Luka Hati Mak Ningrum.

Luka Hati Mak Ningrum.
Bab 24


__ADS_3

PoV Gayatri.


Cobaan apa lagi yang menimpa Emak. Baru saja tersenyum sebentar sudah menangis lagi. Pasalnya sertifikat rumah peninggalan kakek yang sudah balik nama Emak dan almarhum paman kini lenyap.


"Coba kita cari lagi yang benar Mak." Kataku segera mengait lengan Emak yang sedang menangis mengadu ke kamar aku.


"Sudah Emak bongkar Ratri, tetapi tidak ada." Ucapnya di sela-sela isak tangis. Aku peluk pundaknya kami menuruni tangga menuju kamar Emak. Tiba di kamar tangis Emak mengejutkan Bapak.


"Kenapa Rum?" Pak Agus seketika berdiri hendak merangkul Emak. Namun beliau terjatuh. Mungkin Bapak lupa jika kakinya belum sempurna untuk berjalan.


"Hati-hati Pak," Aku bangunkan beliau bersama Emak lalu mendudukan di ranjang.


"Mas." Kata Emak menangis tergugu di samping Pak Agus. Namun, Emak tidak mampu berucap. Pak Agus memeluk pundak Emak lalu ia usap-usap. Tanpa bicara bapak menatap aku seolah bertanya ada apa?


"Sertifikat Emak hilang Pak," Jawabku.


"Kok bisa?"


Aku hanya menggeleng, sebenarnya bisa saja aku membelikan rumah Emak dua kali lebih besar dari ini. Tetapi bukan itu masalahnya. Karena aku pernah menawarinya pindah ke rumah yang jalanya lebih luas, tetapi bagi Emak rumah ini sangat bersejarah.


"Tri, kemarin kan kamu bilang Arin kemari, jagan-jangan... Dia pelakunya Nak." Tebak bapak.


"Kemungkinan Pak." Jawabku. Jika memang benar hilang sudah pasti Arin pelakunya siapa lagi. Aku tatap Emak dan bapak bergantian. Malang sekali nasip Emak. Baru tadi beliau tersenyum kini sudah menangis lagi. Ini gara-gara Arin! Aku harus membuat wanita itu membusuk di penjara.


Aku melanjutkan tujuan awal mencari ulang sertifikat itu, namun memang benar tidak ada.


"Mak, aku pergi sebentar ya," Pamitku.


"Kamu mau kemana?" Tanya Emak khawatir. Ia susut air matanya. Aku tidak menjawab, karena aku akan ke rumah papa minta beliu mengerahkan orang-orangnya menggrebek rumah Arin. Jika aku jujur kepada Emak, sudah pasti beliau tidak akan setuju.


"Pak, titip Emak, saya ada urusan sebentar," Aku salim tangan keduanya.


"Hati-hati Ratri?" Pesan Emak dan Bapak.


"Iya Pak, Mak." Ujarku kemudian berlalu.


Setelah memakai jaket dan sepatu aku ambil kunci motor. Sebelum masuk ke garasi suara motor berhenti di depan rumah. Aku menyipitkan mata kala seorang pria dan wanita turun dari motor tersebut.


"Mas Arga." Gumamku setelah ia buka helm lalu menyangkukan di motor. Pandanganku beralih kepada wanita yang membonceng, belum melepas tangannya masih memegang jaket Arga. Tiba-tiba perasaanku aneh, kenapa aku tidak rela melihat wanita itu dekat dengan Arga. Wanita itu pun turun dari motor dan di bukakan helm oleh Mas Arga.

__ADS_1


Aahh... kenapa aku kesal sekali, mengapa ketika bersamaku selama 5 hari ini Arga tidak romantis seperti itu? Jangankan membukakan helm, jika aku ajak ngobrol hanya menjawab intinya saja. Tatapan aku belum beralih setelah helm terbuka gadis itu ternyata cantik sekali.


Ya Allah... ternyata Mas Arga sudah punya pacar, sudah gitu cantik sekali. Pantas saja ia selalu bersikap dingin kepadaku.


"Ratri, kamu sedang apa, kok bengong?" Tanya Mas Arga, mengejutkan lamunanku. Sampai tidak sadar jika mereka sudah berada di depanku.


"Tidak Mas, aku kira siapa, ini pacar Mas Arga ya? Cantik banget." Aku balik bertanya, menghilangkan rasa gugupku.


"Tri, ini Dewi yang aku ceritakan sama kamu tadi siang," Mas Arga memperkenalkan gadis itu. Seketika aku ingat inilah wanita yang kami bahas tadi siang.


"Dewi."


"Ratri"


Setelah bersalaman aku mengajak ke dalam mengetuk kamar Emak. Memberi tahu jika Dewi datang. Dengan mata sembab Emak keluar dari kamar di susul Bapak.


"Kamu belum jadi berangkat. Memang mau kemana?" Emak menegaskan.


"Mau ke rumah Papa Mak."


"Oh..." Mak tampak lega. Aku pun tidak ikut bergabung dengan mereka. Setelah memberi tahu Emak, agar Dewi beristirahat di kamar aku. Aku melanjutkan mengeluarkan motor.


"Nggak usah." Jawabku. Setelah mengenakan helm. Aku melajukan motor ke rumah Papa. Perjalanan dengan motor memang cepat, ternyata aku tiba di depan rumah papa.


"Ratri, kamu sendirian?" Tanya mama Banuwati yang sedang memindahkan tanaman dalam pot. Mama mencampur tanah dengan pupuk kemudian diberi air. Langkah terakhir beliu masukkan tanaman rupanya baru beli. Memang itu hiburan mama kala senggang.


"Iya Ma," Segera kuraih telapak tangannya, tidak perduli kotor aku cium saja walaupun mama menolak.


"Papa ada Ma?"


"Ada di ruang kerja, masuk saja." Titah mama lalu melanjutkan pekerjaannya.


Tiba di depan ruang kerja pintu tidak tertutup sepenuhnya. Nampak papa sedang menulis sesuatu entah apa. Aku tersenyum hendak mengejutkan namun tidak tega lalu aku peluk dari belakang. Tanpa sengaja pandanganku tertuju ke kepalanya. Rupanya rambut hitam papa sudah campur putih.


"Pasti anak Papa," Ujarnya memegang kedua tanganku yang berada di pundak beliu.


"Kok Papa tahu?"


"Tahulah baunya ini loh," Selorohnya terkekeh.

__ADS_1


"Papa! Masa aku bau sih!" Sungutku lalu aku lepas pelukan duduk di sebelahnya tampak kumis papa pun sudah ada putihnya sedikit. Tidak bertemu selama 6 bulan saja sudah berbeda.


"Papa... rambutnya di semir apa." Saranku.


"Hus, nggak boleh, rambut putih Papa ini suatu pertanda jika papa harus memperbaiki diri. Karena entah esok atau lusa Allah akan memanggil.


"Cek! Papa... jangan bicara begitu apa." Aku sedih mendengarnya walaupun yang dikatakan papa itu benar. Usia papa dengan pak Agus, hanya berbeda tiga tahun yakni lebih tua papa. Tetapi pak Agus masih tampak muda sebelum kehadiran Arin.


"Lah, memang begitu." Papa merangkul pundakku. Lalu menasihati ini itu yakni mengajari aku agar banyak ibadah seperti akan mati esok, dan bekerja keras seolah akan hidup selamanya.


"Sekarang kan Bapak sama Emak kamu sudah berkumpul, malam ini kamu menginap disini ya." Pintanya. Mungkin papa merasa sepi, Gendis sudah tidak ada di Indonesia.


"Lain kali Pa, Emak saat ini lagi sedih."


"Kenapa lagi?" Tanya papa menoleh cepat. Aku menceritakan jika sertifikat Emak hilang. Lalu bagaimana caranya menanyakan kepada Arin. Tidak mungkin juga aku datang kesana bisa-bisa malah menjadi korban Arin.


"Tenang saja, masalah seperti ini Arga jagonya." Kata papa melegakan aku. Ingat Arga aku jadi ingat kedekatanya dengan Dewi mengapa aku marasa iri.


"Kok malah melamun." Papa usap kepalaku.


"Papa pernah tahu nggak, Arga itu sudah punya pacar belum?" Tanyaku ingin tahu.


"Tidak tahu, Papa tidak pernah ikut campur tentang pribadinya. Kenapa gitu?" Selidik papa.


"Nggak apa-apa, tanya saja." Kilahku.


"Ratri... Papa sudah tua ingin melihat kamu segera menikah." Ujarnya serius.


"Papa, sama Emak sama saja. Selalu tanya masalah ini, aku kan perempuan Pa, tidak bisa memilih jodoh," Jawabku. Setelah ditinggal menikah oleh kekasihku 5 tahun yang lalu aku belum pernah mencintai pria lain.


"Tenang saja sayang... Papa sudah ada jodoh untuk kamu."


Aku terkejut mendengar ucapan papa. Papa ini rupanya belum kapok juga menjodohkan aku. Padahal aku pernah kabur ketika ingin di jodohkan 5 tahun yang lalu.


Tok tok tok.


Kami menoleh, siapa yang mengetuk pintu karena pintu tidak aku tutup. Ternyata Arga orangnya, rupanya ia menyusul aku.


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2