Luka Hati Mak Ningrum.

Luka Hati Mak Ningrum.
Bab 60


__ADS_3

"Hehehe ada yang lagi senang ini." Kata Emak, tiba-tiba masuk ke dalam kamar, mengejutkan aku. Pulang dari kediaman Papa, aku segera meluruskan kaki di atas tempat tidur senyum-senyum sendiri. Akhirnya aku dan Mas Arga sebentar lagi akan menikah. Di balik wajah cueknya kepadaku, ternyata Arga pria romantis, nyatanya mau menggendong aku.


"Emak..." Ujarku. "Tumben, Emak nggak mengetuk pintu, sih?" Tanyaku seraya menutup wajahku dengan bantal, karena malu.


"Nggak usah malu," Kata Emak terkekeh lagi. Emak ambil bantal yang menutup wajahku, kemudian tidur di sisiku. Emak melingkarkan tangan di perutku. Bahagia rasanya, kendati saat masih bayi aku tidak pernah mendapat sentuhan kasih sayang Emak. Namun, setelah aku dewasa Emak membayar kesalahan di masa lalunya. Emak mencium pipiku berkali-kali, lalu ngobrol panjang lebar.


"Emak waktu masih muda dulu pernah pacaran?" Tanyaku. Selama ini aku tidak pernah menanyakan masalalu Emak sampai akhirnya aku mau menikah.


"Pernah, bahkan pria itu sudah mau melamar Emak. Tetapi..." Ucap Emak tercekat, mendadak wajahnya sedih. Aku menyesal karena telah mengingatkan masalalu Emak dengan Papa hanya itu yang pernah aku dengar dari Mama, bukan dari Emak sendiri.


"Maaf Mak, nggak usah cerita." Sesalku.


"Emak dulu pernah punya pacar, kami sama-sama bekerja di salah satu restoran asing. Pacar Emak saat itu seorang menejer, sedangkan Emak sebagai pelayan. Tetapi pemilik restoran tidak mengijinkan karyawannya menjalin hubungan. Emak mengalah keluar dari restoran itu, tetapi hubungan kami belanjut" tutur Emak menarik napas.


"Dan pada akhirnya, Emak bekerja di rumah Nenek kamu. Namun, naas bagi Emak saat itu petaka datang. Emak dipe*kosa Papa kamu, karena saat itu sedang mabuk. Setelah hamil kamu, pacar Emak memutuskan hubungan kami"


"Emak..." Aku rangkul Emak perlahan agar tidak mengenahi jahitan dadaku. Aku sedih mendengar cerita Emak. Ternyata sejak dulu Emak sudah sangat menderita. Tidak bisa kubayangkan saat Emak mengandung aku sudah pasti kena sangsi sosial.


"Nggak usah sedih, sekarang sudah terlewati dan alhamdulillah, Emak kuat menjalani hidup Emak yang sangat berliku. Sekarang Emak fokus ke anak Emak semoga kamu dan Arga akan bahagia selalu, seperti Gendis dengan Bima."


"Aamiin..." Ucapku, meraup wajah.


"Kamu seneng ya, mau menikah dengan pangeran kamu?" Tanya Emak mengalihkan. Beliau tidur miring menatap aku. Tanganya menopang pelipisnya.


"Seneng sih Mak, tetapi aku kan belum bisa melakukan aktivitas. Menurut Emak, apa Mas Arga nanti tidak menuntut?" Tanyaku

__ADS_1


"Ratri, sekarang jangan ragu lagi. Bukankah Arga sendiri yang mengajak kamu menikah. Itu artinya Arga sudah memikirkan matang-matang," Nasehat Emak. Karena keasikan ngobrol, aku sampai tidur dan ketika bangun Emak sudah tidak ada di sisiku.


Aku pun menarik kursi roda kemudian ke kamar mandi. Aku harus belajar melakukan aktivitas sendiri tanpa bantuan. Toh yang sakit dadaku, sementara kakiku masih bisa untuk berjalan. Kendati tanganku yang sebelah kiri berhubungan dengan dada masih sakit jika aku gunakan untuk mengerjakan sesuatu. Selesai mandi dan sholat, aku keluar tanpa menggunakan roda. Aku senang karena kakiku tidak bermasah.


"Ratri, kamu sudah bisa berjalan tanpa kursi roda." Kata Emak sumringah.


"Yang sakit kan dada aku Mak." Jawabku, kemudian bergabung dengan Emak dan Bapak. Sepertinya Bapak baru pulang kerja, aku lihat bajunya masih yang tadi siang dipakai.


"Alhamdulillah, kamu sudah bisa berjalan. Tetapi saya pesan, jangan terlalu capek. Diluar kamu terlihat sehat, tetapi yang sakit di tubuhmu bagian dalam," Nasehat Bapak. Bapak memang perhatian sekali.


"Iya Pak." Aku mengangguk.


Malam harinya, setelah makan, kami ngobrol di ruang keluarga. Jesi dan Dewi pun berada di tempat itu.


"Emak, mumpung sekarang sedang berkumpul, besok saya minta ijin pulang ke Surabaya. Sore tadi Mamak telepon katanya pacar saya mau melamar." Tutur Dewi.


"Kapan melamarnya? Memang kamu tidak mau menunggui aku menikah, Wi?" Tanyaku. Kenapa bisa kebetulan acaranya di hari yang sama.


"Hari minggu barengan sama Kak Ratri." Jawab Dewi. Sama seperti dugaanku.


"Sayang sekali ya Wi, kalau waktunya tidak barengan aku menikah, pasti kita bisa pulang bersama, dan bisa menyaksikan lamaran kamu," Kataku.


"Ya sudah... nggak apa-apa, yang penting Ratri acaranya lancar, Dewi juga lancar. Tetapi setelah menikah apa kamu mau kembali ke Jakarta?" Tanya Emak.


"Saya tergantung suami saya nanti Mak, kalau di ijinkan tentu, saya ingin tetap bekerja," Dewi bersemangat.

__ADS_1


"Nanti kalau aku mengantar Kak Ratri ke Surabaya, aku mampir ke rumah kamu Wi." Sambung Jesi.


"Benar ya Jes, nanti aku buatkan rujak cingur." Ujar Dewi.


********


Hanya dalam hitungan hari, Mas Arga dan Papa satset, mengurus pernikahan kami dan sudah tiba waktu yang ditentukan.


Di dalam kamar berukuran 8 meter persegi ini adalah kamarku. Tentu bukan di rumah Emak Ningrum. Melainkan di rumah Papa Daniswara. Karena saat ini tepatnya hari minggu. Tiba saatnya, pernikahan aku dengan Arga satu jam lagi akan dilangsungkan.


"Non Ratri cantik sekali." Kata perias. Memperlihatkan wajahku di kaca persegi yang ia bawa setelah aku sudah selesai di muke up.


"Terimakasih Mbak." Aku tersenyum menatap penampilanku pangling sendiri.


"Benar Kak Ratri, Kakak cantik sekali." Imbuh Jesi. Kerena dia saat ini yang menemani aku di kamar.


"Kamu juga cantik Jesi." Jawabku. Karena Jesi pun sudah dirias juga. Sayang sekali tidak ada Dewi saat ini, biasanya kami bertiga selalu bersama selayaknya keluarga. Mudah-mudahan acara lamaran Dewi pun lancar.


"Sudah selesai sayang..." Kata Emak. Mungkin Mas Arga sudah datang.


"Sudah Mak, di bawah banyak orang?" Tanyaku ngawur. Emak hanya terkekeh. Jelas banyak orang, walupun hanya para tetangga yang di undang namanya juga pernikahan. Aku berdiri dari tempat duduk dibantu Emak dan Jesi. Tanganku di gandeng kanan dan kiri, menuruni anak tangga perlahan-lahan. Mendadak aku tidak percaya diri. Apakah penampilan aku sudah baik di depan Arga? Pikiranku campur aduk antara senang dan deg degan. Pura-pura tidak tahu, bahwa semua mata pandanganya tertuju kepadaku. Ya Allah... aku menjadi pusat perhatian saat ini.


Langkahku berhenti kala tiba di depan penghulu yang sudah menunggu. Bukan Pak penghulu yang sudah berusia sepantar Bapak itu yang membuat jantungku dag dig dug der. Tetapi, pria gagah dan berpakaian adat jawa yang duduk membelakangi aku. Sekarang baru menatap badanya rasanya sudah mau pingsan. Apalagi jika melihat wajahnya, bisa-bisa jantungku dangdutan.


Aku duduk di sebelah pria itu, yang sudah berjabat tangan dengan hakim. Karena yang menjadi wali nikah aku adalah hakim. Dengan lancar Mas Arga mengikrarkan ijab kabul.

__ADS_1


...~Bersambung~...


__ADS_2