
Tangisan Lirih sayup-sayup terdengar di telingaku kala tanganku mendorong pintu perlahan di ruang ICU. Dari kejauhan mataku menangkap wanita paruh baya sedang telungkup di perut sang putri. Tampak tubuh wanita yang tak lain adalah Mak Ningrum bergetar menangis tersedu-sedu. Langkahku berhenti di belakang Emak, dengan perasaan campur aduk. Pikiran buruk menghantuiku. Akankah hari ini, hari terakhir Ratri berada di samping kami semua. "Tidak" Aku tepis pikiranku sendiri.
Mataku tidak sanggup memandang wanita yang tergeletak di tempat tidur itu lantaran takut. Takut menerima kenyataan jika Ratri telah tiada. Aku hanya memandang Mak Ningrum yang masih terisak membelakangiku. Tangisan ini entah tangis duka, atau bahagia, aku ingin tahu reaksi Emak selanjutnya. Toh, nanti aku akan tahu jawabanya.
"Ratri... akhirnya kamu sadar, Nak." Ucap Mak Ningrum. Mendengar kata sadar, seketika memutar bola mataku ke arah wajah kurus itu. Kini matanya menatap lurus ke depan. Namun, belum mampu membalas pelukan Emak. Aku tampar pipiku sendiri, meyakinkan bahwa aku tidak sedang bermimpi. Tenggorokan aku tercekat, entah harus berucap apa, sesaat hanya mematung di tempat.
"Nak Arga, tolong panggil Dokter." Titah Emak. Tanpa menjawab aku berputar ke sisi kiri Ratri. Memencet tombol di atas kepalanya.
"Ratri..." Panggilku perlahan setelah berjongkok di pinggir ranjang. Aku raih pelan telapak tangan yang lemas itu, menempelkan di hidung dalam keadaan mataku terpejam.
"Ratri... cepat sembuh, aku mencintaimu." Ucapku lantas ku buka mata. Namun Ratri masih menatap kosong ke depan. Tidak lama kemudian, dokter pun masuk sebelum memeriksa, aku disarankan keluar.
Aku melangkah keluar, sesekali menoleh, walaupun Ratri telah membuka mata. Namun, aku belum merasa lega karena kesembuhan Gayatri masih 50 persen.
"Arga, Ratri tidak apa-apa kan Nak?" Tanya Pak Agus ketika aku tiba di luar, posisi Pak Agus masih sama, yakni duduk di kursi roda di depan ruang ICU.
"Alhamdulillah Pak Agus, sepertinya Ratri telah sadar." Jawabku pendek lalu mendorongnya ke ruang tunggu.
"Alhamdulillah..." Pak Agus meraup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Wajah pria itu kini sedikit sumringah.
"Sebaiknya Bapak saya antar pulang." Aku membantu Pak Agus berdiri, setelah ia mengangguk lalu masuk ke dalam lift. Dengan mengantar Pak Agus lebih dulu, tentu beliau bisa segera beristirahat. Mengenai Mak Ningrum, aku akan menjemput nya nanti.
__ADS_1
Aku meninggalkan motor di parkiran rumah sakit, kemudian mengantar Pak Agus dengan taksi.
"Alhamdulillah... Pak Agus sudah pulang? Bu Ningrum kemana Den?" Tanya Mbok Sri, ketika kami tiba di kediaman Mak Ningrum. Mbok menyambut kedatangan kami.
"Bu Ningrum masih menunggui Ratri Mbok." Jawabku. Aku menuntun Pak Agus ke kamar. Setelah operasi, Bapak tidak lagi menggunakan tongkat seperti dulu. Semua kejadian ada hikmahnya, nyatanya setelah kecelakaan kedua, Pak Agus sudah mampu berjalan walaupun belum lancar.
Di rumah bu Ningrum tampak sepi, menurut cerita Emak, Jesinta kini sudah bekerja bersama Dewi di perusahaan Daniswara.
"Bapak istirahat ya, saya akan kembali ke rumah sakit." Kataku, setelah tiba di kamar, dan Pak Agus sudah duduk di ranjang.
"Terimakasih Ga." Ucap Pak Agus. Netranya menatap air mineral di atas meja menelan ludah. Aku pun tanggap segera menyandak botol memberikan kepadanya.
"Terimakasih." Pak Agus kembali berujar, segera meneguk air, rupanya benar-benar haus. Nyatanya air satu botol tinggal setengah. Aku salim tangan Pak Agus kemudian menutup pintu kembali.
"Minum dulu Den." Titahnya, lalu meletakan satu gelas teh di atas meja dan membawa satu gelas lagi ke kamar Pak Agus.
"Terimakasih Mbok" Jawabku. Demi menghormati Mbok, karena sudah repot membuatkan aku teh. Aku memutuskan duduk sebentar, menyeruput minuman sedikit demi sedikit.
"Makan ya Den, saya memasak banyak hari ini," Kata Mbok Sri, ketika melewati aku dari kamar Pak Agus.
"Saya sudah makan Mbok" Tolakku, lalu menyarankan agar Mbok menyiapkan makan untuk Pak Agus, sebelum akhirnya aku kembali ke rumah sakit.
__ADS_1
*********
Seminggu kemudian, selama itu, hampir setiap hari aku menjenguk Ratri. Namun, Ratri belum mampu berbicara. Hanya merespon mengangguk dan menggeleng. Seperti pagi ini sebelum menyetor daganganku. Aku menjenguk Ratri terlebih dahulu. Aku datang membawa serangkaian doa, berharap jika kemarin Ratri belum mampu bicara mudah-mudahan hari ini mengalami perkembangan.
Aku dorong pintu ruang ICU, tatapanku tertuju ke tempat ranjang pasien yang di gunakan Ratri kurang lebih sebulan lebih. Namun, ranjang itu kosong.
Lagi-lagi aku dibuat cemas, kemana Ratri? Aku hendak bertanya kepada petugas. Namun, pandanganku menangkap Emak Ningrum yang baru keluar dari salah satu kamar ruang rawat inap.
"Bu Ningrum" Panggilku. Bu Ningrum menghentikan langkahnya, jika aku lihat arahnya berjalan sepertinya beliau akan ke toilet.
"Arga." Senyum lebar muncul dari bibir Mak Ningrum. Selama di rumah sakit, beliu kadang memaksakan untuk tersenyum, tetapi kali ini senyumnya berbeda.
Hatiku sedikit lega, dalam hati berdoa semoga keceriaan Emak, ada hubungannya dengan Ratri.
"Ratri dipindah Bu?" Tanyaku.
"Iya Ga, sekarang Ratri sudah dipindah ke ruang rawat," Jawab Emak. Emak kemudian pamit ke kamar mandi. Tidak mau banyak berpikir, aku segera ke kamar VVIP yang ditunjukkan Emak.
Aku membuka pintu, melangkah perlahan-lahan agar kakiku tidak bersuara. Khawatir mengganggu penghuni kamar inap mewah ini. Pandanganku tertuju ke arah ranjang, gadis cantik yang sedang duduk di tengah ranjang tersenyum manis menatapku.
"Ratri..." Panggilku, membalas senyumnya. Antara percaya dan tidak, bahwa gadis itu memang ratri, aku pun berjalan mendekati ranjang.
__ADS_1
...~Bersambung~...