Luka Hati Mak Ningrum.

Luka Hati Mak Ningrum.
Bab 37


__ADS_3

"Arga. Jawab dengan jujur, apa kamu mencintai Ratri?" Pertanyaan ini yang ditanyakan Nyonya Banuwati hingga berulang kali. Namun, lidahku terasa kelu untuk menjawab. Jika aku jawab iya, sudah pasti aku nyata-nyata melawan Tuan Daniswara dan akan menjadi masalah di kemudian hari.


"Saya tidak selancang itu Nyonya." Jawabku. "Tuan sudah merencanakan dengan matang menyambut lamaran Tuan Hendri?" Tuturku


"Kalau masalah itu saya jauh lebih tahu daripada lamu Ga," Jawab Nyonya. Tergambar jelas kekecewaan di mata beliau.


"Saya ingin anak saya bahagia Ga, dan hanya kamu yang bisa memberi kebahagiaan."


Aku menarik napas berat. Seketika ingat Tuan Daniswara sering membanggakan Hendri di depanku. "Dia itu pria luar biasa Ga, Hendri mencintai putriku, saya akan membujuk Ratri agar mau menikah denganya," Ujarnya sambil tersenyum. Kata itu sudah berulang kali Tuan Daniswara ucap. Bahkan baru tadi pagi beliu pun mengatakan hal yang sama.


"Arga, bulan depan saya akan kedatangan tamu keluarga besar Hendri, kita akan menyambut dengan baik. Dan buat acara semeriah mungkin."


"Siap Tuan."


Mana mungkin aku berani mengecewakan Tuan Daniswara, bagi aku beliu sudah banyak menolong. Tetapi jika aku menolak Nyonya pun sama beratnya.


"Arga, hanya kamu yang bisa menolong Ratri. Dia tidak mau di jodohkan dengan Hendri, Dia itu mencintai kamu Ga." Tutur Nyonya Banuwati. Aku tatap matanya penuh harap.


"Saya tidak mau menentang Tuan, Nyonya." Tegasku menarik napas berat. Sebenarnya aku sudah mendapat lampu hijau, tetapi percuma jika di depan nanti akan terjebak macet. Inilah gambaran jika aku menerima tawaran Nyonya Banuwati.

__ADS_1


Nyonya Banuwati tampak kesal lalu pergi begitu saja, meninggalkan aku. Biar sajalah, lebih baik aku pulang waktu sudah sore pasti Ibu sudah menunggu. Dengan perasaan tidak karuan aku berdiri lalu beranjak pulang. Masih banyak tugas yang aku pikirkan. Menyusup ke rumah Pak Agus mencari sertifikat Mak Ningrum, dan merebut kembali rumah milik Pak Agus dan mencari motor Ratri hingga ketemu.


Keesokan harinya.


PoV Agus Kuat.


Pagi ini aku membantu istriku berjualan. Aku perhatikan sejak tadi istriku terus tersenyum melayani para pembeli. Ningrum bagian melayani Nasi dan lontong sayur, sementara aku membuat kopi dan teh manis.Ternyata dengan berjualan begini istriku merasa terhibur. Memang benar kata pepatah, bahagia itu sederhana.


Dari jam tujuh hingga jam sembilan pagi dagangan Ningrum sudah habis. "Mas, aku kepasar dulu ya." Pamitnya setelah menghitung hasil jualan pagi ini.


"Apa kamu nggak capek Rum?" Tanyaku kasihan, sejak subuh istriku sudah sibuk di dapur.


"Nggak Mas... sekarang aku nggak pakai jasa ojek lagi, katanya Mbok Sri yang akan mengantar," Ucapnya. Ningrum sebenarnya bisa membawa motor sendiri, tetapi karena pernah jatuh hingga membuatnya trauma.


Memang benar terdengar Mbok mengeluarkan motor. Aku sedikit lega.


"Tapi nggak apa-apa kan, kalau Mas aku tinggal sendirian?" Tanya Ningrum menatap aku khawatir.


"Nggak apa-apa Rum, memang kenapa? Aku balik bertanya. Istriku ini, aku di rumah kok di hawatirkan.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Ningrum berangkat, tidak ketinggalan tongkat, aku mengantarnya sampai teras.


Ya Allah... kapan kakiku ini akan kembali pulih dan bisa mencari nafkah untuk istriku. Kasihan Ningrum, kemarin datang ke rumah Daniswara niat hati akan membicarakan masalah pekerjaan, tetapi yang ada justru kami bertengkar.


Selama satu jam setelah kepergian Ningrum aku malayani pembeli kopi. Para pria tenaga proyek yang sedang menggali tanah tidak jauh dari rumah Ningrum yang akan dibuat jalan tol pun ngopi di rumah. Senang juga ternyata dengan menjual kopi menjadi banyak teman.


Ketika pembeli sudah sepi, datang seorang pria mematikan motornya lalu mendekat.


"Mas mau kopi atau teh?" Tanyaku, aku pikir pria ini akan memesan kopi.


"Tidak, kedatangan saya kesini ingin bertemu dengan Pak Agus." Jawab pria itu jika di lihat dari penampilan dan fostur tubuhnya seperti petugas keamanan.


"Anda yang bernama Agus?" Tanya pria bertubuh gempal mendekati aku kemudian berdiri di depan meja.


"Benar, Anda ini siapa?" Tanyaku, ada perasaan tidak enak di hatiku.


"Pak Agus, kedatangan saya kemari hendak memberi kabar bahwa Ningrum mengalami kecelakaan.


"Apa?" Tubuhku terasa lemas seketika, kaki aku terasa sulit digerakan.

__ADS_1


"Mari saya antar Pak Agus." Ajak pria itu membantu aku berdiri. Dengan langkah terseok-seok aku mengunci pintu lalu membonceng motor.


...~Bersambung~...


__ADS_2