Luka Hati Mak Ningrum.

Luka Hati Mak Ningrum.
Bab 38


__ADS_3

Aku membonceng pria yang belum aku kenal sepanjang jalan kami tidak saling bicara. Yang aku pikirkan hanya Ningrum semoga ia selamat dari kecelakaan itu. Namun, pria itu tidak membawa aku ke rumah sakit seperti yang ia katakan sebelum berangkat, melainkan ke komplek dimana tempat tinggalku.


Tetapi anehnya bukan ke rumahku sendiri, melainkan ke rumah sebelah. Rumah ini setahu aku sudah ditinggalkan penghuninya sejak lama.


"Kenapa Anda mengajak saya kesini?!" Tanyaku dengan intonasi tinggi. Aku curiga jika pria ini membohongi aku. Tetapi aku harus tenang, itu artinya istriku baik-baik saja.


"Tenang saja Tuan, kami tidak berbohong, istri Anda memang berada disisi." Kata dua orang pria sudah menyambut kedatangan kami menyeringai menyeramkan.


Deg


Pikiranku tidak tenang. Dari gelagat tiga pria itu jangan-jangan Ningrum di sekap di rumah ini. Oh tidak! Ini tidak boleh terjadi. Aku menurut saja ketika pria itu menarik tanganku kasar. Aku ingin segera memastikan jika Ningrum tidak berada disini.


"Mana istriku?!" Bentakku ketika aku tiba di dalam rumah keadaan sangat sepi. Aku curiga jika orang-orang ini suruhan Arin. Lalu mengapa rumah ini menjadi miliknya. Arin membeli atau boleh merampas seperti dia merampas rumahku.


"Heh! Jangan teriak teriak! Kami belum budek!" Ucapnya tak kalah membentak. Dua pria membawa aku menuju ke salah satu kamar mendorong hingga tubuhku sempoyongan dan menguncinya dari luar.


Dok dok dok.


"Buka pintunya," Teriakku dari dalam, tetapi sudah tidak ada sahutan. Aku mengalah duduk di lantai meluruskan kaki, ketika berjalan tadi tidak aku rasakan, tetapi setelah duduk rasanya pegal-pegal.

__ADS_1


Aku hanya bisa berdoa, semoga istriku baik-baik saja dimanapun dia berada. Aku memutar otak apa maksud tujuan pria tadi menculik aku. Tidak ada yang bisa aku lakukan disisi. Tidak ada yang aku bawa selain tongkat.


Malam harinya aku mendengar langkah kaki cukup ramai dan terdengar suara wanita sedang berbincang-bincang dengan pria. "Bagaimana, sudah berhasil kamu bawa kesini Dia?" Tanya wanita itu. Aku paham suara itu, siapa lagi jika bukan Arin.


"Sudah di dalam kamar Nyonya."


"Bagus, cara kerja kamu, sekarang buka pintunya,"


Mendengar kata itu, dengan susah payah aku mendekati pintu, kemudian berdiri di baliknya. Andai saja aku punya kekuatan akan aku hajar mereka.


Ceklak Ceklak.


"Sumpah Nyonya, pria itu tadi sudah di dalam." Keukeuh pria yang membawa aku tadi. Terdengar langkah kakinya mendekati pintu, aku deg deg gan. Tamat sudah riwayatku. Dan benar saja, mereka mengetahui persembunyian aku.


Prak!!


Aku pukul pria itu dengan tongkat.


"Kurangajar, berani sekali kau!" Pria itu menatapku geram. Bersamaan dengan itu Arinta mengunci pintu.

__ADS_1


"Masih punya nyali juga kamu Agus, setelah kaki kamu tidak berdaya. Kamu itu sekarang hanya pria tidak berguna jadi jangan macam-macam." Ancam Arin.


"Kamu sudah tahu kalau saya tidak berdaya, tetapi untuk apa kamu membawa saya kesini?! Lepaskan saya Arin!"


"Hahahaha..." Arin tertawa seperti iblis.


"Jagan khawatir Agus, saya akan bebaskan kamu, tetapi setelah kamu menuruti kemauan saya," Arin menyeringai. "Jika kamu menurut kunci ini akan saya serahkan kepadamu," Arin mengiming-iming kunci di tangan


Aku mendengus kesal, andai saja aku tidak cacat sudah aku rebut kunci itu.


"Bagaimana Gus, kamu mau menurut kata-kata saya?"


"Apa mau kamu Arin?!" Sinisku.


"Dirham" Arin memanggil anak buahnya. Anak buah Arin yang sejak tadi hanya diam mengangguk hormat lalu menyerahkan sebuah map. Aku mendelik gusar, karena map merah itu sertifikat rumah aku. Yang aku khawatirkan kini benar-benar terjadi. Hanya rumah itu harta aku yang tersisa, tetapi kini sudah di tangan Arin.


Ya Allah... apa salahku? Dulu, aku membeli rumah itu dengan keringat aku sendiri, bukan hasil yang tidak benar, tetapi mengapa kini dicuri wanita seperti Arin.


"Tanda tangani sertifikat ini, kamu akan saya bebaskan,"

__ADS_1


...~Bersambung~...


__ADS_2