Luka Hati Mak Ningrum.

Luka Hati Mak Ningrum.
Bab 30


__ADS_3

"Kak Ratri mau bareng?" Tanya Jesi ketika kami sedang berada di parkiran hendak pulang ke rumah Emak.


"Kamu sendiri saja Dek, biar Ratri membonceng saya," Arga yang menyahut. Entah mengapa hatiku berbunga-bunga mendengar ucapan Arga, mengajak aku berboncengan lagi. Padahal bisa saja, aku nebeng mobil Jesi.


"Oh, kalau gitu saya duluan Kak." Ujar Jesi.


"Silahkan Dek." Jawab Arga lalu menarik motorku.


Jesi pergi meninggalkan kami, lalu aku naik ke atas motor. Setiap aku duduk di belakang Arga rasanya senang sekali. Apakah aku sedang jatuh cinta? Kenapa sih... aku selalu mencintai pria lebih dulu.


Yang pertama Andhi, mantan pacar aku ketika SMK dulu. Ah! Mengingat Andhi bagaimana kabarnya? Semoga dia bahagia dengan wanita pilihan orang tuanya. Dulu Andhi meninggalkan aku lantaran memilih gadis pilihan orang tuanya.


Dan yang kedua adalah; Kak Bima. Aku harus menerima kenyataan bahwa cintaku bertepuk sebelah tangan. Karena Bima mencintai gadis pilihan orang tuanya yaitu Gendis.


Dan sekarang mengapa aku pun mempunyai perasaan dengan Arga. Tidak! Aku jangan mencintai pria lebih dulu. Aku ingin di cintai pria seperti gadis-gadis yang lain. Tetapi bagaimana jika yang mencintai aku bukan Arga?


Aku juga tidak mau seperti ini, tetapi entah mengapa cinta bersarang di hatiku tanpa diundang.


"Woi! Bengong." Arga menoleh ke belakang, karena aku sudah duduk di atas motor.


"Heemm... Dek-Dek. Panggilanya romantis benar" Celetuk aku tanpa sadar.


"Ah, kamu ini. Wajarlah saya panggil Dek, Dia kan jauh lebih muda dari usia saya." Jawab Arga ketika motor sudah berjalan.


"Kalau aku sama Mas Arga, tuaan siapa ya?" Tanyaku menyindir. Padahal aku sudah tahu jika Arga usianya 28 tahun.


"Umur kamu berapa?" Tanya Arga. Malah bertanya balik.


"23 tahun"


"Ahahaha... jadi kamu mau saya panggil Dek? Iya Dek Tri." Arga mentertawan ucapan aku. Aku malu sendiri. Kenapa juga aku tadi bicara seperti itu.


"Jangan tertawa Mas! Tertawamu itu seperti Mas Kunti," Kataku asal. Arga kembali tertawa. Hampir sepanjang jalan ia terus tertawa. Tumben banget tuh cowok, biasanya dingin seperti ice batu.


Tidak terasa Arga sudah belok gang sempit. Padahal aku masih ingin seperti ini lebih lama lagi. Duh... kenapa sih aku?

__ADS_1


"Jesi belum sampai ya," Kata Arga mengerlingkan mata.


"Tahu darimana kalau Jesi belum sampai Mas?"


"Ya tahu lah, coba lihat di sekitar ini belum ada mobil kan?"


Aku memindai sekeliling memang benar belum ada mobil Jesi di sekitar sini. "Biarin saja Mas, nanti juga kalau sudah tiba disini pasti langsung ke rumah." Jawabku.


Jeduk!


"Pelan-pelan apa Mas." Tegasku karena wajahku membentur badan Arga, ketika ada lubang motor ia terobos begitu saja. Aku pura-pura kesal padahal aku senang. Umm... wangiii... rasanya aku tidak mau mengangkat wajahku.


"Turun Tri." Ucap Arga mengejutkan aku. Lagi-lagi aku tidak sadar jika sudah sampai di depan rumah.


"Kamu tidur di badanku, ya? Jangan-jangan... ngiler lagi." Kelakar Arga sambil melepas helm yang ia pakai sendiri.


"Enak saja ngiler!" Ketusku lalu meninggalkan Arga, yang sedang mendorong motor ke garasi.


"Assalamualaikum..." Ucapku ketika aku sudah di depan pintu suasana sepi. Samar-samar terdengar jawaban Ayah dari dalam kamar. Aku menuju kamar Ibu lalu mengetuk pintu.


"Sudah Pak. Emak kemana?" Aku memindai sekeliling kamar, tidak ada Emak.


"Emak kamu sedang membersihkan gudang," Tutur Bapak. Emak memindahkan barang-barang ke loteng, karena menurut Bapak, kamar itu akan di tempati Dewi.


"Ya Allah... Emak membereskan gudang?" Tanyaku terkejut. Pasalnya sebelum berangkat sudah pesan agar Dewi beristirahat di kamarku.


"Emak kamu yang punya rencana Nak, maaf. Bapak tidak bisa membantu." Sesal Bapak.


"Tenang saja Pak, Bapak tidak usah memikirkan itu, sekarang Bapak istirahat saja biar aku membantu Emak." Hiburku kepada Bapak.


"Biar saya saja yang membantu Emak." Tiba-tiba Arga sudah berada di belakang aku. Aku dan Mas Arga ke atas menunda bercerita dengan Bapak, jika Jesi sedang dalam perjalanan kesini.


Tiba di gudang yang berada di pojok kamarku. Emak bersama Dewi sedang menarik-narik barang-barang. Gudang ini sebenarnya sama besarnya dengan kamar aku. Hanya karena tidak di pakai sementara untuk gudang.


"Jangan Bu, biar saya saja," Arga dengan cepat mengambil alih kardus yang ditarik Emak. Kardus itu ternyata milik Jesi. Karena pakaianya aku simpan di gudang.

__ADS_1


"Kalian sudah pulang?" Tanya Emak. Dengan wajah kuyu lalu berdiri perlahan sambil memegang pinggang, mungkin terasa pegal.


"Sudah Mak, biar kami yang membereskan, sekarang Emak lebih baik istirahat," Saranku. Kasihan sekali Emak pasti lelah sekali. "Lagian Emak, kan sudah aku katakan. Biar Dewi tidur sama aku saja." Ucapku lalu menatap Dewi yang sedang mengikat buku-buku seketika mengangkat kepala menatapku.


"Maaf Kak, saya jadi merepotkan." Sambung Dewi, mungkin ia pikir aku menyinggung dirinya.


"Tidak apa-apa, lagian kan sayang, loteng di atas kosong." Emak yang menjawab. Kami minta Emak untuk istirahat, Emak pun mengalah.


Kami bertiga melanjutkan beres-beres. Aku dan Dewi bagian mengepak dan mengikat, sementara Arga bagian mengangkat barang-barang memindahkan ke loteng.


Aku tatap pria yang sedang mengangkat kardus dan diletakan ke pundak. Padahal kardus itu berat sekali. Seperti membawa kapuk ia panggul ke atas. Sungguh pria itu ternyata pekerja keras. Pekerjaan halus maupun kasar Arga kerjakan semua.


"Mbak Ratri, Mase itu calon Mbak ya?" Tanya Dewi mengejutkan aku.


"Bukan... Dia itu karyawan Papa saya di kantor." Jawabku.


"Oh... Pak Agus itu punya perusahaan ya Mbak?"


"Papa aku bukan Pak Agus." Aku menjelaskan kepada Dewi. Bahwa Pak Agus Bapak tiriku.


"Papa Ratri itu pemilik perusahaan Daniswara grup yang sudah kamu kirimi lamaran kerja itu Wi." Arga yang menjawab. Lalu memegang kardus.


"Oh maaf," Dewi tampak kaget.


"Kata Emak, kamu asli jawa. Jawa tengah atau Jawa barat?" Tanyaku mengalihkan.


"Saya dari Surabaya Mbak. Kata Mak Ningrum, Mbak juga tinggal disana kan?"


Aku mengangguk, lalu menatap Mas Arga yang akan mengangkat kardus berikutnya. "Mas, yang dua kardus ini biar disini saja. Ini pakaian Jesi." Kataku.


"Memang Jesi mau tinggal disini juga?" Arga lalu duduk bersandar di tembok, sudah pasti ia kelelahan.


"Pasti Mas, kasihan Jesi, biar Dia bisa berkumpul bersama Emak dan Ayahnya."


Arga mengangguk lalu kami ke bawah. Rupanya saat ini sudah siang. Pantas saja, Mbok Sri sudah memanggil kami agar makan siang bersama. Tiba di bawah Jesi sudah memeluk Ayahnya. Aku bersama Arga berhenti membiarkan Jesi dan Bapak memanfaatkan momen pertemuan mereka.

__ADS_1


...~Bersambung~...


__ADS_2