
Melihat keadaan Ayah sungguh menyedihkan. Aku bisikan kata-kata yang membuat Ayah senang agar Ayah segera sadar. Malam ini aku menginap di rumah sakit ketika subuh aku memutuskan pulang, karena harus sekolah.
Jam 5 pagi aku tiba di rumah bersamaan dengan Ibu ternyata baru pulang juga. Aku membiarkan Ibu memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Sementara aku memilih parkir di luar, karena akan aku bawa ke sekolah.
"Darimana kamu Jesi?!" Tanya Ibu ketus, mengejar aku yang sudah masuk ke rumah lebih dulu.
"Dari rumah sakit, Bu. Ayah kecelakaan." Jawabku. Kami sama-sama naik tangga. Bau alkohol dari hembusan napas Ibu mengganggu penciuman aku. Aku hanya bisa istigfar, ternyata Ibu tidak hanya perokok tetapi juga pemabuk.
"Kenapa Ayahmu?" Ibu memelankan suaranya.
"Hisks-hisks Ayah tabrakan Bu, beliau kritis di rumah sakit." Aku menuturkan keadaan Ayah, tetapi Ibu cuek saja.
"Tetapi kamu tidak harus menunggu sampai malam juga Jes, nanti kan harus ke sekolah." Ibu rupanya keberatan. Bukan menenangkan aku, Ibu malah menambah pikiran aku menjadi semakin ruwet.
"Walaupun Jesi di rumah, mana bisa tenang, Bu, sedangkan keadaan Ayah menyedihkan." Jawabku tidak habis pikir. Ternyata begini Ibu kandung aku. Semarah apapun dengan Ayah seharusnya punya rasa kasihan tetapi ini tidak.
Aku meninggalkan Ibu ke kamar dengan perasaan kesal. Yang pertama aku lakukan shalat subuh, kemudian mandi. Sebelum berangkat sekolah, aku ke kamar Ibu rupanya sudah tiduran.
"Bu, nanti tolong menjenguk Ayah ya." Pintaku. Jika bukan karena harus sekolah tentu aku tidak mau meninggalkan Ayah.
"Ibu nggak bisa! Capek!" Jawabnya. Tangannya menarik selimut.
"Ibu kok tega sih!" Aku menangis, menerima kenyataan bahwa Ibu tidak punya rasa kasihan.
"Kenapa kamu marah sama Ibu?! Siapa suruh Ayahmu tidak hati-hati. Kenapa tidak mati saja sekalian!" Ucapan Ibu membuat hatiku sakit.
"Ibu bukan hanya tega! Tetapi tidak punya hati juga! Ibu jangan sombong, karena bisa mencari uang sendiri lantas tidak menghargai Ayah!" Aku emosi, sampai lupa jika itu Ibuku.
"Apa kamu bilang Jes! Ibu sakit hati sama Ayah kamu, saat masih menjadi istri Ayahmu, Ibu tidak pernah diberi nafkah. Enak saja! Giliran sakit Ibu kamu suruh menungguinya!" Ibu marah besar.
"Tetapi sekarang Ibu menikmati fasilitas Ayah kan? Yang Ibu pikirkan hanya uang-uang, dan uang!" Jawabku tidak mau kalah. Karena tidak mau menambah dosa. Pasalnya ribut dengan Ibu. Aku memilih mengemasi pakaian dan juga buku-buku. Semua peralatan aku masukkan ke dalam mobil.
__ADS_1
Mulai saat itu setiap pulang sekolah aku bukan pulang ke rumah, melainkan ke rumah sakit menunggu Ayah. Jika ingin ganti baju aku ambil ke mobil, anggap saja mobil Ayah adalah rumahku.
Tiiga hari kemudian doa-doa aku terjawab. Ayah sadar dari koma.
"Ayah... alhamdulillah..." Aku peluk tubuh Ayah yang hanya merespon dengan senyuman. Segera aku hubungi dokter memberi tahu keadaan Ayah. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, Ayah dipindahkan ke ruang rawat.
"Ayah... ini barang-barang milik Ayah, isi atm Ayah sudah berkurang. Karena untuk membayar biaya administrasi." Paparku. Menunjukkan surat-surat penting milik Ayah.
"Tidak apa-apa... terimakasih sayang..." Lirih Ayah. Lalu aku selipkan dompet Ayah di bawah bantal di sampingnya. Jika Ayah membutuhkan uang untuk membayar sesuatu ketika aku sekolah sudah aku siapkan uang tunai.
Aku rawat Ayah, menyuapi, menyeka dan mengganti pakaian.
Hari ke empat di rumah sakit, pagi hari selesai menyeka tubuh Ayah. Aku pamit sarapan di bawah. Karena hari ini, hari sabtu. Aku tidak akan meninggalkan Ayah.
"Jes..." Suara Familiar mengejutkan aku. Ternyata Ibu sudah duduk di Cafe dimana aku sedang menyantap roti.
"Ibu..." Aku meletakkan roti yang sudah aku makan separuh di atas cawan.
"Ayah sudah sadar dari koma Bu." Jawabku singkat.
"Kamu kenapa tidak pulang? Pasti capek sekolah sambil merawat Ayahmu."
"Capek bagiku sudah biasa Bu, yang penting Ayah cepat sembuh." Aku lalu menyeruput air mineral. Roti yang aku makan rasanya masih menyangkut di tenggorokan.
"Kamu sudah memberi tahu Ningrum?" Tanya Ibu. Aku menggeleng, karena terlalu sibuk sampai lupa charger handphone Ayah.
"Agar kamu tidak terlau capek, lebih baik kita datangi Ningrum ke rumahnya saja. Kita beri tahu jika Ayah kamu kecelakaan." Saran Ibu. Aku tatap Ibu darimana Ibu tahu alamat Ningrum.
"Ibu tahu alamat Emak?"
"Tahu, sekarang juga kita berangkat ke rumahnya, mumpung masih pagi, nanti kalau siang keburu pergi." Ujar Ibu tidak sabar.
__ADS_1
Aku mengangguk lalu ingin pamit Ayah dulu sekalian buang air. Rasanya perutku mulas sudah aku rasakan sejak bangun tidur tadi. Tetapi Ibu melarang. "Toh hanya sebentar, disana nanti kamu bisa numpang toilet Ningrum," Ujarnya. Tidak berpikir apapun aku berangkat, tetapi menggunakan mobil Ibu. Ketika tiba di gang kami turun kemudian naik ojek.
Aku tersenyum lega kala tiba di rumah Mak Ningrum. Beliu sedang jualan di depan rumah."
"Jesi." Sapa Emak tersenyum kepadaku. Aku membalas senyum Emak lalu salim tangan beliau.
"Kamu apa kabar sayang?"
"Baik Mak," Jawabku ketika aku ingin bicara tentang Ayah kepada Mak, Ibu mengedipkan mata.
"Jesi... katanya mau numpang toilet," Potong Ibu.
Aku mengangguk. "Mak, Jesi numpang kamar mandi, boleh?" Tanyaku malu malu. Masa iya baru pertama ke rumah Mak langsung ke kamar mandi.
"Boleh dong sayang..." Jawab Mak tulus.
Aku meninggalkan Emak dan Ibu, samar-samar Ibu memberi tahu kabar Ayah. Lalu perbincangan mereka pun tak terdengar lagi, karena aku sudah menutup pintu kamar mandi.
Di kamar mandi agak lama karena ternyata aku sedang haid, mungkin karena terlalu stres hingga maju cepat. Pantas saja perut aku mulas sejak bangun tidur. Dengan lancangnya aku ambil pembalut di lemari kecil yang nempel di tembok kamar mandi. Nanti kalau sudah keluar baru bilang Emak.
"Bu, Emak kemana?" Tanyaku ketika tiba di ruang tamu tidak ada Emak. Sementara Ibu duduk di kursi melipat kaki sambil menghisap rokok.
"Ningrum sudah berangkat lebih dulu Jes, sudah tidak sabar ingin segera melihat kondisi Ayahmu. Ini kunci rumahnya disuruh pegang kita." Jawab Ibu. Kepulan asap dari mulut dan hitung Ibu menyebar, mengganggu pernapasan aku. Aku agak menjauh.
"Ya Allah... kenapa tidak di ajak bareng kita sih Bu." Sesalku tentu kasihan Emak.
"Ibu juga maunya begitu Jes, tetapi Ningrum sudah tidak sabar. Lagian kamu lama banget di kamar mandi nya," Ibu menyalahkan aku.
"Kalau gitu ayo, kita susul Mak Ningrum, Bu."
"Nanti dulu apa Jes, Ibu habiskan rokok dulu." Jawab Ibu dengan santainya. Aku menjatuhkan bokongku di kursi.
__ADS_1
...~Bersambung~...