
"Tidaaak..." Aku menjerit sekuat tenaga, menangis sejadi-jadinya. Aku sombong sudah menyakiti Ratri, karena tidak mau jujur akan perasaanku kepadanya. Andai saja aku bisa memutar waktu akan aku curahkan cintaku kepadanya.
Tetapi kini sudah terlambat, Ratri sudah pergi. Pergi untuk selamanya. "Ratri... maafkan aku..." Ketika jenazah Ratri sudah ditutup dengan kain. Bukan hanya aku yang merasa kehilangan, tetapi juga orang-orang terdekatnya.
Terutama Mak Ningrum, Tuan Daniswara, beserta istrinya. Ratri orang baik, sehingga meninggalkan kesan yang luar biasa di hati orang-orang terdekatnya.
Satu jam kemudian, jenazah Ratri sudah dimasukkan ke ambulan, karena akan dibawa ke rumah duka. Aku duduk bersama Tuan Daniswara dan Ningrum di dalam ambulan menemani jenazah. Aku menatap kain penutup tubuh Ratri serasa berdoa, semoga ada keajaiban bahwa Ratri belum meninggal.
Tiba di rumah duka, gadis pujaan hatiku kini tinggal jasat yang membeku dan dimandikan oleh Mak Ningrum, Banuwati, dan juga Gendis.
Keranda jenazah yang sudah dihiasi bunga itu sudah diangkat oleh orang-orang. Aku hanya bisa terpaku di tempat.
"GayatriiiƬ... jangan pergi! Gayatr..." Jeritku mengejar keranda yang sudah berada di pundak 6 pria kiri dan kanan.
"Arga... Arga... bangun Ga" Pipiku terasa ada yang menepuk. Aku membuka mata, ternyata Tuan Daniswara.
"Tuan... Gayatri sudah pergi Tuan. Kenapa secepat ini? Saya mencintainya Tuan, tetapi saya terlambat mengutarakan." Aku menangis seperti anak kecil duduk bersandar di kursi di depan tuan Daniswara dan Nyoya Banuwati yang hanya tertegun memandangi aku.
"Arga... kamu bermimpi...." Sambung Banuwati.
Mendengar ucapan Banuwati, aku duduk tegak. "Nyonya... Tuan..." Aku mengucek mata baru sadar. Rupanya aku tertidur di ruang tunggu dalam posisi duduk.
"Jadi loe mencintai Ratri?" Tanya Hendri, yang sejak tadi hanya diam saja. Bibirku terkatub rapat, pandanganku tertuju kepada Tuan Daniswara yang sedang menatap aku tajam.
"Tuan... ijinkan saya menikahi Ratri jika sudah sadar nanti Tuan. Saya mencintainya." Ucapku memberanikan diri, tanpa memperdulikan Hendri.
Plak!!
"Lancang sekali kamu!" Tamparan keras menghantam pipiku. Aku tidak menjawab mengusap pipiku yang terasa perih.
"Papa!" Bentak Nyonya Banuwati. Menatap suaminya tidak percaya.
"Mulai detik ini juga! Saya pecat kamu Arga!" Hardik Tuan Daniswara.
__ADS_1
"Ada apa ini?" Mak Ningrum bersama Ibu, keluar dari ruang ICU. Rupanya bentakan Tuan Daniswara sampai terdengar olehnya.
"Maaf Mbak Wati, ini rumah sakit, bukan hutan. Seharusnya Tuan Daniswara lebih tahu daripada saya. Jika kemarahan suami Mbak Wati tadi sangat mengganggu pasien," Sindir Mak Ningrum, lalu pandanganya beralih kepada Daniswara yang masih memandangi telapak tangannya. "Tuan Daniswara yang terhormat, seharusnya Anda mampu mengendalikan emosi." Imbuh Mak Ningrum.
"Maafkan suami saya Rum." Banuwati mengait lengan suaminya mengajak nya menyingkir, di ikuti Hendri.
"Arga... sebenarnya ada apa Nak?" Tanya Mak Ningrum lembut.
"Tidak apa-apa Mak, boleh saya menjenguk Ratri sebentar?" Tanyaku.
"Kenapa harus bilang Arga, biasanya kan kamu memang selalu menjenguk," Jawab Mak. Dengan langkah kaki cepat aku menuju ruang ICU.
"Rum, ada apa... siapa pria tadi?" Tanya Ibu tertangkap di telingaku.
"Daniswara itu atasan Arga Mbak Retno, Papanya Ratri." Jawab Mak Ningrum. Aku kemudian masuk ruangan menutup pintu tidak mendengar lagi perbincangan Ibu dan Mak Ningrum.
Aku mendekati tubuh yang baru saja aku impikan, masih dalam posisi sama. Yakni tidur penuh alat bantu. Aroma parvum wangi menusuk hidung. Wajar, Ratri baru saja diseka oleh Mak Ningrum.
"Ratri... cepat sadar, aku mencintaimu, doakan aku sukses, agar setatus sosial tidak menghalangi cinta kita." Aku cium punggung tangan Ratri untuk yang pertama kali. Aku usap air mata yang menetes di ujung mata pipi Ratri. "Ingat pesanku sayang, jika aku datang mememui kamu lagi. Aku ingin melihat kamu sudah dalam keadaan sadar dan tersenyum untuku."
"Ibu, sebaiknya kita menjenguk suaminya Bu Ningrum, terus kita pulang." Ujarku.
"Arga... kamu tidak berangkat kerja?" Tanya Mak Ningrum, dan Ibu bersamaan.
"Nanti saya ceritakan Bu, Mak." Jawabku lalu menggandeng tangan Ibu menjenguk Pak Agus.
"Mas Agus... ini loh, teman SMK saya." Mak tersenyum mengenalkan Ibu kepada Pak Agus.
"Semoga cepat sembuh Pak Agus." Ibu menangkupkan kedua telapak tangan.
"Aamiin.... terimakasih Mbak, sudah repot menjenguk saya."
"Sama-sama Pak, kita ini kan sama-sama merantau harus silaturahmi," Jawab Ibu.
__ADS_1
Setelah berbincang-bincang beberapa menit, aku mengajak Ibu pulang, setelah pamit Mak Ningrum, dan juga Pak Agus.
Tiba di rumah, aku masuk ke kamar masih merenung. Awalnya aku takut jika hal seperti ini rerjadi, yakni dipecat dengan alasan pribadi oleh Daniswara. Tetapi ya sudahlah, aku harus menerima konsekuensinya karena sudah berani mencintai Ratri.
Tok tok tok.
"Masuk Bu... tidak dikunci," Jawabku, segera bangun kemudian bersila di ranjang. Segera aku merapikan rambut dengan tangan agar jangan terlihat tidak baik-baik saja di depan Ibu.
"Arga... kita makan siang dulu, Ibu sudah memasak kesukaan kamu," Ibu membuka pintu lalu mendekati aku.
"Iya Bu... Ibu memasak apa? Hari ini aku ingin makan bersama Ibu," Aku tersenyum, lagi-lagi menyembunyikan perasaan campur aduk.
"Lee... sebenarnya ada apa? Tidak mungkin kamu tidak ada sesuatu, lantas kamu mendadak tidak bekerja, apa lagi bos kamu sampai menampar kamu?" Tanya Ibu lembut. Sebagai orang tua, tentu Ibu bisa merasakan seperti apa yang aku rasakan.
"Aku dipecat Bu." Jawabku, berusaha untuk tegar. Walaupun sebenarnya aku merasa kecewa dengan Daniswara. Pasalnya, aku sudah bekerja bertahun-tahun dengan beliau. Lagi pula, selama ini aku tidak mempunyai catatan buruk di perusahaan. Miris memang, jika aku dipecat karena tidak mampu bekerja tentu aku ikhlas menerimanya.
"Di pecat?" Ibu terkejut. "Kenapa Lee... ada masalah apa? Kamu menyelewengkan uang perusahaan, atau kamu tidak bisa bekerja lantas menyebabkan perusahaan bos kamu merugi?" Cecar Ibu kecewa menatapku.
"Bukan Bu, sebenarnya karena aku mengakui jika aku menyukai Ratri, lalu Tuan marah." Jawaku jujur. Untuk apa lagi di tutup-tutupi.
"Astagfirullah... bukankah bos kamu itu, S2 lulusan luar negeri, kenapa tidak profesional sih?!" Sungut Ibu.
"Biar saja Bu, katanya mau makan, ayo." Aku mengalihkan. Kami pun makan siang bersama di selingi obrolan kecil, tetapi aku memilih membicarakan kampung halaman.
Selama seminggu aku menjadi pengangguran dan sedang berpikir. Mungkin lebih baik aku membuka usaha sendiri, tetapi usaha apa? Seketika aku ingat di daerah Gunungkidul. Umbi gadung banyak sekali tumbuh liar, dan masyarakat enggan mengolah. Karena umbi tersebut beracun jika tidak bisa mengolahnya. Ide muncul di kepalaku, kenapa aku tidak menjadikan gadung sebagai jajanan yang lezat. Sesuai kuliahku dulu ambil di bidang pertanian. Kini sudah saatnya aku akan menjajal kemampuan.
Malam harinya aku sedang santai di depan televisi bersama Ibu. "Bu... apa umbi gadung di daerah Gunungkidul masih banyak?" Tanyaku.
"Walaah... banyak sekali Lee, buat apa to, gadung itu jika tidak bisa mengolah bisa keracunan loh," Ibu menoleh aku cepat.
"Jangan khawatir Bu, aku kuliah dibidang pertanian, tentu tahu cara mengolah gadung agar tidak beracun lagi. Menurut Ibu bagaimana, kalau aku punya rencana produksi snek berbahan dasar umbi-umbian agar menjadi cemilan dan kita jual Bu."
"Ide yang bagus Lee... Ibu akan mendukung kamu. Nanti Ibu mau menghubungi Om kamu di kampung. Sebagai modal awal, gadung di tanah kosong peninggalan Kakek kamu banyak sekali, biar diantar Om kamu kesini."
__ADS_1
...~Bersambung~...