
"Kalian jadi berangkat besok Nak?" Tanya Emak. Aku menatap mata Emak seperti belum ikhlas melepas kepergian aku.
"Iya Mak, kalau aku sudah sehat nanti, akan sering-sering menjenguk Emak." Jawabku agar Emak tenang. Biasanya Emak tidak seberat sekarang jika aku berangkat ke Surabaya. Tetapi kali ini berbeda, padahal aku sering bolak balik Jakarta Surabaya. Mungkin karena aku masih sakit, itu penyebabnya.
"Jangan risau Bu, saya akan menjaga Ratri." Janji Arga. Ternyata Arga tahu apa yang Emak pikirkan.
"Baik Nak Arga, saya percaya sama kamu bisa menjaga Ratri. Tetapi Emak bingung, bagaimana kalau nanti kontrol?" Emak rupanya merisaukan hal itu. Memang aku masih diwajibkan kontrol.
"Masalah itu saya sudah konsultasi langsung ke Dokter Bu, Ratri sekarang sudah bisa kontrol dimana saja." Potong Arga sebelum aku menjawab.
"Rum, Ratri sekarang sudah menikah. Itu artinya sudah menjadi tanggungjawab suaminya. Kita cukup mendoakan saja." Bapak pun menyambung obrolan.
"Baiklah, tadi Emak sudah bicara sama Mbok Sri. Biar Mbok ikut kamu kesana supaya kamu ada yang membantu." Tegas Emak.
"Terus... Emak siapa yang membantu?" Aku terkejut.
"Ada kok, Mak sudah mendapat gantinya Simbok, tetangga kita banyak yang mau bekerja." Jawaban Emak melegakan hatiku.
"Jangan khawatir Kak Ratri, ada aku juga kok, yang bantu Emak." Jesi menimpali.
"Iya deh." Aku mengalah. Bagus juga jika ada Mbok Sri di apartemen. Jadi ada yang memasak. Untuk cuci gosok biasanya aku menggunakan jasa loundry.
Malam ini aku menginap di rumah Emak, besok pagi-pagi akan berangkat dari sini. Di dalam kamar ketika mau tidur badanku terasa gatal-gatal.
"Kamu kenapa nggeliat-nggeliat gitu." Arga menatapku inten.
"Badanku gatal-gatal, tapi mau menggaruk tanganku nggak sampai." Aku gosok-gosokan badanku di ujung meja rias.
"Sini aku garuk," Mas Arga yang sudah lebih dulu rebahan di kasur melambaikan tangan. Aku menghampiri lalu duduk di ranjang membelakanginya. Mas Arga menyingkap baju piama ke atas. Badanku di usap-usap terasa geli.
"Oh, bentol merah ini, sepertinya digigit semut," Mas Arga menggaruk pelan hingga beberapa menit kemudian, bagian yang gatal di gigitnya.
"Auw, kok digigit sih?!" Aku merengut.
__ADS_1
"Soalnya aku cemburu, masa istriku digigit Semut." Ucapnya konyol. Aku hendak beranjak, tetapi Arga membuka piamaku dengan cara mengangkat ke atas seperti membuka kaos.
"Kok dibuka Mas." Aku terkesiap. Namun Arga justeru mendorong aku pelan ke atas ranjang hingga tidur terlentang. Arga menatapku lekat berada di atasku dengan menekan kedua tangan disisi kiri dan kanan tubuhku.
"Tadi malam kita menghabiskan waktu di rumah kita. Sekarang kita habiskan malam di rumah ini," Kata Arga, lalu menindih perutku. Hembusan nafasnya membuatku terlena dan terjadi lagi pertempuran di rumah Emak hingga kami ambruk setelah panah asmara suamiku tertancap.
Keesokan harinya kami kalang kabut, lagi-lagi kesiangan padahal jam 6 pagi harus sudah berangkat.
"Kok tumben ya, aku sampai kesiangan," Kata Arga saat sedang mengenakan kaos dan celana jins.
"Ini gara-gara Mas Arga, sekarang jadi sering kesiangan." Omelku ketika sedang mengikat rambut di depan cermin.
"Sudah... jangan ngomel-ngomel sekarang kita berangkat." Arga mendekat sambil membawa sesuatu dalam plastik terlihat dari cermin.
"Apa itu Mas?" Tanyaku tanpa menoleh. Mas Arga mengeluarkan sesuatu itu dari kantong plastik.
"Mulai sekarang kamu pakai kerudung." Tanpa banyak kata, Mas Arga memasang kerudung di kepalaku. Aku tatap wajahku di depan kaca tidak mengenali diriku sendiri.
"Ayo," Arga mengait tanganku keluar dari kamar.
"Sarapan dulu." Emak menatapku lekat, mungkin terkejut karena aku mengenakan kerudung bergo.
"Kami sarapan di pesawat saja Bu, sudah kesiangan." Arga yang menjawab.
"Ya sudah, hati-hati Nak." Emak memelukku menangis tergugu. Aku pun ikut menitikan air mata. Semoga tidak ada lagi derita yang menimpa Emak yang malang. Sudah cukup Emak merasakan kesedihan dan menahan sakit hati yang sudah Emak tahan sejak remaja dulu.
Pandanganku tertuju kepada Pak Agus, lalu aku berdiri di hadapannya setelah Emak melepas pelukanya.
"Pak Agus, saya berangkat, saya mohon jaga Emak." Ucapku.
"Jangan khawatir Ratri, kamu disana baik-baik ya." Pak Agus menepuk pundakku. Aku pun beralih kepada Jesi, rupanya anak itu ikut menangis.
"Jes, aku berangkat," Ucapku. Aku tepuk-tepuk pundaknya.
__ADS_1
"Iya Kak, jika kakak bertemu Dewi, tolong sampaikan salam aku untuknya" Pesan Jesi.
Aku mengangguk lalu berangkat diantar Jesi, Bapak, dan Emak, ke pinggir jalan. Disana sebuah mobil sudah menunggu. Dua sosok yang tidak asing membuka kaca tersenyum kepadaku beliau adalah Mama dan Papa.
Aku melambaikan tangan kepada Emak dan Bapak. Drama pagi pun berakhir bersamaan dengan Mama menutup kaca mobil.
"Kalian sudah saya belikan rumah di salah satu komplek. Begitu sampai Surabaya kalian langsung tinggal disana saja," Kata Papa ketika mobil sudah melaju.
"Maaf Pa, saya sudah terlanjur sewa apartemen, untuk saat ini kami akan langsung kesana saja." Tolak Arga. Mana mau Arga menempati rumah yang di belikan Papa. Aku sudah bisa menebak siapa Arga.
"Tidak bisa!" Paksa Papa.
"Papa... benar apa yang dikatakan Mas Arga. Mas Arga sudah melanjutkan sewa apartemen aku. Bahkan sudah transfer untuk satu tahun." Jawabku.
"Maksud Papa, rumah itu untuk hadiah pernikahan kalian." Mama menambahkan.
"Terimakasih Ma," Pungkasku. Kami sudah tiba di bandara tidak melanjukan obrolan tentang apartemen. Kami pun akhirnya berpisah dengan Mama dan Papa.
"Kasihan juga Papa ya Mas," Ucapku ketika kami sudah berada di dalam pesawat.
"Iya, tapi... aku ingin berjuang dari nol seperti ketika aku dulu datang ke Jakarta. Aku hanya butuh doa dan dukungan Istriku. Awalnya memang merangkak, berjalan tertatih-tatih, dan pada akhirnya aku bisa berlari." Arga mengusap kepalaku. Aku menoleh Arga tatapan kami saling bertemu.
"Terimakasih suamiku..." Aku rangkul Mas Arga senantiasa bersyukur mempunyai suamiku seperti dirinya. Semoga Arga tidak akan berubah sampai kapanpun.
"Mohon pasang sabuk pengaman." Terdengar pramugari mengingatkan dari depan. Mas Arga memasang sabuk di pinggangku, kemudian di pingangnya sendiri. Di pundaknya aku bersandar hingga terlelap, tidak terasa satu jam kemudian aku sudah tiba di Surabaya.
Selamat datang tempal tinggal aku yang baru. Mengukir cinta dan cita-cita bersama pria yang aku cintai.
...β€Tamatβ€...
"Terimakasih yang masih setia. Kisah Mak Ningrum sampai disini dulu ya.β€β€.
Besok, jangan lupa mampir cerita Dewi. Kalau sudah up bab baru pasti aku beri tahu disini.
__ADS_1
Salam sehat dan bahagia bersama keluarga. πππ