Luka Hati Mak Ningrum.

Luka Hati Mak Ningrum.
Bab 21


__ADS_3

PoV Agus Kuat.


"Rum, kamu cantik sekali" Kataku jujur, ketika Ningrum sedang menjajal baju pengantin, saat ini kami sedang fitting baju. Calon istriku itu tersipu malu, membuatku gemas. Aku tidak bosan selalu menggodanya.


Ting!


Saat kami sedang bersenda gurau, terdengar notifikasi masuk segera aku buka handphone. "Yah... sebaiknya Ayah pulang sekarang, ada wanita yang datang dan mengaku Ibu Jesi,"


Deg.


Membaca chat Jesinta aku terkejut bukan main. Apakah wanita yang di maksud Jesi adalah Arinta? Untuk apa dia datang setelah belasan tahun tidak ada kabar. Mengapa kini muncul saat pernikahanku dengan Ningrum seminggu lagi akan berlangsung. Oh tidak! Pikiran buruk bermunculan.


"Mas... sekarang giliran kamu yang ngepas baju," Kata Ningrum. Namun aku tidak memperhatikannya.


Plak!


"Mas... kok malah mantengin handphone terus." Ningrum menggeplak pundakku menatap aku cemberut.


"Oh iya-iya" Jawabku gugup.


"Mas kenapa? Kok tiba-tiba pucat, tapi nggak panas kok." Ningrum menempelkan punggung tangan ke dahiku.


"Hai... belum mukrim loh" Kelakarku. Lalu aku tangkap tanganya, ketika akan aku cium, ia menariknya cepat. Aku terkekeh. Inilah pertama kalinya Ningrum menyentuhku lebih membuatku terkejut dibanding kehadiran Arin.


Kami menyelesaikan fitting baju, walaupun pikiranku kemana-mana. Karena handphone sejak tadi berisik terus.


"Mas, ada telepon itu loh, angkat saja dulu!" Ningrum mengingatkan.


"Dari anakku Rum, minta aku cepat pulang ada tamu katanya. Sudah aku kirim pesan kok, suruh tunggu," Jawabku tidak bohong.


"Kalau gitu kita pulang saja Mas, kan sudah selesai,"


"Iya Rum, padahal aku mau mengajak kamu makan siang, tapi nggak jadi." Sesalku. Padahal tidak hanya menyesal karena tidak jadi makan siang, tetapi ada yang lebih membuat aku menyesal karena kehadiran Arin. Aku takut jika Arin mengacaukan pernikahan kami.


"Mas... kapan aku bisa bertemu anakmu? Aku kan mau kenalan, sebentar lagi mau menjadi Emak nya masa nggak di kenalin." Tutur Ningrum.


"Insyaallah Rum besok atau lusa anakku akan aku kenalkan kamu sama Ratri." Kataku. Ia anggukan kepala lalu aku mengantar Ningrum pulang.

__ADS_1


Usah kau harap lagi sayang.


Cintaku telah hilang.


Sejak kau dusta padaku.


Hatiku kini telah beku.


Inilah lagu yang aku putar saat mobil yang aku kendarai melaju cepat, hingga tiba di depan rumah. Terpaksa aku parkir di luar pagar, pasalnya garasi terhalang oleh mobil kecil berwarna merah telah parkir di halaman. Aku turun melewati mobil tersebut apakah ini milik Arin? Sedangkan harga mobil ini sangat mahal.


Sejenak aku berdiri mengamati mobil mewah itu. Bahkan harga mobilku hanya seperempatnya saja. Jika memang mobil ini milik Arin syukurlah. Itu artinya ia sudah kaya raya.


Aku lanjutkan langkahku hendak masuk ke rumah. Namun, ketika tiba di depan pintu pandanganku tertuju kepada wanita berpakaian minim. Dia duduk di sofa satu kaki nangkring di atas meja. Sungguh tidak ada sopan santun, mungkin wanita itu dulu sekolah di dunia monyet. Satu batang rokok terselip di antara dua jari. Tanpa menyadari kehadiran aku. Dia hisap rokok hingga asap mengebul. Siapa lagi jika bukan Arinta.


"Eheemm..." Aku berdehem. Seketika dia menoleh. "Mas Agus" Ujarnya, ia mengulas senyum. Dandanan dan pakaiannya membuat aku muak. Tidak boleh di biarkan! Aku tidak mau Jesi meniru cara pakaian Arin.


"Untuk apa kamu datang kesini?!" Sinisku


"Loh... kok Mas Agus jadi galak, padahal dulu takut banget sama aku." Ujarnya mendekatiku ketika ingin menyenyuh tanganku seketika aku menjauh.


"Semenjak kamu pergi 16 tahun yang lalu, saat itu juga kamu sudah bukan istriku!" Ketusku. Lalu aku ke ruang kerja. Dimana aku selalu menggambar desain, ambil selembar kertas di laci yang aku masukkan ke dalam map.


"Ini, surat cerai sudah saya urus sendiri! Sekarang kamu harus tandatangi!" Ujarku meletakkan map di depannya.


Ia membuka kertas dan mengamati nya namun tidak juga tandangan.


"Cepat!" Bentakku.


Arin mendongak menatap wajahku entah apa yang ia pikirkan segera mencoret kertas. "Ini sudah saya tanda tangani!" Ia dorong map.


Aku segera ambil kertas. "Sekarang cepat kamu pergi dari rumah saya!" Usirku tegas.


"Tidak, saya kesini mau menemui anak kita, boleh kamu menceraikan saya, tetapi kamu tidak bisa menjauhkan saya dari anak kita!" Ucapnya. Sungguh wanita tidak punya malu. Mungkin urat malu nya sudah putus.


"Ahahaha... anak kamu bilang?! Setelah dengan tidak punya perasaan kamu meninggalkan Dia, lantas sekarang dengan seenaknya kamu ngaku-ngaku. Pergi dari rumahku sekarang! Jika tidak! Saya akan seret kamu keluar!"


"Tunggu Yah, berarti benar jika Tante ini Ibu Jesi?" Tanya Jesi. Tiba-tiba sudah ada di sebelah aku. Mungkin Jesi mendengar percekcokan kami.

__ADS_1


"Kamu memang pernah di lahirkan oleh wanita ini Jesi. Tetapi tidak satu orang pun Ibu di dunia ini yang tega meninggalkan anaknya saat masih bayi sayang..." Nasihat aku. Bukan aku mengajari Jesi untuk membenci ibunya. Namun aku tidak ingin Jesi yang sudah aku bentuk menjadi gadis yang putih bersih akan ternoda karena wanita ini.


Jesi tidak menjawab hanya memandangi wanita itu. "Sekarang pergi! Tunggu apa lagi!" Aku kembali membentak.


"Jesinta, Ibu pergi dulu sayang..." Ia cium pipi Jesi, yang hanya terpaku ditempat. Wajar, jika anakku bingung dengan semua ini.


"Jangan khawatir Mas Agus, aku akan pergi. Tetapi aku akan sering datang ke rumah ini untuk menjenguk anakku." Pungkas Arin lalu melangkah pergi dengan suara sepatu nya yang berhak tinggi.


Aku mengajak Jesi ngobrol menceritakan kepada Jesi tentang bagaimana dulu perlakuan Ibunya. Namun yang namanya anak sudah pasti Jesi bingung bagaimana harus bersikap.


"Bibi... tolong, jangan izinkan wanita tadi masuk ke rumah ini jika saya tidak ada." Pesanku kepada bibi setelah Jesi kembali ke kamar.


"Baik Tuan."


Seminggu kemudian tiba saatnya pernikahan aku dengan Ningrum. Namun ketika aku mengajak Jesi untuk menyaksikan pernikahan kami. Jesi tiba-tiba menolak. Padahal ketika aku mengajak Jesi untuk berkenalan dengan Ningrum. Jesi janji akan datang ketika menikah saja.


Aku menikah dengan Ningrum tidak ada satu keluarga pun yang datang. Karena kedua kakak aku sudah meninggal.


Setelah sah menikah dengan Ningrum aku mengajaknya pindah ke rumahku. Namun Ningrum menolak dengan alasan Ratri tidak mau ikut. Selama 6 bulan rumah tanggaku dengan Ningrum sangat harmonis.


Tepatnya tiga bulan yang lalu ketika baru dari luar kota bersama Ningrum. Seperti biasa aku mengunjungi putriku. Begitu terkejutnya aku ternyata Arin tinggal di rumah sudah satu bulan.


Aku hendak menemui bibi, namun ternyata menurut Jesi, bibi sudah tidak berkerja lagi. Aku tidak percaya mengapa bibi pulang tanpa pamit aku.


"Jesi! Kenapa kamu mengijinkan Arin tinggal disini? Bukankah Ayah sudah katakan! Ibu kamu itu wanita tidak benar!" Aku marah pada Jesi untuk pertama kali.


"Memang apa salahnya Ayah! Dia Ibuku, jika Ayah mengusir Ibu. Aku akan ikut Ibu kemanapun beliu pergi!" Jawab Jesi sengit. Baru kali ini aku melihat anakku marah seperti ini.


Ya Allah... rupanya anakku sudah di pengaruhi Arin. Aku pun keluar dari kamar Jesi. Namun ucapan Jesi menghentikan langkahku.


"Ayah harus kembali rujuk sama Ibu! Jika tidak, aku akan bunuh diri!"


"Jesi, mana bisa begitu, Ayah sudah menikah dengan Mak Ningrum. Lagi pula Ayah sama Ibu sudah tidak ada cinta lagi." Jujurku.


"Ayah... tolong, aku ingin Ayah dengan Ibu kembali bersatu. Aku ingin seperti anak-anak yang lain."


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2