Luka Hati Mak Ningrum.

Luka Hati Mak Ningrum.
Bab 42


__ADS_3

PoV Gayatri.


Mendengar kabar dari Emak bahwa Bapak hilang, aku tidak tenang. Sudah pasti Emak merasa sedih. Pagi harinya aku memutuskan pulang setelah Helda memesan tiket. "Pak Gatot, dan kamu Helda. Tolong handle semua pekerjaan saya ya." Pintaku kepada Pak Gatot asisten aku, dan juga Helda sekretaris aku.


"Baik Bu" Jawab keduanya. "Perlu saya antar ke bandara Bu?" Tanya Pak Gatot.


"Tidak usah Pak, saya sudah pesan taksi kok." Tolakku. Tidak ada yang aku bawa, selain tas slempang. Aku segera turun melalui lift. Tiba di lantai bawah aku bertemu Hendri.


"Kamu mau kemana Tri?" Tanya Hendri menatapku dari atas sampai bawah.


"Mau ke Jakarta Kak." Jawabku sambil berlalu karena taksi yang aku pesan sudah menunggu.


"Ke Jakarta? Aku ikut," Hendri mengejarku.


"Ada urusan apa, Kak Hendri ikut? Saya sudah pesan tiket kok." Tolakku cepat.


"Mana bisa aku membiarkan calon istri aku pulang sendiri." Ujarnya, lalu menanyakan pesawat apa yang akan aku tumpangi. Setelah aku jawab dengan juiur. Ia segera mengetik di handphone. "Nih aku sudah pesan tiket kok." Ujarnya tersenyum.


Aku tidak membalas senyumnya segera masuk ke dalam taksi. Menyesal aku jujur kepadanya. Namun serba salah, walaupun aku tidak jujur toh, Hendri akan mengikuti aku ke bandara juga. Aku paham benar, Hendri itu pria yang pantang menyerah.


"Kamu pulang ke Jakarta mendadak, ada apa Tri? Tidak mungkin kan, tidak ada apa-apa, pasalnya kamu disini baru tiga hari?" Tanya Hendri, ingin tahu.


"Ada urusan keluarga. Jadi pleass... deh Kak Hendri, tidak usah ikut ke Jakarta." Lagi-lagi aku menolak.


"Sudah aku katakan Ratri, aku tidak akan membiarkan calon istriku pulang sendirian." Jawab Hendri percaya diri.


"Sudah saya katakan juga Kak, saya bukan calon istri Kakak." Tegasku.


"Iya-iya... aku ada urusan bisnis dengan Papa kamu." Jawab Hendri. Aku pun mengalah. Sepanjang jalan dalam taksi aku sama sekali tidak mengajak bicara Hendiri. Aku pura-pura sibuk membaca novel. Selain malas ngobrol dengan Hendri aku juga menghibur diri agar jangan terlalu memikirkan Emak.


Aku akui Hendri pria lembut dan penyabar, namun jika dia menginginkan sesuatu pantang menyerah. Jadi aku harus dengan cara yang sabar pula menolaknya. Agar pria ini tidak sakit hati.

__ADS_1


Hingga tiba di bandara. Kenapa juga aku bisa satu kursi dengan Hendri. Aku hanya bisa menarik napas berat. Tidak ada pilihan lain, selain aku duduk di dekat kaca.


"Kamu mau pesan apa Tri?" Tanya Hendri menunjukan buku menu yang ia ambil di depanya. Ini cuma alasan Hendri saja, ingin ngobrol, ngapain juga pria ini menunjukan buku. Padahal di depanku pun ada.


"Saya sudah sarapan Kak." Tolakku lembut.


Tiba di Jakarta, aku memesan taksi, Hendri pun mengikuti. Aku segera telepon Emak ternyata Mbok Sri yang mengangkat. "Emak kemana Mbok Sri."


"Bu Ningrum ke rumah sakit Non, tetapi handphone nya ketinggalan," Jawab Mbok. Menuturkan bahwa Pak Agus sudah di temukan, tetapi saat ini sedang dirawat di rumah sakit. Aku mematikan handphone lalu minta taksi mengantar ku kesana.


"Saya mau ke rumah sakit Kak, apa tidak sebaiknya kita lain taksi saja." Saranku.


"Loh, memang siapa yang sakit? Kenapa kamu tidak bicara kepadaku?" Tanya Hendri tak urung mengikuti aku naik taksi juga.


"Bapak yang sakit." Jawabku pendek.


"Kalau gitu, aku juga mau menjenguk Bapak kamu," Ujarnya. Huh! Dasar Hendri menyebalkan sekali pria ini. Di dalam taksi aku pun bungkam. Hingga tiba di rumah sakit sudah waktu shalat dzuhur. Ketika melewati masjid pandanganku tertuju kepada pria yang selalu membuat aku deg degan. Namun, betapa kecewanya aku. Arga sama sekali tidak mau menyapa. Ketika aku tanya pun yang menjawab justeru Dandi.


"Emak..." Segera aku rangkul beliau, baru Emak menyadari kehadiran aku.


"Hiks hiks hiks, Ratri..." Emak menangis di pelukan aku. Jika melihat Emak begini rasanya aku tidak mau jauh. Nyatanya, baru aku tinggal selama tiga hari keadaan Emak begitu menyedihkan.


"Emak... jangan sedih ya." Ucapku setelah jongkok di depan Emak, memegang lututnya. Walaupun aku belum tahu pasti kejadian yang menimpa Pak Agus, hanya mendengar sepenggal cerita dari Simbok. Aku sudah bisa menebak, bahwa Pak Agus sedang dalam keadaan tidak baik. Aku menatap Jesi yang sedang menangis di sebelah Emak pun memperkuat dugaanku.


"Jes, biar aku yang menemani Emak, sebaiknya kamu pulang dulu ya." Saranku. Kasihan Jesi rupanya ia baru pulang sekolah.


"Tapi Kak?" Jesi mungkin tidak tega meninggalkan Bapak.


"Tenang Jes, sekarang kan ada aku,"


"Benar apa yang dikatakan Ratri, Jes. Setidaknya kamu salin baju dan makan siang dulu." Sambung Emak. Aku sedikit lega, karena Emak sudah mau bicara.

__ADS_1


"Mari saya antar, Dek," Kata Dandi. Ia baru datang bersama Arga, mungkin baru selesai shalat. Aku perhatikan Arga menatapku sekilas lalu duduk di sebelah Emak.


"Tuh, ada Kak Dandi yang bersedia mengantar kamu," Setelah aku bujuk, Jesi mau pulang di antar Dendi. Jesi pesan agar aku membawa mobilnya. Sebab, Jesi di antar Dandi dengan motor.


"Memang suami Ibu sakit apa?" Tanya Hendri yang sejak tadi hanya diam mematung.


"Kecelakaan Nak." Jawab Emak pendek. Tidak lama kemudian Hendri pun meningalkan kami. Karena dia ingin bertemu Papa.


Hanya tinggal kami bertiga di ruang tunggu. "Bu Ningrum, tadi saya belikan makan siang, Ibu makan ya," Kata Arga perhatian, seraya memberikan nasi bungkus.


"Benar kata Mas Arga Mak" Aku buka bungkusan itu di depan Emak.


"Tapi makan berdua sama kamu ya," Kata Emak. Aku pun mengalah kami makan berdua. "Mas Arga nggak ikut makan?" Tanyaku.


"Saya sudah makan sama Dandi tadi. Kalau gitu saya beli satu bungkus lagi ya."


"Tidak usah Mas, ini sudah cukup." Tolakku. Memang benar, satu bungkus nasi aku makan berdua sama Emak pun nyaris tak habis. Selesai makan, Emak pamit shalat dzuhur, sekalian hendak membuang sampah. Aku tersenyum lega, Emak tidak sesedih tadi. Rupanya kehadiran aku bisa menghibur Emak.


"Kamu tidak shalat sekalian Tri?" Tanya Mas Arga.


"Aku sedang tidak shalat." Ucapku sambil menyusut wajah aku dengan tisue. Nasi rames tadi lumayan pedas, hingga menyebabkan wajahku berkeringat. Tanpa aku sadari Arga memperhatikan aku. "Kenapa Mas, wajahku jadi jelek ya," Segera aku ambil kaca dari tas. Membetulkan riasan.


"Sejak kapan kamu suka dandan?" Rupanya Arga memperhatian penampilan aku. Ia tidak tahu apa, jika akhir-akhir ini aku sering merias wajah karena untuk dirinya.


"Sejak bekerja di kantor lah, supaya nggak malu-maluin jika bertemu klien." Sahutku asal.


"Apa lagi kalau klienya calon suami kamu sendiri." Sindirnya.


Aku mendongak, terkejut akan ucapanya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2