur uangku yang begitu besar bersama selingkuhannya. Jadi, kami tidak ingin terburu-buru mencari calon kekasih. Kami menikmati masa sendiri”, ucap Dante dengan senyum tipis sambil meletakkan foto tersebut.


“Umur kalian sudah terlalu jauh untuk sendiri. Anak-anak teman-teman momy sudah memiliki istri dan bahkan punya anak”, sedih Sea.


“Kalau begitu carilah sekarang. Siapapun wanita itu momy kamu akan mendukungmu”, ucap Sea memegang tangan Dante.


“Entahlah”, ucap Dante santai.


Di tengah obrolan Dante dan Sea, Dominic turun dan akan pergi ke dapur namun oleh Sea di cegah saat akan melangkah.


“Dom!” panggilnya.


“Apa?” tanya Dominic.


“Duduklah”, ucap Sea dengan mengkode.


Dominic pun duduk dekat Dante.


“Kenapa wajah momy serius?” tanya Dominic.


“Momy, ingin kamu segera me.ni.kah”, ucap Sea sambil menekan kata menikah.


“Mom, aku belum ingin”, ucap Dominic.


“Kau jangan konyol”, kesal Sea sambil menyodorkan foto-foto wanita.


“Apa ini mom?” tanya Dominic.


“Foto wanita”, jawab Sea.


“Aku tahu, tapi maksudnya apa?” dengan alis sebelah naik.


“Semua itu calon-calon istri yang momy pilih”, ucap Sea.


“Aku tidak menginginkan”, ucap Dominic dengan berdiri akan melangkah ke dapur.

__ADS_1


“Duduklah dulu”, perintah Sea.


“Pilih mereka, momy akan kenalkan padamu”, kesal Sea.


Dominkc menghembuskan nafas kasar dengan tangannya disembunyikan dalam kantong celana sambil buang muka.


“Aku sudah memiliki bahkan kami sudah melakukan malam pertama. Nanti akan aku kenalkan kepada momy. Sabarlah”, ucap Dominic dengan melangkah pergi.


“Yahh!! Momy belum selesai berbicara”, teriak Sea dengan mengangkat bokongnya dan menyusul Dominic yang sedang menuangkan air putih di pantry.


“Apa momy mengenalnya?”


“Tentu.”


“Kalau begitu aku beri waktu tiga bulan untuk mengenalkan kepada momy.”


“You’re understand.”


...


Sekarang Dominic telah sampai di galeri dimana banyak lukisan yang di pamerkan. Ia mengamati satu persatu dengan wajah dingin dan tegas.


Saat sedang melihat-lihat Dominic mendengar suara yang ia kenal. Dominic menoleh ke arah kanan. Ia menemukan wanita yang sudah lama memenuhi pikirannya. Dominic mencoba mengganggu mereka.


“Maaf mengganggu..” ucap Dominic.


“Hallo mister Xavier”, sapa Erliana sang pemilik galeri pameran.


“Nice to meet you”, ucap Erliana dengan senyum hangat sambil menyodorkan tangannya.


“Nice to meet yo too”, ucap Dominic dengan wajah dingin dan datar.


“Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Erliana.


Dominic menjawab sambil melirik ke arah Rosiana yang tengah gugup sambil memegang lengan Andre.


“Ya, aku ingin kamu menjelaskan semua lukisan yang ada di sini”, ucap Dominic.


“Tentu, dengan senang hati”, ucap Erliana.


“Mari ikut saya”, ajak Erliana.


Dominic pergi mengikuti Erliana. Sedangkan Rosiana bernafas lega.


“Syukurlah, tidak macam-macam”, batin Rosiana.


Andre yang sejak tadi diam mulai membuka suara.


“Apakah dia keluarga Xavier yang akhir-akhir ini terkenal?” tanya Andre.

__ADS_1


“Mungkin”, jawab Rosiana.


“Aku tidak menyangka jika ia berada di sini”, ucap Andre.


“Tentu ia ada di sini. Dia kan pembisnis”, ucap Rosiana.


“Kalau begitu kita lanjutkan jalan-jalan melihat lukisan di sini”, ucap Andre.


Rosiana menyetujui dengan menganggukan kepala.


...


Ketika Erliana tengah menjelaskan pikiran Dominic hanya tertuju pada Rosiana. Ia benar-benar tidak tahan lalu pergi tanpa pamit. Erliana yang usai menjelaskan menengok ke belakang dengan berkata, “apakah ada yang ingin anda tanyakan..”, Erliana tidak melanjutkan sebab Dominic tiba-tiba menghilang. “Kemana perginya Mr.Xavier?”


Erliana mengedikan bahu lalu melangkah pergi menemui para pengunjung.


...


Dominic mencuci wajahnya dengan usapan sedikit kasar lalu bercermin sambil menyeringai licik, “aku tidak akan membiarkanmu bersamanya. Kamu milikku”, batinnya.


Dominic pergi keluar menuju sebuah taman. Ia tidak sengaja melihat wanitanya tengah menyendiri. Dominic menghampiri dengan diam-diam dan memeluk tubuh Rosiana. Rosiana terbelalak terkejut melihat tangan kokoh tersebut melingkar di perutnya.


“Tolong lepaskan”, tekan Rosiana.


“Sweety, aku merindukanmu”, bisik Dominic sambil mencium telinganya.


“Ka..kau, apa-apaan ini. Tolong lepaskan Mr.Xavier”, seru Rosiana.


“Tak kan ku lepaskan”, ucap Dominic.


“Aku sudah memiliki pria lain. Kamu gak perlu bertanggung jawab atas insiden malam itu. Tolong jangan ganggu aku lagi”, seru Rosiana.


“Aku tidak bisa melupakan”, tekan Dominic dengan membalikkan tubuh Rosiana untuk menghadapnya.


“Itu terserah kamu”, ucap Rosi dengan gugup menatap mata biru nya yang tajam bagai pedang yang akan menghunus. Dominic berdecak dan menari tubuh Rosiana mendekat dengan jarak terkikis.


“Aku akan mengatakan kepada keluarga kamu dan tunanganmu bahwa kamu telah menjadi milikku”, bisik Dominic di depan wajah Rosiana. Rosiana merasakan hembusan nafas Dominic yang begitu menyegarkan sampai ia terlena dengan kecupan hingga ciuman intens yang diberikan Dominic. Beberapa detik kemudian ia melepaskan dengan mengusap bibir manis Rosiana yang menjadi candu baginya. Kemudia ia pergi saat tubuh Rosiana mematung. Ketika Rosiana membeku, Andre datang menyadarkan Rosiana setelah Dominic pergi.


“Hei!” tepuk Andre.


“Kenapa wajahmu memerah?” tanya Andre.


“Ah, eee, gak apa-apa. Kita pulang yuk”, ajaknya.


“Mari”, ucap Andre.


Dominic yang bersembunyi di balik pagar itu mengintip punggung wanitanya yang dirangkul oleh pria lain membuat hatinya memanas.


“Tunggu saja.”

__ADS_1


__ADS_2