
"Kamu istirahat dulu ya." Titah Mas Arga ketika aku sudah direbahkan di ranjang.
"Iya," Aku mengangguk, tidak menduga jika Arga akan menempelkan benda hangat di bibirku.
"Eumm..." Aku tidak lagi bisa bicara karena mulutku sudah bertautan. Hingga beberapa menit kemudian, suami baruku itu menyudahi lalu melangkah keluar. Di tengah pintu, ia mengulum senyum menatapku. Aku hanya bengong seraya memegangi bibirku yang masih terasa tebal. Aku memandangi hingga Mas Arga menutup pintu. Ya Allah. Aku tersenyum dan ternyata ciuman Mas Arga pengantar tidurku.
Sore harinya ketika membuka mata. Aku terkejut segera bangun dari tidur karena mendengar gemericik air. Siapa yang masuk ke kamarku?Belum hilang rasa terkejut mendengar suara guyuran air di kamar mandi, sudah dikejutkan lagi karena aku mengenakan gaun. Segera aku duduk, memulihkan kesadaran, ternyata aku baru saja menikah.
"Sudah bangun ya?" Tanya Arga tiba-tiba sudah sampai di depanku. Hanya mengenakan handuk yang menutup perut ke bawah. Astagfirullah, dadanya yang kuning langsat itu menodai penglihatan aku.
"Sudah melek begini berarti sudah bangun lah." Kataku lalu berdiri menutup rasa gugup. Walau sebenarnya ingin segera mandi juga.
"Isriku judes amat..." Arga tiba-tiba memelukku dari belakang. Aroma sabun dan sampoo di tambah lagi pasta gigi membuat mataku terpejam.
Seketika aku melepas tanganya di perutku lalu balik badan. "Darimana Mas dapat handuk?" Aku baru sadar. Padahal Arga datang kesini tidak membawa pakaian.
"Pinjam sama Bima, soalnya mau membangunkan kamu pulas sekali, sekalian pinjam ini sama Bima," Arga menunjukan kaos.
Tidak menyahut lagi, aku segera ke kamar mandi. Membuka gaun kemudian mengguyur tubuhku terasa segar.
20 menit kemudian, aku segera mengenakan kimono dengan percaya diri membuka lemari ambil baju ganti.
"Eheeemm..." Suara berat membuatku terlonjak kaget, aku menoleh cepat. Tidak ingat jika di dalam kamar ada Arga. Mengapa aku mendadak amnesia?
"Mas ngapain disitu?" Tanyaku asal. Padahal aku tahu jika Arga sedang tiduran sambil memainkan ponsel. Lagi pula apa salahnya jika dia tidur di kamarku. Bukankah ia memang sudah menjadi suamiku.
"Bobo," Jawabnya mengulum senyum. "Sini dong bobo." Mas Arga menata bantal.
__ADS_1
"Sudah bobo lama, mendingan Mas keluar dulu aku mau pakai baju." Usirku.
"Pakai baju saja, memang apa salahnya, aku kan suami kamu." Jawabnya enteng.
Aku abaikan saja. Toh, pakai kimono kemudian ambil baju ganti. Terpaksa aku kembali ke kamar mandi memakai baju disana. Sebenarnya tidak ada masalah, tetapi aku masih malu anggota tubuhnya dilihat olehnya.
"Mas Arga sudah shalat ashar?" Tanyaku selesai ganti baju lalu menggunakan mukena. Jika belum aku ingin shalat di imami olehnya.
"Sudah... selesai mandi tadi."
"Nanti malam kita menginap di rumahku ya." Kata Arga setelah aku sudah selesai sholat. Lalu lungguh di depan cermin menyisir rambutku dan menggunakan wangi-wangian.
"Nanti malam Mas?" Aku segera menghampiri Mas Arga, duduk di ranjang.
"Iya lah, kita mau malam pertama di rumah," Ucapnya seraya menampakan gigi putihnya. Aku melengos saja, lalu mengajaknya ke bawah, perutku terasa lapar.
"Sudah pulang semua, kecuali Gendis. Dia jalan-jalan sore bersama keluarganya." Tutur Arga.
"Ratri... kamu sudah bangun, makan dulu gih, ajak suami kamu. Kalian belum makan siang loh."Titah Mama, beliau baru keluar dari kamarnya.
"Iya Ma," Jawabku.
"Ayo makan dulu Mas, kenapa sampai tidak makan siang?" Aku meliriknya. Sambil berjalan ke meja makan.
"Nungguin kamu tadi." Jawab Arga menarik kursi, kemudian duduk. Inilah saatnya aku mengambilkan nasi yang pertama kali untuk suami aku.
"Kita makan sepiring berdua saja," Arga menahan tanganku, ketika aku hendak ambil piring untukku sendiri. Aku menurut saja. Kami makan berdua, tidak berhentinya tersenyum hingga makanan habis.
__ADS_1
Siang berganti malam, sehari sudah aku menjadi istri Arga. Di dalam kamar yang tidak sebesar kamarku kini aku berada. Aku memindai sekeliling, kamar ini sangat rapi walaupun kamar pria.
"Kamarku kecil kan, tidak seperti kamar kamu. Beginilah keadaan suami kamu." Kata Arga merendah. Masih seperti biasa rupanya suamiku ini masih merasa inscure.
Mendengar ucapan Arga, aku mendelik gusar lalu berdiri di depan jendela kamar. Melihat gemerlapnya lampu-lampu di sekitar perumahan. Mas Arga pun menyusul berdiri di sampingku. Mungkin memang sudah saatnya aku berkata jujur kepada Arga apa yang aku pikirkan.
"Emas itu kenapa sih! Kalau nggak selalu merendah di depan aku?!" Sungutku.
"Aku pikir masalah kemarin itu sudah selesai, tetapi nyatanya Mas Arga masih membahas masalah harta terus." Aku geleng-geleng kepala. Mas Arga tidak menjawab. Hanya menopang dagu dengan siku di tengah jendela.
"Kamar ini memang kecil Mas, tetapi bukan harta yang membuat hatiku tergila-gila sama Mas. Karena aku yakin, jika Mas Arga adalah jodohku. Pria baik yang pernah aku temui. Aku juga bangga mempunya suami seperti Mas Arga. Bukanya aku sudah sering berkata jika aku salut dengan kerja keras Mas Arga. Hingga mendapatkan semua ini tanpa campur tangan orang lain." Aku menoleh Arga rupanya posisinya tidak berubah.
"Asal Mas tahu, kenapa aku memilih tinggal bersama Mak Ningrum? Bukan tinggal di rumah mewah Papa. Karena rumah yang aku tiduri tadi siang itu milik Gendis, bukan miliku. Aku memang anak Papa Daniswara tetapi aku hanya anak biologisnya. Keluarga aku yang sesungguhnya adalah Mak Ningrum."
"Mas kan tahu, aku ini anak diluar nikah dan tidak ada hak untuk mewarisi kekayaan Papa," Jawabku. Aku harus menjelaskan kepada Arga. Agar Arga tidak menganggap bahwa aku ini orang kaya dan merasa kecil di hadapanku.
"Tetapi kamu kan diberi perusahaan sama Papa kamu Tri." Sahut Arga.
"Mas, kalau aku saat ini mengelola perusahaan Papa itu, hanya karena aku ingin membantu. Jujur Mas, selama ini aku tidak menggunakan uang Papa. Untuk kebutuhan aku tanpa Papa tahu, aku hanya ambil selayaknya gaji pimpinan perusahaan tidak lebih. Aku ingin berkata kepada Papa tetapi nanti, jika aku sudah berhasil wujudkan impian Papa mengembangkan perusahaan miliknya."
"Dan jika aku mengusulkan Mas Arga agar menggabungkan usaha Mas dengan perusahaan Papa. Tentu, usaha Mas akan cepat maju. Produk-produk milik Mas akan cepat dikenal dan diminati. Karena perusahaan Papa sudah terkenal." Tuturku panjang sampai lelah. Semua ini aku katakan agar suamiku tidak terus mempermalahkan kekayaan yang memang bukan milikku.
"Okay..." Jawab Mas Arga, manggut-mangut, mungkin dia mulai mengerti.
"Satu lagi Mas. Saham Mas Arga tetap dipisahkan, karena suatu saat nanti aku akan mengembalikan perusahaan itu kepada beliau. Dan Mas Arga yang akan menghidupi aku dan anak kita nanti." Aku menjelaskan.
"Jadi... istriku sudah siap punya anak." Mas Arga terkekeh. Tanpa aba-aba menggendong aku ke ranjang yang pas untuk kami tidur berdua.
__ADS_1
...~Bersambung~...