Luka Hati Mak Ningrum.

Luka Hati Mak Ningrum.
Bab 55


__ADS_3

PoV Ningrum.


"Kamu sakit lama sekali" Kata Arga. Pemuda itu kenapa tidak mau duduk, padahal di belakangnya ada kursi. Tetapi dia memilih berdiri di pinggir ranjang. Ia menatap putriku dengan sorot mata penuh cinta, dan senyum itu sejak tadi terus mengembang di bibirnya. Aku lega sekali, ternyata Arga mencintai putriku. Semoga Daniswara tidak akan menghalangi percintaan mereka lagi.


"Memang lama? Bukanya baru dua hari ya?" Tanya putriku. Pertanyaan ini mungkin hanya pura-pura saja. Sebab, aku sudah menceritakan kepada Ratri.


Setelah dari toilet aku sengaja tidak menghampiri mereka, memilih berdiri di depan pintu. Membiarkan keduanya mengungkapkan isi hati masing-masing. Rupanya mereka tidak menyadari kehadiran aku.


"Apa'an? Kamu itu bikin semua khawatir tahu nggak?! Emak, Bapak, Papa, dan Mama kamu, terutama aku." Ujar Arga. Ratri terkejut lalu tersenyum lebar.


"Mas Arga mengkhawatirkan aku?" Tanya putriku berbinar-binar.


Tanpa menjawab pertanyaan Ratri, Arga maju lalu menarik kursi, ia lungguhkan bokongnya, kemudian mengangkat telapak tangan Ratri dengan kedua tangan.


"Doakan aku sukses, agar layak mendampingi kamu." Arga mencium telapak tangan Ratri.


"Jadi... kamu menunggu sukses dulu, baru akan menerima aku?!" Sungut Ratri kecewa. "Kata siapa Mas Arga tidak pantas mendampingi aku? Andai Mas tahu apa yang membuat aku jatuh cinta sama kamu" Tutur Putriku.


Alhamdulillah, kali ini putriku sudah lancar bicara, sejak subuh tadi Ratri sudah banyak bercerita.


"Tahu lah, pasti karena aku tampan." Seloroh Arga, tertawa garing. Ia toel hidung putriku. Aku gemas juga lama-lama melihatnya. Tetapi aku percaya Arga pria soleh tidak mungkin memanfaatkan keadaan putriku. Aku geleng-geleng kepala, kini Arga mulai berani menyentuh tangan, pipi, dan hidung Ratri.


"Itu salah satunya, tetapi yang lebih membuat aku jatuh cinta. Mas Arga pria paling baik, soleh, sayang sama Ibu, dan yang paling penting. Mas pria mandiri, semua yang Mas raih, hasil jerih payah sendiri, bukan fasilitas orang tua." Kata Ratri bangga.


"Bagiku pria sukses itu bukan pria yang banyak harta Mas, tetapi kelak sukses memimpin keluarganya dan mengajak anak istrinya menuju keimanan." Tutur Ratri.


Aku tersenyum bangga, kini anakku sudah dewasa. Selama menjadi pemimpin perusahaan bisa berkata bijak. Dalam hati aku mengaminkan.


"Masa sih... kamu ternyata jago menggombal, hahaha." Arga tertawa di gigitnya jari Ratri.


"Eheeemmm..." Aku berdehem mendekati mereka. Seketika Arga melepas tangan Ratri, menoleh ke arahku. Ia garuk tengkuknya seraya tersenyum. Sementara Ratri menutup mulutnya tersipu malu.


"Aku pamit dulu ya, mau mengantarkan dagangan ke toko-toko dulu." Kata Arga, menyingkap lengan baju melihat arloji, lalu beranjak.

__ADS_1


"Bu Ningrum... saya pamit." Arga menjabat tanganku.


"Terimakasih Ga," Jawabku. Sebenarnya aku tidak enak hati karena kedatanganku Arga lantas pamit pulang.


"Mas Arga." Panggil Ratri, ketika Arga meninggalkan ranjang. Arga yang hampir membuka pintu menoleh ke belakang, menghentikan langkah nya.


"Sukses selalu." Ucap Ratri. Putriku rupanya tidak rela Arga pergi.


"Siip..." Jawab Arga satu kata, mengacungkan jempol ke atas lantas keluar.


"Cieee..." Aku meledak Ratri, seperti anak muda jika menyoraki teman-temannya.


"Emak..." Ratri tersipu malu, menutup mulutnya dengan ke dua tangan.


Tidak lama kemudian, setelah Arga keluar. Aku mendengar derap langkah kaki beralaskan sepatu. Aku menoleh ke pintu mengamati siapa yang datang. Aku pikir Arga kembali lagi. Ternyata Daniswara bersama Banuwati yang datang.


"Ratri tidur Rum?" Tanya Banuwati menatapku tersenyum ramah. Berbeda dengan pria di sebelahnya tampak datar.


"Mama jangan menangis," Ujar Ratri. Cepat-cepat Wati tersenyum, lalu menarik tisue di sebelah Ratri.


"Syukurlah... anak Papa sudah sehat." Kata Daniswara. Lantas duduk di disisi kiri ranjang. Karena di sebelah kanan ada aku dan Wati.


"Pa, perusahaan aku ada yang mengurus tidak?" Tanya Ratri. Daniswara terkejut, begitu juga dengan Wati. Ratri tadi pagi memang bercerita kepadaku, memikirkan perusahaan yang sudah hampir dua bulan tidak ia urus. Memikirkan bagaimana gaji karyawan dan lain sebagainya jika perusahaan tidak stabil.


"Tenang saja, selama kamu sakit, Papa memantau kinerja anak buah kamu, dan alhamdulillah... semua berjalan lancar." Tutur Daniswara. Ratri tampak lega, mungkin putriku bertanggung jawab dengan kesejahteraan karyawan.


"Anak Papa sekarang sudah sembuh, sekarang kamu mau hadiah apa dari Papa?" Tanya Daniswara, mengusap kepala Ratri.


"Aku memang ingin hadiah dari Papa, tetapi aku takut, jika aku minta Papa tidak akan mengabulkan," Ratri tampak pesimis, entah apa yang akan dia utarakan.


"Katakan saja sayang..." Banuwati menyela.


"Benar kata Mama kamu." Daniswara melirik istrinya. "Mobil mewah, Rumah, atau motor mewah?" Tanya Daniswara.

__ADS_1


"Aku tidak ingin semua itu, hanya minta satu... saja, tolong kabulkan Pa," Ratri menggengam tangan Daniswara. Matanya menatap pria di sampingnya itu, penuh harap.


"Katakan sayang..."


"Aku hanya ingin, Papa merestui aku dengan Mas Arga."


Mendadak ruangan sunyi sepi. Aku, Wati, terutama putriku, menatap pria yang sedang manatap putrinya lekat. Hingga beberapa menit kemudian. "Kenapa tidak, jika itu membuat putriku bahagia."


"Papa... Aow" Sangking senangnya Ratri lupa jika luka di dadanya masih sakit. Hingga memaksa untuk bangun.


"Ratri..." Kami semua membungkuk memandangi luka di dada putriku setelah membantunya tidur kembali. "Tidak apa-apa" Kata Ratri, menutup baju atasan yang aku sedikit buka lantaran ingin tahu lukanya. Kami menarik napas lega, masing-masing kembali berdiri.


"Terimakasih Pa,"


"Sama-sama sayang..." Anak dan Papa itu, saling melempar senyum.


Hari demi hari perkembangan Ratri semakin membaik. Selama dua bulan lebih Ratri di rumah sakit dan akhirnya di ijinkan untuk pulang. "Aku bebaaaassss..." Seru Ratri, ketika kami semua tiba di rumahku.


Arga terkekeh. "Memang kamu tahanan." Ia sentuh bibir Ratri. Ulah Arga tertangkap mata Daniswara.


"Ratri... biar Papa bicara dengan Arga." Suara baritom itu mengejutkan Arga. Cepat-cepat Arga membetulkan posisi duduknya. Aku menepuk pundak Mas Agus, agar meninggalkan mereka. Perlahan aku mendorong Ratri masuk ke kamar lantai bawah. Kali ini, Ratri tukar kamar denganku. Tentu aku pindah ke lantai atas. Toh, Mas Agus sudah bisa berjalan normal.


"Arga... kamu benar-benar mencintai Ratri?" Tanya Daniswara. Ketika aku hendak menyusul Mas Agus ke lantai atas, mendengar percakapan Daniswara lantas berhenti di depan pintu kamar Ratri.


"Saya memang mencintai Ratri Tuan, ijinkan saya menikah dengan putri Tuan." Jawab Arga. Kali ini tegas, tidak ada rasa takut lagi seperti dulu.


"Boleh saja Arga, tetapi ada syarat yang harus kamu penuhi. Jika kamu tidak bisa memenuhi, jangan harap kamu akan mendapat restu dari saya."


Deg.


Ada apa lagi ini? Dasar Daniswara! Aku mengumpat dalam hati.


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2