Luka Hati Mak Ningrum.

Luka Hati Mak Ningrum.
Bab 64


__ADS_3

"Mas, jangan ke rumah Emak pagi ini ya, nanti sore saja. Badanku capek banget," Pintaku. Setelah semalam dihajar dengan senjata pamungkas Arga, aku benar-benar tepar. Selepas mandi dan sholat subuh, aku memilih tiduran kembali.


"Iya, sekarang kamu tidur saja," Arga yang sedang bergijabu dengan lap top beranjak menghampiri aku dan menutup tubuhku dengan selimut.


Cup


Setelah mencium keningku Arga kemudian keluar, pasti dia akan beres-beres. Sungguh beruntungnya aku, mempunyai suami seperti Arga mau mengerjakan yang seharusnya menjadi tugasku. Aku pun akhirnya tidur kembali.


"Tri, bangun sarapan dulu."


Merasa pipiku di tepuk-tepuk, aku membuka mata. Aroma masakan sedap masuk ke dalam hidung. Ternyata Mas Arga membangunkan aku sambil membawa sarapan, lalu meletakan di atas meja belajar.


"Eemm... jam berapa ini Mas?" Tanyaku, karena jam weker berada di atas meja belajar.


"Jam delapan, kita sarapan dulu yuk." Mas Arga membantu aku bangun.


"Ibu memang sudah makan Mas. Kok Mas Arga membawa sarapan ke kamar?" Aku menatap meja belajar dari tempat tidur masakan masih tampak ngebul.


"Sudah kok, ini Ibu yang suruh membawa sarapan ke kamar."


"Ya Allah... pasti Ibu nunggui aku tadi ya mas?" Aku merasa bersalah kepada mertua sudah tidak bisa membantu mengerjakan sesuatu, tetapi sarapan yang tinggal makan pun harus mengantarkan ke kamar.


"Nggak apa-apa Tri, aku sudah bicara sama Ibu kok." Jawab Arga lalu menarik dua kursi meja belajar.


"Aku mau ke kamar mandi dulu," Ucapku. Namun begitu berjalan bagian organ vital aku masih terasa perih.


"Ya, cuci muka dulu biar nggak bau iler." Kelakar Arga terkekeh. Menoleh sebentar ke arahku. Namun, aku mengabaikan saja. Lima menit kemudian, aku sudah kembali ke kamar menyusul Mas Arga yang sudah menunggu aku di meja belajar.


"Aku suapin." Kata Arga ketika aku sudah duduk di sebelahnya. Seperti biasa kami makan sepiring berdua.


"Sendiri saja." Jawabku. Lalu ambil sendok, makan satu suap.

__ADS_1


"Masakan Ibu memang enak ya Mas" Pujiku sambil mengunyah.


"Iya, sama seperti masakan Emak." Jawabnya.


Benar apa yang di katakan Mas Arga. Masakan Emak pun tak kalah enak. Emak selalu memanjakan lidah aku, Bapak, dan siapapun yang menyantapnya.


Ingat Emak, aku ingat sebelum terjadi penembakan dua bulan yang lalu membelikan ruko untuk Emak. Bertujuan membukakan rumah makan. Setelah dari rumah Mas Arga saat itu. Mas Arga menunjukan tempat yang strategis mengantarkan aku ke lokasi. Begitu melihat sekali, aku merasa tertarik lalu aku beli untuk Emak. Aku sedih belum bisa membahagiakan Emak. Namun, gara-gara Arin menembak aku rencana membuka rumah makan gagal total.


"Kamu kenapa? Makan kok melamun, mikirin mantan ya?" Mas Arga terkekeh. Aku baru sadar sampai berhenti mengunyah.


"Bukan Mas. Mas inggat nggak, sebelum ada kejadian aku ditembak saat itu. Mas kan mengantarkan aku membelikan ruko untuk Emak. Rencana aku mau membuka restoran gagal deh." Jawabku setelah meneguk air. Aku tahu Emak semangat sekali untuk jualan, tetapi sampai sekarang belum terlaksana.


"Padahal waktu itu aku akan memberi kejutan Emak Mas, tetapi Allah punya rencana lain."


"Kalau menurut aku, sekarang serahkan saja ruko itu untuk Emak sebelum kita berangkat ke Surabaya. Sekarang terserah Emak ruko itu mau buat usaha atau untuk investasi. Sekarang kita fokus satu dulu yang penting kamu sehat. Baru kita pikirkan rencana selanjutnya." Saran Arga.


"Iya Mas." Pungkasku, kami melanjutkan makan.


Sore harinya kami tiba di kediaman Mak. "Yeee... penganti baru..." Seru Jesi, saat membuka pintu.


"Kak Ratri tahu darimana?" Jesi terkejut, lalu ambil buah tangan yang aku beli di jalan tadi.


"Aku punya mata dan punya telinga." Candaku.


"Kak Ratri nyanyi?" Tanya Jesi, lalu ke dapur mungkin mau mencuci buah yang ia bawa.


"Ayo Mas, kita temui Emak." Aku mengait jari Arga mencari Emak di ruang keluarga. Tenyata Benar, Emak sedang membelah-belah daun pisang. Biasanya untuk jualan besok pagi.


"Assalamualaikum..." Arga mengucap salam. Emak menoleh seraya menjawab salam, kemudian aku mencium tangan Emak di susul Arga.


"Kalian... duduk Nak." Titah Emak. Emak hendak berdiri mengajak duduk di kursi, tetapi aku menahan tanganya.

__ADS_1


"Terimakasih Bu, Bapak belum pulang ya?" Tanya Arga, kemudian lungguh di lantai bergabung dengan aku dan Emak.


"Belum Ga, mungkin sebentar lagi." Jawab Emak, menumpuk daun pisang di atas tampah, setelah di lap dengan serbet. Ya Allah... Emak, andai saja aku sudah membuatkan restoran. Aku akan mencarikan koki, dan Emak cukup mengawasi restoran, tidak perlu kerja keras lagi.


"Ibu mau membuat apa?" Tanya Arga, rupanya diam-diam memperhatikan Emak.


"Ibu mendapat pesanan kue lemper oleh tetangga yang mau hajatan besok." Jawab Emak. Kami ngobrol panjang lebar seputar makanan lalu memberikan sertifikat ruko yang aku beli.


"Ratri... kamu tidak perlu repot-repot membelikan Emak ruko. Emak tidak punya hak menerima. Apalagi uang yang kamu gunakan untuk membeli ruko ini uang perusahaan Daniswara kan?" Cecar Emak. Aku menoleh Arga, ternyata pikiran Emak dengan Arga 11 12.


"Mak, selama aku mengurus perusahaan Papa, aku tidak pernah mengambil uang perusahaan. Uang yang selalu aku transfer ke rekening Emak, maupun yang untuk membeli ruko ini, murni gaji aku." Tuturku.


"Dengan ruko ini Emak bisa membuat warung makan," Imbuh Arga.


"Oh begitu ya? Tetapi... bukannya Emak menolak pemberian kamu Ratri. Emak sudah tua, tidak mau ngoyo. Apala lagi Bapak kamu pasti tidak akan mengijinkan. Alhamdulillah... sekarang Bapak kamu sudah bisa mencukupi kebutuhan Emak," Tolak Emak secara halus.


"Mak nggak mau ngoyo, tapi bangun malam-malam memesak untuk jualan." Bantahku. "Maksudnya dengan membuka warung makan, Emak cukup mengawasi saja, biar orang lain yang mengerjakan," Aku meyakinkan. Walaupun aku tahu, jika sudah prinsip, Emak tidak akan mundur walaupun selangkah.


"Emak jualan juga karena mencari kesibukan sayang. Bapak kamu juga selalu melarang. Sekarang begini saja, kalian masih muda, simpan saja sertifikat itu. Kalian lah yang harus membuka lowongan pekerjaan, agar bisa membantu orang-orang yang sedang susah." Keukeh Emak.


"Jangan dipaksa." Bisik Arga. Aku mengangguk, menarik sertifikat itu memasukan ke dalam tas.


"Minumnya Kakak Ipar." Kata Jesi meletakan nampan di tikar dimana kami ngobrol.


"Terimakasih." Jawab Arga pendek. Kami pun mengganti topik obrolan tidak lama kemudian Bapak pun tiba di rumah.


"Kalian sudah lama?" Tanya Bapak segera bergabung dengan kami.


"Sudah satu jam Pak." Mas Arga yang menjawab.


Setelah berkumpul aku dan Mas Arga pamit besok pagi akan berangkat ke Surabaya. "Jesi, kamu adiku satu-satunya, tolong jaga Bapak dan Emak ya." Pesanku.

__ADS_1


"Siap Kak."


...~Bersambung~...


__ADS_2