Luka Hati Mak Ningrum.

Luka Hati Mak Ningrum.
Bab 48


__ADS_3

Malam penuh harap bagi aku dan orang-orang terdekat putriku. Berharap kepada sang pencipta agar Ratri masih diberikan keajaiban. Peluru yang bersarang di tubuhnya menyebabkan Ratri hingga kini belum sadarkan diri.


"Rum, kamu lelah sekali, sebaiknya istirahat." Kata Wati. Namun, aku hanya menggeleng sebagai jawaban, mana mungkin aku bisa tidur dalam keadaan seperti ini? Jujur, selama di rumah sakit menjaga Mas Agus, aku tidak bisa tidur lelap, pikiranku selalu mengembara, apa lagi saat ini.


"Arga, kamu sebaiknya pulang dulu, istirahat dan salin baju. Biar kami yang menunggu disini." Saran Wati kepada Arga. Sementara Hendri sudah pulang lebih dulu.


"Baik Nyonya." Jawab Arga, walaupun tampak berat. Toh, dia beranjak, setelah pamit aku, kemudian pulang.


Malam berganti pagi, aku membuka jendela kamar inap, setelah memandikan Mas Agus. Diluar tampak gelap, matahari bersembunyi di balik mendung, padahal jam di handphone sudah menunjukkan pukul 7 30 menit. Sepertinya pagi ini pun turut bersedih akan keadaan putriku.


"Mas Agus makan dulu." Ucapku seraya membantu Mas Agus duduk kemudian ambil menu sarapan pagi yang sudah tersedia.


"Aku makan sendiri saja Rum." Mas Agus, ambil nampan dari tanganku, lalu meletakan ke dalam pangkuan. Aku membiarkan saja cukup mengawasi Mas Agus makan.


"Kamu beli sarapan dulu Rum." Titah Mas Agus.


"Gampang" Jawabku. Ingat makan, aku menjadi ingat nasi rames yang aku beli tadi malam, masih tersimpan di atas meja. Itu artinya, aku melewatkan makan malam.


"Sudah kenyang, Rum." Mas Agus memberikan tempat makan, tetapi tidak dihabiskan. Aku terima lalu meletakan tempat makan di tempatnya sekaligus ambil air mineral.


"Minum dulu." Aku memberikan air putih dalam gelas yang sudah aku beri sedotan bengkok, agar memudahkan Mas Agus minum.


"Terimakasih." Mas Agus minum sedikit demi sedikit hingga air tinggal setengah.


"Rum..." Panggil Mas.


"Apa..." Aku ambil gelas di tangan Mas Agus, lalu menatapnya inten.


"Kamu kurus sekali..." Ucapnya, menatapku lekat.


"Jika hanya itu masalahnya, tidak usah di bahas Mas, yang penting aku sehat." Jawabku. Syukur alhamdulillah aku diberi kesehatan oleh Allah. Hanya kadang aku merasakan sakit kepala dan pusing. Namun, masih dalam kewajaran.

__ADS_1


"Aku mohon, mobil yang di pakai Jesi, jual saja. Lumayan Rum, mungkin masih laku ratusan juta, bahkan lebih. Bisa untuk biaya berobat aku dan juga Ratri. Jika ada lebih bisa untuk membelikan motor Jesi." Titah Mas Agus, dengan sorot mata kejujuran.


Aku pun beranjak meletakan gelas. "Saat ini aku masih punya tabungan Mas. Tetapi kita lihat perkembangan Ratri ya. Jika nanti aku kepepet akan mengikuti saranmu." Jawabku.


"Jangan bohong Rum, aku tahu kok, selain Ratri, kamu juga banyak mengeluarkan uang untuk biaya rumah sakit yang tidak sedikit Rum."


Aku menunduk. Jujur, tabungan aku memang sudah menipis. Jika untuk biaya Mas Agus tentu masih cukup, karena biaya operasi Mas Agus Ratri yang membayar. Tetapi untuk pengobatan Ratri sendiri, aku masih berpikir, langkah apa yang akan aku ambil.


"Iya sudah... nanti kita bicarakan sama Jesi ya, biar bagaimana... Jesi harus tahu." Pungkasku.


Mas Agus mengangguk, lalu aku pamit keluar hendak mencari kabar tentang Ratri.


"Nak Arga sudah sampai?" Tanyaku. Ketika tiba di tempat, Arga termenung sendiri di depan ruang operasi.


"Sudah Bu." Jawab Arga singkat.


"Tuan sama Nyonya kamu kemana?" Tanyaku. Karena disini tidak ada Banuwati dan juga Daniswara.


"Lalu bagaimana hasil usg nya Nak?" Tanyaku takut jika sampai peluru tersebut mengenai organ vital putriku.


"Saya tidak tahu Bu Ningrum, Tuan Daniswara yang konsultasi kepada dokter."


"Semoga putriku selamat ya Allah..." Ucapku.


"Aamiin..." Jawab Arga.


Peluru bersarang di dada Ratri. Betapa sakitnya putriku. Sedangkan daging tertusuk duri kecil pun sakitnya luar biasa.


"Arga, apakah tadi malam, Ratri jadi silaturahmi ke rumah kamu Nak?" Tanyaku. Aku ingin tahu kenapa Ratri tadi malam tidak bersama Arga, aku khawatir jika mereka bertengkar.


"Jadi Bu, bahkan saya mengantar Ratri sampai parkiran motor, kemudian Ratri masuk sendiri. Awalnya saya akan langsung pulang, karena sudah malam, dan akan menjenguk Bapak esok harinya, sekalian menjemput Ratri,"

__ADS_1


"Tetapi, ketika saya sedang mendorong motor, seklebat melihat bayangan Arin di parkiran mobil tampak berjalan tergesa-gesa. Secepatnya saya mengejar, tetapi Arin keburu menjalankan mobilnya. Pikiran saya menjadi tidak tenang Bu, untuk apa Arin datang ke rumah sakit. Akhinya saya memutuskan mengejar Ratri, tetapi sudah jauh tertinggal." Tutur Arga sampai detail.


Aku mengangguk-angguk, mengerti.


Tibalah saatnya operasi dilakukan, aku tidak berhentinya berdoa. Semoga semua di permudah.


Siang harinya operasi berjalan lancar. Namun, Ratri membutuhkan donor darah secepatnya. Satu pukulan berat bagi aku, karena tidak memenuhi standar untuk donor, setelah menjalani serangkaian pemeriksaan yang di lakukan oleh dokter. Aku dinyatakan mengalami tekanan darah terlalu rendah. Wajar, sejak kemarin aku tidak makan sesuatu. Berat badanku pun turun 5 kg selama di rumah sakit, yang awalnya 45 kg sekarang hanya tinggal 40 kg. Pantas saja, Mas Agus sering mengatakan jika aku semakin kurus.


Ya Allah... seharusnya aku yang harus menyelamatkan anakku, tetapi lagi-lagi ujian harus aku hadapi.


"Tenang Rum, mudah-mudahan, Mas Danis sehat, dan bisa mendonorkan darahnya." Banuwati menenangkan aku. Rupanya Wati bisa membaca pikiran aku.


"Semoga Mbak." Jawabku tercekat.


Saat ini gantian Daniswara yang di periksa. Hingga15 menit kemudian, kami menunggu Daniswara. Namun, ketika keluar dari ruang periksa aku menangkap wajah Daniswara tampak kecewa.


"Saya tidak bisa donor Rum, tekanan darah saya terlalu tinggi." Tergambar jelas penyesalan di wajah Daniswara.


"Astagfirullah..." Aku sedih sekali, sedangkan stok golongan darah AB di rumah sakit ini kosong. Padahal putriku harus cepat mendapatkan donor.


"Golongan darah Ratri apa Om?" Tanya Hendri, pandanganku beralih kepadanya. Hendri sepertinya antusias menolong Ratri.


"AB Hen, apa kira-kira golongan darah kamu cocok?" Tanya Daniswara, menatap Hendri penuh harap.


"Sayang sekali Om, golongan darah saya O." Hendri tampak menyesal.


Daniswara melungguhkan bokongnya di kursi. Pria itu memijit dahinya sendiri hingga beberapa menit kemudian. Ia merogah handphone menghubungi seseorang. Terdengar di telingaku jika Daniswara minta dicarikan pendonor secepatnya. Namun, siapa pria itu entahlah. Apa maungkin itu Arga. Arga memang pergi sejak satu jam yang lalu diutus Danis entah kemana.


Tidak menunggu waktu yang lama Arga datang, Daniswara berbicara kepadanya. Entah apa yang Danis bicarakan hanya mereka yang tahu.


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2