Luka Hati Mak Ningrum.

Luka Hati Mak Ningrum.
Bab 44


__ADS_3

Aku mengguyur tubuhku dengan air hangat, rasanya segar sekali. Sejak pagi sama sekali tidak istirahat rasanya lelah juga. Tidak hanya ragaku yang lelah, tetapi jiwaku pun tak ada bedanya. Selesai salin baju piama yang jarang aku pakai karena jarang menginap di rumah ini, aku segera tidur.


Keesokan harinya, bangun tidur aku segerakan mandi, sambil memegang perutku yang terasa sakit. Tidak hanya itu, haid aku pun banyak sekali mungkin karena stres. Selesai mandi aku paksakan ke dapur, akan membuat minuman agar sedikit mengurangi rasa nyeri perut.


"Mama memasak apa?" Tanyaku setelah tiba di dapur menghampiri Mama yang sedang memasak.


"Mama lagi memasak nasi goreng kesukaan kamu, sayang..." Ujarnya. Tersenyum sambil mengaduk-aduk nasi goreng. Aku terharu, walaupun aku bukan anak kandung Mama, tetapi Mama sayang kepadaku.


"Mama jangan repot, aku bisa sendiri kok." Aku bermaksud ambil alih sodet dari tangan Mama, tetapi Mama melarang.


"Sekali-kali dong sayang, mumpung anak Mama menginap disini..." Ujar Mama tulus. "Kamu kenapa meringis begitu?" Mama menatapku khawatir, tanganya berhenti mengaduk.


"Perut aku sakit sekali Ma, biasa kalau lagi haid dan banyak pikiran selalu begini." Jawabku lalu aku membuka kulkas mencari bumbu dapur.


"Ratri... jangan terlalu di pikirkan sayang... kan Mama sudah katakan. Jika tidak mau menikah dengan Hendri, ya sudah... tujuan kita menikah itu ingin mencari kebahagiaan bukan? Tetapi jika kita tidak bahagia, buat apa." Nasehat Mama. Sambil menuang nasi goreng ke dalam piring.


Aku tidak menjawab lalu membuat minuman kunyit asam resep dari Mak Ningrum. Menurut Emak, kunyit asam selain melancarkan haid, juga menghilangkan nyeri perut. Aku lalu menarik kursi duduk disana, meneguk minuman terasa asam manis menyegarkan.


Jam tujuh pagi kami sarapan bersama, tatapanku tertuju kepada pria yang keluar dari kamar tamu. Kenapa juga sih! Hendri menginap disini? Padahal biasanya di hotel. Huh! Bikin kesal saja.


"Hendri, sini bergabung." Titah Papa.


"Terimakasih Om," Hendri kemudian duduk di sebelahku, mengulum senyum. Dasar pria ini, memang tidak ada kursi lain apa? Andai saja, dia tahu jika wanita sedang pms bisa mencakar orang, Hendri pasti akan takut. Ingin sekali aku pindah, tetapi kesopanan juga harus dijaga.


"Tanpa menghiraukan Hendri, aku menyendok nasi goreng buatan Mama memang enak sekali. Sementara Hendri makan roti bakar begitu juga dengan Papa. Mama memilih meminum juece buah. Maka wajah Mama masih glowing karena jika sarapan pagi menghindari makanan berminyak.


"Enak nasi goreng nya sayang?" Tanya Mama.


"Enak banget Ma," Jawabku tersenyum.


"Aku boleh coba dong" Kata Hendri menyendok nasi goreng lalu menyuapnya, sudah gitu pakai sendok aku lagi. Iihh, sok akrab! Pria ini. "Nih makan!" Ketusku menyodorkan piring ke depanya. Aksiku tidak luput dari perhatian Papa dan Mama.


"Kenyang aku Tri, cuma mau cobain sedikit." Jawabnya nyengir.

__ADS_1


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsallam..."


Pandangan kami beralih kepada pria yang baru saja datang, siapa lagi? Jika bukan Argadinata.


"Nak Arga... sini bergabung, kita sarapan dulu." Titah Mama.


"Terimakasih Tan, saya sudah sarapan, kalau begitu saya menunggu di luar." Jawab Arga sambil berlalu, belum sempat di balas sudah keluar.


"Pa, aku mau berangkat bareng Papa, nanti turun di depan rumah sakit ya." Pintaku. Aku mau mendekati Arga supaya Hendri kesal.


"Tidak usah, kamu bareng Hendri saja," Jawab papa lalu menyeruput susu. Aku melirik Hendri. Pria itu mengacungakan jempol.


"Papa sih gitu... mau bareng saja pelit." Aku cemburut.


"Nggak apa-apa, sana gih, kamu susul Arga. Biar Papa berangkat bersama Hendri. Boleh kan Hen?" Usul Mama.


"Tentu saja boleh Tante..."


"Kamu mau kemana?" Tanya Arga dengan dahi berkerut. Sepertinya dia kaget, karena tiba-tiba aku sudah berada di samping nya.


"Aku bareng Mas Arga, ke rumah sakit, ya." Ucapku bersemangat.


"Terus... Papa kamu kemana?" Arga menoleh keluar mencari keberadaan Papa.


"Papa berangkat sama Kak Hendri. Pak... berangkat." Pintaku kepada supir.


"Baik Non."


Di dalam mobil aroma parvum Arga, membuat aku betah. Ya Allah... aku ingin terus berdekatan dengan pria ini. Satukan kami ya Allah... doaku dalam hati.


"Kamu nggak berangkat bareng sama Hendri?" Arga menoleh ke arahku.

__ADS_1


Aku tatap mata elangnya, serasa tidak mau berpaling. Lagi-lagi aku berdoa, semoga Arga lah jodohku. Tetapi rasanya sulit sekali.


"Tri... Hai... kamu kok malah menatapku seperti itu?" Tanya Arga. Segera ku berpaling malu sekali.


"Sudah tahu aku bareng sama kamu, tetapi masih tanya!" Jawabku ketus hanya untuk menghilangkan rasa malu. Waktu 15 menit terasa sebentar, mobil Papa sudah tiba di depan rumah sakit.


Aku segera turun tanpa permisi ketika hendak membuka pintu tanganku di tahan Arga. Aku menoleh cepat menatapnya.


"Salam untuk Emak dan Bapak. Nanti sore pulang kerja aku insyaAllah mampir."


"Okay...." Aku tersenyum. Berarti aku akan menunggu Mas Arga di rumah sakit sampai sore. Mulai saat ini aku akan mendekati Arga menyenangkan diri, walaupun Arga tidak suka padaku. Jika Hendri cemburu lantas membatalkan pernikahan kami. Inilah yang aku mau, semoga saja begitu. Jika Hendri yang membatalkan pernikahan ini tentu Papa tidak akan menyalahkan aku.


"Assalamualaikum..." Salamku. Ketika tiba di dalam ruang rawat inap, Emak sedang menyuapi Bapak.


"Waalaikumsallam..." Jawab Emak tersenyum. "Bapak..." Ucapku. Aku tatap Bapak. Beliau tersenyum berat. Itu tandanya Bapak masih merasakan sakit.


"Cepat sembuh ya Pak." Doaku.


"Aamiin..." Emak yang menjawab. Sementara Bapak hanya bisa mengangguk.


"Jesi sekolah ya Mak?" Tanyaku. Sebab di ruangan tidak ada Jesi.


"Iya." Jawab Emak pendek. Aku perhatikan Emak tampak lelah, matanya berkantung. Ketika aku tanya, ternyata Emak memang semalam tidak tidur, pasalnya Bapak pun kesakitan hingga begadang


Segera aku membeli sarapan untuk Emak, walaupun sebenarnya Emak tidak ada selera untuk makan. Namun, aku memaksanya. "Ayolah Mak... Makan dulu, kalau Emak nggak mau makan, lantas Emak juga tumbang, siapa yang akan merawat Bapak." Ucapku.


"Iya... Emak makan." Emak pun akhirnya makan, walaupun hanya dedikit. "Sekarang Emak tidur, Biar bapak aku yang menunggu." Saranku. Emak menurut. Beliau tidur di sebelah Bapak, lumayan juga Emak dan Bapak tidur hingga menjelang makan siang.


Sore harinya benar saja, Arga tiba di rumah sakit. Pria itu rupanya pulang kerja menyempatkan diri untuk menjenguk Bapak. Pasalnya, pakaian yang ia kenakan masih yang tadi pagi. Mas Arga menanyakan keadaan Bapak, hingga beberapa saat ia ngobrol dengan Emak lalu pamit pulang.


"Mas, aku ikut ke rumah kamu ya." Ucapku.


"Mau ngapain?" Tanya Arga terkejut.

__ADS_1


"Mau kenalan sama Ibunya Mas Arga. Ya Mas, boleh ya," Paksaku.Tadi Arga ngobrol dengan Emak. Bahwa Ibunya dari Yogyakarta berkunjung ke Jakarta, tentu aku ingin berkenalan.


...~Bersambung~...


__ADS_2