
"Biar Ratri saya yang antar." Kata Papa tiba-tiba sudah berada di samping mobil Jesi. Aku mengerlingkan mata mencari dimana mobil Papa parkir, berharap bahwa Arga ikut mengantar aku.
"Papa sama siapa?" Tanyaku ingin tahu.
"Sama supir" Jawab Papa mengecewakan. Karena aku pikir bersama Arga. Ingin sekali aku menanyakan kemana Arga, tetapi aku takut jika Papa curiga bahwa aku menyukai asisten pribadinya.
"Jesi, kamu mau pulang lagi, atau langsung berangkat?" Tanyaku karena tidak jadi ikut denganya. Jika bukan karena ingin mengantar aku Jesi tentu berangkat agak siang.
"Aku langsung berangkat saja Kak." Ujar Jesi. Namun masih menunggu aku berangkat lebih dulu.
"Selamat pagi Tuan" Bapak dan Emak menghampiri kami.
"Selamat pagi Gus, bagaimana keadaan kamu?" Papa menatap kaki Bapak.
"Beginilah Tuan." Bapak menjawab. Aku mendengarkan Bapak menanyakan jika klien Papa ada yang membutuhkan jasa arsitek Bapak masih bisa bekerja.
"Ada Gus, besok kita bicarakan lagi," Pungkas Papa lalu kami memutuskan untuk berangkat.
"Mak, aku berangkat." Aku peluk cium Emak, tampak air bening menggenang di mata. "Mak jangan sedih dong nggak jadi berangkat saja deh kalau gitu." Ucapku pura-pura.
"Nggak-nggak. Emak nggak menangis kok, sudah gih, berangkat." Emak memaksakan untuk tersenyum.
Dengan perasaan tidak tega aku melambaikan tangan kepada Emak. Seraya berjalan menyusul Papa yang sudah berjalan lebih dulu. Kami segera masuk ke mobil, benar saja di dalam tidak ada Arga, selain supir.
__ADS_1
Benar saja, teryata Arga mengantar aku hanya sebatas kerja. Di dalam mobil aku gelisah sekali, lalu ambil handphone memeriksa barang kali Arga mengirim pesan ternyata kosong.
Tetapi ya sudahlah, yang penting aku diantar Papa sudah membuatku bahagia lebih penting dari Argadinata.
"Kamu kenapa gelisah sekali?" Tanya Papa di sebelahku, ternyata menangkap kegelisahan aku.
"Nggak apa-apa. Oh iya kok tumben, Papa sempat mengantar aku, tidak memberi tahu lagi." Kataku heran. Seorang Papa sampai meluangkan waktu untuk anaknya biasanya sibuk bekerja.
"Papa tuh sebenarnya masih kangen sama kamu Ratri, makanya tadi setelah subuh memutuskan untuk mengantarkan kamu," Tutur Papa.
Waktu satu jam terasa cepat, ternyata aku sudah tiba di bandara. Setelah pamit Papa kemudian chek in.
Dua jam kemudian.
"Gayatri." Sapa pria yang tidak asing ketika aku sedang menunggu taksi. Aku menoleh ke belakang, ia adalah Hendri. Jangan-jangan dia kesini mau menjemput aku. Sebenarnya pria ini baik dan tampan, seperti yang Papa katakan. Tetapi jika tidak cinta mau bagaimana lagi?
Ia tersenyum melangkah cepat ke arahku, tetapi mengapa wajahnya berubah menjadi Arga? Arga-Arga, dan Arga. Kenapa sih! Pria itu selalu berada di kelopak mataku.Ternyata aku hanya berhalusinasi.
"Gayatri hai... kenapa menatap aku seperti itu, aku tampan ya?" Ujarnya konyol.
"Kak Hendri ngapain kesini?" Tanyaku.
"Mau menjemput calon istri lah" Ucapnya tersenyum.
__ADS_1
"Siapa calon istri Kakak?" Aku pura-pura tidak tahu.
"Kamu calon istriku, ayo naik." Hendri hendak mengait tanganku tetapi aku menjauh.
"Tunggu dong... kok aku ditinggal sih, kamu pasti lupa kalau mobil ini milik aku." Kata Hendri membukakan pintu untuku, karena aku sengaja melewati mobil Hendiri. Niat hati aku ingin naik taksi saja, tetapi aku menghargai karena pria ini sudah meluangkan waktu untuk menjemput aku, mau tak mau aku masuk ke mobil nya.
Tidak aku pungkiri Hendri sudah mencintai aku sejak aku masih kuliah. Namun mengapa rasanya sulit sekali membuka pintu hati ini untuknya.
"Kamu sudah sarapan belum?" Tanya Hendri menyadarkan lamunanku.
"Belum sih" Jujur aku, karena tadi jam lima lebih sedikit tentu belum sempat sarapan.
"Mau sarapan apa? Kita singgah di restoran dulu ya." Ucap Hendri yang sedang menyetir. Tumben, pria ini biasanya kemana-mana diantar supir.
"Tidak usah Kak, lain kali saja. Aku mau langsung ke kantor soalnya." Tolakku aku akan sarapan di pentri saja.
"Yang benar saja Ratri, memang kamu tidak capek apa, masa langsung ke kantor sih." Tandas Hendri.
"Mau mengantar ke kantor tidak? Kalau Kakak sibuk, saya mau turun disini saja." Ucapku sungguh-sungguh. Karena jam 9 nanti aku harus segera menemui klien.
"Iya, iya." Hendri mengalah.
...~Bersambung~...
__ADS_1