
"Kamu kenapa Rum?" Tanya Banuwati menatapku terkejut, begitu juga dengan Daniswara. Mungkin karena aku di dorong Simbok dengan kursi roda.
"Tidak apa-apa Mbak, bagaimana Ratri, apa donor dari Arga cocok?" Aku bertanya balik. Bibir Banuwati terkatub rapat menoleh suaminya seperti minta agar Daniswara yang menjawab.
"Gayatri kritis Rum, saat ini di ruang ICU." Jawab Daniswara, pria yang biasanya tegas itu kini seperti kerupuk kesiram air.
Dadaku bagai tertusuk panah. Ada apa lagi ini? Air mataku luruh. Cobaan, ujian, atau karma masalalu karena perbuatan buruk aku dulu hanya Allah yang tahu. Bukan mengeluh tetapi nyatanya aku dihadapkan dalam permasalahan kian hari kian rumit.
"Lalu apakah kita diijinkan menjenguk Ratri?" Tanyaku menyusut air mata dengan punggung tangan.
"Boleh Rum, tetapi tidak boleh lebih dari dua orang." Jawab Wati diplomamatis.
Dengan perasaan campur aduk aku minta diantar Simbok ke ruang ICU. Tiba di dalam, ternyata ada Arga yang sedang mengajak Ratri bicara. Namun, entah apa yang Arga katakan aku tidak mendengarnya. Pasalnya, begitu aku masuk pandanganya beralih menatapku. Arga kemudian menyingkir, memberi tempat agar aku mendekati putriku.
"Ratri... Emak datang sayang..." Aku genggam erat tangan putriku lalu mencium nya. "Sayang... cepat bangun, disini ada Arga loh, memang kamu tidak mau ngobrol denganya." Aku bicara panjang lebar hingga tiba waktu maghrib, kemudian datang dokter hendak memeriksa Ratri. Aku, Arga dan Mbok, disuruh keluar.
Aku cium pipi putriku, menangis tergugu. Kenapa harus anakku yang masih belia ini yang mengalami nasib seperti ini. Aku tatap lekat, wajahnya sebelum meninggalkan dirinya. Andai saja di perbolehkan akan disini lebih lama.
"Bu, mohon kerjasamanya, tolong segera keluar." Usir perawat secara halus. Bibirku tak mampu untuk berucap masih menatap kosong ke arah oksigen yang membantu pernapasan putriku.
"Mari Bu." Arga ambil alih roda dari tangan Simbok, mendorong ku keluar.
"Yang sabar ya Bu." Kata Arga. Ketika mendorong aku ke kamar Mas Agus.
"Terimakasih Ga," Jawabku. Arga mengantar aku sampai ruangan sekaligus menjenguk Mas Agus sebentar lalu keluar.
"Hiks hiks hiks. Mas, Gayatri kritis." Tangisku di dada Mas Agus. Tangan Mas Agus mengusap-usap bahuku.
__ADS_1
Hari demi hari dan sudah seminggu Ratri belum juga sadar. Aku mondar mandir kamar Mas Agus dan juga ruang ICU, secara bergantian. Sebenarnya aku ingin fokus mengurus Gayatri, tetapi mana bisa? Karena suamiku juga membutuhkan aku. Tidak hanya itu, saat ini aku sudah tidak mempunyai tabungan. Walaupun biaya berobat Gayatri, Daniswara yang menanggung, tetapi tagihan pengobatan Mas Agus pun membengkak.
Aku membuka tas, ambil sertifikat rumahku yang di tinggalkan Arin setelah penembakan seminggu yang lalu. Tidak ada pilihan lain, selain menggadaikan rumah untuk kebutuhan hidup dan lain-lain.
"Mbok Sri... maaf. Saya terpaksa mengistirahatkan Mbok untuk sementara waktu."
"Loh, kenapa Bu? Saya berbuat kesalahan?" Potong Mbok Sri.
"Tidak Mbok Sri, tetapi jujur, saya tidak bisa membayar Simbok," Aku menjelaskan.
"Kalau hanya itu masalahnya, jangan risau Bu, saya rela tidak dibayar. Sebentar lagi Jesi selesai ujian, biar Dia yang di rumah sakit Bu, saya akan jualan lagi. Lumayan untuk makan setiap hari." Usul Simbok.
"Terimakasih Mbok."
Dengan membawa sertifikat, aku bermaksud menemui Arga. Biasanya jika sore begini dia selalu menjenguk Ratri. Begitulah Arga selalu menyempatkan diri menjenguk di sela-sela pekerjaannya. Pagi sebelum berangkat dan sore setelah pulang kerja. Aku mendengar slentingan jika Arga yang handle semua pekerjaan Daniswara di kantor. Sebab, Daniswara dan Banuwati hampir tidak pernah pulang, selalu menunggui Gayatri.
"Arga... boleh saya bicara Nak" Ucapku.
"Tolong ya Ga, gadaikan sertifikat ini ke Bank." Aku memberikan sertifikat itu. Namun Arga tidak menerima, hanya menatap sertifikat dan wajahku bergantian.
"Jangan." Suara wanita tiba-tiba mengejutkan aku.
"Jesi" Lirihku. Aku sengaja tidak membicarakan dengan Jesi agar tidak mendengar masalahku tetapi ia justeru memergoki aku.
"Emak, sekarang jangan risau masalah keuangan. Ayah sudah bercerita tentang masalah ini," Jesi menggengam tanganku. "Mobil Ayah sudah aku jual online Mak, terus uangnya sudah aku transfer ke rekening Emak." Tutur Jesi mengejutkan aku.
"Jesi... mobil itu kan untuk transportasi kamu Nak." Sesalku.
__ADS_1
"Nggak Mak, aku sudah memesan motor. Lagi pula aku sudah pengumuman lulus kok, hanya tinggal menunggu ijazah. Aku juga sudah titip lamaran kerja sama Dewi. Doakan diterima ya Mak, walaupun hanya sebagi office Girls yang penting halal." Tuturnya. Aku tatap mata anak tiriku itu tampak tulus.
"Aamiin..." Hanya itu yang bisa aku ucapkan.
"Bu Ningrum, jika Ibu kekurangan dana, saya rasa tidak perlu sampai menggadaikan sertifikat. InsyaAllah, saya bisa membantu." Arga menimpali.
"Terimakasih Ga." Pungkasku.
Jesi membawa sertifikat ke kamar Mas Agus. Sementara Arga menjenguk Ratri. Aku pun akhirnya beranjak hendak ke atm. Namun, pandanganku tertuju kepada Hendri. Hendri belum kembali ke Surabaya, selalu menyempatkan diri menjenguk Gayatri.
Tetapi kali ini bukan Hendri yang menjadi perhatian aku, melainkan pria kira-kira 70 tahun bersama wanita kira-kira 65 tahun berjalan di sebelah Hendri berjalan ke arahku.
"Bu Ningrum... kenalkan, ini kedua orang tua saya." Kata Hendri.
"Ningrum." Aku tersenyum menjabat tangan kedua orang tua Hendri bergantian.
"Kamu ibu kandung Gayatri?" Tanya Ibu Hendri, menatapku dari atas sampai bawah. Entah apa maksud wanita ini menatapku seperti itu. Jika wanita itu tidak mau menjadikan aku sebagai besan, karena aku bukan wanita berkelas selayaknya Banuwati, syukurlah. Untuk saat ini aku tidak berpikir dulu siapa jodoh Ratri, yang penting putriku sembuh dulu.
"Betul Nyonya, ketika muda dulu, saya ini art nya Daniswara." Tuturku tanpa ditanya. Biar mereka tahu siapa aku, daripada menyesal nantinya.
"Bu Ningrum... kami mau bertemu Om Daniswara dulu." Potong Hendri, kemudian menemui Daniswara setelah aku menjawab, iya.
Tidak lama kemudian, setelah mengecek uang ke atm, Daniswara mengajak aku berkumpul di restoran dekat rumah sakit. Entah apa tujuanya, aku menurut saja.
Dari pembicaraan mereka, aku menangkap bahwa kehadiran orang tua Hendri ke Jakarta, karena sudah tiba waktu kesepakatan lamaran. Mungkin Hendri tidak memberi tahu orang tuanya jika Ratri sedang sakit. Nyatanya keluarganya tetap datang. Sore ini orang tua Hendri setelah menjenguk Ratri membahas tentang perjodohan itu.
"Maaf Pak Bhanu, saya tidak bisa melanjutkan lamaran ini sebelum putriku sadar," Kata Daniswara.
__ADS_1
Alhamdulillah... aku mengucap syukur. Ternyata, Daniswara masih punya perasaan. Berlanjut atau tidak perjodohan ini, bagaimana nanti, setidaknya saat ini Daniswara tidak ogois, ambil kesempatan disaat Ratri kritis.
...~Bersambung~...