Loyal And Possesive Mafia Billioner

Loyal And Possesive Mafia Billioner
Episode 25 (Bertamsya ke Rumah Kakek Albert)


__ADS_3

Vita pergi menemani kakek Albert ke ladang. Albert menyuruh Vita untuk mencabuti rumput liar yang ada di sekitar tanaman ladang strobery. Vita mengiyakan lalu ia bekerja sesuai arahan kakek Albert sambil sesekali mencuri buah strobery tanpa ketahuan oleh kakek Albert. Beberapa waktu kemudian kakek Albert memergoki Vita dengan mengagetkan sampai Vita tesedat. Kakek Albert membantu Vita menepuk punggungnya dan memberikan botol minum yang ia bawa. Vita meneguk air minum yang diberikan kakek Albert. Kakek Albert memberikan nasihat kepada Vita, "makanya jangan mengambil milik orang lain tanpa seizin pemiliknya".


"Iya, kakek tampan", ucap Vita.


"Yaudah, kamu petik buah stroberi, kita bawa pulang", ucap kakek Albert.


"Asyik!" sorak Vita.


"Aku akan petik stroberinya yang banyak!", seru Vita.


"Jangan petik terlalu banyak, nanti saya rugi karena gak ada hasil kebun yang akan aku jual", ucap kakek Albert.


"Baiklah", ucap Vita dengan memanyunkan bibirnya.


Vita pergi mengambil ranjang dengan penuh riang. Kakek Albert yang melihat Vita seperti anak kecil menggeleng kepalanya sambil berkacak pinggang.


Setelah mendapatkan izin dari Albert, Vita memetik Stroberi satu persatu dari pohonnya sambil sesekali mengincip dengan melirik kanan kiri agar tidak ketahuan oleh kakek Albert. Semua buah-buahan yang ia petik telah terkumpul banyak, Vita membawanya ke kakek Albert yang sedang berkipas-kipas karena kepanasan.


"Kakek! aku sudah selesai memetik nih. Kakek mau ngincipi gak buah-buahan yang di tanam oleh kakek", seru Vita.


"Tentu, ini kan kakek yang merawat", seru kakek Albert.


"Wah, terik mataharinya menyengat", ucap Vit dengan mengibas tangannya untuk mengurangi rasa panas.


"Panas-panas gini paling enak minum es. Bagaimana kalau stroberi nya kita buat jus kek?"


"Itu ide bagus. Kalau begitu kita sudahi bercocok tanam. Kita kembali ke rumah", ucap kakek Albert beranjak dari tempat duduknya.


"Ayo kek, Let's go!", seru Vita mengambil ranjang yang berisi stroberi.


Vita dan kakek Albert berjalan beriringan kembali ke rumah. Mereka berjalan sambil berbincang hal-hal kecil.


"Bagaimana sekolahmu?"

__ADS_1


"Baik".


"Sungguhkah?"


"Sungguh".


"Emang kakek gak percaya denganku?"


"Percaya, tapi sedikit"


"Apanya yang percaya kalau cuman dikit", gumam Vita yang masih terdengar oleh Albert.


"Bagaimana mau percaya kalau kamu aja sering bolos sekolah? Kake gak habis pikir dengan sikapmu yang menyia-nyiakan pendidikan. Padahal banyak orang ingin bersekolah untuk mengemban ilmu demi masa depannya. Tapi, kamu malah seenak jidat gak pernah masuk. Sekalinya masuk, nilaimu paling rendah", jelas Albert.


"Iya, aku akan rajin lagi untuk bersekolah. Namun, setelah satu bulan menginap di sini", ucap Vita dengan unjuk gigi. Kakek Albert menggeleng kepala dengan tingkah cucunya.


Beberapa lama kemudian mereka telah tiba di rumah setelah melewati perkebunan, ladang, dan persawahan. Kakek Albert memutar kunci untuk membuka pintu lalu mereka masuk. Vita berjalan ke dapur sedangkan kakek Albert pergi membersihka. diri.


Di dapur Vita membersihkan buah stroberi satu persatu lalu ia masukkan ke dalam kulkas. Kemudian Vita pergi ke kamar untuk bersihkan diri. Beberapa jam kemudian Vita keluar dan langsung ke dapur untuk membuat jus. Di sana kakek Albert tengah memotong bawang bombay. Vita bertanya kepada kakek Albert.


"Aku masak gulai kerang, ayam tepung, soup", jawab kakek Albert sambil menumis bawang yang ia potong.


"Apa ada yang bisa aku bantu?


"Kamu, katanya mau buat jus stroberi. Buatlah jus dahulu baru membantuku".


"Baiklah, siap", ucap Vita dengan hormat seperti tentara.


Vita mengambil stroberi yang sudah ia cuci tadi. Ia memotong sambil mencuri-curi potongan stroberi. Kemudian ia masukkan buah itu ke dalam blender, lalu menambahkan madu dan mulai menghaluskan setelah diberi es batu dan air dingin. Usai menyelesaikan menghaluskan, ia masukkan kedalam wadah dan memasukkan ke dalam lemari es. Lalu sisanya ia tuangkan ke dalam gelas kecil. Ia memberikan jusnya kepada kakek Albert. Kakek Albert menerimanya. Ia meneguk lalu mendesah karena kesegaran jus yang ia minum.


"Apa enak?"


"Tentu".

__ADS_1


Vita meminum dengan sekali teguk dan mendesah karena rasa segar dalam minuman yang ia buat. Setelah itu ia membantu kakek Albert memasak.


Beberapa lama kemudian semua masakan telah siap untuk di santap. Mereka menikmati semua masakan yang dibuat tanpa kata hanya ada suara dentingan beradunya sendok dan piring.


...............


Di Jakarta Lisa tengah berhuru hara dengan teman-temannya di diskotik. Ia berjoget dengan lincah dan sembarang pria ia dekati dengan meliukkan tubuhnya. Galang yang tengah memata matainya begitu risih melihat perilaku Lisa. Gilang mencoba mengambil gambar penampilan Lisa secara diam-diam lalu ia bergegas pergi setelah bukti yang ia dapatkan tentang Lisa. Lisa yang tak mengetahui tengah di pantau malah sedang keasyikan berjoget. Lalu Lisa mengajak pria itu pergi ke suatu tempat dimana ia bisa menikmati hidupnya.


Sementara Ana, Adele, dan lainnya tengah menikmati jalan-jalan di swalayan untuk menghabiskan uang bulanan. Mereka mencoba berbagai merek gaun, sepatu, dan tas. Beberapa lama kemudian merek pergi ke restoran untuk mengisi perutnya yang kosong. Mereka memesan menu berbeda sesuai selera yang mereka inginkan. Lalu usai memesan mereka mulai berbincang-bincang masalah kehidupan asmara, pekerjaan, dan lainnya.


"Hari ini sangat menyenangkan di waktu seperti ini", ucap Hyucy.


"Benar, apalagi aku sangat bosan di rumah karena Saddam selalu saja meminta jatah membuatku kelelahan", ucap Sea dan teman-temannya menertawainya.


"Jangan ketawa gitu dong", kesal Sea.


"Bagaimana denganmu An?" tanya Sea.


"Bagaimana, apanya?" tanya Ana balik.


"Ya kehidupan asmaramu dengan Leon?", tanya Sea.


"Umm biasa saja", ucap Ana yang gak mau membahas asamar hidupnya.


"Apa kau sedang ada masalah dengan Leon?", tanya Adele.


"Enggak kok", jawab Ana dengan senyum kecut.


"Mendingan kita bahas lainnya seperti liburan atau lainnya", saran Ana mengalihkan topik untuk menghindari pertanyaan yang sensitif masalah asmaranya.


"Baiklah", ucap Clarisha.


Mereka tetap bercerita masalah kisah asmara mereka namun tidak dalam topik kisah asmara yang di miliki oleh Ana. Mereka bercerita kehidupan asmara mereka sendiri sampai membuat Ana merasa bosan dengan cerita yang mereka keluarkan dari mulutnya sampai makanan telah habis. Tak terasa mereka berpamita kembali ke rumah masing-masing dengan cipika cepiki.

__ADS_1


Usai berpisah dengan teman-temannya, Ana berjalan menuju halte menunggu taxi online yang baru dia pesan sambil menikmati jajanan yang ada di pinggir jalan.


Sedangkan Leon tengah galau karena terus diabaikan oleh gadisnya. Dia kini menyibukkan diri bekerja namun pekerjaan tak ada yang bisa ia selesaikan sampai kesal dengan dirinya. Ia menghempaskan punggungnya di senderan kursi kerja dengan mengusap wajahnya dengan kasar.


__ADS_2