Loyal And Possesive Mafia Billioner

Loyal And Possesive Mafia Billioner
Episode 6 (Tawuran di ibukota)


__ADS_3

Malam hari Vita melanjutkan untuk mengikuti balap liar bersama Reino. Reino menyapa teman-temannya.


“Hallo gaes!”.


“Hai Vit!”, sapa salah satu temannya.


“Hai juga!”


“Bagaimana acaranya?”, tanya Vita.


“Belum ada informasi Vit”, jawab pria di sampingnya.


“Kali ini pasti menegangkan. Soalnya hadiahnya besar 50.000.000 gaes”, ucap Reino tak kalah seru.


“Vit, kamu harus berhati-hati dengan mereka”, peringatan Reino.


“Ya, aku mengerti”, ucap Vita.


Lalu pemandu balap memulai acaranya dengan menggunakan toah.


“Halo gaes, selamat malam!”


“Kita langsung to the point saja ya gaes. Kita tidak perlu berlama-lama. Peraturan balapan ini sangat mudah. Tapi entah yang menjalaninya. Peraturan pertama, kalian tidak boleh melakukan curang seperti menumpahkan oli di area jalanan. Itu akan membuat para pengendara pengguna jalanan akan mengalami kecelakaan. Peraturan kedua, hadiah dapat langsung diambil tanpa pungutan biaya. Peraturan ketiga, kalian tidak boleh tertangkap polisi. Bagi yang tertangkap bukan tanggung jawab kami. Peraturan keempat, apabila kalian mengalami cedera itu di luar tanggung jawab kami. Jadi semua peraturan bisa dibilang merugikan kalian. Kalian bisa mundur kalau tidak setuju akan peraturan ini”, jelas pemandu balap liar.


Setelah membacakan peraturan ada beberapa peserta mundur karena tidak ingin mengambil resiko. Sementara Vita tetap maju untuk balapan.


Balapan motor dimulai dengan pemandu wanita sexy. Mereka menyalakan motor dengan suara bising. Pemandu wanita itu memberikan aba-aba dengan menaikkan bendera kuning sebagai tanda let’s go.


Mereka saling salip menyalip dan menjatuhkan. Vita terjatuh di depan mobil milik Leon dan Lucas sampai Ana berteriak. Lalu Vita langsung bangkit dan pergi mengejar para pemain. Sedangkan di dalam mobil Leon mengumpat kasar, “shi*!”, dengan memukul setir.


“Siapa sih yang mengadakan balap liar di jalanan ramai. Apa tidak ada petugas yang tahu?!”, marah Leon dengan melajukan mobil.


Tatkala para pejalan protes, Vita dan lainnya terus berlanjut tanpa peduli sorakan para pengendara.


Sampai akhirnya juara satu jatuh ke tangan Vita dan lawannya tidak terima lalu terjadilah tawuran yang mengakibatkan ada korban yang kena bacok. Lalu polisi datang dan Reino langsung mengambil uang 50.000.000 yang dimenangkan Vita.


Mereka melakukan kejar-kejaran dengan polisi. Lalu sampai akhirnya Vita dan Reino lolos dari kejaran polisi setelah masuk ke dalam garasi milik temannya.


Vita dan Reino lega dengan saling senyum. Lalu Vita dan Reino mengganti plat nomor dan melepaskan solusi di motor agar tidak ketahuan polisi.


Mereka pulang di kediaman masing-masing. Vita langsung memarkir motor di garasi dan ke kamar. Kemudian Vita langsung tidur tanpa mandi dengan tengkurap.


Mentari menelisik dari sela-sela jendela ada seorang wanita yang masih asyik bergelung di bawah selimut dengan luka di kakinya dan wajahnya yang belum diobati.


Sedangkan di bawah sana, ada seorang pria yang tengah berkutat di dapur. Pria itu sedang memotong bawang bombai dan beberapa bahan untuk membuat ramyeon.


Lisa yang baru saja pulang melihat seorang pria berwajah asia oriental yang tengah memasak dengan mengenakan apron. Lisa mengendap-endap mengintip pria itu. Lisa terpanah dengan ketampanannya yang bagaikan malaikat. Sampai sinar itu menyilaukan matanya.


Ana yang baru keluar dari kamar dengan menuruni tangga, melihat Lisa sedang berjongkok dan Ana memanggil Lisa dengan suara keras namun untungnya pria itu memakai aerphone.


“Lisa! Ngapain kamu di situ?!”


Lisa berlari tanpa bersuara dengan langsung menarik tangan Ana dan membekap bibirnya. Membuat Ana kesal dan marah.


“Apa-apaan sih Lis!”, teriak Ana dan Lisa langsung membekap bibirnya.


“Ussst”.


“Apaan?”

__ADS_1


“Lihatlah itu”, ucap Lisa dengan memaksa kepala Ana untuk melihat ke depan. Ana terkejut dengan mengernyit.


“Dia siapa Lis?”, tanya Ana.


“Gak tahu”, jawab Lisa.


“Apa Vita menyewakan kamar kepada pria juga?”, tanya Lisa.


“Mungkin”, jawab Ana.


“Bagaimana kalau kita tanyakan pada pria itu?”, tanya Ana.


“Jangan An!”, cegah Lisa.


“Kenapa?”


Lisa tidak bisa menjawab hanya menggaruk tengkuk tidak gatal dengan suara eumm eumm saja.


Ana sangat kesal sehingga ia melepaskan tangan Lisa yang bertengger di lengannya dan langsung menghampiri pria tersebut. Pada saat akan melangkah ke dapur tiba-tiba dari atas ada suara teriakan memanggil kata oppa.


“Oppa!!”, dengan berlari dan melompat ketika Jinwoo membalikkan badan dan melepaskan aerphone. Jinwoo menangkap Vita dalam gendongannya seperti koala.


Ketiga pria yang baru datang terkejut dengan gadis itu.


“eotteohge..,Jinwoo oppaneun wae mal-eul anhaejwossji (Bagaimana.., Kenapa kak Jinwoo tidak memberitahuku?)” tanya Vita dengan rasa bahagia yang masih dalam gendongan Jinwoo.


“Haengboghani? (Apa kamu bahagia?)”, tanya Kang Jinwoo.


“Hummm.. geunyeoga geuliwo (Aku merindukannya), “ jawab Vita.


“uhmm geulium-eul eobs-aelyeomyeon kiseuleul haeyahae (untuk menghilangkan rasa rindu kamu harus memberikan kecupan)”, kata Park Jinwoo sambil menunjukkan pipi kanan dan kiri “cup, cup”.


Ana, Lisa dan ketiga pria itu melihat mereka begitu dekat membuat sedikit iri kecuali Lucas. Lalu Lisa mengganggu momen bahagia mereka.


Lisa berdehem, “ehem...ehemm..”.


“Apa kamu tidak ingin mengenalkan pria di depanmu itu?”, tanya Ana.


“Vit, kamu turunlah. Biarkan aku mengenalkan diri”, ucap Jinwoo.


“Baiklah”, ucap Vita dengan turun dari gendongan.


“Hallo annyeonghaseyo”, ucap Jinwoo dengan membungkukkan badan seperti tradisi di Korea.


“Annyeonghaseyo”, ucap Lisa ikut membungkuk.


“annyeong nae ileum-eun chajin-uya ibnida (hai nama saya Cha Jinwoo)”, dengan memberi senyuman pada teman-teman Vita.


“ Hai namaku Cha Jinwoo calon pacar Vita”, ucap Vita menerjemahkan.


“Hai Jinwoo, perkenalkan namaku Lisa. My name is Lisa”, dengan menyodorkan tangan sambil memberikan senyuman hangat.


“My name is Ana”,ucapnya.


Lalu keempat pria itu mengikuti dan mengenalkan diri mereka. Kemudian berlanjut makan bersama dengan ramyeon dan ada pula yang tidak menyukai makanan yang di sajikan oleh Jinwoo. Entah mereka cemburu atau apalah.


Leon, Johan dan Lucas hanya memakan roti tawar dengan selai. Sedangkan lainnya menikmati santapan masakan yang dibuat Jinwoo sambil mengobrol.


“Kalian sudah saling kenal sejak kapan?”, tanya Ana.

__ADS_1


“Waktu aku duduk di bangku SMP kelas tiga”, ucap Vita.


“Kalau oppa, dia sudah kerja dan kuliah waktu mengenalku”, ungkap Vita.


“Wah Vit, ternyata kamu suka yang tuaan juga ya. Tapi tetap saja kamu beruntung dia masih tampan”, ucap Lisa.


“No, no, no, dia belum umur tua. Hanya saja sekolahnya melompat. Jadi dia tuan muda kaya. Aku memang amat beruntung”, ucap Vita.


“Ooo tuan muda kaya plus presdir ya”, ucap Lisa.


“Bingo!”, ucap Vita membenarkan.


“Di perusahaan apa yang kamu geluti?”, tanya Leon dengan berbahasa inggris.


“Saya pemasaran produk makanan instan”, jawab Jinwoo dengan bahasa inggris.


“Oppa ku ini paling hebat”, puji Vita dengan mencium pipi Jinwoo.


Beberapa lama kemudian mereka telah menghabiskan sarapan dan pergi kerja. Sedangkan Vita dan Jinwoo pergi ke tempat pusat perbelanjaan di area time zone.


Vita dan Jinwoo memainkan banyak permainan mulai dari melempar bola ke ranjang sampai mencapit boneka.


Setelah puas bermain mereka pergi mencari makan. Vita dan Jinwoo masuk ke restoran.


“Oppa mau pesan apa?”, tanya Vita.


“Aku pesan beef dan kentangky lalu minumannya lemon tea saja sepertinya segar”, ucap Jinwoo.


“Kalau aku samain saja hanya di tambah sosis bakar saja mbak”, ucap Vita.


Sembari menunggu makanannya datang mereka berfoto selfie. Tak lama kemudian pramusaji datang membawa pesanan mereka. Lalu mereka menikmati makanan yang dipesan.


“Oppa, tinggal di Indonesia berapa lama?”, tanya Vita.


“Mungkin setengah bulan saja”, jawab Jinwoo.


“Yakin”, ucap Vita.


“Ya yakinlah Vit”.


“Bagaimana dengan pekerjaan oppa?”


“Ada yang handel”, senyum Jinwoo dengan bohong.


“Kenapa kaki kamu?”, tanya Jinwoo mengalihkan topik.


“Habis jatuh dari motor”, jawab Vita.


“Dasar bodoh!”, marah Jinwoo dengan memukul kepala Vita.


“Sakit oppa”, adu Vita dengan mengusap kepalanya.


Sementara Leon tengah menggoda Ana yang sejak tadi membuat dirinya cemburu.


“Sweety, aku butuh kecupan”, ucap Leon dengan menunjukkan bibirnya.


“Aku tidak mau. Kamu sudah...”, ucapan Ana terpotong dengan bungkam bibir Leon.


Beberapa detik kemudian Ana kesal dengan mengatakan, “dasar mes*m”.

__ADS_1


Ana memukul perut Leon dengan pergi berlalu dan berekspresi kesal. Sedangkan Leon hanya geli saja dengan mengusap bibirnya dengan ibu jari sambil mengatakan, “manis”.


__ADS_2