Loyal And Possesive Mafia Billioner

Loyal And Possesive Mafia Billioner
Episode 32 (Kisah cinta masa lalu Monica)


__ADS_3

Flashback.


Cuaca malam hari begitu dingin ditambah dengan datangnya hujan deras membuat tubuh Monica menggigil. Monica terus meniupkan tangannya dan diusapkan di pipi untuk mendapatkan kehangatan. Monica terus melakukannya berkali-kali sampai hujannya reda. Namun yang diharapkan oleh Monica hujan turun itu tidak reda sehingga Monica harus melewati terjangan hujan deras dengan berlarian kecil. Saat akan menyeberang Monica tak melihat mobil yang lewat karena lampu di jalan padam. Monica hampir ketabrak jika tidak ada sosok pria yang menolongnya.


“Are you ok?!”, seru pria itu.


Monica tak kunjung menjawab karena masih belum sadarkan diri dari keterkejutannya. Lalu pria itu menggoyangkan tubuhnya dengan memberikan pertanyaan yang sama.


“Are you ok?!”, seru pria itu kembali.


“I..iya, I’m ok”, seru Monica dengan beranjak dari atas tubuh pria itu.


“Kita ke pinggiran dahulu mencari tempat teduh baru kita saling mengenal!”, seru pria tersebut. Monica mengangguk dan mengikuti pria itu pergi.


“Duduklah”, ucap pria itu dengan menepuk bangku.


“Kenalkan namaku Rajasa”, Rajasa menyodorkan tangannya ke Monica.


“Namaku Monica”, balasnya dengan mengulum senyum.


“Gadis ini sangat manis dan cantik. Aku gak pernah melewati momen dimana bertemu wanita polos dan cantik. Aku harus mendapatkannya. Aku sangat membutuhkan gadis seperti dia untuk melancarkan ekonomiku yang hampir surut setelah kepergian Hana”, batin Rajasa saat melihat gadis di sampingnya.


“Kamu mau kemana?”, tanya Rajasa.


“Aku mau pulang”, jawab Monica.


“Mau aku antar?”Rajasa menawarkan diri.


“Uhmm, gak perlu. Aku hanya perlu berjalan beberapa km saja”, ucap Monica sedikit was-was terhadap pria yang baru ditemuinya.


“Jika gak mau, aku panggilkan taxi online agar kamu gak sakit”, ucap Rajasa yang terus merayu Monica.


“Gak perlu, aku menghubungi temanku saja”, ucap Monica dengan mengambil ponsel dalam tasnya lalu men deal up nomor Alena. Namun Alena tak kunjung mengangkatnya. Monica terus berusaha sambil melirik pria di sebelahnya dengan mengulum senyum paksa sambil menunggu Alena mengangkat sambungan teleponnya.


Rajasa yang sejak tadi memperhatikan gadis di depannya menunnging ke atas dengan penuh arti saat melihat gadis itu berusaha menghubungi temannya.


“Sudahlah sweety, kamu naiklah taxi. Aku yang akan mengantarmu dan membayarkan uang taxi. Kamu gak perlu khawatir”, ucap Rajasa.


“Gak perlu, temanku pasti akan mengangkatnya”, tolak Monica ketiga kalinya.


“Baiklah”, ucap Rajasa sambil mengambil ponsel dan memesan taxi.


“Kemana sih Alena. Kenapa sulit menghubunginya. Apakah dia lembur kerja dan tugas kuliah? Moga aja Alena mengangkat teleponnya”, batin Monica.


Alena yang sedang dibutuhkan oleh sahabatnya kini sedang di jera oleh seorang pria di dalam apartemennya.


“Anda itu apa-apaan sih?! Saya gak pernah memiliki masalah dengan anda! Jika permasalahan waktu ketumpahan kopi saya benar-benar gak sengaja! Anda jangan macam-macam ya! Aku bisa menelepon pihak perusahaan untuk membatalkan kontrak ini! Bahkan saya bisa melaporkan ke polisi!”, seru Alena dengan wajah marah.


Pria itu berdecak dengan menunggingkan senyum remeh.


“Lakukanlah, malah kamu yang ada di pecat dan melakukan tuduhan palsu”, ucap pria bermata elang.


Pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Alena dengan jarak satu inci.


“Sweety, kaulah wanita pandangan pertama dan menarik di mataku. Aku ingin kau menjadi istriku secepat mungkin agar aku menghidari perjodohan itu”, bisiknya dengan mengecup telinga Alena sampai sang pemilik bulu kuduknya meremang.


“Jangan macam-macam brengs*k!”, teriak Alena.


“Yahh..,aku gak pernah melakukan macam-macam dengan seorang gadis bahkan wanita selain pekerjaan”, ucapnya dengan menarik tengkuk gadis itu untuk dapatkan ciuman. Pria itu menikmati dan tak perduli rontaan gadis di depannya. Ia terus memaksa gadis itu untuk terbuai aksi kehangatan. Dia terus menahan gadis itu sampai mengangkatnya seperti bayi koala dan meletakkan diatas ranjang. Pria tersebut menungging senyum karena gadis di depannya sudah tak bertenaga dan meronta. Mereka sama-sama menikmati sampai tidak terdengar suara nada dering ponsel di lantai.


Monica yang terus menunggu jawaban dari orang diseberang sana tak kunjung mengangkat sehingga Monica menerima tawaran dari seorang pria yang baru dikenalnya. Rajasa mengulum senyum senang karena pada akhirnya sesuatu yang diharapkan akan terwujud.


......


...


Esok harinya pukul 09.30 Alena terbangun dengan merenggangkan otot-ototnya. Alena merasakan sesuatu yang nyeri di bagian tubuhnya. Alena membuka selimut lalu terlintas adegan saat malam itu kemudian berteriak histeris sampai terdengar di telinga Thomas untungnya apartemen yang di beli oleh Thomas kedap suara.


Thomas mematikan kompor dan membawa sarapan di atas nampan. Thomas membawakan sarapan itu untuk Alena. Thomas masuk tanpa mengetuk pintu.


“Sweety, kenapa kamu berteriak?”, tanya Thomas.


Alena tak menjawab, ia lebih memilih mencoba memungut pakaiannya yang sudah terkoyak.


“Makanlah”, ucap Thomas dengan menghempaskan bokongnya di pinggir ranjang.

__ADS_1


Alena tetap diam dan tak mengatakan apapun. Thomas yang merasa di acuhkan membuatnya kesal sampai Thomas mendorong tubuh Alena dan melakukan morning kiss meski sedikit terlambat. Alena tetap tidak membalas, hanya diam, seperti robot membuat Thomas menghentikan perbuatannya.


Lalu menyuruh Alena untuk membersihkan diri kemudian ia keluar dengan merutuki dirinya kalau ia benar-benar pria brengs*k.


......


...


“Monic!”, teriak Alena dengan memeluk tubuhnya dari belakang.


“Kau darimana saja?”, tanya Monica tanpa mengalihkan pandangan dari TV.


Alena menghempaskan bokongnya di samping Monica dan mengambil kacang atom lalu menjawab, “maaf Monic, aku tidak mengabari kamu kemarin”. Alena menaruhkan camilan lalu memeluk lengan Monic dengan meletakkan kepalanya dipundak.


“Maaf honey”, ucap Alena.


“Iya, sudah aku maafin. Ngomong-ngomong kemarin kenapa kamu gak angkat sambungan teleponku? Aku sudah beberapa kali terus menghubungi kamu”,ucap Monica.


“Iya kah, coba ku lihat dulu ponselku”, ucap Alena kembali menegakkan posisi untuk mengambil ponsel dalam sakuny dan ternyata ponselnya lobet. Alena menyengir ke arah Monica dengan gelengan kepala.


“Dasar kau itu ya”, umpat Monica dengan memukul kepala Alena menggunakan remot Tv.


Di tengah asyik mengobrol sambil menonton Tv tiba-tiba ada suara bel rumah cukup keras. Monica beranjak dari sofa. Monica membukakan pintu dan terpampang wajah pria malam itu. Rajasa mengulum senyum dan menyapanya.


“Hai”


“O.. oh..hai”


“Ini untukmu”, ucap Rajasa dengan menyodorkan buket bunga dan buah-buahan.


“Thank you”, ucap Monica setelah menerima buket bunga dan buah-buahan yang diberikan oleh Rajasa.


“Apakah aku boleh masuk?tanya Rajasa dengan sopan.


“Oh, tentu. Masuklah”, ucap Monica.


Di tengah mereka sedang berinteraksi Alena sedang mengintip sambil mengulum senyum melihat Monica sudah memiliki seorang pria yang di bawa ke rumah.


“A..aku buat minum dulu. Tunggulah sebentar”, ucap Monica dengan kikuk.


“Ada apa denganmu?”, tanya Monica sambil menuangkan jus jeruk.


“Aku ingin senyum saja”, jawab Alena tak hentinya menatap Monica yang sedikit salah tingkah.


“Hentikanlah matamu menatapku”, ucap Monica.


“Aku akan berhenti menatapmu setelah kau memberitahuku”, ucap Alena.


“Memberitahu soal apa?”, tanya Monica.


“Tentang tamumu”, jawab Alena dengan menggoda Alena.


“Dia pria yang menolongku saat malam itu”, ucap Monica.


“Jadi dia itu satria baja hitam milik sahabatku”, goda Alena.


“Diamlah”, peringatan Monica dengan berjalan menemui pria itu kembali sambil memberikan suguhan minuman dan kue yang ada.


“Mohon maaf lama”, ucap Monica sambil menurunkan minuman dan camilan dari nampan.


“Gak apa-apa”, ucap Rajasa.


“Kamu tinggal di rumah ini sendiri?”, tanya Rajasa.


“Tidak, aku tinggal dengan sahabatku”, jawab Monica.


“Kamu menyewa?”, tanya Rajasa.


“Iya”, jawab Monica singkat.


“Kamu bekerja dimana?”, tanya Rajasa.


“Aku bekerja di cafe milik temanku”, jawab Monica.


“Apakah kamu sudah memiliki kekasih?”, tanya Rajasa.

__ADS_1


Monica menjawab dengan menggelengkan kepala dan malu-malu.


“Baguslah, dia gak memiliki kekasih. Ini kesempatan aku untuk lebih dalam mendekati dan merayunya”, batin Rajasa.


Beberapa lama kemudian Rajasa pamit pulang dengan alasan bahwa ia ada pekerjaan yang harus diselesaikan setelah mengorek semua informasi mengenainya sesuai dugaan dirinya kalau Monica itu terlalu naif. Lalu Monica mengantarnya sampai ke depan pintu hingga ia menghilang dengan mobil sedannya.


Monica masuk membereskan gelas dan piring berisi kue untuk di bawa ke dapur lalu tiba-tiba Alena menyerobot kue yang tersisa dari arah belakang sambil menggoda sahabatnya.


“Ciyee, yang sedang berbunga-bunga. Habis bertemu cowok tampan”, seru Alena.


“Diamlah”, peringatan Monica dengan wajah bersemu merah.


“Tapi kamu suka kan?”, goda Alena dengan menjawil dagu milik Monica.


“Sudahlah Alen, lebih baik kamu urus hidupmu itu”, ucap Monica dengan kesal. Alena terus menggoda dengan menirukan gaya bicara Monica.


Monica pergi berlari ke kamar sebelum habis-habisan di goda oleh Alena sahabat jahilnya.


......


...


Hari berganti hari, Monica berlarut dengan cinta yang diberikan Rajasa. Ia melewati penuh dengan bahagia dengan berjalannya waktu. Namun suatu ketika Alena menyadari kalau Rajasa itu pria yang tidak benar dan akan menghancurkan kehidupan sahabatny setelah mengenalnya dari dekat.


“Monic, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Tapi, kau jangan marah. Ini demi kebaikanmu”, ucap Alena.


“Katakanlah”, ucap Monica.


“Kamu berjanji dulu sebelum aku mengatakan sesuatu yang mengganjal di hatiku”, ucap Alena.


“Iya, aku janji”, ucap Monica.


“Baiklah..”, jeda Alena dengan menarik nafas panjang.


“Jauhilah pria itu Monic”, lanjut Alena setelah menarik nafas panjang.


“Pria siapa?”, tanya Monica dengan mengerutkan dahi dan mengalihkan pandangan ke Alena.


“Rajasa”, ucap Alena dengan cepat.


“What’s”, keterkejutan Monica.


“Kenapa kau menyuruhku untuk menjauhinya. Dia itu pria baik. Dia memberikan aku harapan setelah sekian lama aku menutup hatiku”, seru Monica.


“Iya aku tahu. Tapi..”


“Gak ada tapi-tapian Alen”, potong Monica dengan ekspresi kesal.


Lalu saat Alena akan mengangkat bicara tiba-tiba suara bel rumah berbunyi. Monica langsung beranjak dari sofa untuk membukakan pintu. Di sana terpampang wajah Rajasa yang dilihat Alena. Monica langsung memeluk tubuh Rajasa.


“Are you ok?”, tanya Rajasa.


Monica menjawab dengan anggukan.


“Apakah kau siap bertemu ibumu di kampung?”, tanya Rajasa.


“Ya, aku siap”, jawab Monica.


Alena tak bisa menghentikan langkah yang diambil Monica dalam percintaan. Dia sudah terlalu dibutakan dengan cinta sehingga tidak dapat melihat apakah pria itu baik atau tidak.


Alena menghubungi Thomas yang sudah menjadi kekasihnya. Alena meminta bantuan Thomas untuk mencari tahu tentang Rajasa agar dapat membuktikan omongannya kalau pria itu tidak baik untuknya.


“Hallo sweety, ada apa?”


“Hallo Thomas, bisakah kau membantuku?”


“Apa yang bisa aku bantu sweety?”


“Tolong cari tahu tentang Rajasa. Aku ingin membuka mata sahabatku yang sudah dibutakan akan cintanya Rajasa. Aku gak mau kalau dia nantinya hidupnya hancur”, ucap Alena dengan nada khawatir.


“Baiklah sweety, akan aku lakukan untukmu. Tunggulah malam ini akan aku kirimkan informasi mengenai pria itu”, ucap Thomas.


“Thank you”, ucap Alena.


“I love you”, ucap Thomas membuat tubuh Alena menegang.

__ADS_1


“I love you too”, lirih Alena yang di masih di dengar oleh Thomas. Thomas menyunggingkan senyum ke atas.


__ADS_2