
PoV Ningrum.
"Mbok Sri, Kemana Mas Agus." Tanyaku panik. Ketika aku pulang dari pasar, suamiku tidak ada di rumah. Pikiranku tidak karuan, tidak mungkin suamiku keluar rumah sendirian. Sebab, kakinya masih sakit. Aku menghubungi handphone Mas Agus, tetapi terdengar deringan dari atas meja, itu artinya suamiku tidak membawa handphone.
"Mungkin sedang jalan-jalan Bu," Jawab Mbok Sri yang sedang membereskan sayuran. Aku mencoba untuk tenang, sambil menunggu Mas Agus memasukkan beras ke dalam ketupat. Namun, hingga ketupat matang, aku rebus selama 4 jam, Mas Agus belum juga pulang.
"Bu... minum teh dulu, sejak pulang dari pasar, Ibu belum minum loh." Simbok membuatkan aku teh, tetapi jangankan untuk minum, menelan ludah pun terasa tidak mampu. Kemana aku harus mencari Mas Agus? Minta tolong Daniswara tentu tidak mungkin. Pria itu pasti masih marah dengan aku saat pertengkaran kemarin. Ingin telepon Arga, aku tidak punya nomer handphone.
"Terimakasih Mbok, nanti aku minum." Jawabku lirih. "Sekarang saya mau menanyakan Mas Agus ke tetangga dulu." Pamitku kepada Mbok Sri, barang kali salah satu tetanggaku ada yang melihat Mas Agus.
"Jika begitu, saya saja yang berangkat, Bu." Cegah Mbok Sri, tampak keberatan aku pergi. Lalu kami bagi tugas. Simbok mencari ke proyek siapa tahu Mas Agus jalan-jalan ke tempat itu.
Lalu aku mendatangi kediaman bu Hendro. "Assalamualaikum. Bu Hendro." Salamku ketika aku tiba di depan rumah bu Hendro.
"Mbak Rum, gitu dong, sekali-kali main kesini," Bu Hendro tersenyum ramah.
"Bu, saya mau tanya, apa tadi melihat Mas Agus lewat depan rumah ini?" Tanyaku harap-harap cemas.
"Oh, tadi saya melihat, suami Mbak Ningrum di bocengkan motor seorang pria" Tutur Bu Hendro.
"Di bonceng motor, Bu?" Tanyaku terkejut bukan main. Siapa pria yang memboncengkan suamiku. Arga, atau teman Mas Agus? Jika iya kemana mereka. Lalu mengapa tidak membawa telepon. Pikiranku kemana-mana. Jangan-jangan Mas Agus di culik orang. "Ciri-ciri orang itu seperti apa Bu?" Tanyaku penasaran.
"Saya tidak tahu wajahnya Mbak Rum, sebab mengenakan helm, tetapi badanya tinggi besar, mungkin suami Mbak Rum pergi dengan teman." Tutur Ibu Hendro.
"Mungkin Bu, jika begitu saya permisi." Pamitku kepada Bu Hendro. Aku bergegas pulang, tiba di rumah segera ke kamar. Lalu ambil handphone menghubungi Ratri, mungkin bisa memberi aku saran. Deringan ketiga terdengar salam dari putriku.
"Assalamualaikum..."
__ADS_1
Mendengar salam Ratri, aku menahan tangis agar jangan sampai kedengaran olehnya. Ratri baru kembali ke Surabaya. Tentu aku idak mau mengganggu pikirannya.
"Ratri, Emak mau bicara, kamu sibuk tidak?" Tanyaku diplomamatis, karena aku biasanya telepon Ratri malam hari ketika putriku sudah pulang kerja.
"Emak... tentu saja boleh, ada apa?" Tanya putriku.
"Bapak kamu sejak pagi pergi belum kembali Nak," Aku menuturkan panjang lebar. Aku curiga jika Mas Agus diculik orang.
"Oh begitu, nanti aku hubungi Mas Arga." Pungkas Ratri. Segera aku tutup sambungan telepon lalu duduk lemas di ranjang.
Hingga malam, Mas Agus belum juga pulang aku hanya bisa berdoa dan menangis. Segera aku ambil wudhu shalat isya mengadu kepada yang di atas, semoga suamiku baik-baik saja. Terdengar suara motor segera aku keluar kamar, setelah selesai sholat. Alhamdulillah, ternyata Arga datang ke rumah bersama satu orang temanya.
"Nak Arga, Pak Agus hilang." Aduku sambil menangis. Arga menatapku sendu.
"Bu Ningrum yang tenang ya, saya yang akan mencari Pak Agus," Ujar Arga membuat hatiku lebih tenang sedikit. Kami ngobrol hanya sebentar, setelah Arga mendapat telepon dari seseorang aku perhatikan tampak berbisik dengan temanya. Seperti ada sesuatu yang mendesak. Bahkan Mbok belum selesai membuat minum Arga dan temanya segera pamit.
"Sepertinya saya harus segera berangkat Bu," Arga menyalim tanganku.
PoV Argadinata.
Setelah mendapat telepon dari Tuan Daniswara memerintahkan aku agar mencari pak Agus. Aku pun memerintahkan dua orang agar menyelikiti markas Arin, apakah Pak Agus berada disana. Hanya Arin yang patut dicurigai atas hilangnya Pak Agus. Sementara aku segera menemui Mak Ningrum terlebih dahulu. Kasihan beliau, sebaiknya aku menenangkan hatinya terlebih duhulu. Ketika sedang ngobrol aku mendapat telepon dari salah satu tim aku. Bahwa Pak Agus di sekap oleh Arin. Tidak banyak berpikir aku dan Dandi segera berangkat ke markas Arin.
"Bagaimana ini Ga, tidak mungkin kan kita masuk dengan mudah seperti dulu." Kata Dandi. Ketika kami tiba di depan rumah pak Agus, penjagaan tampak ketat. Jika dulu dengan mudahnya aku menyamar, tentu wajah kami sudah di ketahui oleh para penjaga.
"Bukan disini, kita lewat pintu sebelah." Tegasku. Dengan menggunakan masker, kami masuk lewat rumah sebelah. Yang pernah Mak Ningrum ceritakan dulu.
"Tunggu!" Cegah salah satu pria berwajah tegap. "Anda tidak boleh sembarangan masuk," Pria itu menghalangi aku.
__ADS_1
"Bukankah rumah ini bebas untuk pria dan wanita seperti kami, lalu kenapa kami dilarang masuk?" Aku membalikan pertanyaan. "Lagi pula saya sudah ada janji dengan Nyonya Arin," Jawabku pura-pura.
"Jika begitu lepas masker Anda!" Perintahnya sinis. Rupanya pria ini mencurigai aku. "Anda tidak membaca peraturan di rumah ini," Pria itu menunjuk aturan di tembok di larang memakai masker.
"Lucu sekali peraturan disini, mana ada orang tidak boleh mengenakan masker." Bantahku.
"Ada apa ribut-ribut?" Tanya seorang wanita yang baru saja tiba. Perhatianku beralih kepada wanita yang tidak asing lagi. Jika dulu rambutnya diwarnai coklat, kini berwarna hitam legam. Mata liarnya menelisik wajahku tidak berkedip. Siapa lagi jika bukan Arin.
"Pria ini melanggar aturan Nyonya." Pria itu mengadukan kepada Arin.
"Tolong, kalian lepas masker, karena sudah menjadi peraturan disini." Arin berkata tegas. Pria itu hendak menarik masker aku, tetapi aku tepis dengan kasar.
Tidak mau berpikir lagi aku segera menarik masker, begitu juga dengan Dandi. Sudah kepalang tanggung, aku lebih baik terus terang saja.
"Masih berani Anda menampakkan batang hidung kalian? Hahaha... Kami tidak usah susah-susah mencari, tetapi kalian sudah mengantarkan nyawa. Berani sekali kamu membebaskan Ningrum dan Dewi!" Arinta mendengus kesal.
"Tangkap pria ini!" Perintah Arin.
Salah satu pria hendak melayangkan tendangan. Namun dengan cepat aku mengelak. Aku dan Dandi melawan satu lawan satu. Sementara Arin pergi entah kemana. Mungkin wanita itu sedang menerima tamu pria yang akan jajan malam ini.
Buk! Buk!
Pria itu menyerang membabi buta.Tidak mau mati sia-sia aku segera melayangkan tinju ke wajah pria itu. Pertengkaran tidak terelakan lagi kami saling adu jotos.
Buk buk.
Darah keluar dari bibir pria itu. Namun tidak aku sangka jika pria itu menghunus senjata tajam.
__ADS_1
...~Bersambung~...
Maaf reader, Buna telat up karena minggu ini Buna sedang berada di luar kota. 🙏🙏🙏 ❤❤❤