
Di saat Park Shin tengah kacau, Jinwoo saat ini sedang berada di sebuah menara dengan menatap langit malam usai menuliskan pesan diatas kertas.
“Langit malam ini sangat bersih”, monolog Jinwoo.
“Aku merindukan malam dimana aku sedang bersama kamu. Kamu saat sedang apa? Aku berharap kamu juga sedang menatap langit di teras atau di sebuah menara”, monolog Jinwoo kembali.
Gadis yang sedang di harapkan oleh Jinwoo tengah berkumpul bersama para geng motor. Di saat para geng motor tengah berkumpul dengan teman-temannya Vita melamun dalam kesendirian diatas motornya. Ketika tengah melamun tiba-tiba Reino mengagetkan Vita hingga Vita hampir jatuh terjungkal. Lalu Vita memukul punggung Reino yang terus mengadu kesakitan.
“Sebentar lagi balapan akan siap. Bersiaplah”, ucap Reino.
Vita mulai menyiapkan diri untuk mendapatkan uang tersebut. Pemandu balap motor mulai bersorak dan semua pendukung ikut bersorak. Para peserta lomba menyalakan mesin dengan memainkan gas sampai suara mereka tidak terdengar satu sama lain. Setelah pemandu MC selesai berkomentar, ia menyuruh pemandu wanita untuk segera siap mengibarkan bendera sebagai tanda balapan motor dimulai dalam hitungan mundur. Para peserta mulai jalan dengan saling mengebut-ngebut serta sorakan yang terus menggema di area balap. Balapan motor sangat sengit dimalam yang gulita sampai ada suatu insiden kecurangan yang mengakibatkan saling jotos dan ada yang menggunakan senjata tajam untuk menyerang orang lain sampai polisi turun tangan dengan menembakkan pistol ke atas langit. Para geng motor pun yang terlibat dalam penyerangan dihentikan dan diamankan sementara orang-orang yang mengalami luka dibawa ke rumah sakit. Vita ikut masuk ke dalam ambulan dimana Reino terbaring di bankar dengan luka-luka cukup miris. Wajah Vita di area bawah mata mengalami tonjokan dan di bahu terkena sayatan benda tajam. Meski begitu Vita tetap menemani Reino yang terbaring sampai di rumah sakit dan disusul oleh Duran. Duran yang melihat keadaan Vita cukup miris sehingga Duran meminta salah satu dokter untuk mengobati luka Vita walaupun ada sedikit perdebatan.
Duran menunggu dengan tenang sebelum Pratiwi tiba. Saat Pratiwi tiba membuat kepala Duran hampir pecah mendengarkan ocehan yang tidak faedah dengan menyalahkan segala sesuatu terjadi akibat Vita. Duran langsung pergi meninggalkan Pratiwi dalam kesendirian dengan diikuti dua anak buahnya menuju ruang rawat Vita yang telah usai diobati meski lukanya tidak cukup dalam.
Insiden yang menyedihkan juga dialami oleh keluarga Cha. Mereka mendapatkan kabar kalau Jinwoo mengalami kecelakaan di tengah perkotaan Seol. Park Shin menangis histeris sambil ikut mendorong bankar tidur. Sementara halmonie jatuh pingsan setelah mendapatkan kabar bahwa Jinwoo kecelakaan. Kini halmonie ditemani Yoora dan Naeun sedangkan Minwoo pergi ke rumah sakit. Di sana Minwoo melihat ibunya menangis kesendirian. Minwoo mendekati namun melakukan jarak satu kursi di depan ruang ICU. Mereka menunggu dengan tegang dan penuh kekhawatiran akan keadaan Jinwoo. Setelah tiga jam ruang ICU terbuka dan memunculkan wajah dokter yang baru saja menangani Jinwoo. Park Shin langsung menghampiri dokter itu.
“Bagaimana keadaan putraku?” tanya Park Shin dengan memegang lengan dokter sambil menangis.
“Dia masih dalam keadaan kritis”, jawab dokter.
“Apakah luka putraku separah itu?”, tanya Park Shin.
“Sa..saya akan jelaskan setelah anda menenangkan diri di ruang kerja saya”, ucap dokter.
Minwoo mendekati Park Shin dengan meminta ibunya untuk tenang.
“Eomma, kamu harus tenang”, seru Minwoo.
“Bagaimana harus tenang, sementara Jinwoo dalam keadaan kritis dan mungkin parah lukanya”, ucap Park Shin yang tidak bisa menahan tangisan sambil memukul kaki Minwoo.
“Tenanglah eomma. Kamu jangan berpikiran buruk. Kita belum mengetahui keadaannya. Kita tidak boleh mengambil kesimpulan. Sekarang tenanglah. Kita harus mendengarkan penjelasan dokter dulu”, ucap Minwoo sambil memeluk ibunya yang menangis tanpa henti.
Setelah Park Shin mulai tenang, Minwoo mengajak Park Shin ke ruangan dokter namun Park Shin menolak karena dengan alasan tidak sanggup mendengar keadaan Jinwoo saat ini. Lalu Park Shin menyuruh Minwoo sebagai perwakilan untuk mendapatkan hasil penjelasan dokter mengenai keadaan Jinwoo. Minwoo mengiyakan permintaan ibunya.
Minwoo bergegas ke ruang dokter. Di sana dokter menjelaskan keadaan Jinwoo.
“Bagaimana keadaan adik saya?”, tanya Minwoo.
“Pada bagian rusuk dada mengalami patah dan kami sudah menangani. Lalu bagian tengkorak mengalami sedikit retak dan kemungkinan besar pasien mengalami kritis cukup lama. Entah kapan dia akan bangun saya tidak bisa menentukan. Dia juga mengalami patah tulang bagian kaki karena terjepit saat kecelakaan oleh suatu benda kemungkinan dia akan mengalami kesembuhan cukup lama”, jelas dokter sambil menunjukkan hasil scan yang keluar.
“Apakah kemungkinan besar dia akan mengalami lumpuh?”, tanya Minwoo.
“Yahh kemungkinan besar bisa terjadi. Saya akan kontrol terus pasien agar kemungkinan hal besar tidak akan terjadi”, ucap dokter.
__ADS_1
“Baik dok, terimakasih”, ucap Minwoo dengan berjalan keluar menuju ruang tunggu dimana Jinwoo berada.
Vita yang tengah terbaring di ruang rawat memimpikan Jinwoo sedang menatap pohon dengan pakaian serba putih sambil tersenyum. Vita menghampiri Jinwoo.
“Oppa”, panggil Vita dengan lirih sambil berjalan ke arahnya.
“Oppa!”, seru Vita.
Lalu Jinwoo menoleh ke sumber suara yang memanggil dirinya dengan tersenyum hangat sambil melambaikan tangan. Vita berlari dengan meneteskan air mata dan menubrukkan badannya lalu memeluk dengan tangisan terisak. Jinwoo membalas pelukan itu dengan mengusap punggung Vita. Setelah sekian lama mereka saling berpelukan kemudian melepaskan. Jinwoo mengusap air mata Vita dengan berkata, “janganlah menyia-nyiakan air matamu”.
“Habisnya aku merindukan kamu”, ucap Vita dengan memanyunkan bibirnya.
“Aku juga rindu denganmu”, ucap Jinwoo dengan memberikan kecupan di kening.
“Oppa, kenapa kamu terus menatap pohon itu?”, tanya Vita.
“Sebentar lagi akan ada musim semi dan sebentar lagi ada pohon yang berguguran”, senyum Jinwoo.
“Bagaimana perasaan oppa setelah berpisah denganku?”, tanya Vita.
Jinwoo terdiam lalu mengambil posisi tidur diatas paha Vita dan menjawab pertanyaan Vita.
“Aku sangat kecewa, sedih, dan rasa bahagiaku berkurang”.
Setelah saling mengungkapkan isi hati mereka, Vita ikut terbaring dengan mengambil posisi di samping Jinwoo lalu memeluknya dengan erat. Beberapa lama kemudian Jinwoo pergi tanpa sepengetahuan Vita setelah mengucapkan beberapa kalimat disaat Vita masih memejamkan mata.
“Vita, aku berharap kamu akan bahagia bersama orang-orang yang menyayangimu. Janganlah terus terluka. Selalu senyum dan tertawa bersama orang yang kamu cintai. Oppa akan selalu melindungimu dari sini”, dengan memberikan kecupan di kening Vita dan beranjak pergi.
Saat Jinwoo sudah menghilang berselang beberapa menit, Vita terbangun dan di sampingnya tidak ada Jinwoo sehingga Vita kelimpungan mencari dengan terus berteriak sambil mengurai air mata. Lalu Vita terbangun dari mimpi dengan meneteskan air mata dari pelupuk mata. Duran yang menunggu Vita terbangun dari alam bawah sadar menghampiri Vita.
“Hei, kamu kenapa?”, tanya Duran.
“Ini pukul berapa”, balik tanya Vita.
“Sudah pukul 10.00 siang”, jawab Duran.
Vita mengusap wajahnya dan mencabut infus di tangannya lalu pergi tanpa pamit. Duran yang sejak tadi berdiri sudah berusaha menahan Vita namun Vita dengan keras kepalanya mau pergi. Duran mengalah dan melepaskannya.
Vita kembali ke apartemen dan membuka isi box yang ia simpan tentang sebuah kenangan dengan Jinwoo. Vita mengambil benda album dan jam tangan yang pernah ditinggalkan olehnya. Vita tersenyum kecut melihat semua kenangan akan menjadi berlalu setelah Jinwoo memutuskan hubungan bersamanya.
Senyuman itu memudar karena rasa kantuk menyerang dirinya. Vita terlelap dengan memeluk album sampai pukul 08.00 pagi. Vita terbangun dengan mata sedikit perih dan seluruh badan seperti hampir remuk akibat ikut serta dalam tawuran. Vita mengambil posisi terlentang dengan menghembuskan nafas kasar sambil menatap langit-langit atap rumah.
“Sekarang oppa sedang apa ya? Sungguh, aku sangat merindukan kamu”, monolog Vita.
__ADS_1
“Oppa, aku kesepian”, keluh Vita. Ketika sedang melamun tiba-tiba ponselnya berdering dan di depan layar tertera nama Ana. Vita langsung mengangkat sambungan telepon.
“Halo An, ada apa?”, tanya Vita.
“Aku mau mengajakmu makan malam di restoran. Apakah kamu bisa datang malam ini?”, tanya Ana.
“Aku gak bisa”, jawab Vita dengan singkat.
“Apakah gak bisa diusahain Vit? Ada sesuatu yang penting”, ucap Ana terus membujuk.
“Katakan saja lewat telepon”, ucap Vita.
“Gak bisa Vit. Ini harus dilakukan secara langsung”, ucap Ana yang terus memaksa dan Vita tanpa pikir panjang mematikan ponsel. Ana yang berada di seberang sana begitu kecewa karena tidak berhasil membujuk Vita. Rasa kecewa itu juga tergambar di wajah Alena. Thomas yang berada di samping Alena menenangkan hati Alena.
“Bersabarlah, jangan risau. Tenangkan hatimu. Mungkin Vita ada janji dengan lainnya”, ucap Thomas.
“Apakah nanti dia akan kembali ke rumah ini?”, tanya Alena.
“Kurang tahu aunty”, ucap Ana.
“Apakah aunty bisa menginap di sini? Mungkin bertemu dengannya lebih besar”, ucap Alena.
“Boleh aunty, kebetulan di sini ada kamar kosong yang jarang ditempati”, ucap Ana.
“Thank you”, ucap Alena dengan senyum dan Ana membalas senyuman hangat itu.
Usai memutuskan sambungan telepon dari Ana, Vita kembali terlelap namun belum beberapa menit menikmati tidurnya tiba-tiba ada suara deringan ponsel yang masuk. Vita mengangkat sambungan itu.
“Hallo!”
“Hallo Vit, aku mau memberikan kabar mengenai Jinwoo”, ucap Yoora dengan suara berbisik.
“Kabar apa?”, tanya Vita.
“Saat ini...”
“Ya”.
“S..saat i..ini..”
“Ya! Saat ini apa?!”, seru Vita mulai kesal.
“S..saat i..ini..”, Yoora semakin tidak kuat mengatakan keadaan Jinwoo membuat Naeun yang berada di dekatnya membola dan langsung merebut ponsel Yoora lalu langsung berterus terang mengatakan bahwa Jinwoo kritis. Setelah mengungkapkan kepada Vita, Naeun merasa lega. Sementara orang yang berada di seberang sana termangu dengan tiba-tiba air mata keluar dari pelupuk mata. Yoora yang masih belum memutuskan sambungan via teleponnya memanggil-manggil Vita tiga kali. Lalu Vita tersadar dari lamunannya dan meminta alamat rumah sakit lewat chat kemudian memutuskan sambungan telepon. Vita langsung bergegas merapikan pakaian ke dalam ransel dengan air mata yang tiada henti tak bisa tertahankan. Vita terus mengusap air mata dan menenangkan pikiran namun semuanya tak bisa dikendalikan sampai ia melemparkan kaos lalu merosot dengan bersandar di meja belajarnya sambil mengusap wajahnya yang terasa gatal dan menyebut nama Jinwoo dengan sebutan oppa.
__ADS_1