
Vita diributkan dengan segala hal yang dilakukan oleh Lucas sehingga Vita merasa kesal.
“Vita! Tolong ambilkan pakaianku di mobil bagasi. Aku lupa membawa pakaianku! Kamu gak mau kan, jika aku telanjang di depanmu. Pasti kamu akan berpikiran kalau aku pria mes*m!”, teriak Lucas di balik pintu kamar mandi.
Vita yang tengah bekerja keras merampungkan pekerjaan sekolah merasa kesal.
“Dimana kunci mobil mu tuan Lucas!”, seru Vita dengan nada kesal.
“Ada di meja dekat Tv!”, seru Lucas dengan merapikan rambutnya yang basah di depan cermin.
Vita pergi dengan menghentakkan kakinya sebagai tanda kesal. Setelah kepergian Vita, Lucas keluar menunggu Vita kembali di tengah pintu kamar mandi sambil bersedekap dengan menatap pintu keluar tersebut terbuka.
Beberapa menit kemudian Vita kembali dengan ekspresi besengut dan Lucas sudah menutup kembali pintu kamar mandinya sebelum Vita menampakkan wajahnya yang berekspresi kesal.
Vita meletakkan kunci mobil milik Lucas lalu mengetuk kamar mandi dengan keras.
“Tuan! Pakaian anda telah tiba!”, seru Vita.
“Baiklah, tapi tolong pinjamkan aku handuk. Aku tak bisa mengambil pakaianku dengan telanjang begitu. Nanti kamu bisa-bisa pingsan”, seru Lucas.
“Dia itu sebenarnya makhluk dari mana sih? Aku gak habis pikir dengan pria setengah tua itu”, omel Vita dan omelannya terdengar sampai di telinga Lucas. Lucas mendengarkan omelan Vita tersenyum tipis dengan menikmati kicauan dari gadis kecilnya.
“Tuan, semua sudah aku bawa! Bukalah pintu mu sedikit”, seru Vita.
Lucas membuka pintunya sedikit dan Vita memberikan semua barang yang dibutuhkan olehnya namun yang terjadi Lucas menarik tangan Vita masuk ke kamar mandi sampai Vita hampir menjerit jika Lucas tidak segera membungkam bibir manisnya dengan bibir miliknya. Beberapa menit kemudian Lucas melepaskan lalu mengecup mata Vita yang tertutup.
“Bukalah matamu”, bisik Lucas. Vita membuka matanya dengan wajah merona karena melihat tubuh atletis milik Lucas. Vita memandang tubuhnya tanpa berkedip sampai Lucas berdecak dan berkata, “apa kau menikmatinya”.
Vita tersadar lalu menginjak kaki Lucas, dan pergi dengan amarahnya sampai menutup pintu dengan kasar. Lucas tertawa tiada henti melihat tingkah lucu gadis kecilnya. Vita yang mendengar tawa itu merasa jengkel.
“Dia benar-benar seharian membuatku gila semenjak ia tahu apartemenku dan tidak pergi dari pandanganku”,omel Vita.
Vita kembali ke kamar dan melanjutkan pekerjaannya yang terus tertunda akibat Lucas yang terus mengusilinya sampai tengah malam yang tak terasa waktu berjalan dengan cepat. Vita menghentikan aktivitasnya lalu pergi merebahkan tubuhnya diatas kasur sambil memeluk guling kemudian rasa kantuknya membawa dia ke alam bawah sadar.
Di sela-sela Vita tengah tertidur, Lucas diam-diam masuk dengan menggunakan kunci cadangan yang telah ia buat lalu mendekat ke kasur milik Vita memberikan kecupan di kening sambil mengucapkan selamat malam untuknya dan ikut bergabung tidur di sampingnya dengan merengkuh pinggang Vita.
Kicauan burung dari suara alarm ponsel milik Vita mengganggu dan membangunkan sepasang sejoli. Vita membuka mata lalu mematikan alarm kemudian merenggangkan tubuhnya yang terasa berat dan ada hembusan nafas di balik punggungnya. Mata Vita terbelalak melihat tangan kokoh bertengger di pinggangnya.
“Morning sweety”, ucap Lucas.
“Uncle..,ko..kok bisa masuk. Tadi malam pun pintunya sudah aku kunci”, Vita bingung keberadaan Lucas di sampingnya.
“Tidurlah kembali, ini masih pukul 05.00 pagi”, kata Lucas.
“Aku tidak bisa tidur kembali. Tolong lepaskan tangan anda, tuan Lucas”, ucap Vita dengan berusaha melepaskan tangan kokohnya dari pinggangnya.
“Kalau begitu temani aku tidur. Aku masih ngantuk”, ucap Lucas dengan mengeratkan pelukkannya di pinggang Vita.
“Uncle tolong lepasin pelukkanmu. Aku harus melanjutkan pekerjaan sekolah. Ada beberapa yang harus aku cetak”, mohon Vita dengan berusaha melepaskan pelukkan Lucas di pinggangnya. Lucas melepaskan pelukkannya dan Vita dapat beranjak namun Lucas malah menarik tangannya sehingga Vita terjatuh di atas tubuhnya.
“Lucas!”, jengkel Vita.
“Berikan aku morning kiss. Baru ku lepaskan”, ucap Lucas dengan manja.
“Ba..baiklah, tutup matamu”, ucap Vita. Lucas menungging senyum ke atas dan menuruti permintaan gadis kecilnya. Vita mendekatkan wajahnya perlahan dan perlahan sampai akhirnya ia bisa memberikan kecupan kepada Lucas dengan singkat. Vita mengangkat kepalanya setelah usai memberikan morning kiss akan tetapi Lucas tidak begitu puas apa yang diberikan gadis kecilnya. Lucas menarik tengkuk Vita untuk saling bertautan kembali. Namun kali ini Lucas memperdalam ciuman tersebut sampai nafasnya hampir habis. Lucas melepaskan, lalu Vita beranjak dan langsung berlari ke kamar mandi. Lucas tersenyum dengan tingkah gadis kecilnya. Lucas kemudian beranjak pergi ke kamar mandi luar untuk membersihkan diri.
Satu jam kemudian Vita keluar dengan menoleh kasurnya. Vita merasa lega karena Lucas telah pergi dari kamarnya. Vita melanjutkan mengerjakan tugasnya dengan handuk masih bertengger diatas kepalanya karena rambutnya masih basah. Di tengah keseriusan Vita dalam mengerjakan tugas, Lucas datang dengan bertanya, “apakah kamu belum bersiap ke sekolah? Kenapa kamu tidak mengeringkan rambutmu dulu?
“Sebentar lagi, setelah ini akan aku keringkan. Biasanya juga aku gak pernah mengeringkan rambutku”, jawab Vita tanpa mengalihkan pandangan dari soal yang dia kerjakan.
Lucas berjalan membantu Vita untuk bersiap ke sekolah dengan hal pertama yang di lakukan oleh Lucas yaitu mengeringkan rambut gadis kecilnya. Vita tertegun apa yang dilakukan oleh Lucas.
“A..apa yang kau lakukan?”, tanya Vita.
“Aku mau mengeringkan rambutmu”, jawab Lucas.
Lucas menyalakan hairdrayer, lalu mencoba mengeringkan rambut Vita. Vita merasakan jantungnya bertalu apa yang dilakukan oleh Lucas dengan tubuhnya beku.
“Kenapa tubuhku jadi tegang dan jantungku seperti ini. Oh, my, my, Vit sadarlah. Kamu jangan buat dirimu terjerumus dalam permainan pria bule ini”, dengan menelan ludah yang terasa tercekat.
Beberapa menit kemudian di suasana hening dan hanya terdengar suara dari hairdrayer saja, Lucas telah menyelesaikan mengeringkan rambut milik Vita lalu mencium kepala Vita yang menyeruak bau wangi buah-buahan yang begitu manis.
“Bersiaplah, aku sudah buat sarapan lalu aku antar kamu pergi ke sekolah”, ucap Lucas.
“Apakah kau hari ini tidak mengajar?”, tanya Vita.
“Apa kau masih merindukan aku?”, Lucas balik bertanya dengan mengangkat satu alisnya.
“Si..siapa yang rindu denganmu. Aku hanya sekedar bertanya saja”, cemberut Vita.
Lucas menungging senyum melihat gadis kecilnya yang menggemaskan.
Tak butuh waktu lama mereka menyelesaikan sarapan pagi. Lucas dan Vita berjalan beriringan ke parkiran lalu mereka berangkat ke sekolah.
“Turunkan aku ke halte saja”, ucap Vita.
“No sweety, aku akan mengantarmu sampai depan gerbang sekolah”,ucap Lucas.
“Ta..tapi”.
“No sweety, tidak ada bantahan. Aku tidak suka di bantah”, tegas Lucas.
“Aku gak mau jadi pusat perhatian dan banyak pertanyaan dari teman-temanku”, lirih Vita.
“Tenang saja, mereka gak akan mengenal mobilku”, ucap Lucas.
Beberapa lama kemudian mobil sedan berwarna hitam milik Lucas telah tiba dan Vita melepaskan sabuk pengaman setelah sekian lama perjalanan yang terasa tercekat. Vita berpamitan dengan Lucas.
“Aku pergi”, pamitnya.
__ADS_1
“Tunggu”, ucap Lucas.
“Apa?”, tanya Vita.
“Kamu belum memberiku kecupan”, ucap Lucas.
“Gak usah macam-macam deh uncle”, seru Vita.
“Vit..jika kamu tidak memberikan apa yang ku minta. Aku akan menciummu di depan mereka. Aku tidak peduli mereka akan bergosip apa. Tapi, kamu yang akan di rugikan”, ancam Lucas.
“Ahhh~, tutuplah matamu dahulu tuan pemaksa”,ujarnya. Namun Lucas tidak menuruti dan malah Lucas tiba-tiba mendorong tubuh Vita ke sandaran kursi dengan menurunkan sedikit joknya lalu menciumnya. Lalu beberapa menit kemudian Lucas melepaskan dengan membisikkan, “rasanya sangat manis meski ada sedikit pahit”, senyum Lucas. Lucas kembali ke posisinya sedangkan Vita berusaha menetralkan nafasnya dan merapikan pakaian miliknya dengan ekspresi kesal dan marah. Vita turun dari mobil dengan menutup pintu mobil dengan kasar. Vita pergi meninggalkan Lucas dengan melangkah cepat dengan bergumam, “ini benar-benar gila. Aku gak habis pikir dengan pria gila itu. Aku harus keluar dari kungkungannya agar aku bisa menyelesaikan studi dan balas dendam pada pria tua itu”.
....
Lucas telah sampai di depan kantor Leon. Ia berjalan dengan wajah dingin, garang, dan mata selalu tajam seperti seolah menyoroti orang-orang yang berani mendekat.
Para karyawan yang berlalu lalang tidak berani menatap bahkan berbicara dengan dekat.
Ketika para karyawan hanya dapat menatap dari jauh, namun bagi Ana berbeda melihat Lucas. Ia berani menyapa dan memanggilnya.
“Lucas!”, panggil Ana.
Lucas balik menyapa Ana.
“Hei An”.
“Apakah Leon ada di ruangannya?”
“Dia baru saja tiba”.
“Kalau begitu aku masuk dulu”, pamit Leon.
Lucas masuk ke ruang kerja Leon tanpa mengetuk pintu. Lucas langsung menjatuhkan bokongnya sebelum di persilahkan oleh Leon.
“Apakah kamu belum berbaikan dengan Ana?”
“Aku belum dapat mengetuk hatinya. Dua hari yang lalu dia bertemu dengan seorang pria di halte. Dia sudah membuatku seperti kebakaran jenggot”, ucap Leon dengan mengingat dua hari yang lalu Ana bertemu dengan teman prianya.
Flashback
Ketika Leon tengah memarkirkan mobil di area parkiran restoran, ia tidak sengaja melihat Ana tertawa lepas dengan pria lain. Api cemburu meluap di dalam diri Leon dibalik kemudi mobil. Leon mengerat stirnya tanda marah.
“Sweety, apakah kamu menghindariku karena bosan atau kamu menginginkan pria lain yang lebih muda dariku? Apakah aku tidak dapat kesempatan untuk hatimu?”, monolog Leon.
Leon mengurungkan niatnya untuk memasuki gedung restoran. Ia lebih memilih mengikuti Ana bersama pria lain sampai di depan rumah.
Leon melihat Ana melambaikan tangannya untuk pria di dalam mobil berwana merah tersebut membuat hati Leon teriris melihat kedekatan mereka. Lalu Leon turun dari mobil menarik tangan Ana sampai terhuyung ke depan menabrak dada bidang miliknya sampai Ana merasa terkejut.
“Siapa pria itu?”, geram Leon dengan nada rendah.
“Itu bukan urusanmu. Sekarang lepaskan aku, Leon”, ucap Ana dengan gigi mengetat.
“Leon, s...sakit”, keluh Ana.
Leon melepaskan lengan milik Ana lalu Leon mengusap wajahnya dengan kasar karena merasa frustrasi dengan sikap wanitanya.
Leon mendekati Ana dan bertanya, “apakah sakit?”
Ana tidak menjawab dan malah melangkah mundur meninggalkan Leon dengan ekspresi sedih.
Lucas memberikan saran kepada Leon.
“Minta bantuan kepada Lisa untuk membuat pesta di rumah Vita. Lalu kamu lakukan dengan cara sebagaimana para mafia mendapatkan hati gadis yang dicintainya”.
“Entahlah Lucas”, ucap Leon dengan frustrasi sampai mengeluarkan hembusan nafas dari bibirnya.
“Kami harus segera mengambil langkah sekarang, sebelum ia direbut oleh pria lain”,”, ucap Lucas.
Leon berdecak dengan berkata, “otak licikmu soal masalah percintaan sangat mengagumkan. Apakah kamu juga melakukan itu kepada Vita?”
Lucas menjawab dengan mengedikan bahu dan menyeruput kopi buatan office boy.
....
Leon menjalankan rencana yang disarankan oleh Lucas. Leon menghubungi Lisa yang saat ini tengah berduaan di ranjang bersama Johan.
Lisa mengangkat telepon dari Leon.
“Hallo tuan Leon, ada apa? Bukankah saya sudah meminta izin cuti kepadamu?”
“Aku menghubungimu untuk meminta bantuan darimu”, ucap Leon.
“Apa yang bisa saya bantu untukmu tuan?”, tanya Lisa dengan nada sopan sambil mengecup bibir Johan.
“Buatlah pesta di rumah Vita. Aku ingin Ana juga terlibat dalam pesta tersebut”, perintah Leon.
“Baiklah, tapi kita buat pesta dalam rangka apa? Takutnya Ana akan curiga”, ucap Lisa.
“Ahh~”, Leon menghembuskan nafas dan terdengar di telinga Lisa.
“Honey, kamu kan ulang tahun hari ini. Buat saja pesta itu untuk perayaan ulang tahunmu”,sela Arga.
“Leon, bagaimana pesta itu sebagai acara ulang tahunku. Tapi, kamu yang menyiapkan dana untuk pestaku?”
“It’s ok, no problem”.
“Baiklah, kamu transfer aja uang yang ku butuhkan untuk acaraku sendiri. Aku akan menyiapkan bersama Johan. Semuanya pasti akan beres”, ucap Lisa dengan girang.
“Kalau begitu, kamu menyuruhlah Ana untuk membuat pesta untukmu. Aku akan izinkan dia pulang lebih awal”, ucap Leon.
__ADS_1
“Baiklah, itu pasti akan beres semuanya”, ucap Lisa.
Leon mematikan sambungan teleponnya dan mengucapkan terima kasih kepada Lucas. Lucas menjawab dengan menyeringai.
Di kala Leon tengah berbincang masalah percintaan dengan Lucas, Ana mendapatkan pesan dari Lisa.
Lisa:
An, kamu harus bantuin aku untuk membuat pesta ulang tahunku malam ini. Apakah kamu bisa pulang lebih awal untukku?
Ana :
Aku ijin dahulu dengan Leon. Nanti aku kabari.
Lisa:
Baiklah, aku tunggu kabar darimu. Aku mau belanja dulu untuk pestaku.
Ana meletakkan ponselnya dan melanjutkan pekerjaannya dengan serius. Leon yang berada di ruang kerja menunggu Ana datang dengan perasaan gugup. Sedangkan Lucas sibuk dengan ponselnya.
Tiga puluh menit kemudian tiba-tiba ada suara ketukan, Leon berkesiap dengan menetralkan tenggorokan lalu menyuruh orang yang berada di luar masuk dengan nada tegas.
“Masuklah!”
Lalu seseorang yang di luar masuk dengan membuka pintu, “cklek”. Namu orang yang di tunggu bukanlah seseorang dalam hatinya.
“Maaf Mr. Leon, saya mengganggu”, ucap Allea
“Ya, ada apa?”, tanya Leon dengan ekspresi dingin dan datar.
“Saya mau menyampaikan meeting untuk siang nanti bersama team dari marketing dan influcer”, jawab Allea.
“Baiklah. Trus dokumen data pemasaran apakah kamu sudah membawanya?”, tanya Leon.
“Sudah tuan. Saya sekalian juga membawakan dokumen dari team lainnya untuk anda periksa”, ucap Allea dengan menyerahkan dokumen tersebut kepada Leon.
“Kalau begitu kamu boleh keluar”, usir Leon.
“Baik mister, saya permisi dahulu”, pamit Allea.
Setelah kepergian Allea, Leon membuka dokumen keuangan, pemasaran, dan lain-lain untuk dia tinjau kembali setelah insiden masalah kecurangan data yang dilakukan oleh salah satu karyawannya.
“Ada apa dengan perusahaanmu? Sepertinya ada masalah dalam bisnismu”, ucap Lucas dengan menghisap rokok.
“Ya. Ada salah satu pihak team pemasaran yang memanipulasi data dan mengambil uang kas selama satu tahun ini. Ayahku belum mengetahui masalah ini. Aku harus membereskan seisi data statistik maupun lainnya”,jelas Leon.
“Apakah orang itu kau bunuh?”, tanya Lucas.
“Tidak, aku memberikan hukuman yang membuatnya kesakitan. Itulah caraku kerja”, ucap Leon.
“Itu sangat mengerikan”, ucap Lucas. Leon mengedikan pundakknya sebagai tanda kalau dia tidak mau tahu.
Setelah berselang beberapa menit kepergian Allea tiba-tiba ada sebuah ketukan lagi. Leon mulai berkesiap untuk terlihat cool di depan Ana.
“Masuklah!”, tegas Leon.
Pintu itu terbuka, “cklek”, dan wajah yang muncul adalah teman-temannya bukan Ana dan membuat Leon kecewa.
“Hai Leon”, sapa Jorsh.
Teman-teman Leon masuk satu persatu.
“Lucas, sejak kapan kau di sini?”, tanya Johan.
Lucas menjawab dengan mengedikkan bahu.
“Guys,kalian membuat hati Leon kecewa”, ucap Lucas.
“What?..”
“Kenapa kami membuat dia kecewa? Bukankah harusnya senang”, ucap Jorsh.
“Lihatlah ekspresinya”, ucap Lucas.
“Oh my,my”, ucap Jorsh merangkul pundak Leon.
“Oh ya, ngomong-ngomong Johan, bukankah kamu harusnya mengantar dia berbelanja kebutuhan pesta ulang tahunnya?”, tanya Leon.
“Pesta ulang tahun?”, Johan balik tanya. Leon menjawab dengan anggukan. Ketika Leon akan mengangkat bicara tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu dari luar. Leon sudah tidak tahu lagi dan hanya menyuruh orang berada di luar untuk masuk.
“Masuklah ”, tegas Leon.
Pintu itu terbuka dengan suara “ckleck”, lalu menampilkan wajah yang di tunggu oleh Leon.
“Mohon maaf, saya mengganggu tuan”, ucap Ana dengan sopan. Ucapan yang dilontarkan oleh Ana membuat hatinya terluka. Leon harus menahan rasa lukanya demi mencapai hasil.
“Ya, no problem”, ucap Leon dengan matanya menelisik wajah cantik yang ia rindukan.
“Mohon maaf, aku mau minta izin untuk pulang awal. Hari ini Lisa ulang tahun. Jika dibolehkan”,ucap Ana.
“Tentu, kamu bisa pulang awal”, ucap Leon.
“Kalau begitu saya mohon undur diri”, ucap Ana dan diangguki oleh Leon.
Ketika Ana akan melangkah keluar, Johan menghentikannya setelah mendapatkan pesan dari Lisa.
“Tunggu An! An, kita bisa pulang ke rumahmu bersama. Soalnya aku baru saja mendapatkan pesan dari Lisa”, ucap Johan.
“Baiklah. Kalau begitu saya pamit dahulu”, ucap Ana.
__ADS_1
“Guys, aku balik dahulu”, pamit Johan.