
Di depan ruang operasi aku bersama Arga ngobrol berdua, tetapi obrolan kami berdebat yang tidak berujung. Kami tidak ada yang mau mengalah. Arga seringkali melempar sindiran tentang perjodohan aku dengan Hendri. Entah apa maksudnya pria ini?Jika ia tidak rela aku menikah dengan orang lain seharusnya mau berjuang dan berbicara dengan Papa. Bukan malah terus menyindir. Masa iya aku yang harus mengutarakan isi hatiku. Iihh... malu dong. Dimana harga diriku sebagai wanita?
"Memang kenapa, kalau aku di jodohkan?" Tanyaku memancing. Aku berharap Arga mengatakan bahwa ia mencegah aku agar jangan menerima perjodohan itu.
"Ya nggak apa-apa sih, kalian cocok kok, sama-sama pengusaha sukses." Jawab Arga. Sungguh mengejutkan aku.
"Tetapi aku memilih menikah dengan pria biasa Mas, jika aku sudah punya anak, aku ingin fokus mengurus anak. Perusahaan biar suami aku yang mengurus. Kalau dua-duanya sibuk mengurus perusahaan, kasihan dong... anak-anak." Jawabku, sungguh-sungguh.
"Tidak semudah itu Ratri, yang punya perusahaan itu kan orang tua kamu, jadi Papa kamu yang mempunyai kewenangan."
"Kenapa tidak boleh? Perusahaan itu sudah di serahkan kepadaku kok. Punya Gendis saja Bima suaminya yang mengelola. Gendis fokus mengurus anak. Tetapi Papa tidak masalah kok." Jawabku tak mau kalah.
"Tetapi aku tidak yakin jika suami kamu akan menerima usulan kamu. Kebanyakan pria akan merasa inscure jika mengurus perusahaan istri. Apakah kamu nantinya tidak akan merendahkan suami kamu jika posisi suami hanya pekerja rendahan." Jawab Arga skeptis.
Aku terkejut mendengar ucapan Arga. "Tidak, sebagai wanita aku akan bercermin kepada Aisyah istri Nabi Muhammad. Beliu tidak lantas sombong, walaupun lebih kaya dan sukses. Aisyah menjadi istri kesayangan Nabi Muhammad karena beliau sangat menghormati suaminya." Jawabku.
Obrolan kami berhenti karena Emak sudah datang. "Nak Arga, sebaiknya kamu pulang, dari kemaren kamu kan tidak istirahat," Titah Emak.
"Baik Bu Ningrum, nanti sore saya akan kembali." Mas Arga mengenakan jaketnya yang ia sangkutan di pundak. Pria itu kenapa sih, selalu membuat hati aku berdebar-debar?
"Ratri, sebaiknya kamu juga pulang dulu sayang... kamu juga pasti capek, baru dari perjalanan jauh,"
"Tidak Mak, nanti sore saja, gantian sama Jesi." Tolakku. Mana mungkin aku membiarkan Emak sendirian disini.
Aku menatap kepergian Arga, hingga tidak terlihat lagi.
"Ratri... maafkan Emak. Emak sudah bicara dengan Papa kamu, agar membatalkan perjodohan itu, tetapi Papa kamu justru marah-marah. Yang ada Emak sama Papa kamu sampai bertengkar hebat." Tutur Emak. Aku menatap Emak merasa bersalah. Tidak seharusnya aku minta tolong Emak agar berbicara kepada Papa. Padahal aku tahu, beban Emak sudah cukup berat.
"Aku yang seharusnya minta maaf Mak, Emak sekarang fokus pada Bapak. Jangan pikirkan Ratri."
__ADS_1
"Tetapi Emak tidak rela jika kamu tidak bahagia sayang... Emak ingin anak Emak hidup bahagia dengan pria yang kamu cintai," Emak merangkul pundakku.
"Terimakasih Mak, mungkin tidak ada salahnya juga, aku menerima perjodohan itu. Toh Arga tidak mencintai Ratri Mak. Ratri ingin punya suami yang mencintai aku dengan tulus." Jawabku menyerah. Toh, Arga sudah aku pancing tetapi jawabanya mengecewakan.
Aku lebih baik menghibur Emak. Tidak mau menambah beban pikiranya yang sudah terlalu berat. "Mak, aku mau mengurus biaya Bapak ke administrasi dulu ya." Ujarku.
"Ya Nak, besok habis berapa Emak ganti ya" Jawab Emak, tidak enak hati.
"Emak... jangan bicara begitu apa," Aku menggeleng. Emak ini sama anak sendiri seperti orang lain saja. Saat tanda tangan operasi kemarin, Emak hanya membayar sedikit karena Emak tidak membawa kartu atm. Ini tugas aku untuk membantu Emak. Selesai dari ruang administrasi. Emak pamit ke masjid katanya ingin mendoakan Bapak sekalian ashar. Sementara aku duduk sendiri di ruang tunggu.
"Kak Ratri, sudah ada kabar dari dokter?" Tanya Jesi. Ia baru datang tergesa-gesa sambil membawa rantang.
"Belum Jesi, sebaiknya kamu berdoa, semoga operasi Bapak lancar." Saranku.
"Aamiin..."
"Terimakasih Jes, buat makan malam saja, tadi Emak sudah makan bersamaku,"
Jesi mengangguk lalu kami menajamkan pendengaran, sayup-sayup nama Bapak di panggil. Aku dan Jesi menghampiri perawat. Doa Emak terkabul, operasi Bapak berjalan lancar, namun belum siuman, kemudian sudah di pindah ke ruang rawat.
"Ratri... sudah ada kabar mengenai Bapak Nak?" Tanya Emak, beliu rupanya sudah selesai sholat lalu menghampiri kami.
"Alhamdulillah, Mak. Operasinya lancar." Ucapku. "Alhamdulillah..." Emak meraup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Malam harinya, Bapak sudah siuman, lalu diberi minum dan makan oleh Emak. Aku sedikit lega, Emak sudah kembali tersenyum walaupun Bapak belum mau bicara.
"Mak, sekarang aku pulang dulu ya."
"Iya sayang... hati-hati."
__ADS_1
Aku pamit Emak dan Jesi pulang ke rumah Mama. Tiba di rumah, ternyata Hendri berada disana sedang berbincang-bincang dengan Papa. "Anak Mama..." Sapa Mama lalu menarik tanganku hingga terduduk di sebelah Mama ketika aku salim tangan.
"Bagaimana keadaan Bapak kamu?" Tanya Mama.
"Baru selesai operasi Ma,"
"Maaf sayang... Mama belum bisa memjenguk," Tulus Mama.
"Doanya saja Ma." Aku melempar tatapan ke arah pria di depan Papa, yang tak lain Hendri. Pria itu tampak salah tingkah karena kepergok memandangi aku.
"Ratri... mumpung kamu berada disini. Kata Hendri lamaran mau dipercepat." Kata Papa. Pandanganku beralih kepada beliau.
Aku hanya bisa menarik napas berat. Papa sungguh tega, apa beliu tidak berpikir bahwa Bapak saat ini sedang meregang nyawa di rumah sakit. Tetapi jika aku menolak, sudah pasti malam ini akan bertengkar. "Terserah Papa saja." Jawabku pasrah.
"Ratri..." Sesal Mama akan jawaban aku.
"Biar saja Ma, terserah Papa saja, lagi pula walaupun Ratri mengutarakan jika aku keberatan akan perjodohan ini.Toh, Papa akan tetap memaksa." Jawabku dengan air mata berlinang. Hendri tahu apa jawaban aku, seharusnya ia menyadari bahwa aku tidak suka kepadanya. Tetapi Hendri membisu seolah bersekongkol dengan Papa memaksa aku.
"Sama Mama saja, Papa tidak mau mendengarkan, apa lagi sama aku Ma!" Sungutku.
"Sudah, sudah... yang penting kamu jangan kembali ke Surabaya dulu, menurut Hendri. Acara lamaran akan di adakan hari minggu." Tutur Papa, sudah pasti tidak mau di bantah.
"Papa... Papa harus dengar apa maunya Ratri dong! Tidak boleh memaksa." Kata Mama lembut. "Nak Hendri... Tante ingin, pernikahan anak Tante. Sekali seumur hidup. Jadi... biar perjodohan ini kami bicarakan dengan Ratri dulu ya Nak."
"Tidak bisa begitu Ma, ini sudah menjadi keputusan Papa." Lagi-lagi Papa memotong.
"Terserah Papa saja Ma, selama ini aku tidak bisa seperti Gendis yang selalu membanggakan Papa. Jika pernikahan ini akan membahagiakan Papa, aku rela kok Ma." Tegasku. Biar saja, aku sudah tidak ada semangat. Aku heran mengapa Papa menjadi otoriter begini. Aku pamit Mama lalu masuk ke kamar.
...~Bersambung~...
__ADS_1