Loyal And Possesive Mafia Billioner

Loyal And Possesive Mafia Billioner
Episode 37 (Penculikan)


__ADS_3

Lisa tengah terbaring di atas ranjang sambil menyusun rencana dalam otaknya untuk menjebak Vita agar di jauhi oleh sahabat-sahabatnya.


“Bagaimana cara membuat dia dijauhkan oleh orang-orang terdekatnya? Aku harus menyusun rencana dengan rapi sebelum dia menyadari kalau aku di sini hanya untuk menghancurkan dia. Aku ingin dia dibenci oleh mereka”, batin Lisa.


Ketika tengah berpikir keras untuk menghancurkan kehidupan Vita tiba-tiba ponselnya berdering. Lalu Lisa memencet tombol hijau setelah membaca nama di layar depan.


“Hallo”, dengan datar.


“ Lisa, papa mendapatkan perintah dari tuan Charles untuk menculik teman-teman wanitamu”, ucap Rajasa di seberang sana sambil menikmati rokok yang sedang asapnya dikepulkan.


“Apa?! Aku tidak bisa menculik mereka. Rencanaku untuk menghancurkan wanita jal*ng itu akan hancur”, tolak Lisa dengan mentah-mentah.


“Lisa, ini perintah”, ujar Rajasa.


“Kamu bisa mengkambingkan hitam gadis itu. Dia akan dijauhkan oleh teman-temannya dengan papa bisa mendekatinya untuk aku manfaatkan seperti ibunya yang dahulu”, jelas Rajasa.


Lisa menimang tawaran dari ayahnya.


“Benar juga yang di katakan papa”, batin Lisa.


“Aku mau jalankan rencana papa, tetapi ada syaratnya”, ucap Lisa.


“Syaratnya apa?”, tanya Rajasa.


“Aku membutuhkan topeng silikon yang mirip dengan putrimu”, ucap Lisa.


“Wajah putriku? Kamu kan sudah memiliki wajah aslinya. Ngapain repot-repot mencetak ulang wajahmu”, ucap Rajasa dengan berlagak bodoh


“Ini serius tuan Rajasa”, ucap Lisa dengan penuh.


“Baiklah, aku akan pesankan topeng silikon yang mirip dengan gadis itu”, ucap Rajasa.


“Kamu jangan gagal. Sudah ku penuhi permintaanmu. Jika kita gagal maka kita tidak mendapatkan uang bahkan kita bisa saja di bunuh oleh mereka...” Lisa yang mendengarkan ocehan ayahnya membola dan langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak. Rajasa mengumpat kasar lalu mengomel kembali dengan berkata, “dasar anak gak tahu diuntung. Jika sikapmu gak gila kayak ibumu sudah aku jadikan kamu uang untuk menambahkan kekayaanku”.


Lalu Rajasa menghubungi anak buahnya untuk memesankan topeng silikon yang mirip dengan wajah Vita. Setelah itu ia pergi meninggalkan ruang kerja untuk menuju ke bandara menemui Arland sang pembinis kasino.


...


“Baguslah, aku bisa melancarkan siasatku. Satu pulau dapat ku lampaui sekaligus untuk membalaskan dendam aku yang sudah bertahun-tahun menderita karena ibumu dan Rajasa si ayah brengs*k. Siapa suruh kamu keturunan Monica”, monolog Lisa dengan tawa.


Saat tawa itu menggema di seluruh ruang kamar milik dirinya tiba-tiba ada yang mengganggu kesenangannya. Lisa membuka pintu tersebut dan terpampanglah wajah Ana.


“Kamu sudah pulang An?”, tanya Lisa.


“Sudah dong, mau ikut makan gak. Kebetulan Leon membawa begitu banyak camilan. Di bawah ada beberapa teman yang berkunjung. Johan juga ada”, ucap Ana.


“Aku akan turun. Kita turunnya bareng aja. Aku hanya menutup pintu”, ucap Lisa dengan kekehan diakhir kalimat.


“Yuk”, ajak Lisa dengan menggandeng lengan milik Ana.


Dari pertengahan undakan tangga Lisa melepaskan tangannya dari lengan Ana dan berlari memeluk Johan sambil berteriak. Johan membalas pelukan itu meski sedikit rasa tak suka dan jijik.


“Honey, aku merindukan kamu”, ucap Lisa dengan memanyunkan bibirnya.


“Aku juga merindukan kamu sweety”, ucap Johan dengan mencoba mencium keningnya.


“Yuk kita makan, jangan bermesraan melulu. Kasihan yang jomblo”, ucap Clarisha dengan terkikik geli.


“Iya juga hehe”, ucap Lisa dengan menggaruk tengkuk tidak gatal.


“Lis, apakah Vita ada di rumah?”, tanya Lucas.


“Dia gak pulang sejak seminggu”, jawab Lisa.


“Dia pergi kemana? Dia juga gak sekolah. Aku terus memantaunya. Gadis ini cukup pintar bersembunyi. Huffft.. harusnya aku gak memberikan dia kelonggaran dalam ruang geraknya. Haish~”, batin Lucas.


“Ini makanannya cukup enak”, ucap Clarisha.


“Bisa aja. Ini kan gratis! “, seru Lisa.

__ADS_1


Johan menatap Lisa penuh rasa amarah dan sengit.


“Jika ini bukan permainan, wanita itu sudah aku cekik. Aku merasa ngilu dahulu aku berhubungan dengannya. ****!”.


Mereka menikmati hidangan makanan fast food dengan di suguhkan banyak obrolan lalu tiba-tiba Vita datang dengan raut wajah penuh kemarahan. Vita terus berjalan melangkah menuju ke arah Lisa tanpa menghiraukan panggilan dari orang-orang di sekitar. Vita langsung menyeret tangan Lisa sampai ia terjatuh dan mengadu sakit. Ana dan Clarisha tersentak begitu juga lainnya.


“Hei, apa yang kau lakukan padanya?! “, bentak Clarisha membela Lisa. Lisa yang merasa dibela merasa tersentuh dan melanjutkan adegan menyedihkan.


“Vit, apa yang kau lakukan?”, tanya Lisa dengan raut wajah sedih dan merana.


“Vita, kita bisa bicarakan ini dengan baik-baik tanpa harus memakai kekerasan”, bela Ana.


“Vit, kita bisa mencari jalan keluarnya jika Lisa melakukan kesalahan “, ucap Leon.


Vita menulikan telinganya dengan terus berjalan lalu Clarisha mencekal tangan Vita meminta untuk melepaskan lengan Lisa. Vita tersenyum sinis dan menatap sinis ke arah Clarisha dengan tatapan tajam. Clarisha tetap kekeuh untuk terus membela Lisa membuat orang yang bersangkutan merasa senang. Vita mengabulkan permintaan Clarisha dengan menarik tubuh Lisa ke depan lalu melepaskan lengannya sampai ia tersungkur. Lucas dan lainnya melihat kejadian itu hanya mendesah. Johan mendapatkan kode dari Leon pun menolong Lisa namun terlebih dulu Vita langsung mencekal rambut Lisa. Lisa mengadu sakit. Ana menyuruh Vita untuk berhenti tetapi Vita terus berjalan melewati mereka sampai Johan ikut turun dan menyuruh Vita melepaskan Lisa. Vita gak menghiraukan sampai keluar rumah hingga Johan mencekal dengan memohon kepada Vita untuk melepaskan Lisa. Vita melepaskan Lisa dengan mendorong tubuhnya sampai berguling dari arah undakan lalu Clarisha dan Ana menolong Lisa.


“Apa kamu gak apa-apa?”, tanya Clarisha.


“Aku gak apa-apa”, lirih Lisa dalam tangisannya.


Ana langsung memeluk Lisa dengan menyungging senyum dalam dekapan Ana.


“Aku gak perlu berbuat, akhirnya yang ku harapkan terjadi”.


Lucas ikut serta menyuruh Vita untuk tenang.


“Tenanglah sweety, itu tidak akan menyelesaikan masalah”, ucap Lucas dengan tatapan sedih melihat gadis kecilnya terpuruk.


“Justru dengan tenang tidak akan menyelesaikan masalah”, ucap Vita dengan kalimat penuh penekanan.


Vita pergi dengan menarik Lisa kembali sampai Ana dan Clarisha terjungkal. Calvin yang baru saja tiba berlari menolong istrinya. Sedangkan Vita langsung menancapkan gas dengan kecepatan tinggi. Kemudian di susul oleh Lucas dan Dante. Mereka terus mengikuti Vita sampai ke suatu gedung rumah sakit jiwa di area yang jauh dari perkotaan. Vita menyuruh para susternya untuk menyuntikkan obat tidur lalu membawanya ke kamar yang telah di pesan oleh Vita. Lalu ia mengirim pesan kepada Gilang untuk mengucapkan terima kasih.


Vita kembali masuk ke mobil menuju rumah sakit dimana orang-orang yang di culik dirawat.


“Vit, kamu telah kembali”, ucap Duran.


“Iya, aku kembali untuk memastikan Reno, Adele, dan lainnya baik-baik saja”, ucap Vita dengan tenggorokan tercekat.


Setelah kepergian Duran, Lucas datang dengan langsung mengangkat tubuh Vita ke pangkuannya dan meringkuh tubuhnya.


“Are you ok?”, tanya Lucas.


Vita menjawab dengan gelengan kepala.


“Menangislah kalau ingin menangis. Jangan menyimpan kesedihanmu. Aku akan ada untukmu”, ucap Lucas dengan mengusap punggung Vita.


“Dante, Lucas”, panggil Brian.


“Kamu ada di sini...”, ucap Dante dengan bingung.


“Ya, aku di sini untuk istriku..”, jeda Brian.


Lucas dan Dante dahinya mengernyit maksud dari Brian. Sebelum Brian membuka suara Garong datang memberikan air mineral dan tisu diatas bangku lalu pamit pergi. Lalu Vita meminta Lucas melepaskannya. Vita berpindah ke bangku dengan membelakangi Lucas lalu membuka tisu dan mengusap ingusnya. Kemudian membuka air mineral untuk membasahi tenggorokannya. Kemudian angkat bicara.


“Dia hampir saja bayinya diambil oleh dokter gadungan suruhan Lisa. Temanku pun juga kena. Ia telah dibius dan telah diambil salah satu ginjalnya. Ia pria satu malamnya Lisa. Banyak teman prianya di jadikan pemburuannya demi pundi-pundi uang”, ucap Vita dengan sedikit sesegukan.


“Dam it...”, umpat kasar Lucas dan Dante bersamaan.


“Anak-anak dari panti pun juga kena tipu muslihat dia”, ucap Vita.


“Anak-anak panti itu merupakan keluarga dari Tamara istri Zeno”, lanjut Brian.


“Dia juga telah memesan topeng silikon yang mirip denganku. Dia memiliki riwayat semacam Sycho. Tapi, dia lebih gila dari Rajasa”, jelas Vita dengan menyerahkan ponsel miliknya. Lucas mengambil ponsel milik Vita dan membaca status Lisa.


Lucas membaca seksama dengan rahangnya mengeras. Lalu diberikan kepada Dante.


“Sejak kapan kamu mengetahui ini?”, tanya Dante.


“Sebenarnya aku telah menyelidiki dia cukup lama dan mendapatkan dokumen lengkap itu baru-baru ini. Sembari mencari latar belakang dia, aku mengabaikan tingkah lakunya selama tidak membahayakan orang-orang terdekatku ataupun Ana”, jelas Vita.

__ADS_1


Lucas menghembuskan nafas kasar lalu menarik tubuh Vita dalam dekapannya.


“Kamu harusnya tidak bertindak sendirian. Kamu bisa minta tolong kepadaku”, ucap Lucas.


“Rencananya akan gagal dan tidak akan rapi jika minta tolong kepada seseorang yang baru aku kenal”, ucap Vita.


“Kita sudah saling mengenal lima bulan sweety”, tidak terima Lucas.


“No, kita baru kenal dekat baru-baru ini. Aku mengenalmu sesosok pria egois dan mes*m”, ucap Vita dengan penuh penekanan diakhir kata.


Dante dan Brian menertawai Lucas.


Lucas berdehem dengan tatapan dingin membuat dua pria itu berhenti menertawakan dan mengejek lalu pergi meninggalkan mereka berdua dengan alasan.


“Aku harus masuk menemui Adele. Aku takut dia mencariku”, ucap Brian.


“Aku harus menghubungi Johan dan lainnya untuk membahas soal Lisa”, ucap Dante.


Setelah kepergian Dante dan Brian, Lucas kembali mengangkat tubuh Vita dalam pangkuannya sambil mengecup kedua mata gadisnya.


“Uncle, kamu selalu seenaknya memaksa tubuhku dalam pangkuanmu. Biarkan aku duduk di bangku”, ucap Vita.


“Ternyata setelah kamu menangis tidak terlihat buruk juga”, ucap Lucas mengalihkan topik.


“Sudahlah, jangan terlalu kagum dengan wajahku yang cantik. Aku tetap tidak akan menerima uncle sebagai kekasihku bahkan kerabat dekatku”, ucap Vita berusaha menyingkirkan tangan kokoh dari pinggangnya.


“Oh ya, tapi aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku bahkan bisa jadi suamimu”, ucap Lucas dengan menungging senyum. Lucas mendekatkan wajahnya ke Vita. Vita memundurkan kepalanya namun tangan kokoh itu berusaha mendorong kepala Vita untuk mendekat. Suara degupan jantung Vita berpacu saat merasakan bau nafas harum dari Lucas yang menyeruak ke permukaan hidungnya. Ketika akan sampai tiba-tiba dokter mengganggu keintiman mereka dengan berdehem.


“Lakukanlah di rumah”, saran dokter itu. Vita langsung turun dari pangkuan Lucas. Sedangkan Lucas mengumpat kata kasar untuk dokter tersebut yang telah mengganggu keintimannya.


“Bagaimana keadaan Reno?”, tanya Vita.


“Dia telah melewati kritis. Besok dia akan siuman. Aku juga sudah menutup lukanya dan memasang kembali ginjal miliknya. Semoga saja dia tidak mengalami trauma setelah kejadian ini”, ucap dokter pria itu.


“Bagaimana keadaan dua anak yang di culik?”, tanya Vita.


“Sudah saya tangani. Luka mereka tidak seberat luka Reno. Tetapi mereka juga membutuhkan psikiater untuk menanggulangi trauma”, ucap dokter pria itu.


“Tolong carikan dokter yang terbaik untuk mereka agar mereka hidup tidak dalam siksaan mental. Masalah biaya bisa aku tangani”, ucap Vita.


“Baik, kalau begitu saya pergi dahulu”, ucap dokter Vita menganggukkan kepala. Sementara Lucas berada di belakang merasa berat hati karena biaya semua untuk pengobatan bahkan tidak sedikit. Lucas merasa khawatir terhadap gadis kecilnya.


“Vit, apakah kamu yakin untuk membiayai mereka semua?”, tanya Lucas dengan mengangkat sebelah alisnya.


“Yakinlah, pasti ada jalan keluarnya “, jawab Vita.


Vita kembali ke bangku dan ditemani oleh Lucas. Mereka berdiam dengan bergelut pikiran masing-masing.


“Biaya yang ditanggung tidak sedikit bahkan bisa melebihi berpuluh-puluh miliar. Gadis ini akan membiayai uang dari mana?”, batin Lucas penuh kekhawatiran sambil sesekali melirik wajah gadisnya.


“Aku bisa menutupi dengan menjual rumah, motor, dan aku gabungkan dengan tabunganku mungkin cukuplah. Kalau kurang aku tinggal utang ke bos tua itu. Hahh~”, batin Vita dengan ekspresi serius sambil menatap lantai.


“Aku tidak bisa membiarkan dia menderita. Aku akan cari cara untuk membantunya agar dia mau menerima dan tidak tersinggung”, batin Lucas sambil mengusap kepala Vita.


Ketika mereka tengah kalut dengan pikiran masing-masing tiba-tiba ibunya Reno datang dan langsung melabrak Vita.


“Kamu benar-benar membuat putraku selalu celaka!”, marah bu partiwi sambil menjambak rambut Vita. Lalu Lucas turun tangan dengan mendorong wanita paruh baya itu.


“Anda jangan sembarangan untuk menyalahkan Vita. Anda tidak berhak menyakitinya”, ucap Lucas dengan suara dingin. Partiwi membeku seperti merasakan aura yang menakutkan dari pria bule tersebut.


“Siapa pria ini? Apa hubungannya dengan Vita?”, tanya bu Partiwi dalam batin.


“Tante, dia terluka karena dia tergiur dengan wanita jal*ng itu”, bela Vita sendiri.


“Benar, yang dikatakan oleh Vita”, terang Duran.


“Dia seperti itu karena ulahmu. Putramu selalu menolak semua ajakanmu tetapi kamu terus mendorongnya ke jurang. Terkadang muka tebal mu harus aku amplas biar tahu batasan. Kamu yang mencelakai dia demi pundi-pundi uang untuk bersenang-senang dengan preman tengik itu!”, bentak Duran dengan nada sarkastis. Partiwi hanya menunduk dengan jantung bertalu-talu akibat ketakutan tatapan tajam yang menyerang dirinya.


“Mulai sekarang tinggalkan Reno. Untuk biaya pengobatan kamu yang menanggung seharusnya. Bukanlah Vita yang terus menanggungnya. Kini aku sangat muak dengan ekspresi sok menyedihkan. Lebih baik kamu segeralah berkemas meninggalkan rumah itu. Rumah yang kamu tinggali akan aku jual untuk pengobatan Reno. Jangan lagi menemui Reno. Itu rumah masih hak saya. Dia memiliki hutang kepadaku. Sertifikat itu sudah jadi balik namaku. Segeralah pergi, di sana sudah ada yang bantu membersihkan barang-barangmu. Tinggallah di jalanan layaknya manusia. Awas saja sampai kamu menemui Reno bahkan menemui Vita untuk mencelakainya. Akan aku babat habis kehidupanmu”, ucap Duran dengan nada dingin dan nada rendah.

__ADS_1


“Cepatlah pergi!”, usir Duran dengan nada rendah.


__ADS_2