Loyal And Possesive Mafia Billioner

Loyal And Possesive Mafia Billioner
Episode 26 (Kembali)


__ADS_3

Hari-hari ia lewati dengan baik bersama kakek Albert kini ia berpamitan kepadanya setelah satu bulan berlalu setelah mengalami beberapa guncangan yang membuat hati Vita hancur.


"Kakek aku pamit. Terima kasih telah menerimaku selama ini. Aku akan kembali ke sekolah sesuai janjiku kepadanya", ucap Vita.


"Kembalilah, jangan sering cuti atau apalah. Jadilah anak yang berguna. Jangan terus berbuat aneh-aneh", ucap kakek Albert.


"Okay. Sampai bertemu lagi" pamit Vita dengan melambaikan tangannya. Kakek Albert membalas lambaian tangannya kepada Vita.


Vita masuk ke dalam mobil dan melesat pergi menuju apartemen. Di perjalanan Vita melihat arah luar memandang jalanan yang hiruk pikuknya kendaraan yang berlalu lalang.


"Aku akan penuhi permintaanmu. Aku akan selalu ceria asal oppa bahagia di sana".


Beberapa lama kemudian Vita telah sampai ke apartemen miliknya. Vita turun dari mobil sambil menghirup udara sambil berkata, "akhirnya aku kembali lagi di sini. Semua kenangan indah bersamanya hanya di sini".


Lalu ia menggeret koper setelah memberikan uang kepada sopir taxi online. Ia melakukan dua kali kerja untuk mengangkat barangnya. Kemudian beristirahat sambil menatap langit kamarnya dan terbawa alam mimpi. Vita merasakan kecupan di bibirnya yang membuat dia merasa nyaman tidurnya. Pria itu tersenyum melihat Vita tertidur nyenyak.


"Good night", ucapan di lontarkan oleh jiwa Jinwoo.


"Semoga harimu selalu diberkati kebahagiaan. Selamat tinggal" pamit Jinwoo.


.........


Pagi pukul 07.00 kini dia kembali lagi dalam kehidupan sehari-hari sebagai siswi di SMU N Harapan.


Vita berjalan melewati gerbang sekolah menuju ke kelas. Vita melihat sekeliling yang terasa aneh sebab para siswa membawa banyak membawa bahan parkarya, bunga plastik, dan lain-lain. Vita hanya mengedikan bahu seolah tidak peduli.


Vita terus berjalan sampai di kelas dan duduk di bangku paling belakang. Lalu dia meletakkan kepalanya di meja dan menutup mata. Belum lama memejamkan mata Adit mengusik dirinya dengan berteriak di dekat telinga.


“Vit!”


“Vita!! Bangun! Sudah waktunya masuk!”


Vita marah dengan menegakkan kepalanya dengan suara mendesis.


“Kamu apaan sih! Telingaku berdengung nih!”, marah Vita.


“Iya, ya. Sorry nona manis”, ucap Adit dengan mencubit dua pipinya.


Vita melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit.


“Lihatlah, jamnya belum menunjukkan pukul masuk kelas”, kesal Vita.


“Emang, belum menunjukkan pukul masuk kelas tetapi untuk hari ini kita di suruh mendekorasi ruang aula”, ucap Adit sebagai ketua OSIS.


“Untuk apa?”, tanya Vita dengan menaruhkan janggutnya di atas meja.


“Sekolah besok akan merayakan hari jadi berdirinya sekolah kita. Jadi, mereka di sibukkan latihan dan mendekorasi aula”, ucap Adit.


Vita beroh-ria. Adit malah memukul kepala Vita sampai ia mengadu sakit.


“Kamu harus membantu juga walaupun tidak ikut pentas seni. Karena esok malamnya setelah pentas di sekolah akan mengadakan pesta dansa makanya kamu harus ikut partisipasi mempersiapkan acara di sekolah kita. Kita menggunakan aula lainnya juga untuk meminimalisir siswa-siswa yang datang agar tidak sempit dan acara berjalan lancar”, jelas Adit.


Vita hanya mangut-mangut saja.


“Oh ya Vit saat kamu tidak masuk bu Naila nyariin kamu. Lebih baik kamu ke sana gih dari pada kamu gak naik kelas”, ucap Adit.


“Iya, ya, nanti aku akan pergi ke ruang guru”, ucap Vita.


“Vit, kamu di cariin bu Naila tuh. Di ruangannya sekarang”, sela Alia yang sedikit tidak suka dengan Vita.


“Tuh, baru saja aku omongin, kamu sudah di panggil”, ucap Adit.


“Iya, panjang umur tuh guru”, ucap Vita bersiap pergi.


“Aku pergi ke ruangan guru dulu, nanti aku akan pergi ke aula”, pamit Vita.


Adit memberikan tanda ok dengan jari membentuk, “o”.


Vita berjalan melewati lorong sekolah sampai ke ruang guru. Vita masuk dan langsung menemui bu Naila.


“Permisi bu”, ucap Vita. Bu Naila menjawab dengan suara decakan beberapa kali karena bu Naila hampir frustrasi dengan anak didiknya yang jarang masuk.


“Duduklah!”, ucap bu Naila dengan ekspresi garang sambil mengusap perut buncitnya.


“Lihatlah absenmu, kamu sudah banyak absen. Saya ingin sekali kamu dikeluarkan karena saya sudah lelah banyak guru-guru yang komplain karena kamu. Kamu harus menutupi absen ini dengan mengerjakan tugas yang ada di kertas yang sudah tercatat. Temuilah guru-guru yang terkait mata pelajaran dan minta maaflah kepada mereka”, ucap bu Naila.


“Baik bu”, ucap Vita.


“Oh ya, bu Indra sebagai pengajar guru bahasa inggris sementara cuti jadi kamu meminta tugas pada guru baru di ruangan bekas UKS yang dahulu”, ucap bu Naila.


“Baik bu. Makasih”, ucap Vita.


Vita pergi menemui guru-guru mapel satu persatu untuk mendapatkan tugas walaupun harus melewati omelan dari guru-guru mapel dengan omelan pedasnya. Sampai akhirnya Vita berada di depan pintu UKS. Vita menghembuskan nafas lalu mengetuk pintu beberapa kali tapi tidak ada jawaban akhirnya Vita menyerah dan pergi ke ruang kelas meletakkan buku kemudian pergi ke aula. Sebelum ke aula Vita pergi ke ruang kepala sekolah. Vita mengetuk pintu. Bu Maya yang tengah mengobrol dengan Lucas dan bu Dian terganggu dengan suara ketukan dari luar ruangannya.


Bu Maya menyuruh Vita masuk dengan suara lantang. Vita masuk ke ruang bu Maya dan melihat sosok pria yang ia kenal. Lalu Vita mengalihkan pandangan ke bu Maya yang berdehem.

__ADS_1


“Vita, Vita, Vita!! Saya gak habis fikir kamu tuh gadis pemalas yang jarang masuk dan membuat kepala saya pusing. Tahu gak!”, ucap bu Maya dengan nada tegas.


“Maaf bu, saya mengaku salah”, ucap Vita tanpa gugup.


Lucas yang sejak tadi memandang akhirnya pamit karena situasi yang dia lihat tidak memungkinkan dengan diikuti bu Dian.


“Kalau begitu saya pamit, mau lihat-lihat dekorasi para siswa yang nantinya akan dibuat pentas”, pamit Lucas.


“Oh ya, silahkan. Maaf ya mister atas situasi yang tidak dimungkinkan”, ucap bu Maya dengan kekehan.


“Tidak papa. Saya pergi dulu”, pamit Lucas. Lucas berjalan melewati Vita yang berdiri dengan memberikan senyum penuh arti. Vita yang mendapatkan senyuman yang aneh dari pria bule itu perasaannya menjadi tidak enak namun Vita menepis perasaan aneh dari senyuman penuh arti itu.


Setelah Lucas dan Dian pergi, bu Maya menyuruh Vita untuk duduk dengan tegas. Vita lalu duduk di kursi yang menurutnya panas. Sedangkan Lucas yang telah keluar menoleh sedikit lalu berjalan dengan diikuti oleh bu Dian. Dalam perjalanannya bu Dian terus bercerita mengenai Vita dan Lucas menanggapi dengan ekspresi datar dan dingin.


“Mister, maaf tadi terganggu oleh siswi yang selalu memberikan masalah di sekolah ini”,ucap bu Dian.


“Masalah apa yang dia perbuat?”, tanya Lucas.


“Dia itu gadis arogan yang selalu telat masuk, sering absen, dan dia pernah ikut tawuran sehingga para guru sering dipusingkan oleh permasalahan dia”, ucap bu Dian.


“Maklumlah mister, namanya juga gak pernah dapatkan didikan orang tua. Orang tua dia kan meninggal sejak dirinya masih menginjak sekolah dasar apalagi dia tidak memiliki ayah yang jelas”, lanjut Dian. Lucas mendengar cerita dari wanita centil itu merasa amarahnya memuncak namun ia harus menahan kemarahannya dengan mengepalkan tangan dengan erat lalu menghembuskan nafas kasar dan berjalan lebih cepat dan membuat bu Dian terseyok-seyok.


Sementara Vita masih berada di ruang kepala sekolah dengan telinga terasa panas akibat omelan bu Maya meski Vita sudah membawakan makanan berupa cokelat, dimsum, dan sosis jumbo kesukaannya. Setengah jam kemudian bu Maya telah selesai menceramahi Vita dan memaafkannya. Lalu Vita keluar dengan bernafas lega.


“Hahhh, akhirnya berakhir”, ucap Vita sambil mengorek telinga yang terasa gatal dan berdengung akibat suara keras dari bu Maya. Kemudian Vita berjalan menuju aula dan melihat Adit yang tengah menurunkan papan jadwal.


“Hai Dit”, tepuk Vita.


“Apakah kamu sudah menyelesaikan masalah”, tanya Adit.


“Tentu. Tapi masih ada satu masalah yaitu belum menemui guru bahasa inggris. Tadi aku sudah ke sana namun tidak ada orang. Aku juga sudah mengetuk berulang kali”, jawab Vita sambil mencurahkan isi hatinya.


“Yang sabar. Mungkin guru baru itu sedang berkeliling ke kelas-kelas atau aula”, ucap Adit.


“Iya juga. Mungkin pas istirahat beliau ada di ruangannya”, ucap Vita.


“Berdoa saja. Sekarang bantuin mereka gih buat dekorasi ruangan”, ucap Adit dengan mendorong Vita.


“Iya, iya, aku mau ke sana”, cemberut Vita.


Vita berjalan melewati teman-temannya yang sedang sibuk menggunting, menempel dan ada yang meniup balon. Saat Vita tengah bingung untuk bergabung tiba-tiba ada teman kelasnya memanggil.


“Vit! Kemarilah”,ajak Mawar.


Vita pun menghampiri kelompok Mawar dan ikut bergabung.


“Aku habis berpetualangan”, jawab Vita sekenanya.


“Busyet, padahal sebentar lagi kita ujian. Apa kamu sanggup menutupi absen dan nilai-nilai yang kurang”, ucap Dea.


“Entahlah. Selama ini aku mengerjakan juga maraton. Kali ini...entahlah. Aku gak mau bayangin tugas-tugas itu. Hari ini biarlah aku tenang dulu baru pikiran belakangan saja”, ucap Vita yang tidak sanggup membayangkan tugas-tugasnya yang menumpuk.


Di sisi lain tempat yang sama Lucas sedang membantu para pria memasang spanduk lalu berjalan kembali untuk melihat-lihat para siswa yang tengah bekerja keras membuat dekorasi untuk pentas dengan diikuti bu Dian.


“Bagaimana mister karya anak-anak di sini?”, tanya bu Dian dengan tangan nakalnya merangkul lengan Lucas.


Saat Lucas akan menjawab bu Maya datang dan tangan nakal bu Dian mendapatkan teguran dari bu Maya dengan mata melotot sehingga bu Dian terpaksa melepaskan tangannya yang bertengger di lengan milik Lucas. Lucas merasa lega setelah bu Maya datang sebab Lucas tidak menyukai bu Dian yang seperti wanita kurang ajar.


“Maaf bu”, lirih bu Dian dengan menunduk.


“Saya memaafkan! Sekarang kembalilah ke ruanganmu yang harus kamu selesaikan untuk rapat nanti”, ucap bu Maya.


“Saya bisa kerjakan besok atau nanti malam”, ucap bu Dian.


“Bu Dian”, peringatan bu Maya dengan mengetatkan gigi. Lalu bu Dian pergi dengan kaki di hentakan.


Bu Maya menahan amarahnya dengan senyum sebagai seorang yang loyal.


“Mari mister saya akan temani anda berkeliling”, ucap bu Maya.


“Menurut mister sekolah ini bagaimana? Ya, mulai dari pegawai di sini sampai pada siswa-siswa saya”, tanya bu Maya.


“Mereka ramah, sopan dan baik tentunya”, jawab Lucas.


Ketika asyik menikmati obrolan tiba-tiba salah satu guru menghampiri bu Maya dengan mengatakan bahwa ia ada tamu penting yang mencarinya.


Bu Maya menghela nafas lalu berpamitan dengan Lucas.


“Mister mohon maaf, saya tidak bisa menemani anda berkeliling. Saya harus menemui tamu penting yang tidak bisa saya abaikan”, ucap bu Maya.


“It’s not problem”, ucap Lucas.


“O Oh atau mungkin saya panggil siswa saya untuk menemani anda berkeliling”, ucap bu Maya dengan rasa tidak enak hati meninggalkan Lucas sendiri walaupun sudah mengajar satu bulan di sekolah SMU N harapan.


“Tidak perlu. Saya bisa berkeliling sendiri dan saya sudah hafal semua ruangan di sini”, ucap Lucas.

__ADS_1


“Baiklah. Saya pamit dahulu”, ucap bu Maya dengan senyum dan berjalan pergi dengan badan tegak seolah seperti komandan.


Setelah kepergian bu Maya, Lucas berjalan kembali melihat sekeliling aula dengan mendapatkan suara-suara para siswi yang kagum dengan ketampanannya. Lucas mengabaikan semua pandangan siswi terhadap dirinya.


Lucas tetap berjalan menelusuri aula sampai ada salah satu siswi yang menggoda. Siswi itu bernama Lutfi. Dia sejak tadi sudah mengincar guru tampan tersebut. Lutfi menghampiri Lucas setelah membuat kesepakatan untuk taruhan mendapatkan Lucas dengan gayanya yang menurutnya cantik sebab Lutfi merupakan idola pria di sekolah.


“Hum hum hum”, Lutfi berdehem di samping Lucas.


“Boleh kenalan gak mister?”, tanya Lutfi dengan menyodorkan tangannya.


Lucas tidak meladeni perempuan tersebut. Lutfi merasa harga dirinya turun. Lalu Lutfi memaksa Lucas untuk berkenalan dengan menarik tangannya.


“Perkenalkan saya Lutfi, anak kelas dua A”, ucap Lutfi. Lucas tidak merespon dan malah menatap tajam Lutfi. Lalu Lutfi melepaskan dan mengabaikan tatapan horor dari Lucas. Lutfi malah semakin gencar mencari cara untuk menggoda Lucas. Lutfi mulai berani merangkul dan bermanja-manja di lengan kokoh Lucas membuat para siswi iri. Tapi malah justru Lucas merasa risi dengan perilaku Lutfi yang terus saja merayu Lucas sambil berkata, “mister, aku kagum dengamu. Bisakah kita lebih dekat”, dengan memberikan mata genit sambil mengusap lengan kokoh Lucas.


Mawar yang melihat tingkah Lutfi merasa risi dengan mengatakan, “dasar gadis sampul”.


Di tengah kebodohan Lutfi, Lucas menghempaskan tangannya sambil berkata, “jadilah siswi yang baik. Hapuslah make up tebalmu. Belajarlah yang benar. Saya mengingat perilakumu saat di kelas seolah kamu seperti ratu yang terus dikagumi oleh pria. Padahal perilakumu tidak mencerminkan seorang siswi dan seperti seorang wanita murahan yang mengumbar kebodohannya untuk menggaet pria dengan rok dan baju mengetat. Lama-lama kamu seperti tante-tante”,dengan nada sarkas. Lalu Lucas pergi meninggalkan Lutfi yang termangu atas apa yang diucapkan oleh Lucas. Para siswa yang tadi berteriak tiba-tiba suaranya menghilang dan berpura-pura bekerja. Lutfi merasa malu lalu pergi meninggalkan aula dengan ekspresi marah.


Lucas tidak peduli dengan ucapan pedas untuk siswi yang kurang ajar. Lucas terus berjalan menuju pintu keluar. Ketika langkahnya akan menuju keluar ruangan Lucas mengurungkan niatnya karena ada sesuatu pemandangan punggung yang ia kenal di kelompok Mawar. Langkah Lucas berbelok menghampiri segerombolan kelompok peniup balon. Lucas menyapa mereka dengan ramah. Para siswi anggota Mawar membalas sapaan itu dengan ramah kecuali Vita yang masih asyik meniup balon. Lucas tersenyum sinis dan penuh arti. Ia membisikkan sesuatu di telinga Vita sebelum keluar ruangan.


“Temuilah saya di ruang UKS lama”, bisik Lucas dengan meniup telinga Vita dengan nakalnya. Kemudian beranjak pergi. Vita merasakan merinding di sekujur tubuh sampai hampir tidak bisa bernafas. Vita menghentikan pekerjaan meniup dengan amat kesal.


“Siapa sih pria tadi? Aku merasa kenal tapi entah bertemu dimana? Masa bodohlah”, kata batin Vita.


Vita bertanya kepada teman-temannya di group nya.


“Guys, kalian kenal dengan pria tadi gak?”, tanya Vita.


Mereka menganggukkan kepala.


“Dia itu guru sementara yang mengajar bahasa inggris di sekolah ini”, ucap Dea.


“Dia sudah berada di sekolah berapa lama?”, tanya Vita.


“Sudah sebulan lebih kalau gak salah”, ucap Mawar.


Teng teng teng


Bunyi bel istirahat telah tiba. Para siswa menghentikan pekerjaannya. Mereka berbondong-bondong ke kantin. Sementara Vita harus pergi menemui guru bahasa inggris yang belum dia temui.


Vita berjalan dengan gontai karena tiba-tiba perasaannya tidak enak. Vita mengetuk pintu. Lucas yang berada di ruangan menyuruh orang di luar masuk. Vita membuka pintu dan masuk. Vita tidak melihat sosok orang di ruangan. Vita hanya melihat kursi kerja yang menghadap ke dinding. Vita mulai bersuara, “permisi”, dengan sopan. Lucas tersenyum miring dengan membalikkan kursi kerjanya ke depan. Vita setengah terkejut.


“Oh my god, jadi pria ini yang menggantikan bu Indra”, kata hati Vita.


“Duduklah”, ucap Lucas dengan tatapan penuh arti.


Vita ragu-ragu untuk duduk setelah dipersilakan oleh Lucas. Lalu Lucas kembali menyuruh Vita duduk. Vita kemudian duduk dan Lucas langsung membacakan catatan absen Vita juga nilai mata pelajaran bahasa inggris.


“Kamu sudah absen satu bulan lebih dan berturut-turut. Di bulan yang lalu juga kamu absen tanpa izin selama satu minggu, bulan lainnya pun juga sama kamu absen. Nilai mata pelajaran kamu standar dan tidak ada hal yang istimewa. Saya tidak tahu untuk pelajaran lainnya”, jelas Lucas.


“Apakah kamu layak untuk naik ke kelas tiga?”, tanya Lucas. Vita tidak menjawab dan hanya diam.


“Kamu hanya berani di luar sekolah tetapi berhadapan dengan guru saja kamu tidak bisa menjawab”, ejek Lucas dengan berdecak.


“A..aku bi..bisa menjawab”, ucap Vita dengan gugup.


“Kalau begitu jawablah pertanyaan yang saya ajukan”, ucap Lucas dengan bersandar di punggung kursi kerja.


“Saya layak a..tau tidak layak itu te..tergantung kerja keras saya”,ucap Vita dengan tenggorokan hampir tercekat.


“Jika kamu bekerja keras mana mungkin kamu di cap merah di buku absen”, ejek Lucas dengan mengetuk buku absen yang ia perlihatkan kepada Vita.


“Ya..saya tahu. Jadi anda tinggal memberikan saya tugas dan saya kerjakan”, ucap Vita dengan nada menantang. Lucas tersenyum sinis setelah mendengar ucapan Vita. Lucas beranjak dari kursi kerjanya dan menghampiri Vita dengan memutar kursi lalu menatap mata Vita lebih dekat dengan jarak dua inci. Hembusan nafas terasa di wajah Vita. Vita merasa gugup dengan sikap Lucas yang memandang dirinya.


“Mister..ka..kau mau ngapain?”, tanya Vita.


Lucas tersenyum sinis dan menegakkan badannya lalu duduk di meja kerjanya. Lucas mengambil sebuah kertas yang sudah tertempel materai.


“Apakah kamu sanggup mengerjakan semua tugas yang diberikan oleh para guru mapel?’, tanya Lucas. Vita tidak dapat menjawab.


“Apakah kamu bisa mengerjakan soal bahasa inggris yang saya berikan?”, tanya Lucas kembali dan tidak ada jawaban dari Vita.


Lucas menghela nafas kasar lalu kembali duduk di kursi kerjanya dengan menyerahkan sebuah kertas yang telah tertempel di materai. Vita pun bertanya, “apa ini?”


“Kamu bisa menandatangani kertas ini jika ingin mendapatkan keringanan karena saya malas membuat soal untuk siswi yang pemalas dan tidak pintar sepertimu”, ucap Lucas.


Vita ragu menandatangani kertas yang hanya bertulisan pernyataan dan data diri saja. Vita memandang wajah licik Lucas. Lucas menyuruh Vita untuk segera menandatangani kertas itu. Vita menghela nafas kasar dan menandatangani kertas tersebut tanpa pikir panjang sebab dirinya malas untuk berargumen. Lucas tersenyum dengan penuh arti setelah mendapatkan tanda tangan dari Vita. Vita menyerahkan kertas tersebut kepada Lucas lalu berpamit pergi namun Lucas belum membolehkan. Lucas menahan Vita di ruangannya dan memberikan minum. Vita menerima dan meminum air mineral yang diberikan oleh Lucas tanpa ragu karena tenggorokannya mulai kering. Lucas beranjak dari kursi kembali saat Vita tengah meneguk air minum tersebut. Lucas memutar kursi itu kembali dengan wajahnya mendekat dan kali ini berjarak satu inci membuat Vita terkejut dan hampir tersedat. Lucas memandang wajah Vita cukup lama lalu menarik tengkuk lehernya dan menciumnya. Vita meronta dengan menjatuhkan air minum. Tenaga Vita tidak sebanding dengan tenaga Lucas. Beberapa menit kemudian Lucas melepaskan ciuman tersebut dan Vita menampar wajah Lucas. Lalu beranjak pergi meski kakinya sedikit melemas.


Vita terus bergumam di sepanjang jalan dengan berkata, “dasar guru kurang ajar. Tidak punya etikat. Guru mes*m”.


Di tengah perjalanan dengan ekspresi marah yang meluap-luap tiba-tiba Adit datang dari belakang dan merangkul bahunya.


“Ada apa Vit? Sepertinya kamu kesal dengan seseorang sampai bergumam sendiri?”, tanya Adit.


“Gak ada apa-apa. Aku hanya lagi badmood saja”, ucap Vita dengan nada kesal.

__ADS_1


“Sudahlah, jangan kesal begitu. Lebih baik kita ke aula melanjutkan pekerjaan kita”, ucap Adit.


Vita dan Adit berjalan bersama menuju aula dengan bersenda gurau sampai ada seseorang yang melihat Vita jalan bareng dengan pria lain membuat sesuatu di hatinya mendidih.


__ADS_2