Luka Hati Mak Ningrum.

Luka Hati Mak Ningrum.
Bab 29


__ADS_3

Sampai kapan aku akan terus dibuat kesal oleh Ibu aku sendiri. Tetapi walaupun bagaimana Ibu Arin adalah orang tua yang melahirkan aku. Pasalnya di kediaman Mak Ningrum. Ibu sengaja mengulur-ulur waktu, padahal aku ingin cepat bertemu Ayah.


"Sebentar Jesi, Ibu sama sekali belum istirahat loh. Lagian kan, di rumah sakit Ayah kamu sudah ada Ningrum yang menemani." Ujarnya.


Benar juga sih apa yang dikatakan Ibu. Aku menurut saja, lalu merebahkan tubuhku di kursi panjang. Memang seharusnya aku istirahat juga. Toh, Ayah sudah ada Mak yang menemani aku menjadi lebih tenang. Lagi pula aku akan memberi waktu Mak dan Ayah ngobrol berdua.


Siang harinya Ibu mengajak aku berangkat ke rumah sakit. Dalam perjalanan ke ruang rawat Ayah, bibirku tak hentinya tersenyum. Betapa tidak, Ibu kelihatannya sudah berdamai dengan Mak Ningrum dan turut menjenguk Ayah pula.


Namun, betapa terkejutnya aku ketika tiba di dalam ruangan, ternyata Ayah tidak ada di kamar. "Bu, Ayah kemana?" Aku kebingungan mencari ke kamar mandi.


"Lah, Ibu nggak tahu, kamu yakin, jika Ayah kamu di rawat di ruangan ini?" Ibu balik bertanya.


"Yakin Bu." Jawabku seraya mencari barang-barang Ayah tidak ada di kamar. "Sepertinya Ayah di pindahkan Bu, tapi ke ruang mana." Aku panik sendiri.


"Pasti ini kerjaan Ningrum Jes, siapa lagi." Tuduh Ibu.


"Masa Mak memindahkan Ayah, terus apa maksudnya." Aku tidak percaya.


"Kamu ini memang polos atau apa, Jes? Sudah pastilah! Ningrum ingin menguasai harta Ayah kamu, makanya Dia menyembunyikan Ayahmu." Tutur Ibu panjang lebar. Intinya menjatuhkan Mak Ningrum.


Aku menanyakan ke pihak rumah sakit, tetapi tidak mengetahui keberadaan Ayah. Sungguh aneh memang. Tetapi aku berpikir positif, Ayah pasti aman bersama Mak Ningrum.


"Kami memutuskan untuk pulang mengendarai mobil masing-masing, tetapi kali ini ke rumah Ayah. Begitu tiba di depan pagar pintu gerbang di gembok dari dalam. Beberapa kali aku memencet bel, namun tidak ada yang membuka.


Brak! Brak! Brak!


4 koper di lempar dari dalam, keluar gerbang. "Ada apa ini Bu?" Tanyaku kaget. Pasalnya ketika aku buka koper isinya baju aku dan baju Ibu.


"Ini pasti kelakuan Ayah dan Ningrum Jes, mereka segaja ingin mengusir kita dengan cara seperti ini." Kata Ibu.


"Tidak mungkin!" Bantahku. Jika Mak Ningrum ingin mengusir aku masuk akal, tetapi Ayah? Aku tidak percaya.

__ADS_1


"Kamu ini mudah sekali di bodohi keluguan Ningrum Jes."


"Lalu apa yang akan kita lakukan Bu?" Tanyaku bingung.


"Jika mereka bisa berbuat licik, kita jangan kalah licik Jes. Ayo, masukkan koper ini ke mobil." Titah Ibu. Aku tidak banyak tanya lagi, menurut saja. Aku pikir Ibu ingin membawa aku ke apartemen miliknya, tetapi justru ke rumah Emak.


"Kenapa kita kesini Bu, aku tidak mau. Ini bukan hak kita." Tolakku keukeuh.


"Kata siapa ini bukan hak kamu Jes. Rumah ini Ayah kamu yang beli, berarti punya kamu juga." Dengan segala cara Ibu membujuk aku.


"Apa tidak lebih baik, kita ke apartemen Ibu saja." Saranku. Pasalnya Ibu kemarin sempat mengajak aku tinggal di apartemen.


"Apartemen nya sudah Ibu jual." Jawab Ibu lalu membuka bagasi minta tukang ojek mengantar koper-koper. Lagi-lagi aku menurut saja, numpang ojek yang lain membuntuti Ibu.


Tiba di rumah Mak, ternyata ada seorang wanita yang berpakaian sama dengan Emak. Yakni kurang bahan.


"Keluarkan baju-baju di lemari ini, dan juga yang di lemari lantai atas." Perintah Ibu kepada wanita itu, agar mengekuarkan pakaian Mak lalu mengganti milik Ibu.


Namun bukan Ibu, jika mau mendengar kata-kata orang lain. Aku membiarkan saja wanita suruhan Ibu memindahkan pakaian.


Malam itu aku menginap di rumah Mak. Namun, tidak bisa tidur. Entah mengapa batinku perang antara percaya dan tidak percaya jika Mak akan setega itu. Tetapi nyatanya setelah Mak Ningrum ke rumah sakit Ayah hilang.


Keesokan harinya dengan uang tabungan aku yang selalu di transfer Ayah ketika masih kerja dulu. Aku menyewa apartemen untuk satu bulan. Paling tidak aku merasa tenang.


Aku selalu di ajari Ayah dan almarhum Nenek. "Jangan pernah iri dengan apa yang orang lain miliki, dan jangan mengambil yang bukan hak kamu," Kata Nenek masih segar dalam ingatan.


Hari minggu itu juga aku mendapat apartemen lalu menyewa selama satu bulan, karena hanya cukup sampai sebulan uang simpanan yang aku miliki. Tentu aku menyisakan untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah sebelum Ayah sembuh dan aku tahu keberadaannya.


Aku pun akhirnya tinggal di apartemen tentu lebih tenang ketika belajar dan tidur. Jika kangen Ibu, sesekali aku menjenguk. Namun tidak pernah lama karena aku sering memergoki para wanita yang sedang merokok bahkan mabuk di rumah Emak.


"Astagfirullah... Ibu! ini kan rumah orang lain, setidaknya hormati pemiliknya, kek," Sungutku. Tiap kali mengunjungi Ibu, ujung-ujungnya kami bertengkar.

__ADS_1


Aku semakin tidak suka dengan kelakuan Ibu. Mengapa Ibu yang sudah lebih tua dari Mak Ningrum, tidak mau berubah.


Aku pusing juga melihat rumah Emak tidak pernah di bereskan hingga berantakan. Sebenarnya aku gatal untuk membersihkan. Namun, jika lihat para wanita-wanita itu aku muak hingga lebih baik pergi.


Lebih baik waktu aku gunakan untuk belajar, karena sebentar lagi akan ujian kenaikan kelas tiga. Di samping itu aku menggunakan waktu senggang untuk mencari Ayah. Namun Ayah sama sekali tidak ada jejak. Tiap kali ke rumah Ayah gerbang di tutup rapat.


Hingga terakhir kali aku mengunjungi Ibu 5 hari yang lalu. Ibu memaksa aku untuk menginap. Aku pikir apa salahnya sekali-kali selain hari itu tidak ada teman Ibu. Kebetulan hari esok hari sabtu aku libur sekolah akupun akhirnya menginap. Niat hati hari minggu akan membereskan rumah Emak, tetapi nasip buruk menimpa aku. Tiba-tiba putri Emak datang, sungguh aku malu sekali, terpaksa aku berbohong jika Ayah dan Emak keluar kota.


Saat putri Emak ke kamar atas, aku takut dan bingung. Awalnya aku berniat menceritakan dengan jujur, tetapi Ibu marah dan mengajak aku pergi.


PoV Gayatri.


"Oh, jadi selama sebulan ini kamu tinggal di apartemen ini?" Tanyaku kepada Jesi. Setelah ia menceritakan semuanya.


"Iya Kak, jadi saya tidak tahu tentang sertifikat Kakak." Jawab Jesi sesekali menyusut air matanya.


"Saat ini kamu sudah mengetahui keburukan Ibu kamu. Tetapi itu hanya sedikit Dek." Arga menimpali.


"Maksud Kakak?" Tanya Jesi terkejut. Sepertinya anak ini memang tidak tahu apa-apa.


"Banyak sekali, catatan kejahatan yang di lakukan Ibu kamu. Jika kami melaporkan Ibu kamu ke pihak yang berwajib, apakah kamu bersedia memberi kesaksian?" Sambung Arga.


"Siap Kak." Lirih Jesi. Lalu menangis lagi. Aku kasihan sekali, ternyata begini nasip Jesi.


"Lalu kamu masih menyangka bahwa Emak, dan Bapak tinggal di rumah kamu?" Tanyaku. Aku sebenarnya sudah tidak tega mencecar Jesi, tetapi agar Jesi tahu apa yang dilakukan Ibunya.


"Aku percaya Kak, tetapi bagi aku tidak masalah, karena Emak sangat mencintai Ayah. Aku yakin, Emak pasti merawat Ayah dengan sungguh-sungguh." Jesi masih yakin seperti itu.


"Apa yang di katakan Ibu kamu jika Emak tinggal di rumah kamu itu bohong Jes, jika kamu ingin tahu yang sebenarnya, sekarang juga kamu ikut kami ke rumah Emak." Aku menutup pembicaraan.


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2