Luka Hati Mak Ningrum.

Luka Hati Mak Ningrum.
Bab 41


__ADS_3

Tiba di rumah sakit, Pak Agus segera di tangani oleh dokter di ruang UGD. Malam ini aku memutuskan menunggu. Tentu tidak mungkin aku menghubungi bu Ningrum dini hari seperti ini. Sambil menunggu kabar dari dokter aku duduk di ruang tunggu. Di kursi panjang aku merebahkan diri, menjadikan tanganku sebagai bantal. Mencoba untuk memejamkan mata, namun tidak bisa lelap, walaupun beberapa menit. Hingga terdengar panggilan shalat subuh aku memilih ke masjid dan menjalankan ibadah tersebut.


Setelah subuh, aku menuju parkiran hendak tidur sebentar di dalam mobil Tuan Daniswara. Disana sudah ada Dandi yang sedang ngorok. Dasar, Dandi! Aku nggak bisa tidur malah dia mendengkur.


"Woi, bangun! Shalat subuh dulu." Aku membangunkan Dandi. Namun hanya menggeliat saja. Aku ambil air mineral dalam botol meneguknya lalu menyripratkan air ke wajah Dandi.


"Hujan... hujan..." Dandi teryata menginggau. Sekali lagi aku ciprati air kemudian ia duduk, tampak kebingungan memindai sekeliling. Kasihan juga nih anak.


"Iya hujan, cepat loe cari payung sana." Seloroh ku tertawa garing terasa sedikit terhibur menatap mata Dandi yang sedang mengerjap.


"Awas Di, cepat keluar, sekarang subuh dulu. Gantian gua yang tidur. Kalau loe nggak cepat berdiri, kepala loe gua guyur air sebotol nih," Ancamku. Dandi menatapku tajam.


"Jangan melotot gitu, setelah subuh... loe tunggu Pak Agus di depan UGD. Kalau ada apa-apa kabari gua." Saranku.


"Dasar loe Ga! Mulut loe bawel seperti Mak gua," Omel Dandi sambil turun dari mobil.


Aku hanya menggeleng, lalu menggantikan posisi Dandi tidur di jok tengah. Rasanya panas bekas dia tidur masih terasa. Aku menyalakan musik lirih pengantar tidur pagi ku.


Jam tujuh pagi aku bangun sudah lebih segar, walaupun tidur hanya dua jam saja. Lalu ke toilet sebelum akhirnya kembali ke UGD mencari keberadaan Dandi. Namun tidak ada Dandi disini, lalu ke ruang UGD mencari Pak Agus. Pak Agus pun tidak ada di tempat. Itu artinya, Pak Agus sudah di pindahkan.


"Dandi, loe sekarang dimana?" Tanyaku di sambungan telepon.


"Di depan ruang operasi." Jawab Dandi. Segera aku tutup sambungan telepon. Lalu menuju dimana Dandi memberi alamat.


"Dan, Pak Agus akan di operasi?" Tanyaku terkejut.


"Iya, tapi masih menunggu persetujuan keluarga." Kata Dandi. Aku segera menyingkir dari tempat itu. Lantas menghubungi Mak Ningrum.


30 menit kemudian.


"Nak Arga, bagaimana keadaan Bapak?" Tanya bu Ningrum masih ngos-ngosan rupanya beliau jalan tergesa-gesa. Matanya pun sembab karena banyak menangis.

__ADS_1


"Duduk dulu Bu, ada yang ingin saya sampaikan," Ujarku. Lalu menceritakan seperti yang dikatakan Dandi, yakni Pak Agus mengalami gagar otak ringan hingga saat ini belum sadar. Belum lagi kakinya harus menjalani operasi.


"Hiks hiks hiks. Astagfirullah... kenapa Mas Agus tidak mau mengiklaskan saja sertifikat itu." Sesal Emak menangis tergugu.


"Yang sabar ya Bu, semoga Bapak cepat sadar, dan operasinya lancar." Hiburku. Emak hendak masuk melihat keadaan suaminya. Namun tidak diijinkan oleh dokter.


Waktu berjalan hingga siang hari. Pak Agus pun sadar, setelah Emak tanda tangan persetujuan operasi. Aku minta Ijin dokter agar Mak Ningrum di perolehan menjenguk suaminya barang sebentar. Setelah diijinkan aku menemani Emak ke ruang operasi.


"Mas... hu huuuu..." Tangis Emak pecah memenuhi ruang operasi. Ia menangis mengharu biru di dada Pak Agus. Namun Pak Agus tidak mampu bicara, tetapi masih bisa tersenyum tipis.


"Bu Ningrum, sudah Bu..." Aku membangunkan beliu karena dokter sudah masuk ruangan. Kami keluar ke ruang tunggu. Disana Jesi pun sedang menangis masih mengenakan seragam sekolah.


"Hiks hiks hiks, Jesi... Ayah kamu Jes." Emak dan Jesi pun sama-sama menangis dalam pelukan. Tergambar jelas dua wanita itu merasakan kesedihan yang dalam.


Hingga beberapa menit aku membiarkan dua wanita itu, kemudian kami duduk di ruang tunggu.


"Kak, sebenarnya apa yang terjadi dengan Ayah?" Tanya Jesi di sela-sela isaknya.


"Jesi... ini sertifikat rumah Ayah kamu. Saya temukan tergeletak di lantai, mungkin Ibu kamu panik saat polisi menggrebek rumah kamu." Dandi memberikan map merah kepada Jesi.


"Lalu apakah Ibu saya di tangkap Kak?" Tanya Jesi menyusut air matanya.


"Saya belum tahu Jes, saat penggerebekan itu, yang terpenting bagi kami menyelamatkan Ayahmu." Tutur Dandi. Jesi kembali menangis menatap map yang dia pegang. Mak Ningrum merangkul pundak Jesi.


"Penggerebekan dua rumah di komplek mekarsari dini hari. Polisi berhasil meringkus para pekerja P* S* K. Namun sayang sekali, pemilik usaha haram tersebut berhasil melarikan diri." Begitulah berita di televisi. Pandangan kami tertuju ke televisi. Tampak dua rumah tadi malam di pagar garis kuning. Tidak seorang pun di ijinkan masuk karena masih dalam proses penyelidikan.


"Hisk hiks. Mak..." Jesi tampak syok, menatap kosong membuang wajahnya dari televisi. Mak Ningrum merangkul tubuh Jesi di sebelahnya selayaknya anak kandung.


"Bu Ningrum... Jesi... sudah makan belum? Saya belikan makan ya." Kataku. Namun keduanya menggeleng. Aku kemudian pamit shalat dzuhur ke masjid, di ikuti Dandi.


"Ga, anaknya Pak Agus cantik juga ya." Puji Dandi.

__ADS_1


"Ngapa memang, naksir loe?" Tanyaku ketika kami menunggu lift terbuka.


"Boleh juga sih, tapi masih bocil." Dendi terkekeh.


"Bocil apaan? Orang sudah kelas tiga kok, sebentar lagi, bisa loe nikahi." Jawanku. Lift terbuka kami lalu masuk bersama.


"Ya nggak langsung kawin lah, paling tidak gua penjajakan dulu." Dandi tampak manggut-manggut.


"Bukan kawin, dodol! Tapi nikah dulu." Aku toyor dahi Dandi. Ia tersenyum, rupanya temanku itu sedang jatuh cinta.


"Gua kira loe mau melamar Dewi?" Tanyaku serius.


"Ya nggak lah! Ngaco loe! Sebenarnya gua kasihan sama Dewi, tetapi masalah hati tidak bisa dipaksa." Ujar Dandi.


Seketika aku ingat Gayatri, andai saja aku bukan seperti bumi dan langit. Serasa dekat namun aku tak mampu menggapai.


"Mas Arga, Bagaimana keadaan Bapak?" Tanya orang yang sedang aku pikirkan. Rupanya Ratri kembali pulang ke Jakarta. Tenggorokan aku tercekat, teryata dia datang ke Jakarta bersama calon tunanganya.


"Saat ini sedang operasi Non." Dandi yang menjawab.


"Lalu Emak dimana Kak?"


"Di ruang tunggu depan ruang operasi Non,"


Tanpa menjawab lagi, Ratri segera berjalan cepat bersebelahan dengan Hendri. Aku hanya bisa menatap dari belakang.


"Woi! Loe ngapa? Liha mereka sampai melongo gitu. Iri ya, sama pria di sebelah Non Ratri?" Dandi menepuk pundakku.


"Jangan ngaco! Ayo shalat." Aku segera ambil air wudhu di depan masjid.


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2