
Di kantor polisi Arinta tidak bisa berkutik setelah semua saksi memberatkan dirinya, walaupun terus berdalih. Pasalnya anak kandung Arin sendiri pun memberatkan Ibunya.
"Jesi, ternyata kamu sudah tidak ada rasa simpati kepada Ibu kandung kamu sendiri. Ibu kecewa sama kamu Jes, kamu ternyata lebih memilih wanita pencuri Ayah kamu dari Ibu!" Ketus Arinta, menatapku tidak suka. Ngawur dia itu, siapa juga yang mencuri suaminya.
"Maaf Bu, Jesi hanya bisa berharap, setelah Ibu keluar dari penjara nanti, Ibu sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Aku janji Bu, akan ikut kemana pun Ibu pergi. Asalkan di jalan Allah," Jawab Jesi, merangkul Arin dari depan. Namun rupanya Arin tidak membalas pelukan putrinya. Aku dan Mas Agus hanya bisa menatap sendu.
"Terimakasih Bapak dan Ibu, atas waktunya. Sekarang Anda boleh pulang." Kata polisi, mengijinkan aku pulang, tetapi akan memanggil kami lagi suatu saat dibutuhkan. Setelah satu persatu kami dipanggil dan memberikan keterangan, kami pun pulang.
PoV Gayatri.
"Jadi, kamu bersedia mengurus perusahaan Ratri, Arga?" Tanya Papa, saat ini aku dan Mas Arga sedang berada di rumah Papa.
"InsyaAllah Tuan, tetapi apakah boleh jika usaha kecil saya bergabung dengan perusahaan Tuan?" Tanya Arga, sesuai yang sudah kami sepakati.
"Kenapa tidak Arga, yang awalnya kecil itu akan menjadi besar asal kamu serius menjalani. Saya bisa sampai seperti sekarang bukan secara instan mendapatkan, tetapi harus jatuh bangun dulu" Jawab Papa. Aku bisa bernapas lega, sikap Papa yang arogan kemarin tidak nampak lagi dan sekarang sudah berubah seperti dulu.
"Ini hasil produksi gadung yang kamu buat Arga?" Sela Mama, menelisik kemasan Gadung Alas yang dibawa Mas Arga sebagai buah tangan.
__ADS_1
"Betul Nyonya, silahkan dicoba," Jawab Mas Arga.
Mama membuka kemasan besar yang biasa Arga titipkan ke mall, pusat oleh-oleh, dan juga minimarket. Sementara yang kemasan sachet, Arga menitipkan di toko-toko, maupun warung berbentuk rencengan.
"Krauk-krauk, krauk" Mama mengunyah. "Waah... enak sekali Ga." Mama menyatap dengan lahap, sambil menyeruput air putih. "Pa, ini cobain." Mama mendekatkan Gadung yang sudah dimasukan ke dalam toples.
"Terimakasih Nyonya." Arga mengulum senyum.
"Iya, enak," Puji Papa, setelah mencicipi. Satu toples Gadung, kami makan bertiga dengan cepat, sambil membicarakan langkah selanjutnya masalah pekerjaan tentunya.
"Baik Tuan." Jawab Arga. Aku senang, akhirnya tidak ada debat lagi di antara dua pria yang sama-sama berada di hati aku itu.
"Mas" Panggilku ketika kami pulang, diantar supir Papa.
"Apa?" Arga menoleh ke arahku.
"Minggu depan, kamu sudah berangkat ke Surabaya. Itu artinya kita akan berpisah, dan LDR dong!" Aku cemberut, kenapa aku merasa tidak mau berpisah dengan Arga. Ikut ke Surabaya jelas tidak mungkin, karena kondisi aku belum pulih. Tentu Emak tidak akan mengijinkan.
__ADS_1
"Hehehe, kamu kenapa jadi bucin begini sama aku." Arga tertawa.
"Mas, aku serius ih!" Ketusku. Aku ini macam wanita tidak laku saja, yang dikatakan Arga benar, aku memang bucin.
"Kalau kamu mau ikut aku ke Surabaya, gampang kok. Kamu tinggal bicara dengan Papa kamu. Jika beliau mengijinkan, kita menikah sebelum berangkat."
"Menikah?" Potongku kaget. Dengan entengnya Arga membahas tentang pernikahan.
"Iya, Kamu pikir hanya kamu yang punya pikiran seperti itu? Aku juga risau meninggalkan kamu masih dalam keadaan sakit, Ratri." Jawab Arga, rupanya kami satu pemikiran.
"Mana bisa begitu Mas? Aku menikah dalam waktu dekat. Sedangkan kondisi aku berjalan saja masih harus dengan bantuan kursi roda. Yang ada bukan melayani kamu sebagai suamiku, tetapi justeru akan merepotkan kamu." Jawabku ragu.
"Ratri... aku juga tahu kali? Aku bukan pria yang tidak punya perasaan, yang akan menyuruh kamu mengerjakan ini itu. Dengan kita menikah dulu, justru aku tenang bekerja disana, dan bisa menjaga kamu. Kamu tahu kan, aku selama ini selalu mandiri, jadi jangan khawatirkan masalah itu." Kata Arga. Aku tatap mata elangnya tampak jujur.
"Baiklah, nanti aku bicarkan dengan Emak." Jawabku. Di dalam mobil saling diam. Aku menimbang-nimbang sepanjang jalan. Benar juga apa yang dikatakan Arga. Tetapi yang menjadi masalah, apakah Emak akan setuju.
...~Bersambung~...
__ADS_1