
"Masuk saja Ga." Titah papa ketika Arga hanya berdiri di depan pintu. Padahal sudah bertahun-tahun Arga bekerja sama papa tetapi masih sungkan.
"Baik Tuan." Arga mengangguk santun seraya berjalan menghampiri papa. Namun, Arga tidak mau duduk padahal ada sofa.
"Duduk Ga." Ujar papa lalu papa pindah ke sofa di ikuti Arga. Seperti bawahan pada umumnya, Arga tampak menunggu perintah. Aku hanya memperhatikan interaksi dua pria berbeda usia itu tanpa pindah posisi.
"Sekarang ada tugas lagi buat kamu Ga." Papa memerintahkan agar Arga bisa menyusup ke dalam rumah Agus untuk mencari sertifikat yang hilang.
Aku membiarkan Arga dan papa bicara kemudian ke halaman menemui mama, tetapi kata bibi mama sedang mandi. Seperti biasa ketika aku datang bibi sibuk membuatkan minuman.
"Tolong sekalian untuk Mas Arga ya Bi." Pintaku. Jika biasanya setiap ke rumah mama aku hanya minum air putih, kali ini ingin minum yang dingin dan manis.
"Baik Non"
Sambil menunggu bibi, aku duduk di kursi meja makan. Memikirkan pria yang akan dijodohkan papa untukku. Jujur walaupun aku tidak cantik seperti Gendis maupun Dewi, tetapi aku punya kriteria sendiri untuk memilih jodoh. Syukur sesuai dengan harapan. Namun semuanya kembali kepada takdir. Manusiawi hanya bisa berdoa dan berusaha, tentu Allah yang menentukan.
"Ini minumannya Non." Bibi meletakkan ice capucino di depanku.
"Terimakasih Bi." Segera aku teguk tampilan minuman putih coklat itu menyegarkan tenggorokan.
"Sama-sama Non." Bibi pun mengantarkan minuman papa dan Arga.
15 menit kemudian, Arga sudah berdiri di sampingku menekan meja makan. Rupanya ia sudah selesai lalu mengajak aku pulang. Tentu aku tidak mau, karena membawa motor sendiri.
"Motor kamu ditinggal saja." Saran Arga. Lagi-lagi aku menolak karena di rumah Emak sangat membutuhkan motor. "Ya sudah, motor saya saja yang di tinggal disini." Arga mengalah memilih meninggalkan motornya lalu meminta kunci memilih membawa motor milikku.
"Ayo naik." Pinta Arga agar aku membonceng.
"Kamu kenapa tadi, mau saya ajak kesini bareng kok malah ngibrit duluan." Kata Arga seraya memberikan helm. Aku hanya menggeleng lalu mengenakan helm. "Dasar tidak peka" Batinku. Aku segera naik ke atas motor kemudian berjalan. Di atas motor kami saling diam hingga ketika tiba di lampu merah Arga menghentikan motornya.
Aku menoleh ke kanan, tampak seorang wanita yang tidak asing berada di dalam mobil tepat di sebelah motorku. Wanita itu tampak sedang asik nyemil makanan sambil memegang stir.
__ADS_1
"Mas." Aku tepuk pundak Arga.
"Ada apa?" Arga menatap aku dari kaca spion.
"Mas lihat wanita di dalam mobil itu deh." Kataku.
"Sudah lihat... terus kenapa?"
"Ikuti mobil itu Mas, itu mobil Jesi."
"Masa sih." Arga membuka helm bagian depan, ia tatap wanita itu lekat mungkin agar lebih jelas.
Plak!
Aku tepuk bahu Arga, agar jangan melihat sampai segitunya. Aku hawatir Jesi curiga jika kami akan mengikutinya. Arga tersenyum lalu menutup helm nya lagi.
"Siap." Jawab Arga, sedetik kemudian lampu merah berganti hijau. Mas Arga sengaja menunggu mobil Jesi berjalan lebih dulu, kemudian membuntuti. Jesi mengemudi dengan kecepatan sedang memudahkan Mas Arga mengikutinya hingga tiba di salah satu bangunan berlantai puluhan.
"Ada." Tidak banyak tanya Arga memberikan sapu tangan, yang ia ambil dari saku.
"Bau keringat nggak." Candaku seraya membentang sapu tangan berwarna coklat aroma minyak wangi menghipnotisku.
"Ngga kok cuma bekas mengelap ingus." Ujarnya terkekeh.
"Jorok!" Sungutku sebelum menutup mulut dengan sapu tangan. Agar Jesi tidak mengenali aku.
"Iih... sapu tangan saya kena ludah kamu."
"Nanti aku ganti 1 lusin. Ayo, nanti Jesi keburu jauh." Aku tutup pembicaraan, lalu berjalan lambat mengamati mobil lebih dekat. Mataku dengan jelas melihat Jesi turun dari mobil, tangannya menenteng kantong plasti putih bertuliskan salah satu minimarket.
"Dia tinggal di apartemen itu." Kata Arga. Aku mengangguk lalu berjalan cepat ketika Jesi sudah memencet lift entah nomor berapa kami segera menyusul. Aku berdiri di belakangnya ternyata nomor tujuh terlihat di tombol. Satu menit kemudian kami masuk lift setelah terbuka. Di dalam kami hanya bertiga tidak ada yang bersuara.
__ADS_1
Mudah-mudahan Jesi tidak mengenali aku sebelum aku tahu dimana kamar Jesi. Tiba di lantai tujuh kami turun, kali ini aku dan Arga memelankan langkah membiarkan Jesi berjalan lebih dulu.
"Mas, ternyata Jesi tinggal disini, terus apa yang akan kita lakukan?" Tanyaku berbisik.
"Kita pencet bel saja." Saran Arga. Belum aku jawab, Arga sudah menekan benda bulat di sebelah kanan pintu. Tidak lama kemudian pintu dibuka.
"Anda bukan yang di lift tadi ya?" Tanya Jesi terkejut. Rupanya ia curiga jika kami ikuti. Jesi hendak menutup pintu tanpa ia duga aku segera masuk.
"Eh, mau apa Anda?" Jesinta semakin terkejut.
Aku segera membuka sapu tangan yang menutup mulutku.
"Ka-kakak." Pekik Jesi menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ia tidak menyangka jika yang berada di depannya adalah aku. Yang rumah nya tempo hari dia acak-acak.
"Kenapa kamu kaget Jesi?! Dunia memang sempit kan! Sampai lubang semut pun kamu akan saya cari. Karena kamu wanita yang tidak punya adab! Meniduri kamar saya tanpa permisi. Kamu pindahkan baju saya ke dalam kardus. Kamu biarkan rumah Emak berantakan tidak karuan." Aku maki-maki Jesi. Namun tidak satu kata pun keluar dari mulutnya.
"Pepatah mengatakan. Buah jatuh tidak jauh dari pohon. Itu kamu Jes, bukanya kamu ini anak sekolahan, tahu mana yang baik. Tetapi kamu meniru kelakuan Ibu kamu!"
"Coba misalnya kamu di posisi saya, kamar kamu saya acak-acak apa kamu akan terima Jesi!" Gertakku geram.
Jesi menunduk, ia remas kedua telapak tangannya, entah karena takut, atau merasa bersalah hanya Jesi yang tahu. Arga menyentuh tanganku agar aku menyudahi omelanku, tetapi rasanya aku belum puas mengeluarkan kekesalan yang sudah aku tahan hampir sepekan.
"Boleh kami duduk Dek?" Tanya Arga lembut. Jesi mengangguk. Kami bertiga duduk di lantai karena Jesi pun menjatuhkan bokongnya di tempat itu.
"Dek, saya tahu kalau kamu anak baik. Sekarang tolong ceritakan kepada kami. Pasti kamu tahu kan, kejahatan apa saja yang dilakukan Ibu kamu?" Tanya Arga lembut, menanyakan masalah sertifikat tanah Emak.
Jesi tampak mengusap air mata, kesedihan tertangkap di wajahnya. Kami saling diam menunggu apa yang akan diceritakan Jesi. Aku sebenarnya kasihan juga. Ibunya yang jahat tetapi kenapa aku harus menghakimi anak ini. Mudah-mudahan tuduhanku tentang Jesi salah.
"Jesi, ceritakan saja ketika kamu dan Ibumu membereskan lemari. Apakah kamu memindahkan sertifikat Emak?" Tanyaku kali ini aku bersikap lebih lunak. "Maaf, jika aku terlalu kasar sama kamu. Sekarang katakan dengan jujur, Bu Arin mengajak kamu tinggal di rumah Emak hingga satu bulan pasti ada maksud dan tujuan kan?" Aku menyambung pertanyaan.
"Hu huuuu..." Tangis Jesinta pecah.
__ADS_1
...~Bersambung~...