Loyal And Possesive Mafia Billioner

Loyal And Possesive Mafia Billioner
Episode 7 (Rasa bahagia tidak tergantikan bersama my oppa)


__ADS_3

“An, mau ikut ke klubing nggak?”, tanya Lisa.


“Klubing”, ucap Ana dengan penuh pertimbangan sambil mengetuk meja.


“Baiklah, aku akan ikut. Itung-itung buat refreshing”, ucap Ana dengan menyetujui ajakan Lisa.


“Gitu dong sekali-sekali kita joget kayak orang gila”, ucap Lisa.


“Kapan kita ke klubing?”, tanya Ana.


“Nanti habis pulang kerja”, jawab Lisa.


Sementara Leon tengah sibuk dengan tumpukan kertas di meja kerjanya untuk mengoreksi data pemasaran hingga waktu menunjukkan hampir tengah malam. Lalu Leon melemparkan pena dengan mengusap wajahnya dengan kasar.


Kemudian ia beranjak dari kursi kerjanya untuk pergi mencari angin untuk menghilangkan penat. Leon melajukan mobilnya ke arah gedung diskotik.


Beberapa lama kemudian ia telah sampai ke gedung tersebut. Deruman mesin itu memberikan efek yang nyaring membuat para pengunjung terfokus matanya tertuju mobil mewah yang seharga fantastis. Leon turun dari mobil membuat para wanita di gedung itu memandang lapar. Mereka mengagumi ketampanan Leon yang memiliki darah campuran antara Indonesia dan Jerman. Ketampanannya dapat melumpuhkan pandangan mata kaum hawa.


Leon masuk dan langsung memesan whisky di bar untuk menghilangkan stres. Pelayan bartender mengambilkan dan menuangkan whisky itu ke dalam gelas kecil lalu meninggalkan untuk melanyani para pelanggan lainnya.


Leon meminum dengan sekali teguk dan menghembuskan nafas lega. Leon membalikan tubuhnya ke arah dance floor untuk ikut menikmati tarian dan musik yang di suguhkan. Mata hitam pekat itu tak henti-hentinya memandang para pengunjung menari. Tetapi saat menelisik mata itu memandang satu arah ke wanita sexy dengan rop sepan hitam yang pendek tengah berjoget. Mata hitam pekat milik Leon tidak bisa mengalihkan pandangan. Leon merasa jantungnya berdebar karena wanita itu. Leon beranjak dari duduk dan menghampiri wanita itu yang tengah berjoget dengan beberapa pria.


Leon menarik lengan wanita itu dan menabrak dada bidangnya. Dia mengadu sakit. Wanita itu menegakkan kepala dan terkejut sambil menyebut namanya.


“Leon!”


Matanya berapi-api dan ekspresi berubah dingin dengan menarik lengan Ana dengan kasar. Sebelum berjalan keluar, Leon menarik lengan itu ke meja bar dengan mengeluarkan enam lembar uang merah dan menyeret Ana pergi.


Ana terus meronta untuk melepaskan eratan tangan di lengan miliknya yang terasa sakit. Leon mendorong tubuh Ana dengan kasar sampai hampir kepalanya mengenai sesuatu benda keras bagian mobil. Leon melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh sampai Ana ketakutan.


“Leon, apa yang kau lakukan?”, tanya Ana dalam tangisan.


Leon tidak mengindahkan teriakan Ana. Leon terus fokus melajukan mobil dengan kecepatan penuh hingga sampai di pelataran bandara. Akhirnya Ana dapat bernafas lega dengan menangis histeris. Sedangkan Leon langsung turun dari mobil dan menghubungi sekretarisnya untuk membawakan visa.


“Hallo Andrew, sekarang datanglah ke sini dan bawakan aku Visa sekarang juga dan aku tunggu tiga puluh menit”, perintah Leon dengan tegas.


Andrew yang berada di seberang sana berteriak walau hubungannya sudah terputus.


“Dasar boss!!! sekena jidat menyuruh membawa visa tiga puluh menit! Arghhhh!!”,dengan pergi berlalu dan segera bergegas mengantarkan Visa.


Tatkala Andrew sedang melajukan mobilnya, kini Leon tengah meredakan emosi dengan menghembuskan nafas kasar dengan berkacak pinggang sambil mondar mandir.


Setelah meredakan emosi, Leon membuka pintu sebelah kemudi dan menatap Ana yang tengah tertidur dengan mata bengkak. Leon mengusap mata lalu turun ke bibir dan mengecupnya.


I’m sorry, aku telah menyakitimu. Aku bukan bermaksud kasar. Aku tidak ingin kamu di sentuh oleh pria lain. Kamu adalah milikku. Aku sangat mencintaimu. Jangan marah padaku.


Beberapa lama kemudian Andrew telah sampai ke bandara meski lewat sepuluh menit. Andrew menghampiri Leon dengan berlari sambil sedikit pincang karena kakinya terkantuk meja saat mengambil jaket dan kunci mobil.


“Bos, ini visanya”, ucap Andrew dengan tersengal-sengal.


“Kenapa kamu bisa telat. Saya sudah menunggu kamu sangat lama”, ucap Leon.


“Tadi macet bos. Aku sudah berusaha melajukan mobil dengan kecepatan penuh sampai suara klakson terus aku bunyikan”, ucap Andrew.


“Ya sudah, aku menghargai usaha kamu. Aku tambahkan gaji dua puluh persen untuk masuk ke dalam bonus. Kalau begitu aku pergi dan jangan lupa kirimkan pakaianku ke Bali. Terserah lewat apa. Pokoknya besok sudah sampai di villa”, ucap Leon dengan perintah yang sekenanya. Leon pergi dengan mengangkat tubuh Ana sampai masuk ke dalam pesawat VIP.


Pagi hari dua sejoli masih asyik bergelung dalam selimut dengan saling peluk. Park Jinwoo terbangun karena mendengar suara alarm ponsel miliknya. Park Jinwoo beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai ritual mandinya, Park Jinwoo membangunkan Vita yang sangat sulit dibangunkan.


“Vit, bangunlah!”, dengan menepuk pipi kirinya.


“euhmmm!”, lenguh Vita.


“Bangun Vit, kamu harus kembali masuk sekolah”, ucap Jinwoo.


“Hari ini masih libur”, ucap Vita yang masih asyik matanya tertutup.


“Jika kamu tidak sekolah, aku tidak akan pernah mengirimimu ramnyeon dan lainnya”, ancam Jinwoo.


“Gak pa pa aku masih ngantuk”, ucap Vita membalikan badan dengan memunggungi Jinwoo.


Jinwoo tidak habis akal cara membangun Vita. Jinwoo mengangkat tubuh Vita dengan memanggul sampai Vita tersentak.


“Oppa, apa yang kamu lakukan?!”


“Aku akan memandikan kamu”.


Sampai di kamar mandi, Jinwoo menurunkan tubuh Vita dengan menggapit kedua kakinya lalu mengambil sabun wajah kemudian mengusapkan ke mukanya. Lalu membasuh mukanya dengan air. Setelah itu Jinwoo mengambilkan sikat gigi yang sudah di beri pasta kemudian menyikatkan ke gigi Vita meski dipaksakan.


Usai semua yang dilakukan Jinwoo selesai lalu Jinwoo melanjutkan dengan mencoba membuka kancing namun tangannya di cegah oleh Vita.


“Oppa mau ngapain?!”


“Aku sedang membantu kamu untuk mandi”.


“Biar, aku mandi sendiri. Ok!”


“Baiklah, aku akan beri waktu sepuluh menit. Kamu harus sudah keluar dari kamar memakai seragam dan mencangklong tas sekolah kamu”, ucap Jinwoo.


“Iya, sekarang oppa keluar dulu”, dorong Vita keluar. Lalu Vita menutup pintunya dengan menghembuskan nafas.


Sembari menunggu Vita menyelesaikan ritual mandi. Jinwoo menyiapkan sarapan pagi dengan membuat nasi goreng sefood.


Tidak butuh waktu lama, Jinwoo telah menyelesaikan masakannya bersamaan keluarnya Vita dari kamar. Vita berjalan menuju ke meja makan lalu duduk menunggu park Jinwoo melepaskan apron dan membawa susu cokelat.


Vita meminum susu sebelum mulai menyantap nasi goreng sefood. Di tengah sarapan Jinwoo bersuara.


“Vit, kamu harus belajar dengan rajin. Kamu besok mau jadi apa. Jika ingin sukses belajarlah dengan rajin”, nasihat Jinwoo.


“Tapi, bisakah aku membolos sekali ini saja. Mataku sangat perih dan ingin tidur kembali”, ucap Vita memohon.


“No! kamu harus sekolah. Tidak ada lagi alasan”, ucap Jinwoo.


“Yahh oppa dasar pria kolot”.


“Kamu bilang apa?”


“Aku gak bilang apa-apa”.


“Bohong! Tadi kamu sepertinya mengatakan sesuatu dalam bahasa Indonesia”.


“Apa?”


“Sudahlah, berdebat dengan kamu tidak ada habisnya. Lebih baik habiskan sarapannya dan berangkat sekolah. Biar aku yang mengantar kamu ke sekolah. Aku tidak mau kamu menipuku kedua kali seperti tahun lalu”, ucap Jinwoo.


Usai menyelesaikan sarapan pagi, Jinwoo mengantar Vita pergi ke sekolah. Jinwoo menyalakan motor dengan menderumkan mesin. Jinwoo menyuruh Vita naik.


“Vit, ayo naik”.

__ADS_1


Vita malah menarik jaket jins Jinwoo.


“Oppa bolos saja ya”, mohonnya.


Jinwoo menghela nafas dan memasangkan helm di kepala Vita dengan mengatakan, “jangan terus mengatakan hal bodoh. Sekarang naiklah!”


Vita memanyunkan bibirnya dan naik ke motor dengan memeluk pinggang Jinwoo. Jinwoo melajukan motornya dengan melewati kemacetan hingga sampai di depan gerbang sekolah meski masih ada sisa waktu lima menit.


Jinwoo menyuruh Vita turun.


“Turunlah, kita sudah sampai di depan sekolah kamu”.


Vita beranjak turun dengan tubuh letoy sambil memanyunkan bibirnya dengan ekspresi wajah menekuk.


“Oppa, kita kembali lagi ya”,mohon Vita kembali.


“Sudahlah jangan mengatakan hal bodoh”, sambil melepaskan ikatan helm di leher Vita. Lalu memegang kepala Vita dengan memberikan kecupan agar semangat sambil berkata, “belajarlah dengan rajin. Jangan selalu dipenuhi absen dan berkelahi. Penuhilah dengan prestasi. Tegakkan badan kamu dan masuk!”


“Dasar oppa culun”, umpat Vita.


“Yahh, jangan buatku marah”, pukul Jinwoo di kepalanya.


“Auww, sakit”, adu Vita.


“Sekarang masuklah, sebelum gerbang ditutup. Nanti oppa jemput!”


“Bye oppa”, dengan melambaikan tangan dan masuk ke dalam sekolah.


Setelah memastikan Vita masuk, Jinwoo meninggalkan pelataran depan gerbang.


Sementara di Bali, seorang wanita tengah meringkuk dalam tidurnya meski sudah menjelang siang. Leon yang sudah selesai ritual mandi dengan pakaian kasual dengan celana jin pendek menghampiri Ana yang masih meringkuk dalam tidurnya. Lalu Leon membangunkan Ana.


“An, bangun!”, dengan mengecup matanya.


“Sweety bangun, kamu tidak lapar?!”


“Sweety!”


Kemudian Ana membuka kedua matanya dengan merenggangkan otot-otot tubuhnya dengan suara lenguhan. Sedangkan Leon memandang Ana dengan senyum hangat sambil mengusap keningnya.


Lalu Ana beranjak dengan posisi duduk dan langsung mendapatkan ciuman yang mendarat dari Leon dengan dalam dan memindahkan tubuh Ana dalam pangkuan kemudian melepaskan ciuman sambil mengusap bibirnya.


“Morning sweety”, sapa Leon mencium mata kanannya


“Apa yang kamu lakukan Leon?”, kesal Ana.


“Aku hanya memberikan morning kiss sweety”, ucap Leon.


“Ini dimana Leon?”, tanya Ana dengan menelisik ruang kamar yang tengah ditempatinya.


“Kita sekarang berada di Villa Bali”, jawab Leon.


“Apa?!”


“Kamu sudah gila Leon, hari ini aku masuk kerja. Kamu tidak minta izin dariku. Kamu yang tadi malam tiba-tiba marah dan membawaku ke sini. Kamu sungguh gila Leon!”, kesal Ana dengan amarahnya.


“Sekarang kamu mandilah”,ucap Leon tidak mengindahkan kekesalan Ana.


“Jika kamu malas mandi, aku akan bantu dan aku bisa sekali lagi melakukan ritual mandi kembali”, ancam Leon.


“Tidak perlu, aku bisa mandi sendiri”, ucap Ana dengan turun dari pangkuan Leon dan langsung melesat ke kamar mandi.


Ketika kembali ke kamar, Leon melihat Ana yang tengah duduk di depan meja rias yang tengah mengeringkan rambut. Leon menghampiri Ana dan memeluknya dari belakang dengan mencium kepala untuk menghirup bau wewangian yang menyeruak dari rambut. Ana yang tengah mengeringkan menyuruh Leon untuk melepaskan pelukannya.


“Leon lepaskan pelukan kamu. Bagaimana aku mau mengeringkan rambut? Please Leon!”


Lalu Leon melepaskan pelukannya dan kembali ke sofa.


“Sweety bau wangian di tubuhmu membuatku terbangun untuk ingin segera menyentuhmu”, ucap Leon dengan memindahkan tab ke meja sebelah.


“Dasar mes*m”.


Leon malah tersenyum menyeringai sambil mengusap bibirnya dengan jari telunjuk. Leon memandang Ana yang sedang sibuk mengeringkan rambut dengan mata menggelap dengan hasrat. Leon harus menahan diri agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Tak lama kemudian Ana telah menyelesaikan mengeringkan rambut dan beranjak ikut bergabung dengan Leon untuk menyantap makanan. Ana duduk di sofa single tetapi Leon mencegah dan menyuruhnya untuk duduk di sampingnya.


“An, jangan duduk di sana. Duduklah di dekatku”, ucap Leon dengan menepuk sofa sebelah.


“Aku di sini saja”, tolak Ana dengan mengambil orange juice. Leon yang mendapatkan penolakan dari kekasihnya beranjak dan mengangkat tubuh Ana. Membuat Ana tersentak dan kesal.


“Leon!”


“Kamu apaan sih?!”


“Aku tidak suka dengan sikapmu Leon!”


“Sekarang turunkan aku!”


Kekesalan Ana kepada Leon tidak diindahkan. Leon malah memangku dan mengambil orange juice yang digengam oleh Ana dan menyuapinya.


Ana memukul dada bidang Leon dengan mengumpat, “kamu benar-benar mes*m”. Leon menjawab dengan mengedikan bahu dan melakukan aksinya kembali membuat Ana tidak bisa meronta karena tenaganya tidak kuat untuk melawan.


Di sekolah SMU N harapan, Vita tengah makan bersama di kantin bersama Adit setelah menyelesaikan tugas hukuman dari ibu Nisa. Vita memesan makanan dengan porsi besar. Dia memesan berbagai jajanan. Vita melahap makanan yang dipesannya sambil sesekali menyegarkan tenggorokan dengan dua gelas es teh. Adit yang melihat porsi makan Vita bergeleng kepala.


“Vit, kamu benar-benar gak kerasukan kan?”


Vita menjawab dengan gelengan kepala.


“Yakin”, ucap Adit.


“Kenapa kamu tanya terus sih Dit. Lebih baik kamu makan yang aku pesankan daripada hanya memperhatikan aku. Sebelum makanan habis lebih baik segeralah makan”, ucap Vita dengan meminum es teh.


Beberapa lama kemudian bel istirahat telah usai, para siswa memasuki ruang kelas dan mulai pelajaran selanjutnya hingga pukul 02.00 siang.


Lalu para siswa bertebaran keluar dari kelas. Mereka bersemangat ketika pelajaran berakhir begitu juga yang di rasakan Vita meskipun mendapatkan hukuman karena tidak mengumpulkan pekerjaan rumah.


Vita berjalan melewati lorong kelas. Pada saat tengah bersenandung ria, Adit tiba-tiba muncul dan merangkul pundaknya.


“Vita!”, panggil Adit.


“Kamu habis pulang mau kemana?”, tanya Adit.


“Aku mau pergi jalan-jalan untuk refreshing bersama oppa”, jawab Vita dengan ekspresi riang. Adit mendengar kata oppa, pikirannya menjadi berpikiran hal buruk. Lalu Adit mencekap lengan Vita saat akan menghampiri Jinwoo.


“Vit tunggu..”


“Ada apa?”, tanya Vita.


“K..ka..kamu mau pergi dengan oppa?”, tanya Adit.

__ADS_1


“Iya, aku sudah mengucapkan kepadamu”,jawab Vita.


“What’s! Kamu gila Vit. Kamu masih muda dan bisa menghasilkan uang sendiri. Kenapa kamu mau menjadi seorang gadis yang binal Vit? Jangan, aku tidak akan membiarkan kamu melakukan hal yang tidak baik”, ucap Adit dengan spekulasi pikirannya sendiri.


“Kamu ngomong apaan sih”, ucap Vita.


“Oh, aku tahu maksud kamu. Aku itu bukan jalan-jalan menjual diri tapi aku jalan-jalan dengan oppa korea. Tuh orangnya yang berada di moge”, ucap Vita dengan menunjukkan oppa-nya.


Adit merasa malu dan menggaruk tengkuk tidak gatal dengan terkekeh. Lalu meminta maaf kepada Vita.


“Sorry Vit..”, dengan meringis.


“Iya, santai saja. Kamu kira aku wanita seperti itu”, ucap Vita dengan menggeleng kepala.


“Habisnya kamu mengatakan kata Oppa. Aku kira oppa itu kakek-kakek gaul”, kekeh Adit.


“Yaudah, aku duluan. Bye”, pamit Vita dengan melambaikan tangan.


“Bye!”, ucap Adit dengan gak enak hati. Adit merasa lega kalau Vita masih dalam tahap aman. Adit melihat Vita yang tengah berlari dengan senang melihatnya bahagia.


Lalu Adit pergi meninggalkan sekolah setelah Vita bertemu dengan pria korea itu.


Vita tengah mengobrol dengan Jinwoo.


“Oppa, tadi temanku menyangka kalau oppa itu seorang kakek gaul lho”, ucap Vita.


“Aku masih tampan masa dibilang kakek”, ucap Jinwoo dengan narsis.


“Iya, oppa itu masih tampan tapi dia menyangka oppa kakek karena aku memanggil kamu itu oppa. Jadi dia pikir oppa itu kakek. Soalnya di Indonesia memanggil oppa itu sebutan untuk seorang kakek-kakek”, ucap Vita dengan naik motor di jok belakang dan memeluk perut Jinwoo.


“Oo gitu”, ucap Jinwoo.


“Ayo oppa jalan. Aku tidak sabar segera menghirup udara segar di supermarket”, ajak Vita.


“Baiklah, let’s go”, ucap Jinwoo.


Sesampainya di pelataran supermarket besar, Jinwoo memarkirkan sepeda motornya. Lalu mereka turun dari motor dengan melepaskan helm. Kemudian Vita dan Jinwoo masuk dengan beriringan.


“Oppa, kita pergi makan dulu yuk. Perutku lapar banget”, ucap Vita dengan mengusap perut.


“Baiklah, kita cari restoran untuk kita makan”, ucap Jinwoo. Lalu Jinwoo menggandeng tangan Vita menuju ke lantai atas. Sampai ke lantai atas Jinwoo dan Vita masuk ke restoran korea lalu mengambil tempat duduk dekat dinding.


“Oppa mau pesan apa?”, tanya Vita.


“Saya pesan tteopokki dua porsi, shabu-shabu, dan pizza spesial dengan keju lumer. Terus minumnya coca cola saja satu botol sedang dua”, ucap Jinwoo.


“Tumben oppa makannya banyak. Kalau begitu aku mau pesan..”, ucapan Vita terpotong dengan sikap Jinwoo mengambil buku resep yang dipegang Vita. Vita melotot ke arah Jinwoo.


“Oppa! Apaan sih main rebut buku menu?!”, marah Vita.


“Kamu tidak dengar tadi...”, dengan menarik hidung Vita. Vita mengadu sakit, “auw, oppa! sakit”, dengan cemberut dan memalingkan wajahnya ke arah lain.


Jinwoo menghela nafas lalu memaksa kepala Vita untuk melihat kearahnya dan memberikan kecupan berkali-kali membuat Vita tersenyum kembali.


“Bagaimana kecupanku, sangat manis kan?”, tanya Jinwoo.


“Enggak, itu memalukan karena oppa melakukan di tempat umum”, bisik Vita dengan ekspresi malu.


“Aigooo”, dengan mengusap kepala Vita dan memberikan senyum hangat.


Pada saat mereka tengah mengobrol, makanannya datang. Lalu pramusaji itu menata makanannya di atas meja. Setelah itu mereka pergi dengan membawa pesan, “silahkan dinikmati”.


Vita langsung mengambil pizza mozzarella dan memakannya dengan gigitan besar lalu mencoba makanan lain sampai belepotan. Jinwoo yang melihat Vita makan dengan lahap malah Jinwoo sudah merasa kenyang. Jinwoo membantu membersihkan kotoran makanan di sekitaran mulut dengan tisu. Vita yang tengah mengunyah memberikan jempol kepada Jinwoo dengan mengatakan, “oppa ini enak banget, sumpah”.


“Yahh! makannya jangan seperti anak kecil dong”, ucap Jinwoo.


“Habisnya enak oppa”, ucap Vita.


Beberapa lama kemudian makanan sudah habis dengan tandas oleh Vita. Jinwoo hanya membantu membersihkan dan mencicipi makanan.


Lalu Vita dan Jinwoo beranjak dari bangku dan melanjutkan jalan ke time zone zona bermain. Jinwoo memainkan lempar bola sedangkan Vita memainkan balap mobil. Setelah puas mencoba semua permainan mereka keluar dari supermarket dengan membawa beberapa belanjaan dan kembali ke apartemen.


Setelah sampai di apartemen Vita langsung bergegas ke kamar mandi membersihkan diri. Sementara Jinwoo menata belanjaan ke lemari es. Tak butuh waktu lama Jinwoo telah menyelesaikan pekerjaannya lalu berjalan ke kamar. Jinwoo merebahkan tubuhnya sebentar di atas kasur sembari menunggu Vita selesai dengan ritual mandinya dengan mengingat sesuatu yang terjadi saat tadi siang.


Flashback


Ketika baru bangun siang Jinwoo mendapatkan panggilan dari ibunya. Ia mengangkat lalu dicerca omelan yang tidak dibutuhkan Jinwoo. Sejak kecil dia bersama neneknya di desa kemudian diumurnya masih remaja oleh ke dua orang tuanya dibawa ke seoul karena ambisinya dan tidak pernah dapat kasih sayang ibunya ataupun ayahnya yang ia dapatkan hanya ditekan oleh urusan perebutan harta jika dia dapat berkuliah di Harvard Amerika kemudian pulangnya ia di tekan jadi perwaris penerus setelah mengalahkan saudara sepupu. Membuatnya jengah apalagi dijodohkan secara politik.


“Jinwoo! Eomma minta kamu pulanglah. Ayah kamu membutuhkanmu”.


“Jangan lagi bersama gadis yang tidak jelas statusnya”.


“Eomma harap kamu mendengarkan karena kamu anak eomma dari rahimku”.


“Jika begini terus kamu tidak akan dapat apa-apa”


“Jinwoo dengarkan eomma!”


“Kamu jangan seperti kakak kamu dan nenek kamu di desa yang hanya mengomeli eomma”


“Kamu sayang eomma kan?”, dengan nada rendah.


Jinwoo langsung mematikan ponsel sepihak ketika diujung sana masih memanggilnya. Lalu membanting handphone hingga pecah karena amarahnya.


Flashback off


Pada saat Jinwoo tengah melamun di balik lengannya, Vita memanggil dirinya.


“Oppa!”


“Oppa!”


“Oppa!”


Jinwoo bangun dari berbaringnya dan beranjak lalu langsung memeluk tubuh Vita dengan menyembunyikan di ceruk lehernya sambil menghirup wewangian sabun yang melekat di badannya setelah mandi untuk menenangkan diri. Vita yang dipeluk oleh Jinwoo kaget lalu membalas pelukkan dari Jinwoo dengan mengusap punggungnya.


“Apa oppa sedang ada masalah?”, tanya Vita tetapi Jinwoo tidak menjawab dia malah menambahkan pelukkannya dengan erat seolah tidak ingin jauh dari Vita. Vita menghela nafas dengan mengatakan, “tidak apa-apa oppa jika kamu belum ingin menceritakan masalah yang saat ini kau hadapi. Aku akan selalu memberikan pelukan dan keceriaan untuk oppa”.


Jinwoo melepaskan pelukan Vita lalu menatap mata hitam pekat milik Vita dengan menelisik kemudian Jinwoo memberikan ciuman dengan perlahan tapi pasti. Vita merasakan ada sentuhan pada bibirnya lalu memejamkan matanya untuk merasakan ciuman yang diberikan oleh Jinwoo.


Kemudian Jinwoo melepaskan ciumannya dan berpindah mencium kening dengan singkat lalu pergi berlalu meninggalkan Vita sendirian yang sedang terpaku aksi Jinwoo kepadanya.


Setelah kepergian Jinwoo, Vita merasakan ciumannya yang masih terasa. Lalu mengenyahkan apa yang terjadi saat Jinwoo melakukan kepadanya. Vita mengalihkan pikirannya dengan perasaan Jinwoo. Vita memikirkan masalah yang tengah dihadapi oleh Jinwoo.


“Oppa tadi kenapa ya? Apa masih berseteru dengan ajuhma? Iya, pasti masalahnya berhubungan dengan ahjumma. Dia pasti memaksa Jinwoo untuk mengikuti keinginannya . Jika oppa tidak menuruti kemauan ahjumma, dia bahkan dengan tega mengancam Jinwoo dengan kelemahannya. Seperti pernah terjadi dengan oppa Minwoo. Ihhh dasar ahjumma gila. Dia benar-benar seorang ibu durhaka. Jika aku jadi cenayan pasti aku akan santet itu ahjumma”, kata hati Vita.


Beberapa saat kemudian Jinwoo keluar dengan melemparkan handuk putih ke wajah Vita yang tengah melamun sambil ngemil keripik yang ada diatas meja. Vita kaget dan berteriak, “yahhh! oppa itu benar-benar...”.

__ADS_1


“Ayo bantu aku untuk mengeringkan rambutku dengan handuk lalu pijitin kepalaku”, perintah Jinwoo yang sudah duduk di depan Vita. Vita mendengus kesal namun dia tetap mengerjakan apa yang di suruh oleh Jinwoo sesekali menekan dengan keras dan Jinwoo hanya menikmati pijitan dari Vita. Beberapa lama kemudian Jinwoo dan Vita berbaring diatas ranjang dengan saling memeluk dan memejamkan mata untuk menanti hari esok yang lebih bahagia.


__ADS_2