Loyal And Possesive Mafia Billioner

Loyal And Possesive Mafia Billioner
Episode 24 Menghilang


__ADS_3

Satu minggu Vita sudah tinggal di rumah halmonie. Vita berpamitan untuk pergi. Park Shin sangat sedih berpisah dengan Vita begitupun orang-orang di dekatnya.


“Halmonie! Eomma! Makasih. Aku sangat bahagia tinggal bersama kalian. Tapi..”, jeda Vita.


“Tapi, apa Vita?”, tanya Minwoo.


“Tapi..aku harus pergi”, ucap Vita.


“Yahhh!”, seru Park Shin dengan memukul punggung Vita.


“Kita baru saja merasakan hangatnya berkumpul, kamu malah ingin pergi”,ucap Park Shin dengan nada sedih.


“Ahjumma harusnya tinggal di sini lebih lama”, ucap Naeun dengan ekspresi kecewa.


“Kita bisa tetap terhubung melalui ponsel pintar. Kenapa kita khawatir”, ucap Vita.


“Iya, tapi...tetap saja”, tangis Naeun pecah dan masuk ke kamar.


“Apa kamu yakin nak?”, tanya halmonie.


“Iya. Aku harus mengabulkan permintaan oppa untuk lulus sekolah”, ucap Vita.


“Jika itu keputusan kamu dan mengabulkan permintaan Jinwoo, aku tidak masalah”, ucaucap Park Shin dengan meneteskan air mata.


“Kapan kamu pulang?”, tanya Halmonie.


“Besok pagi”, jawab Vita.


“Baiklah. Lakukan dengan benar dan dapatkan nilai lebih baik”, ucap halmonie.


“Siap!”, ucap Vita.


“Kamu janji tetap harus bermain ke sini. Apabila eomma kangen denganmu kamu harus datang”, ucap Park Shin memeluk Vita.


“Baik eomma”, ucap Vita dengan senyum.


“Ini sudah malam, sebaiknya kita tidur. Kamu jangan telat bangunnya agar tidak tertinggal pesawat”, ucap halmonie.


“Yea”, ucap Park Shin.


Mereka masuk ke kamar masing-masing. Halmonie tidur dengan meneteskan air mata sedangkan Yoora dan Minwoo menenangkan Naeun.


“Yahh, dia kembali ke nagaranya untuk melanjutkan pendidikannya. Dia masih terhubung dengan kita”, u Yoora mengusap kepala Naeun.


“Kenapa tidak pindah sekolah sini? Kita bisa tetap bersama”, ucap Naeun.


“Yahh, aku curiga dengan putriku yang begitu peduli dengan ahjumma. Biasanya kan selalu cuek. Kamu menyukai ahjumma karena kamu selalu bermanja-manja dengannya dan ada yang membantu kamu berdebat dengan appa dan eomma ya”, seru Jinwoo.


“Tidak”, sangkal Naeun.

__ADS_1


“Pasti iya”, ucap Yoora.


“Aku sebal dengan eomma”, kesal Naeun.


Vita yang berada di kamar sebelah tengah bercerita kepada Park Shin bagaimana dirinya bertemu dengan Jinwoo.


“Ketika itu oppa tidak sengaja mau menabrakku saat aku berlari di kejar oleh para komplotan preman”, ucap Vita.


“What?! Kamu benar-benar gadis arogan”, ucap Park Shin.


“He he he, iya.. tapi sedikit”, ringis Vita.


“Dasar”, ucap Park Shin dengan senyum dan memegang tangan Vita.


“Apakah dulu Jinwoo bersama denganmu selalu tertawa?”, tanya Park Shin.


“Hum, oppa selalu tertawa, menertawai, dan mengomel seperti eomma”, jawab Vita.


“Syukurlah, dia bisa seperti itu meski bersama orang lain. Aku kira Jinwoo akan seperti robot yang tidak bisa tertawa maupun berkedip saat aku bersamanya. Mungkin sikap dia seperti itu karena eomma terlalu mengekang kehidupannya. Eomma jadi bersalah dengan Jinwoo”, ucap Park Shin dengan ekspresi sedih.


“Eomma, harus menebus dosamu dengan memberikan kebahagiaan untuk halmonie dan putramu. Kamu juga harus menyayangi menantumu dan cucu-cucumu nanti. Oppa Jinwoo pasti akan senang”, ucap Vita.


“Ya, eomma akan berusaha menjadi anak atau ibu bahkan dibilang sebagai nenek yang baik”, seru Park Shin dengan diselingi tawa dan diikuti Vita lalu mereka terbawa di alam bawah sadar.


Esok pukul 08.00 Vita sarapan bersama untuk terakhir ia menginap di rumah halmonie.


“Vit, nanti bawalah yang sudah aku bungkus. Masukkanlah ke dalam koper yang sudah Minwoo siapkan”, ucap halmonie.


“Eomma akan membantumu”, ucap Park Shin.


“Ahjumma, nanti kalau sudah sampai jangan lupa vidcall denganku”, ucap Naeun.


“Baiklah”, ucap Vita.


“Datanglah sering-sering ke sini agar eomma gak terlalu rindu denganmu”, ucap Park Shin.


“Ya eomma. Terima kasih semuanya. Aku bakal merindukan kalian”, ucap Vita.


Park Shin menarik Vita ke dalam pelukkannya dan Yoora, Naeun ikut memeluk Vita. Selesai membereskan barang Vita pamit pergi dengan diantar oleh Minwoo setelah saling memeluk.


Vita melambaikan tangan dengan berjalan menuju mobil. Lalu Vita masuk ke dalam mobil. Minwoo mengendarai menuju bandara. Dalam perjalanan Minwoo membuka suara untuk memecahkan keheningan.


“Vit, setelah sampai ke rumah hubungilah mereka agar tidak khawatir”, ucap Minwoo.


“Ya, aku akan hubungi mereka setelah aku menyendiri untuk minggu ini”, ucap Vita.


“Apakah kamu masih sedih atas kepergian Jinwoo?”, tanya Minwoo.


“Se..sebenarnya aku masih belum percaya dan menerima semua kejadian ini..”, jeda Vita dengan menundukkan kepala.

__ADS_1


“Tapi, tenang saja oppa, aku tidak terlalu sedih hanya saja pikiran aku terlalu kalut dengan masalah-masalah yang sedang aku hadapi. Aku hanya perlu untuk menenangkan diri”, lanjut Vita. Minwoo mengusap kepala Vita penuh kasih sayang sebagai tanda mengerti.


Tidak terasa perjalanan menuju bandara telah tiba. Vita turun dari mobil lalu diikuti Minwoo dengan berjalan menuju bagasi menurunkan koper. Minwoo memberikan koper itu kepada Vita.


“Kamu tidak perlu khawatir soal kami. Tenangkanlah pikiranmu lalu hubungi kami. Jangan terlalu berlarut-larut dalam kesedihan. Mereka akan mengerti perasaanmu”, ucap Minwoo.


“Gomawo oppa”, ucap Vita.


“Oh ya, aku pernah dengar dari Jinwoo kalau kamu suka balapan liar. Jangan lakukan lagi. Ingat!”, peringatan keras dari Minwoo.


Vita mengangguk dengan unjuk gigi lalu berjalan pergi dengan berteriak, “aaku akan tetap melakukannya!”, sambil berlari. Minwoo akan mengejarnya namun ia mengurungkan niatnya dengan berdecak sambil berkacak pinggang dengan mengatakan, “dasar gadis arogan”.


Vita menuju ke pesawat setelah melewati bagian administrasi. Vita duduk di dekat jendela sambil melihat pemandangan luar. Saat pesawat lepas landas Vita menutup tirai lalu memposisikan dirinya dalam tidur. Butuh waktu lama Vita telah kembali ke asalnya.


Vita berjalan menuju parkiran taxi. Vita meminta sang sopir mengantarnya ke suatu tempat yang tidak diketahui oleh orang-orang terdekatnya dan tempat itu seperti sebuah pedesaan yang pernah seringkali Vita kunjungi.


Perjalanan yang dia tempuh sangatlah jauh, bagi Vita tempat untuk menyendiri hanya ada di tempat tersebut. Beberapa lama kemudian Vita telah tiba di persinggahan. Vita menarik koper ke persinggahan tersebut, sampai di teras Vita mengetuk pintu warna putih itu. Tiga kali ia mengetuk tak kunjung di buka lalu mengetuk kembali sampai orang yang memiliki persinggahan keluar. Pria paruh baya itu keluar membukakan pintu. Vita langsung menyambut pria paruh baya yang sudah beruban seluruhnya.


"Kakek!", seruannya.


"Apa kabarmu nak?", tanya kakek itu.


"Baik". Vita memeluk tubub ykakek itu dengan penuh rasa rindu terhadapnya. Lalu beberapa menit mereka melepaskan. Kemudian kakek itu mengajaknya masuk. Vita masuk dengan menarik koper. Sampai di ruang tamu kakek itu mengajak Vita duduk, "mari duduk dulu". Vita menghempaskan bokongnya setelah dipersilakan olehnya.


"Apa Gilang sering datang ke sini?", tanya Vita sambil menelisik sisi ruangan tamu.


"Dia jarang ke sini, namun kemarin ia datang", ucap kakek Albert.


"Ia datang bersama Rania tidak?", tanya Vita.


"Yap, dia datang bersama kekasihnya..", jawab kakek Albert.


"Ia ke sini mau minta restu kepadaku untuk menimang kekasih pujaan hatinya", imbuh kakek Albert.


"What's!" keterkejutan Vita.


"Wag, sudah lama gak ketemu sudah mau nimang saja pria itu", ucap Vita.


"Kapan mereka akan mengadakan resepsi tersebut?"


"Katanya dua bulan lagi"


"Aku harus hubungi dia. Dia terlalu banyak mengabaikan aku. Aishh.."


"Haha, kamu jangan memukul cucuku jika ia belum memberitahumu", ucap kakek Albert.


"Tenang kakek, aku gak akan memukulnya, namun aku akan membuat gendang telinganya berdengung seperti sebuah alat musik gong", kikik Vita.


"Jangan lakukan, kakek akan menarik telingamu", ancam kakek Albert.

__ADS_1


"Kakek terlalu pilih kasih", keluh Vita.


__ADS_2