
Aura Ketegangan dua pria berbeda usia itu, masih terjadi. Pasalnya, Daniswara akan merestui Arga menikah dengan putriku namun dengan satu syarat. Sebenarnya aku kesal, ingin rasanya mendamprat Daniswara. Bukankah dia sudah berjanji kepada Ratri, bahwa akan merestui hubungannya dengan Arga, tetapi kenapa masih dengan persyaratan entah apa itu. Walaupun kesal, lebih baik aku menahan diri, mendengarkan apa syarat yang akan disampaikan kepada Arga.
"Apa syaratnya Tuan?" Tanya Arga kemudian, setelah termangu beberapa menit.
"Kamu harus bersedia mengelola perusahaan Ratri di Surabaya." Perintah Daniswara, setengah memaksa. Refleks aku usap dada ini terasa lega mendengarnya. Kendati, Arga tampak tidak setuju dengan persyaratan itu. Aku tahu apa yang dipikirkan Arga, sebagai pria tentu dia tidak mau dianggap mendompleng kekayaan mertua. Tetapi apa salahnya jika Arga mengalah. Ah! Dua pria yang sama-sama keras kepala.
Suasana kembali hening, Arga nampak sedang berpikir. "Saya minta maaf Tuan, walaupun kecil, saya sudah mulai merintis usaha sendiri. Jadi, saya akan mengembangkan usaha saya." Tolak Arga dengan halus. Rupanya benar dugaan aku.
"Jangan bodoh Arga! Dengan kamu menolak permintaan saya, berarti kamu tidak sungguh-sungguh mencintai Ratri!" Dengus Daniswara, wajahnya memerah.
"Saya, mencintai Ratri Tuan, dan saya berjanji akan menafkahi istri dengan jerih payah saya sendiri." Keukeuh Arga.
"Jangan keras kepala kamu Arga!" Bentak Daniswara, tentu terdengar seisi rumah termasuk Mas Agus dan juga Ratri. Ratri mendorong kursi roda keluar kamar.
"Ratri, kamu lebih baik istirahat sayang." Cegahku menahan kursi Ratri, tetapi Ratri menyingkirkan tanganku, lalu mendekati dua pria yang duduk berhadapan. Sementara Mas Agus menghampiri aku.
"Ada apa Rum?" Tanya Mas Agus berbisik di telingaku.
"Kita dengarkan dulu Mas," Jawabku. Lalu aku dan Mas Agus hanya bisa menonton dari kejauhan.
"Papa kenapa sih... Kalau nggak usah pakai teriak," Ratri berkata lembut turun dari kursi roda. Dengan cepat Arga menyadak lengan Ratri lalu membantunya pindah ke kursi.
"Ini! Ni! Pria keras kepala!" Tuding Daniswara. "Kamu tega membiarkan Ratri dalam keadaan sakit, mengurus perusahaan sendiri!" Bentak Daniswara, melengos kesal. Sementara Arga kembali ke tempat duduknya.
"Papa... sudah." Ratri mengusap badan papanya. Sementara Arga menatap wajah Ratri entah apa yang Arga pikirkan.
Daniswara kemudian keluar meninggalkan rumahku tanpa berbicara sepatah katapun dalam keadaan marah. Tidak ada satu orang pun yang mampu menenangkan Daniswara, selain Banuwati istrinya.
"Mas, kenapa sih kalau mengalah sedikit, aku mendengar apa yang Mas dan Papa ributkan. Aku tahu, saat ini Mas Arga ingin segera bangkit, tapi tolong bantu keluarga aku," Ratri tampak memohon.
"Aku mau fokus dulu dengan usaha aku Tri." Arga meraup wajahnya, tampak bingung. Mungkin di satu sisi ingin menyenangkan Ratri, tetapi disisi lain. Arga ingin berdiri sendiri tanpa bantuan siapapun.
__ADS_1
"Iya, aku tahu kok, lebih baik Mas pikirkan masak-masak. Tetapi kalau boleh aku berpendapat. Menurutku, apa tidak lebih baik jika usaha kita gabung saja. Simbiosis mutualisme Mas. Perusahaan aku kan produksi dibidang minuman, lalu Mas bagian makanan. Aku yakin, perusahaan kita akan maju pesat Mas." Tutur Ratri tampak optimis. Arga tampak manggut-mangut,
Aku tersenyum melirik Mas Agus, mendengarkan ide cemerlang putriku, hingga sepertinya akan ada titik temu. Aku mengait lengan Mas Agus, mengajaknya bergabung dengan mereka.
"Bapak sudah mendengar langkah yang akan diambil Ratri Ga. Kalau Bapak boleh ikut campur, menurut Bapak gagasan Ratri sangat bagus," Kata Mas Agus, sependapat dengan aku.
"Baik, saya akan coba." Pungkas Arga melegakan kami semua. Ratri tersenyum, mengangkat tangannya minta dibantu Arga pindah ke kursi roda. "Aku pulang ya." Pamit Arga mengacak rambut Ratri, kemudian keluar.
**********
Seminggu kemudian tepatnya hari minggu aku hendak ke pasar belanja untuk jualan esok hari. Selama sepekan, Mbok Sri aku suruh libur, karena aku mau fokus mengurus Gayatri. Sebelum berangkat, kami sarapan pagi bersama.
"Mbok Sri... tolong panggilkan Jesi sama Dewi." Perintahku. Karena hari minggu libur kerja mereka semua santai.
"Baik Bu." Mbok bergegas menapaki tangga.
"Aku dengar obrolan Bapak sama Emak tadi, besok Emak mau mulai jualan ya?" Tanya Ratri, sambil mengaduk-aduk susu buatan Simbok. Ia seruput sedikit, kemudian meletakan kembali di atas cawan.
"Iya sayang, lumayan kan, sudah banyak pelanggan soalnya," Jawabku. Jika tidak jualan para tetangga selalu bertanya.
"Benar kata Ratri Rum, aku juga sudah mulai bekerja kan, sekarang biar aku saja yang mencari uang." Mas Agus menambahkan. Memang benar selama seminggu ini suamiku sudah mulai mendapat jasa mendesain lagi. Sudah ada tiga klien, mereka semua rekan kerja Daniswara.
"Nggak apa-apa Mas, lumayan kan" Jawabku. Tidak lama kemudian Dewi dan Jesi sudah turun. Dua gadis ini sudah wangi.
"Ayah, Emak... Hari ini aku mau main ke rumah teman, boleh tidak?" Tanya Jesi. Kasihan sekali anak tiriku selama Ayahnya dan Ratri sakit tidak pernah jalan-jalan
"Teman kamu dimana?" Potong Mas Agus. Mas Agus selalu memastikan jika anaknya mau kemana-mana harus tahu tujuanya.
"Tidak jauh kok Yah, rumahnya dekat pasar."
"Padahal hari ini Ayah mau mengajak kamu ke Mekarsari." Potong Mas Agus. Aku sampai lupa jika beliau tadi malam mengatakan akan melihat rumahnya. Dalam waktu dekat, Mas Agus mengajak aku pindah. Tetapi aku menolak, sebelum Arin ditangkap, tentu masih truama.
__ADS_1
"Minggu depan saja Mas, kita kesana ramai-ramai." Usulku. Mas Agus akhirnya mengalah. Di meja makan seketika sepi obrolan. Hanya terdengar denting sendok, karena kami mulai sarapan. Makan pagi selesai kami siap-siap berangkat.
"Emak berangkat bareng aku saja." Kata Jesi sambil menarik motor miliknya.
"Emak biar aku yang antar Jes." Dewi yang menjawab. Benar juga kata Dewi, jika aku bareng Jesi, pulangnya kudu numpang ojek.
"Okay..." Jesi berangkat. Dewi pun mengikuti, mengendara beriringan, semetara aku membonceng Dewi. Di tengah perjalanan tepatnya di tempat penjual kue-kue basah, pandangan mataku tertuju ke salah satu motor yang di parkir di pinggir jalan.
"Berhenti Wi." Aku tepuk pundak Dewi.
"Ada apa Mak?" Dewi ngerem mendadak. Di depan, Jesi turut berhenti, mungkin ia lihat dari kaca spion. Tanpa menjawab pertanyaan Dewi, aku segera turun dari motor, berjalan cepat menghampiri motor yang diparkir. Tidak salah lagi, ini motor milik Ratri yang hilang 6 bulan yang lalu setelah aku menatap seksama.
"Heh! Ngapain kamu lihat-lihat motor saya?! Mau maling ya?!" Hardik wanita, yang mengenakan celana pendek memperlihatkan paha dan kaos tanpa lengan.
"Kamu yang mencuri motor saya! Ini motor anak saya!" Aku memegangi motor agar jangan sampai dibawa kabur lagi.
"Heh! Jangan ngaku-ngaku!" Wanita itu pun memegang stang motor. Kami saling melempar tatapan sengit.
"Wanita ini teman Ibu Mak, Dia pernah mengacak-acak kediaman Emak!" Sarkas jesi. Dia baru datang mungkin parkir dulu. Matanya menatap nyalang wajah wanita menor.
"Ini motor milik Ratri Jes, saya akan mengambilnya kembali." Kataku, lalu kembali menatap menor. "Mana kuncinya!" Ketusku. Menengadahkan telapak gangan.
Plak!
Di tepisnya telapak tanganku rupanya menor menantang. Aku mundur, berdiri di sebelah Jesi yang tidak mau melepas motorku. "Jes, cepat telepon polisi." Bisikku mengambil alih motor.
Plak!!
Aku dan Jesi terkejut ketika mendengar tamparan keras tangan Dewi secara tiba-tiba, menyebabkan wanita itu terhuyung ke belakang.
"Dewi" Lirih wanita itu menatap Dewi nanar, memegang pipinya, rupanya mereka saling mengenal.
__ADS_1
"Se*an! Kamu Surti! Wanita macam apa kamu! Sampai tega menjual sahabat kamu sendiri!" Air mata Dewi jatuh bercucuran.
...~Bersambung~...