
Mas Arga menidurkan aku di ranjang yang hanya muat untuk dua orang. Duh, jantungku berdetak kencang. Segera aku tidur miring membelakanginya. Pasalnya dia ikut merebahkan tubuhnya di sampingku.
"Sekarang kamu tidur ya, istirahat," Ucap Arga mencium dahiku lembut. Aku merasa lega lalu tidur terlentang. Lima belas menit kemudian, aku menelisik wajah Mas Arga sudah memejamkan mata, dan mendengkur halus sambil sedejap.
Selamat... selamat. Mas Arga sudah tertidur pulas. Akupun akhirnya menarik selimut dan akhirnya tidur juga.
Pagi harinya. "Mas... kenapa nggak membangunkan aku sih." Ucapku karena begitu bangun Mas Arga sudah duduk di meja belajar, mungkin sedang mengerjakan sesuatu.
"Aku kasihan, soalnya kamu pules banget." Arga menatapku.
"Bukan begitu, aku belum shalat Mas." Jawabku. Lalu berjalan cepat ke kamar mandi.
"Pelan-pelan jalanya, kamu kan belum sehat," Kata Arga, samar-samar terdengar tetapi aku segera masuk ke kamar mandi. Padahal di manapun aku tidur, tidak pernah kesiangan. Tetapi mengapa saat ini sudah jam lima lebih baru bangun. Setelah menjalankan ritual di kamar mandi, aku segera wudhu kemudian shalat.
"Mas, aku ke bawah duluan ya." Pamitku ketika sedang melipat sadjadah. Mas Arga masih sibuk.
__ADS_1
"Iya, tetapi jangan mengerjakan apapun, kamu belum sehat benar," Pesan Arga seperti aku ini anaknya saja.
"Iya" Jawabku sambil berlalu membuka pintu.
"Bu, maaf. Saya bangun kesiangan." Ucapku tidak enak hati menghampiri mertua yang sudah sibuk di dapur. Baru sehari di rumah ini sudah kesiangan.
"Tidak apa-apa, Ibu sudah bikin sarapan kok. Kamu tidak boleh mengerjakan apapapun di rumah ini. Jangan merasa nggak enak sama Ibu. Ibu tahu kamu belum sehat benar." Nasehat Ibu tulus. Aku terharu mendengarnya.
"Terimakasih Bu. Tetapi kalau cuma menyapu tidak apa-apa, Bu." Bantahku.
"Tidak usah, bangun tidur tadi, Arga sudah mengerjakan semuanya." Ibu menuturkan jika Arga sudah menyapu, mengepel, bahkan mencuci pakaian. Ya Allah... suamiku itu ternyata bukan hanya rajin. Sampai pekerjaan rumah pun ia kerjakan.
"Mas, lusa kita jadi berangkat ke Surabaya kan?" Tanyaku, memastikan. Selama lima hari disini kami tidak membahas masalah ini.
"Jadi, besok kita ke rumah Emak, menginap disana satu malam, terus paginya kita berangkat." Arga lalu merapat ke tubuhku melingkarkan tangannya. Seketika aku tidur miring.
__ADS_1
"Kamu ini kalau tidur selalu memunggungi aku, nanti kalau buang angin bagaimana?" Kelakarnya. Lalu ia memegangi telapak tanganku yang sengaja aku gunakan untuk menutup daging keramat di dadaku.
Candaan konyol nya tidak memengaruhi aku. Tetapi yang membuat aku ingin pingsan adalah, tangannya sengaja menyingkirkan tangaku yang menutup dua tombol ajaib milikku.
"Kok tanganmu dingin sekali, jangan-jangan ac nya kedinginan ya," Ujarnya. Aku hanya menggeleng. Padahal tanganku dingin karena berkeringat.
"Tanganya awas." Aku singkirkan tanganya dari dada, tetapi justeru melingkarkan ke perutku. Astagfirullah, bisa mati jantungan kalau begini.
"Perut kamu lurus amat?" Ujarnya. Sebab tanganya masuk ke dalam kaosku.
"Aahh..." Aku merengek, lagi-lagi aku singkirkan tanganya dari perut. Antara takut dan gelisah yang aku rasakan. Akankah Mas Arga membuktikan ucapanya ketika di rumah Papa lima hari yang lalu. Akan malam pertama di kamar ini.
"Mas mau ngapain?" Aku terkejut, karena setelah tanganya menjauh dari perut. Justeru mulai memencet dua tombol hingga tersalur ke seluruh tubuhku merasakan hal aneh yang belum pernah aku rasakan. Aku hanya bisa pasrah, dan pada akhirnya aliran tombol berpusat dalam satu pintu yang terkunci rapat pun mampu di jebol oleh pedang pusaka milik suamiku.
"Maass..." Aku meringis menahan rasa sakit dan pada akhirnya air mataku mengalir deras.
__ADS_1
"Maafkan aku." Ucapnya. Mengusap air matamu dengan jari telunjuk.
Bersambung.