
PoV Arga
"Lee... mbok ya kamu ini cepat cari jodoh to! Mau sampai kapan kamu melajang terus, mau nunggu rambutmu ini ubanan?" Tanya Ibu, menjenggut rambutku. Namun tidak sakit. Ibu baru menginap semalam, tetapi sudah menanyakan masalah ini berulang kali. Pagi ini kami baru selesai sarapan sebelum aku berangkat kerja sudah mendapat omelan.
"Belum kepikiran Bu, aku belum punya uang cukup untuk menikah," Aku beralasan, walaupun memang benar begitu.
"Kalau menunggu cukup, tidak sedikit orang yang merasa cukup Lee. Seperti kamu ini contohnya. Nanti Bu, kalau sudah lulus kuliah. Nanti Bu, kalau sudah lunas motor. Nanti Bu, kalau cicilan rumah sudah lunas, dan sekarang. Nanti Bu, tabungan aku belum cukup. Cek! Arga... Arga! Mau sampai kapan kamu beralasan?" Cecar Ibu seperti rem blong, pagi-pagi kepalaku sudah nyut-nyutan. Duh-duh, harus cepat kabur cari obat puyeng kalau begini.
"Iya Ibu... nanti malam kita bahas lagi sekarang aku mau berangkat dulu." Aku segera salim tangan Ibu, kemudian cepat keluar menyalakan motor lalu pergi.
Tiba di kantor, aku harus mengikuti Tuan kesana-kemari. Hingga sore sebelum pulang, aku mengantar Tuan Daniswara ke kediaman beliu. Namun, baru duduk sebentar di ruang kerja, dikejutkan dengan pertengkaran Tuan Daniswara dan Mak Ningrum.
"Rum, semua bisa dibicarakan baik-baik jangan emosi." Kata Banuwati lembut. Jujur aku pusing mendengar pertengkaran orang tua Ratri. Tetapi apa yang bisa aku lakukan? Aku hanya orang luar tidak boleh ikut campur dengan urusan boss.
"Maaf Mbak Wati, tetapi saya kesal jika suami Mbak mengatakan demikian." Kata Mak Ningrum sambil menyusut air matanya.
"Rum, dan Juga Tuan Daniswara, alangkah baiknya kita bicarakan dengan kepala dingin. Maaf, saya hanya orang luar tidak seharusnya ikut campur, tetapi Ratri juga anak saya." Kata Pak Agus bijak.
"Betul Pak Agus, dan kamu Ningrum, masalah ini biar nanti saya yang akan bicarakan dengan suami saya." Nyonya Wati menyudahi pertengkaran.
"Maaf Mbak Wati jika kedatangan saya membuat keributan. Kalau begitu kami minta pamit." Kata Mak Ningrum, segera mengait lengan Pak Agus.
"Loh-loh, kok terburu-buru, nanti makan malam dulu Rum." Cegah Banuwati.
"Lain kali saja Mbak." Tolak Mak Ningrum halus tersenyum dipaksakan, kemudian keluar setelah menjabat tangan Nyonya Wati.
__ADS_1
Aku segera menyadak lengan Pak Agus mengatar beliau ke mobil yang diparkir di pinggir jalan. Ketika sampai di pintu pagar, Pak Agus berhenti memegang pundakku.
"Arga, apa kamu akan merelakan begitu saja, jika Ratri menikah dengan pria pilihan Tuan Daniswara?" Pertanyaan Pak Agus mengejutkan aku, ketika aku hendak menuju mobil.
"Kenapa tidak rela Pak Agus, saya tentu tidak punya hak untuk tidak merelakan Ratri menikah, saya ini hanya asisten Tuan Daniswara," Jawabku.
"Yakin, kamu dengan Ratri tidak saling mencintai?" Tanya Pak Agus menunggu jawabanku.
Aku tersenyum kecut "Pak Agus, mana mungkin saya berani mencintai pengusaha sukses seperti Ratri." Jawabku cepat. Pak Agus menatapku seolah tidak percaya.
"Arga, jika kamu memang mencintai Ratri perjuangkan Nak, sebelum kamu nanti menyesal," Pak Agus menutup pembicaraan lalu menyusul Mak Ningrum.
Aku duduk di pos satpam seorang diri, mentertawakan nasehat Pak Agus. Pak Agus ini ada-ada saja. Mungkin ada yang ingin tahu siapa aku, karena aku belum memperkenalkan diri.
Aku anak terakhir dari tiga bersaudara, kedua kakaku masing-masing sudah menikah dan sibuk dengan urusan keluarga masing-masing.
Singkat cerita, saat itu aku sekolah sambil bekerja mencuci piring di restoran ketika pulang sekolah. Bukan pekerjaan yang mudah bagi aku. Harus membagi waktu antara pekerjaan dan sekolah kedua-duanya sama pentingnya.
Begitulah karena doa dan dukungan Ibu, ketiga ijazah bisa aku raih hingga untuk bekal aku ke Jakarta. Dengan membawa map turun naik angkutan aku mencari kerja. Hingga aku mendapat info jika perusahaan besar di Jakarta membutuhkan karyawan dan akupun bergerak cepat melamar pekerjaan di perusahaan Daniswara grup. Walaupun saat itu aku hanya di posisi office boy. Namun, aku bangga bisa transfer seperempat gajiku kepada Ibu untuk kebutuhan sehari-hari. Karena di Jakarta pun aku membutuhkan banyak biaya yang aku keluarkan. Untuk bayar kos, makan, dan menyisihkan uang sedikit hingga mengantarkan aku ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi yaitu kuliah malam.
Begitulah ini hanya sepenggal kisah pahit masa laluku, jika aku ceritakan semua akan panjang, banyak bab, jadi mana mungkin aku menuruti saran Pak Agus.
"Arga, Nyoya Banuwati memanggil kamu, saya cari kemana-mana ternyata Nak Arga ada disini to." Kata bibi, tiba-tiba sudah berada di depanku.
"Oh iya Bi." Aku segera keluar dari pos mengikuti bibi. Tiba di dalam rumah sangat sepi. "Memang Nyonya Banuwati dimana Bi?"
__ADS_1
"Di ruang kerja Tuan Daniswara Ga." Jawab bibi sambil membereskan cangkir bekas menyuguh tamu. Tanpa bertanya lagi, aku segera ke ruang kerja, tampak Nyonya sedang duduk di kursi yang biasa digunakan Tuan. Nyonya tampak termenung entah apa yang beliu pikirkan.
"Nyonya memanggil saya?" Tanyaku merasa aneh, karena tidak biasanya Nyonya memanggilku tanpa ada Tuan disebelahnya. Mungkinkah ada kaitanya dengan keributan tadi, entahlah.
"Duduk Arga." Kata Nyonya lalu membetulkan posisi duduknya.
"Terimakasih Nyonya,"
"Arga, apa kamu dengan Ratri ada hubungan?" Tanya Nyonya.
Aku mengangkat kepala karena kaget. "Tentu tidak Nyonya," Sahutku cepat.
"Lalu apakah kamu sudah punya calon istri, pacar, atau bahkan sudah tunangan?" Cecar Nyonya. Aku hanya diam saja.
Hadew... mimpi apa aku semalam, hingga hari ini semua menanyakan tentang jodoh. Apa mungkin jika nanti malam aku tidur juga akan di tanya oleh Mak Ningrum siapa jodoh aku.
"Arga, kok malah melamun sih."
"Tentu semuanya belum Nyonya." Jawabku memang begitu adanya. Ibu saat ini sampai datang ke Jakarta hanya ingin membujuk aku agar segera mencari pasangan.
"Sekarang saya mau tanya, jawab dengan jujur Arga, apakah kamu mencintai Ratri?" Tanya Nyonya persis pertanyaan yang di lontarkan Pak Agus.
"Tentu saya tidak pantas mencintai Ratri Nyonya." Jawabku bingung. Kenapa aku dicecar pertanyaan kanan kiri hingga aku bingung menjawab nya.
"Bukan itu yang saya tanyakan Arga! Saya ulangi sekali lagi. Apakah kamu mencintai putri saya?"
__ADS_1
...~Bersambung~...