
Setelah merengek akhirnya Arga mengijinkan aku ikut bermain ke rumahnya. Kali ini kami berboncengan motor. Seperti biasa tiap kali berangkat kerja, Arga selalu menitipkan motornya di rumah Papa, kemudian sore hari ketika pulang, Arga mengambilnya.
"Mas... kita makan malam dulu yuk." Ajakku ketika motor melaju kencang.
"Nggak usah, Ibu sudah memasak, kalau aku nggak makan di rumah nanti beliau kecewa, kasihan dong" Jawabnya tidak begitu jelas karena di atas motor, tetapi aku masih mendengarnya.
"Ya sudah." Aku mengalah.
Motor pun akhirnya melaju cepat, hingga tiba di rumah tipe 80, namun masih ada sisa tanah kosong di samping rumah.
"Assalamualaikum..." Ucap Arga. Di sambut wanita paruh baya, ini pasti Ibunya Arga. Sebab, wajahnya mirip. Beliu menatapku tersenyum ramah. Aku menjabat tangan Ibu Arga setelah Arga menarik tangannya.
"Adik ini siapa? Kamu pasti calon nya Tole ya? Ya Allah... ternyata kamu mau memberi Ibu kejutan Tole..." Ibu Arga menepuk pundak putranya, ternyata Arga di panggil tole. Hehehe lucu sekali. Aku senyum-senyum senang banget rasanya jika beliau menganggap aku pacar Arga. Dalam hati aku mengaminkan.
"Bukan pacar Bu, kenalkan ini namanya Gayatri, putri bos aku." Arga meluruskan.
"Oh... pantas saja, namamu Gayatri. Ternyata kamu keturunan konglomerat Nak" Ibu Arga memuji.
"Ibu bisa saja, saya bukan siapa-siapa Bu, Ibu saya juga berasal dari Yogyakarta, tapi tepatnya orang pinggiran." Jawabku. Lalu menatap Arga tampak masuk ke dalam, mungkin ia ingin segera mandi.
"Kamu ini merendah. Mari duduk Nak. Memang Ibu kamu kelahiran mana?"
"Ibu lahir Jakarta Bu, tetapi sekolah di Gunungkidul," Jawabku menirukan Mak Ningrum tiap kali cerita tentang masalalu.
"Kok sama." Bu Arga semakin penasaran. "Kalau saya boleh tahu, Ibu kamu namanya siapa?"
"Nama Ibu saya, Ningrum Eka Yanti."
"Ningrum? Kok aku seperti pernah mendengar nama itu ya?" Bu Arga mengingat-ingat.
"Mungkin juga Ibu mengenal Emak saya. Sebab, menurut cerita Emak, beliau tinggal di Gunungkidul, kurang lebih 6 tahun Bu" Aku menjelaskan panjang lebar. Kakek dan nenek aku, yakni orang tua Mak Ningrum, berasal dari daerah tersebut. Tetapi kakek merantau ke Jakarta. Dan ketika SMP dan SMK Emak sekolah di kampung halaman kakek.
"Apa Emak kamu pernah sekolah di SMK 3 GunungKidul?"
"Betul Bu."
__ADS_1
"Ya Allah... Emak kamu itu dulu adik kelas Ibu, Nak." Tutur Ibu Arga. Ibu Arga berbinar-binar, beliu ingin bertemu Emak.
"Serius amat ngobrol nya." Arga baru keluar tampak rambutnya sudah basah dan belum disisir, rupanya baru selesai mandi. Haduh... tampan sekali pria ini. Aku menatapnya tidak berkedip.
"Lee... ternyata dunia sempit ya, Ningrum Eka Yanti, itu dulu adik kelas Ibu ketika SMK." Ibu tersenyum, menggeser duduknya memberi tempat putranya.
"Memang jaman Ibu sekolah, sudah ada SMK?" Tanya Arga. Ia lantas duduk di sebelah ibunya. Bu Arga merapikan rambut putranya. Sungguh Ibu Arga perhatian sekali kepada anaknya, walaupun usia Arga sudah 28 tahun.
"Ya belum lee... dulu itu namanya SMEA. Tetapi sama saja kok. Hanya bedanya... kalau jaman Ibu ketika sekolah, hanya ada tiga jurusan. Sedangkan sekarang banyak sekali," Ibu Arga menuturkan panjang lebar.
Mendengar Adzan magrib, Arga mengajak Ibunya shalat. Sementara aku nyemil kue bakpia yang di suguhkan Ibunya Arga. Kata beliau bakpia ini oleh-oleh kas Pathuk Yogyakarta.
Selesai sholat, aku minta ijin ke kamar mandi. "Silahkan Nak" Ibu Arga mengantar aku ke kamar mandi. "Nak Ratri... maaf. Di celana kamu ada noda," Bu Arga mengingatkan.
"Astagfirullah..." Aku menarik celana meliti bagian bokong dan ternyata benar, sungguh aku malu sekali.
"Tidak apa-apa, namanya juga wanita. Ibu sudah biasa. Kamu mau pembalut? Ibu belikan ke warung depan ya."
"Tidak usah Bu, saya membawa kok, tapi..." Aku mau mengatakan bahwa aku tidak membawa celana ganti.
"Oh... itu, Ibu tahu maksud kamu." Rupanya Ibu nya Arga tahu apa yang aku pikirkan.
"Iya Bu..." Masih lengkap dengan peci dan sarung, Arga menghampiri kami.
"Lee... Ratri mau mandi, sebaiknya kamu beri baju ganti ya."
Arga nenatap aku, mungkin ia keberatan hanya Arga yang tahu. "Memang kenapa baju kamu?" Tanya Arga. Ih, dasar Arga. Membuatku bingung untuk menjawab.
"Sudah Lee... jangan banyak tanya, cepat ambilkan Ratri baju ganti punya kamu, Dia mau mandi," Ibu Arga menegaskan.
"Iya Bu..." Arga pun berlalu ke kamar, tidak lama kemudian kembali. Membawa kaos dan celana trening lalu memberikan kepadaku. Aku memeluk baju dan celana menunggu Arga menyingkir. Tentu tidak mungkin aku balik badan dalam keadaan seperti ini.
"Lee... bantu Ibu." Panggil Ibu dari dapur.
"Iya Bu..." Arga pun akhirnya pergi juga.
__ADS_1
Heemm... lega sekali. Cepat-cepat aku ke kamar mandi. Sambil mandi, tidak berhentinya tersenyum. Duuhh... mimpi apa aku semalam? Bisa mandi di rumah Arga. Walaupun bukan di kamarnya. Aku menggunakan handuk milik Arga juga. Dan yang terakhir mengenakan baju Arga training berwarna biru dongker baunya harum sekali.
Sesaat aku cium baju ini, semoga bukan mimpi. Ternyata begini rasanya mencintai seseorang yang sesungguhnya. Cinta wanita yang sudah beranjak dewasa menuju keseriusan. Bukan cinta monyet seperti dulu.
Tok tok tok.
"Ratri... kamu di kamar mandi lama sekali..." Ketukan pintu disusul suara Arga menyadarkan aku dari mimpi.
"Bentar Mas."
Segera aku mengenakan training kebesaran, tetapi tidak apa-apa. Toh, ada karetnya tinggal aku tarik, kemudian keluar kamar mandi.
"Kamu lama banget?" Tanya Arga ternyata menunggu di depan kamar mandi.
"Soalnya segar sekali Mas, nggak mau udahan jadinya," Kilahku. Walaupun memang benar.
"Jangan nyindir, tentu berbeda di rumah kamu lah... Mandi pakai shower, tinggal pilih mau yang hangat, atau yang dingin. Sementara di rumah saya..." Arga mengangkat kedua tangan.
"Nggak nanya!" Ketusku lalu mendahuluinya. Kenapa sih?! Arga tidak terus merendah di depan aku? Rasanya kesal sekali.
"Sini Nak, kita makan." Bu Arga, sudah menunggu di meja makan tersenyum kepadaku.
"Saya jadi merepotkan Bu." Ucapku sungkan.
"Tidak ada yang repot Nak, tetapi ya beginilah makanan Arga." Kata bu Arga, entah siapa namanya. Di meja makan, sudah tersedia urap, tempe, tahu bacem, dan ikan cue goreng tepung. Menu masakan ini persis menu masakan Emak.
"Ya Allah Bu... Emak Ningrum itu sering sekali masak seperti ini."
"Oh, begitu ya. Ya sudah... ayo, makan."
Bu Arga menyendokan nasi untuk Arga. Kami makan dalam diam. Selesai makan aku mencuci piring. "Biar saya saja yang mencuci piring, nanti tangan kamu lecet-lecet loh." Lagi-lagi Arga menyindir.
Aku mendelik gusar, kenapa sih? pria ini jika tidak menyindir terus. Aku cemberut sambil mencuci piring. "Jangan cemberut gitu dong." Ucapnya. Tidak mau berlalu memperhatikan aku mencuci piring.
"Aku tuh kesal sekali tahu nggak?! kenapa sih... Mas Arga itu selalu menyudutkan aku. Ngomong inilah! Itulah! Memang siapa sih... Mak aku? Aku memang anaknya Daniswara, tetapi aku bukan anak kandung Banuwati. Melainkan lahir dari rahim Mak Ningrum, wanita dari desa yang sederhana. Ngerti nggak sih?!" Ketus ku. Lalu menyusun piring di rak.
__ADS_1
Arga hanya termangu di tempat.
...~Bersambung~...